Tarian Penyaliban ManusiaM.Fadjroel Rachmanapa kabar ikan asin, sayur kangkung, dan segelas teh pahit di cangkir berkarat?apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan aku?kesetiaan, cita-cita, atau sekadar lapar dan kebahagiaan kecil?“udara berdebu dan oksigen penuh racun!” teriak lelaki mabukmengapa harus mabuk? bayangkan upacara suci ini di suatu pagi musim panasengkau bersiul dan hatimu bagai kapasada seekor ikan asin dan semangkuk sayur kangkung di piring berkaratserta segelas teh pahir di cangkir berkaratsemua kenangan pahit telah kau larutkan dalam uap teh kemarin malamlalat mendengung, jendela berderit disentuh angin“bukankah cinta dan hati yang lapang menerobos dinding pemisah aku dan alam semesta?”baiknya ada seorang perempuan, tetapi kurasa tak usah sajaperempuan selalu mengatur tetek bengek hidup kita(tetapi lelaki sama menggelikannya, juga diriku)“rambutmu kacau dan warna bajumu tak cocok di badan,” katanya“duduklah dengan sopan dan pikirkanlah kebahagiaan kita di masa depan,” katanyatetapi hatiku selalu bertanya, “adakah keteraturan di alam semesta dan sejarah manusia?”sebaiknya juta tak ada bentakan dan hentakan sepatu lars (pada lantai dan tubuh kita)juga tak ada tangis kehilangan, putus asa dan kesakitandoa juga tak penting,karena mengingatkan ketakberdayaan dan keputusasaanbukankah seekor ikan asin, semangkuk sayur kangkung, dan secangkir teh pahit di cangkir berkaratdiuapi cinta dan hati yang lapang, mengingatkan keberadaan dan keterlemparan kita di bumi ini?bukankah ini juga upacara suci seorang lelaki mabuk dan kesepianderit pintu sel selalu menghantam gendang telinganya dan menggetarkan seluruh urat sarafnyajeruji, sebesar ibu jari kaki, mencekik urat lehernya, menusuk kedua kornea matanyateriakan kesakitan, tangis kehilangan, dan jerit keputusasaan menerobos dinding selnyadarah menyiram jalan raya, hutan, kebun petani miskin, bahu kaum pekerja,jagat raya, dan wajah kitaorang-orang berlari dari kota ke kotaorang-orang berlari dari penjara ke penjaraorang-orang berlari dari mimpi ke mimpiorang-orang berlari dari kata ke katadi dungu kecil dilahirkan penuh rasa syukursetia patuh menarikan upacara suci di ruang-waktu berdarahdi altar penyaliban manusialalu, apa kabar ikan asin, sayur kangkung dan segelas teh pahit di cangkir berkarat?apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan aku?kesetiaan, cita-cita, atau sekadar lapar dan kebahagiaan kecil?1989 (LP Kebon Waru-Sukamiskin)* ditulis ulang dari Catatan Bawah Tanah
Showing posts with label M.Fadjroel Rachman. Show all posts
Showing posts with label M.Fadjroel Rachman. Show all posts
Thursday, February 20, 2014
Puisi Tarian Penyaliban Manusia | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, February 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, February 19, 2014
Kenapa Rachman masih Menulis Puisi? | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Wednesday, February 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKenapa Rachman masih Menulis Puisi?M.Fadjroel RachmanWalau darah dan teror masih membasahi wajahdan tubuh keringnyaKarena ia percaya pada manusia dan kehidupanKenapa Rachman masih menulis puisi?Walau urat-syaraf dan kasih-sayangnya dicabutsatu persatuKarena ia percaya pada manusia dan kehidupanKenapa Rachman masih menulis puisi?Walau jiwa dan hati-nuraninya disalib jeruji besiKarena ia percaya pada manusia dan kehidupanKenapa Rachman masih menulis puisi?Walau kematian dan mimpi burukmenyergapnya berkali-kaliKarena ia percaya pada manusia dan kehidupanKenapa Rachman masih menulis puisi?Karena dalam samudera ketidaktahuan,manusia bersaudaraKarena dalam samudera kemanusiaan, manusiabersaudaraKau dengarkah suaraku, lagu jiwaku,saudaraku?“Aku ingin ziarah dan berbaring dalamsamudera cahaya jiwamu”Kebun Waru, 17 Januari 1990
Saturday, February 15, 2014
Puisi Bila Tubuh Hadir Bergegas | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Saturday, February 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBila Tubuh Hadir Bergegas
M.Fadjroel Rachman
ransel lelah bertanya pada lobby hotel, “ada kamar kosong? yang paling murah saja.” sebelum kata melepas kantuk
sambil menendang tempias hujan, lobby hotel terkantuk-kantuk mengangguk, “tulislah alamat tuan di buku tamu.”
