Gerimis Pagi Ini
Korrie Layun Rampan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Tag : Chairil Anwar, Kahlil Gibran Puisi, Ajip Rosidi, Puisi PenantianShare
Monday, September 13, 2010
Gerimis Pagi Ini | Puisi Tentang Hujan Gerimis
0 komentar Monday, September 13, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTuesday, May 4, 2010
Puisi Mahakam | Korrie Layun Rampan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMahakam
Korrie Layun Rampan
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga
Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu
Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!
Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang
Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh
Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Z - Puisi Korrie Layun Rampan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSiapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
Iakah itu pelancong tak bernama.
Menyusur semenanjung tenggara
istirah ke sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana
Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada pulungnya
lakah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begini. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Perjalanan Ini
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPerjalanan Ini
Korrie Layun Rampan
Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi
Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani
Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah
Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban
Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku terbanting atas lantai kehidupan
Karena beban seribu jalan
Sukmaku yang gelisah resah
Merangkai sajak tak tersua
Sementara tangan tegang kaku menyandang sunyi
Membusur panah ke jantung waktu
Cintaku yang perih dalam pusat pusaran segala rindu
Memang laut-Mu teramat dalam terduga segala cinta
Dataran lekang kemarau menunggu waktu demi waktu
Adakah kita mampu menyimak segala rahasia
Yang bermain antara gelap dan denyar cahaya?
Adalah semuanya berpulang kepada janji, kepada sunyi
Cinta yang memahat-mahat setiap bait abadi
Bagai hujan yang setia mencuci lantai bumi
Menyelesaikan sebait puisi
Aku terbanting di atas lantai kehidupan
Rebah di tengah galau riuh rendah abad ini
Dan luka-luka
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Bunga-bunga Daun Luruh | Korrie Layun Rampan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBunga-bunga Daun Luruh
Korrie Layun Rampan
Bunga-bunga daun luruh
Halaman ditinggal adzan
jalanan senyap lubuk terpendam
Ke ujung tangisan
Suara menyapa dalam luruhan
Beranda sunyi menatap halaman
Apakah engkau apakah bosan
Yang setia berdiri di sisi kesepian
Bunga-bunga daun luruh
Halaman itu sunyi ditinggal diam
Pelangi mencium lubuk dan kolam
Kita pun di sini ngungun dalam gerimis duka jatuh
Menghitung-hitung sukma hari-had dekat dan jauh
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan
Korrie Layun Rampan
Kampar waktu pun menghanyutkan kita
Dalam arus zaman
Selalu tiran berceloteh dengan makna ganda
Seakan pelog-pelog burung malang atas ranting yang rapuh
Terus memasang sarang dalam bringas angin puyuh
Di jingga transisi ini
Dewa-dewa mabuk matahari
Mentalkinkan riwayat
Menggiring gamelan yang tiba-tiba
mengatmosfirkan sunyi
Mencuci kemarau pekat
Di aula ini di depan audensia
Terdampar kampar waktu
Dan di tengah padang celoteh aneh ini
Kita saling tuding-menuding
Dalam lilitan benang mursal
Sementara di arah lain angin bangkit membagal
Pantai niskala. Terkesiap kita tiba-tiba
Tiba-tiba hingar. Ruang: Mahsyarl
(Selalu tertawa waktu membujuk-bujuk senja
Sambil membetulkan jam yang buru-buru
menunjuk-nunjuk jadwal)
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Bertema Kota | Korrie Layun Rampan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKota
Korrie Layun Rampan
Kotaku di sini
Gemuruh yang sunyi
Belantara kembara
ke dasar sukma
ke dalam
Kotaku di sini
Bermatahari berbulan
Di bendulnya aku berdiri
Mengaca diri kehidupan
ke lubuk-Mu dalam
Kotaku di gemuruh dada
Di ujung sukma
Megah
Api nur di sana
BaQa
Kotaku, kota kita
Kota umat
Ke mana suatu kali nanti kita berangkat
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Sang Waktu pun Terbangun
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSang Waktu pun Terbangun
Korrie Layun Rampan
Sang waktu pun terbangun dengan 100 matahari
Dan kucuran darah dari nganga liang-liang luka
Ketika ludah-ludah dunia yang amis
Jatuh rimis pada wajah-wajah kita yang terbakar
Sang waktu pun terbangun dalam angin runcing
Dalam suara gaib lorong-lorong hampa dan bahana cahaya
Ketika kapal-kapal kita pun merapat di dermaga luka
Dari suatu petang entah di mana
Sang waktu pun terbangun dengan 1000 bianglala
Dan nanah-nanah darah Semesta
Karena 29 anak panah
Merobek rahim jantung lukanya
Sang waktu pun terbangun dalam erangan ombak-ombak dunia
Dalam bayang bulan hitam ketika mega jatuh senja
Sang waktu pun terbangun dalam rabu dan nyali kita
Ketika bahana terakhir menikam dinding-dinding sukma semesta
Ketika di meja sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Senja di Parangtritis
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSenja di Parangtritis
Korrie Layun Rampan
Sayap-sayap camar, gaung-Mu berkabar
Serpotong awan luka
menyingkap wajah-Mu bercadar
Bias larut. Legam laut dan senja tertawa
Ada yang luruh di dada. Busuran ujung langit terbakar
Suratan-Mu mistery beribu khabar
Riap sunyi bayang-bayang. Menyusup bendul luka
Di pantai Nyai Roro Kidul. Menanti kekasih pawang
Dengan sekepal jampi mantera
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Dari A ke Z
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDari A ke Z
Korrie Layun Rampan
Lengan-lengan yang capai
Suara gaib itu
Pohon-pohon kadasai
Berjajar membisiki waktu
Ujung cakrawala
Daun violet sayap rama-rama
Sepotong bulan sabit
Mengintip celah-celah luka berdarah
Riap lalang dan kaki-kaki kerbau
Lumpur rawa dan suara serangga
Gigir bukit yang sunyi
Menanti teka-teki
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Kita | Puisi Tentang Kita
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKita
Korrie Layun Rampan
Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa
Manusia
Tulang-tulang kapur tanah kubur
Rumput bunga layu
Tetes waktu berlalu
Manusia
Domba-domba di padang tanpa gembala
Tersesat sendiri
Ke ujung yang sunyi
Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Tentang Engkau dan Aku
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiEngkau dan Aku
Korrie Layun Rampan
Dahulu kita bertikai
Antara jalanmu jalanku
Sekarang kita sampai
Antara dua siku
Dahulu engkau ke sana
Aku pun melangkah ke anu
Sang Kala memutar kompas di belakang kita
Sekarang engkau dan aku
Engkau memetik melati
Aku menyiapkan api
Engkau menangis di sini
Aku tak tahu akan pergi
Pintu belantara itu terbuka
Burung-burung rimba berkeliaran
Kita telah sampai di ujung jalan
Memandang tamasya di sana
Siapakah engkau siapakah aku
Siapakah kita yang tersedu di ujung jalan itu
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Cermin | Puisi Tentang Cermin
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCermin
Korrie Layun Rampan
Ada sejuta serigala
Memburu di cermin wajah kita
Lapar dan ganas
Gagak-gagak menyanyi ke arah rimba
Seperti menyayat-nyayat daging kita
Matahari meratap
Dalam remukan-remukan cermin dingin
Telaga mengaca darah hitam
Ada luka yang mengucur darah
Kita ditinggal ngungun bayang cermin ini
Serigala-serigala melulung
Gagak-gagak berteriak
Darah tetap mengucur dari luka demi luka
Kita tiba-tiba pecah dan terserak dalam cermin
wajah-wajah kita
(0, Yang Ada
Kita hanya berteriak, "aduh!" dan meraba-raba)
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Judul Puisi | Kumpulan Puisi Suara Kesunyian
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi
Korrie Layun Rampan
Jalan ini berdebu, kekasih
Terbentang di padang rasa
Enam belas matahari memanah dari enam belas ufuk
Siang pun garang sepanjang kulminasi
Bahak malam mengikut pelan langkah tertatih
Ketipak bulan putih
Di taman kekasih
Pengantinku
Antara kerikil dan pasir merah
Tersembunyi jejak-jejak yang singgah
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Kota Kita di Sini
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKota Kita di Sini
Korrie Layun Rampan
Kota kita di sini
Dijilat ruh-ruh hidup dan mati
Kota kita di sini
Petak-petak pahir manis dan asam
Menderu diketermanguan
Berpeluh manik-manik logam
Kota kita di sini
Diri kehidupan yang gelisah
Memanjat rumah demi rumah
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Bertema Pintu | Puisi Tentang Pintu
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKorrie Layun Rampan
Pintu biru diketuk dari luar
Siapakah yang berdiri di situ
Dengan suara yang lirih samar
Kujenguk dari jendela bersama angin gemetar
Hanya sebuah kenangan yang luka
Bernyanyi, bernyanyi ke ujung apar
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Puisi Tentang Rahasia | Puisi Bertema Rahasia
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRahasia
Korrie Layun Rampan
Seperti sejumlah kata
Yang menggelepar ke luar
Meniti buih demi buih
Dunia yang terlantar
Seperti sejumlah musim
Yang kering, basah, dan mandi cahaya
Merangkak pada sumbu
jantung kita
Seperti sejumlah risau, benci dan cinta
Yang berpendar pada waktu
Menggaram akar-akar nafsu
Antara Adam lagu impian ziarahmu
Seperti sejumlah kata
Yang menyalin nama-nama
Meniti buih demi buih
jiwa kita
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Tarakan
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPulau kecil mendongak langit
Dan mengaca taut yang tertawa
Angin di bandar dan pawang
Membaca mantera buaya
Tambur perang di dadanya
Mengetuk-ketuk jantung lukal
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Doa Seorang Bocah Tuna
0 komentar Tuesday, May 04, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDoa Seorang Bocah Tuna
Korrie Layun Rampan
Berikan padaku pagi
Cahaya dan kebun bunga
Sungai membelah cakrawala
Lubuk-Mu kaca
Berikan padaku siang
Terik didih warna kehidupan
Benua jauh dan tanjung pulau
Tugu-Mu yang kukuh di tengah desau
Berikan padaku senja
Cangkir kopi, perapian dan buku tua
Kacara rabun dan pantai sejarah
Bukit-Mu megah
1973
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
