Showing posts with label Ayatrohaedi. Show all posts
Showing posts with label Ayatrohaedi. Show all posts

Friday, February 7, 2014

Puisi Suruttutur | Ayatrohaedi

0 komentar

Suruttutur
Ayatrohaedi

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang tak bisa dilupakan

Adalah pagi-pagi, punggung kerbau
selalu jadi tunggangan. Musim bersawah
kesibukan kampung di sana tertumpah.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:

            Darah yang turun-temurun
            tetes bunda penuai padi
            keringat bapa pembajak
            lewat nini lewat aki
            lewat jantung yang berdetak
            semenjak kampung terhuni.

            Angkatan demi angkatan
            dan jauh sebelum itu.

            Kerbauku sayang, kambing tercinta,
            rumput terhampar di bumi ini
            kalian cuma yang punya.

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang selalu dimimpikan

Adalah ketika senja, kereta tebu
selalu jadi incaran. Musim memotong
setiap anak pun berkumpul di sana.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:

            Cinta yang turun-temurun
            cinta bersemi di hati
            cinta ladang dan tanaman
            lewat bunda cinta padi
            lewat bapa cinta tanah
            tak pernah menjadi kering.

            Angkatan demi angkatan
            dan jauh sebelum itu.

            Tanahku sayang, ladang tercinta
            keringat ngucur di badan
            adalah cuma untukmu.

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Perpisahan antara kita adalah mimpi
yang tak pernah kumimpikan

1964

Wednesday, February 5, 2014

Puisi Nyanyian Keabadian | Ayatrohaedi

0 komentar

Nyanyian Keabadian
Ayatrohaedi

Hujan jatuh di luar musim
menghijaukan rumput di jalan

Hujan jatuh bersama angin
melambaikan daun di dahan

Hujan jatuh membawa dingin
menyejukkan rindu di badan

Cinta yang tumbuh setiap musim

1958

Tuesday, February 4, 2014

Puisi Das kalte Herz | Ayatrohaedi

0 komentar

Das kalte Herz
Ayatrohaedi

Kabut pegunungan
menutup lembah
suram cahya matari
di danau bawah

Kabut pegunungan
menutup lembah
dingin hati
mengetuk pintu

Hati dingin, hati
yang dingin,
bagai kabut pegunungan
menghadang matari.

Hati dingin, hati
yang dingin,
bagai pintu
berpalang besi.

Kabut pegunungan
menutup danau di bawah
hati 'kan tetap hati
walau pun sedingin besi.

1963

Monday, February 3, 2014

Puisi Tentang Alma mater | Ayatrohaedi

0 komentar

Alma mater
Ayatrohaedi

Aku melangkah ke luar gapura
dan tertegun di bawahnya: Gerbang
yang pernah menerima kedatanganku,
kini hendak kutinggalkan. Alangkah
kecil diriku, memandang keluasan
dunia di luar lingkungan kampus.

Sekian tahun yang lalu, aku melangkah
memasuki gapura ini, dan tertegun di bawahnya:
Di dalam, telah siap api menyala
untuk menggodogku. Alangkah bangga
hatiku, menjadi anak-didiknya.

Dan tahun-tahun berlalu, sekian kali telah berlalu.
Kemudian tibalah ketika, aku harus melangkahkan kaki
ke luar gapura. Dengan bekal yang kubawa:
sedikit pengetahuan, sesusun pengalaman,
dan yang terpenting, seberkas nasihat:
"Anakku, kulepas kau pergi, adalah dengan keyakinan
telah bisa berdiri sendiri. Kurelakan kau berjalan,
dan yang selalu musti kauingat,
sekolahmu belum lagi selesai, tapi malah baru mulai.
Karena di luar lingkungan Alma matermu ini,
gerbang sekolah paling besar terbuka:
masyarakat, lingkungan yang harus kaumasuki,
dunia yang wajib kaudatangi,
di mana kau musti hidup dan menghidupinya.
Ia telah siap menerima kedatanganmu.
Ia menagih janjimu, menuntut bakti
dari segala yang pernah kautuntut di sini.
Pergilah kau, berjalanlah dengan tabah, anakku."