“apakah setiap orang harus punya alamat?” tanya sepatu tua
“alamatku di sini, malam ini,” bisik ransel pada buku tamu
“harus tuan,” ejek kunci kamar, “tiap tubuh punya akar walau berpindah dari hotel ke hotel,” ujar bunga di jambangan
walau sementara
walau sementara
“selamat datang, wahai tuan tanpa alamat, wahai tuan tanpa tujuan,” ejek lobby hotel, buku tamu, dan kunci kamar
“apakah yang kau cari bersama sepatu tua dan ransel lelah?” tanya kabut sambil meludah ke jambangan bunga
: bila tubuh hadir bergegas, sebelum waktu menikam tuntas
2003
Thursday, February 13, 2014
Puisi Danau Haiku | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, February 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDanau HaikuM.Fadjroel Rachmanterlalu banyak anggur putih malam ini, gelombang menyeret jejak waktu dan harum tubuhmu ke langit jauhbulan keperakan menggantung di tepian malam, begitu rapuh. gagak liar menjaring kristal luka, menyayat senja tua“aku mencincangnya di lelap pantai, dalam kegelapan samudera, hotchu-san,” teriak serak garam selat kyushu“di dasar luka engkau temukankah belulang musim gugur?” tanyamu sambil menari mengurai perak cahaya bulanseribu perahu berarak, tenggelam menyeret matsuo basho ke danau haikuthe old pond –a frog jumps in:the sound of water“engkau terlalu ramah untuk dunia ini,” desis garam selat kyushu. “tidakkah segelas anggur putih, sekecup duka,menyalakan menara kehidupan di kuil jiwamu,” ringkik garam sambil menyelam, menjemput kupu-kupu mati dihotchu san, kita memeluk malam, dengan tubuh remuk, sambil menari letih di hotel-hotel kematian. sendirianesok pagi serpihan perak cahaya bulan berserakan di jalanan, ada jejak waktu dan harum tubuhmudi langit sepi berkelap-kelip kristal luka dan kepedihan kita disisakan garam selat kyushu,juga, setetes tangis kupu-kupu mati1995
Wednesday, February 12, 2014
Puisi Aku Teringat Godot, Kucing Kesayanganku | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Wednesday, February 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku Teringat Godot, Kucing KesayangankuM.Fadjroel RachmanHalo … halo apa kabar Godot?Ratusan hari kita berpisah, tahukan engkau akuberada di mana?Engkau masih tidur di pembaringanku?Awas, kakimu harus dibersihkan sebelum naikke pembaringankuSiapakah yang memberimu makanan sekarang?Apakah engkau masih enggan memakan ikan asin?Untuk sementara terimalah apa-adanya, ya GodotAku tersenyum pahit, makananmu lebih baikdaripada makananku di terali besi ini, apalagidengan makanan anjing tetangga kitaKalau engkau berada si sini, kurasa sudah matikelaparan karena seleramu yang terlampau tinggiAku terkurung di terali besi, Godotdan engkau masih bisa berpacaran di atasgenteng rumahBermesraan di pojok-pojok dapur, tetapi engkauselalu saja membatalkan niatmu bila jurumasak lengah dengan semur dagingnyaNah, sekarang bagaimana dengan pacar barumukucing tetangga kita, masih setia?Ayolah, Godot, beraksilah, bukankah saat inimusim hujan, tapi hati-hati dengan jantan-jantan lain, tanpa kau sangka-sangka bisasaja mereka melarikan calon ibu anak-anakmuPikatlah hatinya, beri si dia janji-janji surgawi(Kalau terpaksa janji-janji pembangunanboleh juga)Insya Allah si dia akan setia denganmu(Hai, kenapa kita selalu bersumpah atas namaTuhan ketika berpacaran. Lalu kalau kitaberpisah atas nama siapakah?)Apakah jadinya kita ya Godot bila tak mampumembuat janji, engkau dan aku akan senasibmenjadi gelandangan dari negeri ke negeritanpa peta, tanpa penunjuk arahLalu mabuk dan kesepian dalam pori-pori darahYa, seperti Hamlet kehilangan OpheliaAyolah Godot, yang penting jangan berantemdan putus asaSampai jumpa lagi dalam pembaringan yangsama 13 tahun yang akan datangHiduplah dengan menentang bahaya,Sehingga di hari kematian kita, sahabat-sahabatakan berkata“Dia hidup; benar-benar hidup dan ada”Kebun Waru, Desember 1989
Thursday, February 6, 2014
Puisi Mayat itu Terapung di Sungai Kata | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, February 06, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMayat itu Terapung di Sungai Katayohanis tajoja (60) dan buce (30)M.Fadjroel Rachman“kepada siapakah tuhan berpihak tadi malam?” bisik cemas mencekik kunang-kunang“kedua mayat ditemukan tewas terapung si sungai puna, poso pesisir,” desis lirih detik pukul 14:00“kepada siapakah tuhan berpihak tadi malam?” bisik cemas mencekik kunang-kunang“kedua mayat ditemukan tewas tergantung di sungai kata, kompas halaman 11,” desis lirih detik pukul 7:00“kepada siapakah tuhan berpihak tadi malam?” bisik cemas mencekik kunang-kunang“kedua mayat ditemukan tewas terapung di sungai mimpi, dilelap bundanya,” desis lirih detik pukul 24:00sungai punasungai katasungai mimpi:deras dan dingin arusnya ke muaramu2003
