teknologi.news.viva.co.id
KematianBuat : IyuDaman SurachmanJika daun jauhKepada siapa aku mengadu ?Teramat senduNasib dipermainkan sang waktuDan ketika malaikat turunDari tangga sang waktuJangan menangis terus, Ya.Jakarta, jan 2013
Showing posts with label Tema Kematian. Show all posts
Showing posts with label Tema Kematian. Show all posts
Sunday, January 27, 2013
Puisi Kematian "Aku Ikhlas Dalam TanganMu" | Daman Surachman
0 komentar Sunday, January 27, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, January 9, 2013
Puisi "Membaca Pusara" | Hidup Adalah Antrian Di Loket Kematian
0 komentar Wednesday, January 09, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMembaca PusaraAgus Dwi Rusmiantomembaca lingkaranhanya satu putaranlantas merayap perlahandengan kaki-kaki waktu menuju ke huluakh!betapa penjarakkan sempurna antara akuku dan Kaukukembali pada bumiyang pegang janji Illahisetelah kemboja menunduk sunyiantar raga menyusuri sepiadalah doa-doa berhamburmeruang pada kubur“Bukan ini kado ulang tahun yang kuharapkan,” ucapmuhidup adalah antrianmenunggu di loket kematian2012http://oase.kompas.com/read/2012/09/04/22152173/Puisi-puisi.AD.Rusmianto
Sunday, December 30, 2012
Puisi Sketsa Kematian "Kematian Menunggu Di Ujung Jalan"
0 komentar Sunday, December 30, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSKETSA KEMATIANRudi SetiawanWajahnya memandangku menyeramkanKucoba untuk menghindar darinyaNamun kakiku semakin melangkah kesanaSang maut bersembunyi disudut gelapMenanti jiwaku datang terlelapKupaksa mataku untuk terus terjagaTetapi rasa kantukku semakin menderaKereta ajal melaju pastiMenunggu rohku terkapar matiKuberlari di lorong-lorong harapanKepada siapa kuharapakan pertolongan ?Liang kubur beraroma busukMengundang jasadku terperangkap masukKubersembunyi di dalam benteng yang kokohDan maut menemukanku lalu menyeretku dengan gagah“ Kullu Nafsin Dzaaiqatul Mauut “Doha, 19 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Friday, December 28, 2012
Puisi Bila Kematian Tiba "Kepada Jasadku" | Rudi Setiawan
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKEPADA JASADKURudi Setiawanengkau adalah sahabat sekaligus kekasihkubersama kita arungi hidup yang fanaberenang dalam comberan waktumengais di sampah-sampah kehidupanJasadkukala-ku senang kau pun bahagiakala-ku sedih kau cucurkan air matakala-ku sakit kau pun menjeritkala-ku resah kau menggigil gelisahJasadkubila kau terluka akupun meranabila kau terhina marahku melandabila kau menderita akupun sengsarabila kau bahagia senangku tak terkiraJasadkusuatu saat nanti kita pasti berpisahakan kutinggalkan kau diranjang kematiansendirian kau akan dilapukan oleh jamansementara aku akan terbang menuju kekekalanentah kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan.Doha, 28 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Friday, June 18, 2010
"MATI" SEBELUM ENGKAU MATI - JALALUDDIN RUMI
0 komentar Friday, June 18, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisi‘MATI’ SEBELUM ENGKAU MATI
Jalaluddin Rumi
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…
Jalaluddin Rumi (1207-1273)
Wednesday, May 19, 2010
SEPERTI KEMATIAN
0 komentar Wednesday, May 19, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSEPERTI KEMATIAN
Isbedy Stiawan ZS
aku dapati kematian
tiap gali rahasia perempuan
serupa mendung
di wajahmu
aku hanya rasakan
aroma peluhmu
lalu mata,
bibir yang anggur
sebagai kanal dingin:
sesunyi pelataran ini
buatku mendesah
kugotong berwaktu-waktu
mencapai pendakian
dan membongkarnya
di kanal ini
tapi, sudah berapa jauh
aku ngembara,
berapa lubang kugali
mencari temu rahasia?
engkau, perempuan, rahasia
yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…
2004
Tuesday, May 18, 2010
Puisi Doa Jenazah | Beri Jalan Aku Kembali Kepada-Nya
0 komentar Tuesday, May 18, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDOA JENAZAH
Isbedy Stiawan ZS
aroma dupa dan wangi sayur yang ditawarkan
dari sudut-sudut rumah ini kuharap jangan
dihidangkan di atas piring kerandaku
lalu turunkan muatan! buka palka
dan kuburkan kepasrahanmu. beri jalan aku
kembali kepada-Nya. tanpa asap dupa
tanpa pesta!
1984/1986
TUBUH TANPA RUH | Kumpulan Puisi Kematian
0 komentar Tuesday, May 18, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTUBUH TANPA RUH
Isbedi Stiawan ZS
-bagi almarhum D.Z
tubuh itu
tanpa ruh. nyebarkan duka
melayat bunga dari seluruh kampung
(dari sini perjalanan masih panjang
bagi tubuh tanpa ruh
yang ditandu; bergegaslah peluit dibunyikan
biar sampai di stasiun sebelum senja merengkuh)
tubuh itu
tanpa ruh
bekukan hujan di awan
sepanjang hari
sementara dari kamar
netes kenang; siapa bisa
menghapus gambar tangan
di dada?
12/7/1984
Sunday, May 16, 2010
Kumpulan Puisi Tentang Maut dan Kematian
2 komentar Sunday, May 16, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni
(Antologi Puisi untuk Munir)
Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar
Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan
Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun
Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?
Malang, 27 Oktober 2005
TENTANG MAUT
Ajip Rosidi
Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.
Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang.
Kuperhatikan bayi lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:
"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".
II
Yang kukandung sejak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubenci
Tapi kalau hidupku nak dikunci
Datang Tuhan menawari:
"Sukakah kau hidup semenit lagi?"
Kujawab pasti: "Suka sekali!"
III
Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati
Membayangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut
Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.
1960
KEMATIAN
Ajip Rosidi
lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru
tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi
ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran
pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari
ii
muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati
muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka
1954
MAUT
Yun Casalona
Datang maut panggil namaku
Tersentak aku dari lamunan
Ketika bisikan kata teringat akan dosa
Maut datang tanpa member salam
Apakah datang bukan dari pintu
Atau memang itu caramu bertamu
Maut pastikah itu alamat yang tertulis
Di daftarmu
Maut jangan dekati aku,aku malu bertemu
Aku kotor, jauhilah aku
Banda Aceh, 180793
Monday, April 26, 2010
Puisi Tentang Kematian | Azizah Hefni
0 komentar Monday, April 26, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni
Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar
Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan
Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun
Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?
Malang, 27 Oktober 2005
Antologi Puisi Untuk Munir
Wednesday, April 21, 2010
Puisi Tragedi | Kematian
0 komentar Wednesday, April 21, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKematian
Ajip Rosidi
i
lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru
tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi
ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran
pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari
ii
muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati
muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka
1954Share
Subscribe to:
Posts (Atom)