Dan aku pun melangkah ke luar gapura.
Tak kurasa, aku pun memalingkan muka.
Memandangnya untuk kali yang penghabisan,
dan kurasa, meneteslah airmata.
Aku tak bisa bicara, dalam hati cuma:
"Selamat tinggal, aku tak akan bisa melupakanmu,
Alma materku tercinta, karena kau bagiku
adalah tempat kelahiran yang kedua."

1965

Puisi Rajagaluh* | Ayatrohaedi

0 komentar

Rajagaluh*
Ayatrohaedi

Sebuah hutan memucuk
lewat kampung Rajagaluh
gelagah lebat memanjang
tertutup jalan ke kota
biji tarum bunga kembang
burung ngisap benangsari

Dekat tidak tentram hati
tapi besok lain lagi
rindu kampung cinta dara
tak bakal sesayang bunda
habislah tahun dan bulan
tak kujelang Rajagaluh

1958
*(dari lagu rakyat Sunda)

Sunday, January 26, 2014

Puisi Leuwimunding | Ayatrohaedi

1 komentar

Leuwimunding
Ayatrohaedi

Jalannya penuh berdebu
antara sawah dan kali
antara gunung dan tegal
di bawah kilat belati
anak pulang dari kota
mengaca mayat sendiri.

Dan rindu makin menggunung
antara mata dan hati
di bawah kilat belati
melurus jalan ke makam
bawa cinta sampai mati

1958

Friday, January 24, 2014

Puisi Perempuan Malam | Ayatrohaedi

0 komentar

Perempuan Malam
Ayatrohaedi

Dia berdiri di tikungan
adalah bagian dari kehidupan

Dia berjalan pelan-pelan
karena kehidupan
melemparkannya ke jalan

Disapanya setiap lelaki
tidak dengan hati
dibuahkannya senyuman
lantaran keadaan

Pandangnya membayangkan

Suram lampu jalan
suram hidupnya  yang akan datang

1963

Puisi Situ Patenggang | Ayatrohaedi

0 komentar


Situ Patenggang
Ayatrohaedi

Bulan tanggal duapuluh-tiga
malam ini terlambat tiba
Dari balik awan mengintip ragu:
Apakah aku akan mampu
menembus tebalnya kabut
untuk menyampaikan amanat
di tengah gerimis hujan?

Air yang kemilau ditimpa cahya
memisahkan kedua ujung telaga.
Bulan yang ragu,
apakah jarak yang jauh
tak mungkin jadi dekat
jika padamu kutitipkan rindu?

terpandang jalan panjang
yang mungkin terlalu jauh
untuk bisa selesai kutempuh

Tapi di Situ Patenggang
semuanya jelas terbayang:
bayang-bayang
yang membayang
bagai bayangan
yang terbayang
bergoyang

1973

Biografi Ayatrohaedi

0 komentar

Biografi Ayatrohaedi

Ayatrohaedi lahir 5 Desember 1939 di Jatiwangi (Cirebon). Ia sarjana arkeologi lulusan Universitas Indonesia (1964). Tahun 1971-1973 memperdalam bidang linguistik dan filologi di Universitas Leiden, Belanda dan tahun 1975-1976, memperdalam dialektologi di Univ. Grenoble III, Perancis. Riwayat pekerjaan, staf Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (1965-1966), mengajar di Fakultas Sastra Univ. Pajajaran (1966-1972) dan mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sejak 1972). Buku yang sudah diterbitkannya: Warisan (1965), Yang Tersisih (1965), Panji Segala Raja (cerita anak, 1974), Puisi Negero (terjemahan puisi, 1976), Senandung Ombak (terjemahan roman Yukio Mishima, 1976). Buku dalam bahasa Sunda: Hujan Munggaran (kumpulan cerpen, 1960), Kabogoh Tere (roman pendek (1967), dan Pamapag (kumpulan sajak, 1972).