Puisi Kalender Menulis Dirinya Sendiri | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, February 06, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKalender Menulis Dirinya SendiriM.Fadjroel Rachman3 juta obor menari telanjang di tepi mekong, 3 juta ajal berenang telanjang ke muara mekongairmata mengiris malam mendanau darahnya. ombak beringsut menyergap tangiskunang-kunang mengoyak nadi kabut, beterbangan di rumah ajal yang murungdi saku baju peta kamboja menetes darah, udara tiba-tiba asin, kristal garam berhamburansungguh, kegelapan tak lagi menakutkan. kecemasan menari disiram hutan tak berwajah3 juta jemari biru terjulur dari kubur mengiris-iris purnamajam meleleh, dan kalender menulis dirinya sendiri2002
Wednesday, February 5, 2014
Puisi Senja Jatuh di Orchard Road | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Wednesday, February 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSenja Jatuh di Orchard RoadM.Fadjroel Rachman“uap alkohol dan harum babi panggang tak akan mengantarmu ke neraka,” ujar denting piano melompat menyambarmeja putih bersih, meledakkan piring saus merah darah. “kemiskinan dan doa juga tak akan mengantarmu ke surga,”desak irama jazz yang melengking kusut, menyeret tuan raffles melompat ke sungai keruh singapura, riuh dan letih“revolusi tak dijual di orchad road,” desis mimpi tersedak pengemis cina tua, menidurkan dendam di jembatanpenyeberangan. “sungguh mudah bukan membeli marx, lenin, mc donald dan nina ricci di orchad road,” tergeletaktiger beer menyembur gitar sember klub jazz tua. “nasib tak pasti mesti ditata rapi di etalase orchad road,” tangismelayu dan india tua. “tapi, di manakah tanah air tanpa airmata?” cekik irama jazz mematahkan leher singapurasenja jatuh di orchad road, gucci dan nike bergegas bergandengan tangan, menyetop bus kota melenggang genit“tak perlu gelisah, besok kita kembali shopping, membeli airmata,” hibur gucci menghempaskan tubuh berlemak2003
Puisi Malam Lebaran | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Wednesday, February 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTuesday, February 4, 2014
Puisi Bersimpuhlah di hadapan Bunda | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBersimpuhlah di hadapan BundaM.Fadjroel Rachmanterkasih, mencium kedua pipinya, kemudianmemohon doa-restunyaSebab sipir-sipir maha-tahu dan maha kuasaserta tukang-tukang sihir haus darah dankekuasaan mengintai kita dari segalapenjuruMereka bagai karbon monoksida yangberkeliaran di ruang-waktu meracuni darahmerahmu dan menghisap sel-sel syarafmuTak ada lagi keamanan di negeri ini, engkaubisa saja raib tanpa seorangpun sahabat ataukerabatmu mengetahuinyaDan hanya ikan di kali-kali yang menangisikepergianmuLalu siapa yang akan mengabarkan kepedihanini kepada Bunda terkasih?Ah, bila penguasa tak suka padamu, lebih baiksebelum pergi dari rumahmu, ucapkanselamat tinggal pada kerabat-kerabat dansahabat-sahabatmuBeri makan binatang-binatang kesayanganmudan katakan, “Hari-hari semakinmengerikan, penuh darah dan kekejaman dinegeri ini, mudah-mudahan kita bisaberjumpa lagi di saat makan siang nanti,atau dalam ribuan hari lagi, atau malah tidakkembali sama sekali”(Ah, kenangkanlah segala impian, mimpi burukdan kebahagiaan kecil yang kita alamihingga hari terakhir kehidupan kita)Engkau boleh saja berteriak itu barbar, takberadab, memperkosa keadilan, akal budidan hati-nuraniTapi apalah artinya teriakan-teriakanmu bilasipir-sipir maha-tahu dan maha-kuasa sertatukang-tukang sihir haus darah dankekuasaan menjerat tali gantungan kelehermu dan menutup pernapasanmu,kemudian membakar kornea matamu, danmemisahkanmu tiba-tiba dari Bunda terkasih,sahabat-sahabatmu serta kerabat-kerabatmuYa, kita harus bersimpuh di hadapan Bundaterkasih, mencium kedua pipinya, kemudianmemohon doa restunyaKarena kita tak tahu, apakah akan berjumpalagi dengan Bunda terkasih, segalanya serbatak pasti. Manusia serta kehidupan takberharga sama sekali di negeri iniKita juga tak tahu siapakah yang bakalmengabari Bunda terkasih dan menghiburnyadi hari-hari dukanyaSebaiknya, tinggalkanlah secarik kertas dipembaringan yang bakal kita tinggalkan,semoga Bunda masih mencium kehadiran danmendengar getar kesakitan suara kita daribalik terali besi penyiksaan atau dari balikdebu-debu beku pengubur tubuh kering kita.Dan tuliskanlah, (Mungkin ini tulisanterakhir di batu nisan nanti? Akanbernisankah kuburan kita nanti?) “If the manwho wants to build up a better life for thePeople (the oppressed and exploited people)and fight for it and build up democracy, socialjustice, human rights, sovereignty of thepeople in the realm of politics, economic andculture; because he believes in brotherhood,individual uniqueness, man’s curiousity (thestrength of man’s reason) and he is the heresyfor himself must be called a rebel; so then callme a rebel”Setidaknya Bunda kita terkasih bisa mengertibila tak ada seorang pun di muka bumimemahami manusia mabuk dan kesepiansemacam kitaPercayalah Bunda terkasih pasti memahamiBunda terkasih pasti memahamiKebon Waru, Desember 1989
Puisi Menari di Tepi Waktu | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMenari di Tepi WaktuM.Fadjroel Rachmanandai aku bertemu lagi denganmu. aku pasti tersipu menyebut namamukarena tanpa ragu, engkau menyebut namaku. dengan keramahan, dan ejaan sempurnaengkau bertanya, “ke mana saja kamu selama ini?”“aku menunggumu sejak perpisahan terakhir,” ujarmu memelukku lembut, matamu basah merindu airmataya, aku pernah mengenalmu, pada suatu waktu. engkau tiba-tiba hadir, kita bertukar kartu nama tanpa alamataku meninggalkanmu di simpang jalan, karena harus menempuh nasibku sendiri, tanpa peta, tanpa penunjuk arahaku ingat engkau menitikkan airmata, lalu berucap, “temui aku di tepi waktu, bila cemas dan rindu memuncak.”ya, aku ingat hari itu, magrib bergegas turun. aku elang muda kelaparan, melayang menembus waktuandai aku bertemu lagi denganmu. inilah yang yang akan kukatakan,“tuhan, terimakasih, engkau masih menyimpan kartu namaku.”2003
Sunday, February 2, 2014
Puisi Tiga Peluru Meracuni Malam | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Sunday, February 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTiga Peluru Meracuni MalamM.Fadjroel Rachmanaku rindu tanah-airku, aku rindu gerimis jatuh di yangoonayahku, bagai anjing terjungkal bersimbah darah dengan 3 peluru pecah di kepalakekerasan adalah iblis dari neraka terpanas, melambai rindu, membakar langit merah chiang mai3 peluru di saku baju meracuni malam, 3 peluru di kepala pembunuh ayahkuhujan daun pinus merebahkan diri, lelap berselimut embun di ladang cemaraberjuta bunga mekar di chiang mai, melayang di senja tua menjelma dirikuchiang mai dipeluk sepi, dendam mengembun bunga liar, menetes diam-diam di abu persembahanmalam ini yangoon melesak dalam mimpiku, 3 peluru melesak di kepala ayahkuaku ingin menari, aku ingin menyanyi tentang kehilangan dan rindu gerimis di yangoonrintik hujan jatuh melukai daun pinus. Malam likat mewangi mawar, gemuruh di sunyi belulang3 peluru menghitam di abu persembahan, 3 peluru di saku baju meracuni malamaku rindu tanah-airku, aku rindu gerimis jatuh di yangoonaku rindu menangis dalam hujan cemara di yangoonhingga sempurna airmata malam menenun kebahagiaan2002
Puisi Ketika Waktu Bukan Milik Kita Lagi | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Sunday, February 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika Waktu Bukan Milik Kita LagiM.Fadjroel Rachman30 kunang-kunang menari di langit jakarta, menembus magrib tergesa. darahnya manis disihir rembulankabut memeluk malam, bintang jatuh menoreh siang di dada langit. memeluk kenangan, impian lumpuh“darah segar masih harum tercium di aspal jalanan,” bisik embun pagi“ya di hitam lengan kupeluk tubuh muda itu terhempas,” kenang aspal jalanan mengusap airmatamalam begitu dingin bunda, begitu dingin dan begitu rakus lidah matahari mengupas merah kenangan30 kunang-kunang menari di langit jakarta, menembus magrib tergesa. darahnya manis disihir rembulanmenarilah, hingga airmata kering diisap rembulan, darah biarlah memerah mawar di hati bunda“siapakah engkau?” rintih ibu tua memeluk senja, tangisnya menetes darah, menggenang cemas di kubur anaksepasang kunang-kunang hinggap di pangkuan, mendekap bayi merindu. sayapnya manis, darahnya manis“aku pulang, sepasang mata biru buah hatimu.”2003
Puisi Nyanyian Orang Biasa | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Sunday, February 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNyanyian Orang BiasaM.Fadjroel Rachmansiapa tahu gelombang hati manusia. siapa yang tahu?tanpa uang dan kekuasaan, siapa menyapamu. bahkan teman seperjalanan paling akrab, tanpa pamit meninggalkanmusiapa tahu gelombang hati manusia. siapa yang tahu?tanpa uang dan kekuasaan, siapa mencintaimu. bahkan kekasih paling dicintai, tanpa pamit meninggalkanmusiapa tahu gelombang hati manusia. siapa yang tahu?tanpa uang dan kekuasaan, siapa akan setia padamu. bahkan sahabat paling setia, tanpa pamit meninggalkanmubila semua pergi, tanpa pamit meninggalkanmu,: siapa paling tahu gelombang hati manusia2003
Friday, January 31, 2014
Puisi Aku tak lagi Bermimpi, Estragon!* | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku tak lagi Bermimpi, Estragon!*M.Fadjroel RachmanSekarang aku di sini, saudaraku, menghirupNanah luka-lukaku. SendirianTerlontar ke alam raya rintisanku dan melukis-lukis Kejalanganku di dinding langit bekuAku tak lagi bermimpi, Estragon!Dalam Neraka Jahanam dan Daging Busuk initak ada yang kumengerti selain Perubahan AbadiDalam Neraka Jahanam dan Daging Busuk initak ada yang kumengerti selain Pertanyaan AbadiAku kini ruang-waktu-abadi bagi diriku sendiri!Telah kutinggalkan segalanya. Aku muak pada segalanyaJuga dirimu!Di manakah Manusia? Di manakah janji parapengecut dan pelacur itu?Lihatlah, hanya Kuburan Tandus dan PestaKematian yang bermakna di Bumi Luka Parah iniLihatlah bebatuan dan langit-terbakarmengucurkan darahAh, berdustakah aku?Ciumlah amis darah di belantara kata-kata,dalam kerongkonganmu, dalamkerongkongan waktu, dalam Kitab-SucimuCiumlah amis darah dalam mimpi-mimpi dandoa-doa ketakutanmuAtau dalam Cinta!Bayi dungu dilahirkan entah untuk apa dandengan riangnya menari-nari memujaKetololan si Penjaja Kebenaran dan Jalan KeabadianDi alun-alun kota, kabarnya tempat nabi-nabiditasbihkan, yang terdengar hanya jeritandan tangisan tak berkesudahan- Dokter berapa butir aspirinkah harus ditelanagar kesepian dan kematian tak lagimenghancurkan kegembiraan hidup danjalinan kasih sayang?- Dokter berapa butir aspirinkah harus ditelanuntuk melupakan kenangan dan mimpi-buruk dalam cekikan ruang waktu berdarah ini?- Dokter berapa butir aspirinkah harus ditelanagar dapat kumengerti siapakahsebenarnya kita, darimana berasal danakan ke mana pergi?- Dokter berapa butir aspirinkah harus ditelanagar orang mati bisa berbincang di PasarMalam dan tak lagi menjadi dongeng untukmenakuti anak-anak, para pengecut danpelacur Kehidupan?- Ah, haruskah kucekik engkau untuk dustayang bersemayam di alam raya, tuan dokter?- Engkau butuh aspirin dalam dosis yang palingmematikan, bukan?- Dokter, kegelisahan pikiran adalah hantubarbar yang melayang-layang tanpa basa-basi di urat syaraf dan begitu bebalterhadap doa maupun mantera dari nabipaling sempurna sekalipun. Kenapa NerakaJahanam dan Daging Busuk ini harusdidustakan, tuan dokter?- Bukankah kesederhanaan pikiran adalah doatersakti kaum pengecut dan pelacur yangmenjadikan bumi sebagai Rumah Ibadatdan Pabrik Anggur bagi Pesta Pembunuhan?- Hopla, mari pergi! kata Estragon- Tidak! Tidak! Aku tak mau pergi, inilahKerajaan Deritaku!- Ah, lihatlah langit terbakar, tak kau ciumkahbau usus hangus dari perutmu sendiri?- Estragon, bukankah Penantian Tanpa Akhir inimenjadikan kita Tuan atas nasib sendiri?- Kita tak menantikan apa-apa di sini.Pengadilan Agung itu hanya dusta kaumpengecut dan pelacur. Neraka Jahanam danDaging Busuk inilah Hidup kita. Di luardinding ini hanya Sepi dan Ketiadaanbertahta. Dan dirimu adalah Keputusanmu.Titik.- Tapi Estragon, aku ingin melupakan hujan-beku di dalam hatiku, membakar semuapakaian kegelisahanku, melupakan semuaTarian Tolol Kehidupan kita dan segalaUpacara Berdarah dalam Drama Sia-Sia ini.Ini bukan kegilaan dan aku tak inginmendustakan Neraka Jahanam dan DagingBusuk yang mencincang urat syaraf dannurani kita. Bagaimana itu mungkin,Estragon? Akankah kupilih segalakejahatan yang merayu-rayu ini?- Aku telah membunuh si Pendusta yangmengaku Hakim Agung itu dan telahkubakar segala makna tindakan diKerongkongan Waktu Gulita ini- Aku bermimpi bahwa aku tak lagi bermimpi,bukankah begitu pikiranmu, Estragon? Tapiengkau dalam pakaian badut dan tingkahlaku memuakkan itu dapat menari-naririang dalam kubangan darah leluhur dansanak-saudaramu, juga Bundamu. Takadakah yang memberatkan hatimu? Engkauingin melupakan kesia-siaan Hidup danKetidaktahuanmu? Tidakkah semua inimenyentakkan urat syaraf, lalu kitamelawan sehabis-habisnya?- Baiklah Estragon, walaupun rayuan untukmenyederhanakan Hidup mengguncangimpian dan kesadaranku. Aku tak maupergi. Inilah Kerajaan Deritaku. Engkaupergilah, ajak Vladimir. Aku takmenantikan apa-apa di sini dan lupakanlahPengadilan Agung itu. Bukankah semuanyahanya mimpi tolol masa kanak-kanak kitaLalu tentang Dosa dan Hari Pembalasansebaiknya diabadikan sebagai dongengsatu babak di Pasar Malam untukmenghibur hati kita yang lelah setelahbertempur di front terdepan mengurangiDarah, Penderitaan dan Keputusasaan.Namun engkaupun mengerti Estragonbahwa aku tak memaknakan apa-apa dantak memahami apa-apa. Aku hanya inginmenyayangi sanak saudaraku, manusiayang Letih dan Menderita ini dan melawansehabis-habisnya Ketololan para penjajaKebenaran dan Jalan KeabadianInilah aku. Aku kini ruang waktu abadi bagidiriku sendiri!Akulah duka anak-dara yang bunuh diriAkulah duka anak-dara yang bunuh dirisurat putih dan genangan airmatanyamembakar urat syarafku, membakarkedustaan hidupku dan mengabari bahwaaku hidup dalam Neraka Jahanam danDaging BusukInilah bumiku. Inilah Kerajaan Deritaku!Aku mengerti betapa menyakitkan semua ini.Aku memilih tindakan yang kupandang sia-sia untuk mengguncang ruang-waktu yangsia-sia dan memuakkan iniWahai, beri daku satu ciuman di bibir kering inikejahatan merayu-rayu di belantara kata-kataDi manakah manusia? Di manakah janji parapengecut dan pelacur itu?Hopla...Mari pergiMari pergiTidak!...tidak! Aku tak mau pergi, inilahKerajaan DeritakuKebonwaru, agustus 1990Nusakambangan, September 1990* Nama Estragon dan Vladimir diambil dari nama tokoh badut dalam Waiting for Godot, karya Samuel Beckett (English Edition, London: Faber dan Faber, 1955)
Puisi Doa Manis buat Tuhan | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDoa Manis buat TuhanM.Fadjroel RachmanTuhan, turunkanlah hujan untuk bayam, tomatdan sawi kurus yang kami tanamAneh, hanya dingin bebatuan yang setiamenyegarkan batang-batangnyaSetiap malam dari balik terali besi kuhisapudara kering dan embun tipis, berebutandengan bayam, tomat dan sawi kurusKenapakah hujan tak turun jua? Ada apakahsebenarnya di balik cuaca?Mungkinkah uap air telah dihisap pepohonanbesar, jalan-jalan besar, rumah-rumah besardan paru-paru orang besar di kota-kotaDan kamu?Aku tak tahu, aku tak tahuCahaya bulan pucat menerangi bumi sekarat,mengusap lembut terali besi dan wajahkuSebab si pencinta bayam, tomat dan sawi hanyamampu bertanya ke arah langitBukankah langit telah menganugerahi orang-orang bijak dan berkuasa, martabat untukmenuangkan jutaan kata-kata di benak kitayang lelah. Walaupun kulit perutmu lengkettulang perutmuInilah hidup, inilah kepastian, kata merekaAku tak tahu, aku tak tahu. Bukankah Tuhanmembuat miskin dan membuat kaya, Iameninggikan dan merendahkan jugaCahaya bulan pucat menerangi bumi sekarat,mengusap lembut terali besi dan wajahkuDari ujung sel kudengar lagu dangdut merintih-rintih tentang penderitaan hidup, lalukudengar desah genit si penyiar wanita,“Salam kompak selalu dan selamatmenempuh hidup baru buat X di jalan Y darigadis Z di gubuk derita”Hai, hai siapakah yang berbahagia dansiapakah yang menderita?Lalu kedengar ramalan bintang“Buat pendengar yang bernaung di bawahbintang Caprocornus, rejeki dan kebahagiaanminggu ini bersama anda dan asmara si diamakin mesra saja, kesehatan anda pun makinsempurna, hindari makanan berkalori tinggi”Kemudian aku menatap sisa ikan asin yangdikerubungi semut-semut hitam, lalu perlahanmeneguk air teh pahit di cangkir berkaratKuhisap udara kering sambil menyanyikanIndonesia Raya; tetapi kenapa hatiku semakinsepi dan asing saja (Inikah bangsaku, inikahmanusia yang berakal-budi?)Cahaya bulan pucat menerangi bumisekarat, mengusap lembut terali besi danwajahkuAku menekan wajah ke sisi terali besi dan berdoa“Selamat malam, Tuhan, salam kompak selalu,siapakah yang berbahagia dan siapakah yangmenderita?”Kebon Waru, November 1989
Puisi Soekarno, Narapidana Blok Timur Atas nomor 01 | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSoekarno, Narapidana Blok Timur Atas nomor 01M.Fadjroel RachmanPandangilah, namun jangan menitikkan airmataDi luar jendela-jeruji selmu, di luar jendela-jerujiselkuSerdadu-serdadu berbaris dalammimpi bayi-bayi dan anak-anak bangsamuSerdadu-serdadu berbaris mencincang akal-budi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu;Langit, bebatuan, rerumputan dan udara yangkita hisap mengucurkan darahmenenggelamkan segala impian manusiaDi ruang-waktuDi ruang-waktuHanya gelisah dan sepiLalu matiSukamiskin, Oktober 1990
Puisi Malam-malam di Jendela | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalam-malam di JendelaAda cemara lurus menusuk langitAda angin berlendir, mayat membusukAda rintih hujan, doa-doa rubuhDan wangi kemboja mengiris malamLalu kata-kata menggelepar sekarat:Engkaukah berpayung hitam di tepian cakrawala?Cahaya terkulai beku. Segalanya pucat-pasiDiri lampus sudah dalam sihir malam. Dan sia-siaEngkaukah yang bertanya, “Ada apa?”Bayang langit menarikan perih. Kekosongan: Antara Ada dan Tiada: Antara Engkau dan AkuEngkau mencari siapa?Dalam sepi kuburan sejarah-manusiaDalam sepi kuburan alam semesta: Aku ingin berbicara kepadamuSukamiskin, Oktober 1990
Thursday, January 30, 2014
Biografi M. Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi M. Fadjroel RachmanMuhammad Fadjroel Rachman (lahir di Banjarmasin, 17 Januari 1964; umur 50 tahun, adalah seorang peneliti, penulis, pengamat politik dan aktivis mahasiswa tahun 1980-an. Publik lebih mengenalnya sebagai Calon Presiden Independen sejak tahun 2009. Saat ini aktif mengembangkan Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) atau Research Institute of Democracy and Welfare State, dan kerjasama internasional di jaringan Southeast Asian Forum for Democracy, dan Asia Pacific Youth Forum (Tokyo). Pernah aktif di Forum Demokrasi, Konfederasi Pemuda dan Mahasiswa Sosialis Indonesia (KPMSI), dan Masyarakat Sosial-Demokrat Indonesia (MSI/Ketua Badan Pekerja). Kandidat (42 besar) Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Sejumlah penelitian dan artikelnya dibukukan bersama seperti Social Democracy Movement in Indonesia (FES, 2001), May Revolution and Mass Media (Gramedia, 2001), dan Soetan Sjahrir: Guru Bangsa (PDP Guntur 49, 1999). Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat (Penerbit Koekoesan, 2007), Democracy Without The Democrats: On Freedom, Democracy, and The Welfare State (FES, 2007), Bulan Jingga Dalam Kepala (Novel, Gramedia, 2007), dan Indonesianisasi Saham Penanaman Modal Asing: Studi Tentang PT Freeport Indonesia (2013)
Masa Orde Baru sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan akibat aktivitasnya menentang pemerintahan Jenderal Besar Soeharto dan Rezim Orde Baru semasa menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung.[3]
Fadjroel bersama lima rekannya dipindah-pindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Dari tahanan Bakorstanasda, ia dipindah ke penjara Kebonwaru, lalu ke Nusakambangan, dan terakhir di Sukamiskin.
Fadjroel Rachman pernah kuliah di Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Program Pascasarjana S2 Fakultas Hukum Universitas Indonesia jurusan Hukum Ekonomi (lulus Summa Cum Laude), dan saat ini sedang menempuh program S3 di Program Pascasarjana FE UI.
Pergaulan dengan buku-buku itu mengantarkan pergaulannya dengan sejumlah budayawan dan intelektual seperti almarhum Soebadio Sastrosumitro, Mochtar Lubis, dan Soedjatmoko. Atas usulan Soedjatmoko pula ia terlibat dalam Forum Pemuda Asia Pasifik di Tokyo sampai sekarang. Pada tahun 1987-1989, tiga tahun setelah kuliah, Fadjroel bersama-sama dengan para aktivis mahasiswa lainnya melakukan advokasi untuk petani Kacapiring dan Badega.
Masih pada masa represif Soeharto, ia ditunjuk menjadi komandan lapangan dalam aksi long march sejauh 60 kilometer dari Kampus ITB menuju Cicalengka. Aksi itu sempat dibubarkan oleh polisi dengan menghujani peserta aksi dengan peluru karet.
Fadjroel bersama kawan-kawannya juga beraksi menolak kedatangan Rudini yang saat itu menjabat sebagai menteri dalam negeri. Buntutnya Fadjroel bersama lima rekan lainnya ditangkap. Mereka mendekam di ruang tahanan Bakorstranasda selama satu tahun sebelum akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Ia terlibat Gerakan Lima Agustus ITB (1989) yang menuntut penurunan Soeharto dan menjadi tahanan politik berpindah-pindah 6 penjara termasuk Sukamiskin dan Nusakambangan.
Di balik empat penjara yang dijalaninya, Fadjroel menulis puisi. Puisi-puisi yang dituliskan di balik terali penjara itu kemudian diterbitkan dalam kumpulan puisi Catatan Bawah Tanah. Mochtar Lubis berminat menerbitkan puisi-puisi yang tercantum dalam pledoinya, kecuali dua puisi yang dianggap terlalu keras padawaktu itu.
Puisi Kita Harus Menuliskan Semua Hak Asasi Kita | M.Fadjroel Rachman
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKita Harus Menuliskan Semua Hak Asasi KitaM.Fadjroel RachmanDi tembok-tembok gedung perwakilan rakyatDi tembok-tembok gedung pemerintahanDi tembok-tembok gedung pengadilanDi tembok-tembok gedung angkatan bersenjataDi sepanjang jalan, di kebun-kebun petani, dipabrik-pabrik kaum pekerja di negeri kitaDi setiap lantai rumah-rumah kitaKita harus menyanyikan semua lagu danmembacakan semua puisiSepanjang hari dan sepanjang malamYang mengobarkan akal-budi dan hati-nurani kitaBahwa tanpa hak-hak asasi, kekuasaan akanmenjadi berhala haus-darah dan pencabutnyawa kitaBahwa tanpa hak-hak asasi maka kekuasaanmenjadi TIRANI, menjadi DURNO bagikehidupanBahwa tanpa hak-hak asasi kekuasaan akanmerampas tanah-tanah pekarangan kita,pekerjaan kita bahkan yang tak cukup untukmakan hari ini, menggusur dan membakarrumah-rumah kita, menghisap semuapersediaan air minum kita, merampaspendidikan, masa-depan anak-anak kita danmerampas semua suara kita, akal-budi sertahati-nurani kitaApakah lagi yang tak mungkin dirampas olehTirani Kekuasaan?Bahkan keberanian kita, dimasukkan dalamselokanDan negeri kita dijadikan kandang kerbauLalu seorang sipir maha-tahu dan maha-kuasaakan menggebuk siapa saja yang takdisukainyaLalu bagaimana mungkin ada perbincanganakal-budi dan hati-nurani di kandang kerbau?Cendekiawan dan penyair dijadikan benaludan hama bagi rakyat jelataSenapan dan jampi-jampi peraturandimasukkan paksa ke mulut dan sakumahasiswa, ulama serta pendetaLalu di manakah rumah-luas bagi cinta-kasihalam semesta?Lalu untuk apa bernegara, bila hanya sebagaialat memonopoli kekayaan dan kekuasaan,memonopoli akal-budi dan hati-nuraniLalu untuk apa lembaga perwakilan, bila hanyamenjadi lembaga main-sulap cukong-cukongdan penguasa dengan kapitalis Jepang,Eropa, Amerika; menjadi lembaga membagi-bagi uang-saku dan proyek-proyek pembangunanAstaga, lembaga apakah ini, demikian lihaimemperjudikan perut dan masa-depanbangsa sendiriLalu apa gunanya wakil-rakyat, bila tak maumembela kebutuhan dan kepentingan rakyatjelata; bila menutup mata dan telinga darisegala penderitaan rakyat jelataBukankah merak tak lain daripada benalu danhama bagi penghidupan rakyat jelataBukankah mereka tak lain daripadapengkhianat bagi cita-cita dan penghidupanrakyat jelataLalu apa gunanya pengadilan bila tidak beranimenyuarakan keadilan; bila hanya menjadialas kaki dan buldoser kekuasaan; menggilasratusan juta rakyat yang memperjuangkanhak-hak asasi; bila hanya menjadi kondombagi cukong dan penguasa rakus haus darahLalu saudara-saudaraku ratusan juta rakyatyang terampas hak-hak asasinyaUntuk apa berdiam diri menonton sikap-politikcukong-cukong dan penguasa di pengadilanberlumut iniLebih baik kita mengangkat poster-poster danmenuliskan semua hak asasi kitaDi tembok-tembok gedung perwakilan rakyatDi tembok-tembok gedung pemerintahanDi tembok-tembok gedung pengadilanDi tembok-tembok gedung angkatan bersenjataDi sepanjang jalan, di kebun-kebun petani, dipabrik-pabrik kaum pekerja di negeri kitaDi setiap lantai rumah-rumah kitaDan kita harus menyanyikan semua lagu danmembacakan semua puisiSepanjang hari dan sepanjang malamYang mengobarkan akal-budi dan hati-nurani kitaBahwa tanpa hak-hak asasi, kekuasaan akanmenjadi berhala haus-darah dan pencabutnyawa kitaBahwa tanpa hak-hak asasi maka kekuasaanmenjadi TIRANI, menjadi DURNO bagi kehidupanKebon Waru, Desember 1989
Subscribe to:
Posts (Atom)