Puisi Tanah Sunda Senjahari | Ayatrohaedi

0 komentar

Tanah Sunda Senjahari
Ayatrohaedi

Di barat langit terbakar
matahari yang tenggelam.
bersiap menyambut malam.

Pucuk-pucuk gunung
merenung.
Dan hidup sehabis senja
'kan masuk dunia lain
di bawah temaram lilin.

Pucuk-pucuk rindu
dicumbu
angin yang berkelana.
dan lambaian daunan
'kan menggugah kesadaran:
kalulah tanah kelahiran!

Di barat langit memerah
pada kutub siang.
Dan gairah bangkit
di bukit-bukit
dan lembah-lembah
tanah tersayang.

1966

Thursday, January 23, 2014

Puisi Surat Akhir Tahun | Ayatrohaedi

0 komentar

Surat Akhir Tahun
Ayatrohaedi

Tetap kucinta'
gunung-gunung gundul
karena keyakinan
tiba saatnya
'kan kembali menghijau

Unggas yang terbang itu
'kan pulang ke sarang
bertelur dan mengeram
dalam kedamaian.

Pohon di kejauhan itu
selalu melambaikan tangan
bagi yang mengerti
arti harapan.

Ikan di kali
adalah kemerdekaan.

1961

Puisi Jatiluhur | Ayatrohaedi

0 komentar

Jatiluhur
Ayatrohaedi

Impian abadi leluhur
menemu bentuk. Tanah-tanah gersang
menjadi subur. Bagai disihir
air pun mengalir
lewat padang-padang hijau
menghimbau.

Sangkuriang nanar memandang:
Kerja yang terbengkalai
akhirnya selesai.
Tubuh-tubuh baja, lengan-lengan perkasa
menyusun batu demi batu
dinding telaga raksasa.
Membendung
napsu angkara manusia
yang berpusat pada: Aku,
Sangkuriang kesiangan.

Dayangsumbi membuahkan senyum
ke bumi: Inilah cintaku
pada turunan, anak-cucu
yang datang kemudian.
Tubuh-tubuh semampai, tangan-tangan gemulai
menanam benih demi benih
padang kencana.
Perwujudan ikrar
ketika menyingsing fajar.
Cintaku pada turunan
yang datang kemudian.

Impian abadi leluhur
menemu bentuk. Tanah-tanah subur
bukan lagi impian.
Tapi: kenyataan.

1969

Puisi Situ Gintung | Ayatrohaedi

0 komentar

Situ Gintung
Ayatrohaedi

anak-anak alam
beterjunan
dan berkejaran
sepuas hati

Di danau ini
gerak-gerak alam
berkejaran
dan bersahutan
seindah puisi

Di danau ini
gema suara alam
bersahutan
dan bersalaman
dalam hatiku

1967

Friday, March 2, 2012

Puisi Sunda Tentang Ibu | Puisi Sunda Indung

0 komentar



Indung
Ayatrohaedi

Iuh tanjung seungitna marganing wuyung
liuh indung perbawa nu cadu nundung
mun di dunya ngan aya indung jeung bapa
bakal bisa ngawasa sajagat raya
Ngan indung memeh miang dielingan,
“Lamun hirup ngan ngumbar karep sorangan
temahna poho ka indung
kaduhung nunggu di tuntung
nya hanjakal bakal jadi incu cikal.”

2001:88


Pamanggih
Ayatrohaedi

Salapan bulan ngakandung
Moal aya hiji jalma
leuwih ti indung micinta
indung gudang hampura
Salapan bulan dikandung
Moal aya hiji jalma
leuwih ti anak rumasa
anak gudang dosa
Salapan bulan ngakandung
Pinuh rasa jeung rumasa
Salapan bulan dikandung
Pinuh dosa jeung rumasa

2001:84

sumber : metasastra.wordpress.com


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |