Berlin, 1993Goenawan MohamadBerlin berteriakdalam bengis sireneKau tersentak:“Jangan tinggalkan aku di Friedrichstrasse”Kucium pelupukmu, kelopak yang gelapdi kaca etalase:Kenapa luka itu tak pernah nampakseusai berita dan parade?Pohon-pohon linden sebelum Meiseperti rangka, seperti berdiri,nyeri, di kamp tahun ‘42pagi hari.Kulihat rautmu yang turki,rambutmu yahudiBerlinmu yang lain,setelah aku pergiAku pun bertanya, bisakah kita berlindungpada senja yang tak memihak,pada malam sejenak,dan metamorfose?Berlin hanya berteriakhanya berteriakdalam serakdan bengis sirine.1994-1996
Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts
Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts
Saturday, February 8, 2014
Puisi Berlin, 1993 | Goenawan Mohamad
0 komentar Saturday, February 08, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, February 5, 2014
Puisi Untuk Frida Kahlo | Goenawan Mohamad
0 komentar Wednesday, February 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiUntuk Frida KahloGoenawan MohamadFrida Kahlo menulis dalam catatan hariannya: ”Hidup yangdiam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiadaharap.” Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah,ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh …Apakah yang kita mengerti sebenarnya, tadi: kesederhanaanlagu tentang nasib, atau arus tak sadar pada tinta, darah dalamdawat, deretan kata-kata murung? Apa penanda, apa petanda?Frida tak pernah menjawab. Berhari-hari yang nampak adalahlelaki, tamu-tamu, yang berdatangan, melalui beranda RumahBiru, menyapanya, duduk-duduk, minum teh, mencicipi kue,dan berceloteh dan melucu, sambil berdiskusi tentang tuhanyang mereka ingkari dan kedatangan TrotskyMereka berkata, ‘Tidak, Frida, kau tak apa-apa’Tapi di alis itu …di alismu langit berkabungdengan jerit hitamdua burungdi ragamu tiang patahdi kamar narkose, ampul tertebar:sisa sakit dan sejarahtapi kijang yang tak menjerit di hutanpada luka lembing penghabisanadalah seorang perempuanuluhati yang tercerabuttapi terbang, menjemput Mautadalah seorang perempuanKemudian akan datang lusa: dari Cayougan orang-orang akanpulang, dan akan datang pula orang lain. Ada yang telahberangkat mengurus revolusi atau kembali menenteng tas dankertas-kertas – manifesto yang kehilangan bunyi. Tapi semuaberkata, “Tidak, Frida, kau, kita, juga Diego Riviera, telahberusaha untuk setia, tapi kita bukan apa-apa lagi. Duniasudah tak seperti dulu.”Bukan apa-apa …tapi di matamu kaulihatpiramid-piramid sakitmencari air kaktuspada pucat langitLalu kaulukiskan airmatamu,seperti mutiara danputih cukadi tembikar kulitmuDi atasnya para santodan wajah Diego: praba dan cahayayang membakar kekalmimpi MeksikoDi ruang Meksiko itu, dengan gaun putih Tehuana, Fridamenghentikan kursi rodanya. Kamar berubah suhu, tapi hidup,seperti dulu, adalah kini yang berganti-ganti. Kekekalan – yangtelah mengalami semua, dan akan menyaksikan semua – takada. Palet yang memamerkan luka, paras Judas, rangka darikertas, buket kembang lavender yang tertahan di tangan:elemen waktu yang berakhir setiap hari, setiap kali.Terkadang ia tergoda juga untuk lupa: dilukisnya korsase putihyang tetap bersih dan Noguchi (di dada seorang perempuan, diManhattan, yang jatuh dari gedung-gedung, dengan rautcemerlang, bunuh diri).Apakah mati sebenarnya? Konon di tempat tidurnya – sebelumorang mengangkatnya ke api kremasi – ada seorang yangdatang dan mencium parasnya, penghabisan kali, “Frida, kauadalah ketakjuban kepada harum brendi, senyum dipercakapan dan ranum pisang dalam sajikan makan malam.Kau tergetar kepada apa yang sebentar.”Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan ramaramayang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang taktahu telah berubah lazuardi.“Apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yangsementara?”Benar, begitulah ia pernah bertanya.1993-1994
Puisi Tentang Nuh | Goenawan Mohamad
0 komentar Wednesday, February 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNuhGoenawan MohamadPada hari Ahad kedua, kota tua itu tumpas. Curah hujantak lagi deras, meskipun angkasa masih ungu, dan hari gusar.Rumah-rumah runtuh, seluruh permukaan rumpang, dantamasya mati bunyi, kecuali gemuruh air. Memang ada jeritterakhir, yakni teriak seorang anak.“Ia jatuh,” kata laporan yang disampaikan kepada Nakhoda“dari sebuah atap yang bongkah. Air bah menyeretnyaKakinya memang lumpuh sebelah. Dengan cepat ia puntenggelam, seperti yang lain-lain: neneknya, ibu-bapaknya,saudara-saudaranya sekandung. Ia tenggelam, seraya memekik,begitu juga seluruh kota.”Nakhoda itu tersenyum. Segera diberitakannya kabar terakhir itukepada Nuh yang sedang berdoa di kamarnya dalam bahtera.Orang alim itu terdiam sebentar, lalu bangun dan berjalan keburitan. Ia ingin menyaksikan sendiri benarkah gelombang telahselesai membunuh.Memang: banjir itu tak lagi ganas, seakan-akan naga yangkenyang bangkai.Dan di sisa kota itu ia lihat mayat, terapung, menggelembung,hampir hitam, beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu.Ia lihat gagak dan burung-burung marabou, bertengger di atasperempuan-perempuan tua yang terserak busuk. Di permukaanair itu bahkan hutan-hutan takluk dan senja seakan terbalik,seperti pagi. Nuh pun berbisik,”Kaum yang musyrik, yang takdikehendaki…”Ia menghela napas, lalu kembali ke anjungan. Bau bacinmenyusup dari cuaca, bahkan sampai ke ruang doa, dan iamerasa kota itu akan segara jadi payau. Maka tatkala langitteduh, Nuh segera meminta agar bahtera diarahkan ke sebuahdataran tinggi yang masih utuh, di utara. Ia berkata, ”Keadilan,perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan.” Dan ia mendarat.Lepas dari air, ia merunduk di tepian itu dan diucapkannyasyukur. Lalu segera disuruhnya persiapkan korban hewan dikaki bukit. Harum daging bakar pun sampai ke langit, danmembuat surga berbahagia. “Ya, Maha Dasar, tak ada lagi yangbisa keluar,” begitulah sembah yang diucapkannya, ketika hari jaditerang dan jemaat berdoa untuk kota-kota yang akan datang,yang kukuh, patuh. Kota-kota Nuh.1998
Saturday, January 25, 2014
Sajak Selatan Buat Y.Y | Goenawan Mohamad
0 komentar Saturday, January 25, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSajak SelatanBuat Y.YGoenawan MohamadIa lepas topi kepada burung-burungdan sore hari orang SamarkandIa lihat matahari menitipkan parasnya pada pualamAsar lewat, sekelebatasar seorang komisarketika bayang dan cahaya yang silausaling memburudi madrasah biruIa dengar surahseperti Tuhan belum pernahdikalahkanseperti desau kapasdari ladang pedalamanTapi di dalam balai ada orang nyanyi, kisah caravandan sajak orang Bukharayang mereka bacakan, mereka bacakan, sampaiLenin-Lenin plastikleleh di auladan orang terdiamdalam perjamuanBarangkali ia dengar juga bunyi esokyang lain lagi?Bunyi waktu, yang seperti pisau,bunyi mimpi yang robek,bunyi malam yang kadang sampaidi langit Uzbek?Ia lihat burung-burung bertambah hitam,hinggap,seperti tirai.Di malam itu ditulisnya surat(meski ia tak tahu di mana kau, Yevgeny),“Di Samarkand sesuatu terlindung di kedap daun,aku melihatnyadi pohon-pohon lampai.”1996
Friday, January 24, 2014
Puisi Misalkan Kita di Sarajevo | Goenawan Mohamad
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMisalkan Kita di SarajevoBuat B.B dan kawan-kawanGoenawan MohamadMisalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetukdengan kanon sepucukdan bertanya benarkah ke Sarajevoada secelah pintu masuk.Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,dengan luka-luka peluru,akan bilang “tidak”,selepas galau.Tapi kau tahu musim, di Sarajevoakan mematahkan engsel,dingin akan menciutkan tangan,dan listrik lindap.Orang-orang akan kembalidari kedai minum,dan memandangi hangusdi loteng-loteng.Apakah yang mereka saksikan sebenarnyadi Sarajevo: sebentang samun,tanah yang redam?Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?Keyakinan dipasakdi atas mihrab dan lumbung gandungdan tak ada lagiorang membaca.Hanya mungkin pada kitamasih ada seutas tilas,yang tak terseka. Atau barangkalisebentuk asli katahati?Misalkan, misalkan, di Sarajevo: bulantak meninggalkan replika,di dekat menara, tinggal warna putihyang hilang dari azanMisalkan angin juga kehilanganperangaidi pucuk-pucuk poplar kuningdan taman yang tak bergerak.Pasti nenek peri, dengan suara kanker di perut,akan berkata,“Tinggal cobaan dalam puasadi padang gurun, di mana kau tak bisa.”Mengapa kita di Sarajevo?Mengapa gerangan kita pertahankan kota ini?Seperti dalam sebuah kisah film,Sarajevo tak bisa takluk.Kita tak bisa taklukTapi keluar dari gedung rapat umum,orang-orang sipilakan mengenakan baju mereka yang terbaik,mencium pipi para isteri, ramah tapi gugup,meskipun mereka, di dalam saku,menyembunyikan teks yang gaib itu:“Bukan roti, melainkan firman.”Batu-batu di trotoar inimemang tak akan bisa jadi roticahaya salju di kejauhan itujuga tak akan jadi firmanTapi misalkan kita di SarajevoDi dekat museum itu kita juga akan takzimmembersihkan diri: Biarkan aku matidalam warna kirmizi.”Lalu aku pergikau pergi, berangkat, tak memucatseperti awal pagidi warna kirmizi1994
Puisi Pada Sebuah Pulau | Goenawan Mohamad
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPada Sebuah PulauGoenawan MohamadBadai hanya pulang gema, di sini, seperti ratap pulaudari karang-karang kambriayang gelap.Pantai mengangakan rahang, menelan waktuyang datang bertubuhkanTanah melulurekulaptus.Sejarah menembus.Pada batukapur tua ia menyusun sember itu – yang akhirnya tak adaBeratus tahun kemudian ia pun kembali,jejak, kerak, sisa, tanda: fana, barangkali tak fana1994
Puisi Di Pasar Loak | Goenawan Mohamad
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Pasar LoakGoenawan MohamadDi pasar loak jejak timpa menimpa, menghapus kau dan aku,mengingat kau mengingat akuPengalaman adalah karpet tua, anakku, pompa-pompa,gambar burak, gambar yesus, kamus-kamus, gaun malam danhordin panjang, di mana dulu ada sebuah rumah, di mana kitatak ada, kita tak punya, di mana seekor parkit mungkinmencoba bernyanyi, mencoba menyanyi, dan seseorang tutuppintu, dengar, papa, aku tak kembali, tak akan kembaliKenangan adalah seperti manik-manik yang ditawarkan peniupharmonika itu: butir-butir putih yang teruntai, tak berkait,sebuah montase, sederet huruf morse, Selamatkan Kami,Selamatkan Kami, Kami Tenggelam, percintaan yang tak inginjadi hantu dalam mimpi malam.Perpisahan adalah sebuah isyarat kematian, orang tua penjualkaca itu berkata dan bertanya, siapa kita sebenarnya, mengapa1994
Puisi Di Malioboro | Goenawan Mohamad
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi MalioboroKepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965Goenawan MohamadSaya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuhdi sisi benteng VriedenbergSiapa namamu, kataku, dan kau bilang:Kenapa kau tanyakan itu.Malam mulai diabaikan waktu.Di luar, trotoar tertinggal.Deret gedung bergadangdan lampu tugur sepanjang malamseperti jaga untuk seorang bagindayang sebentar lagi akan matiMataram, katamu, Mataram …Ingat-ingatan pun bepercikan-- sekilas terang kemudian hilang – seakan pijardi kedai tukang las.Saya coba pertautkan kembalipotongan-potongan waktuyang terputus dari landas.Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanyaDi atas bintang-bintang mabukoleh belerangkepundan seperti sebuah radangdan bulan dihirup hilangkembali oleh MerapiTrauma, kau bilang(mungkin juga, “Trakhoma”?)membutakan kitaDan esok los-los pasarakan menyebarkan lagi warna mainan kanakdari kayu: boneka-boneka pengantinmerah-kuning dan rumah-rumah harapandalam lilin.siapa namamu, tanyakuAku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.1997
Thursday, January 23, 2014
Puisi Bintang Pagi | Goenawan Mohamad
0 komentar Thursday, January 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBintang PagiGoenawan MohamadBintang pagi: seperti sebuah sinyaluntuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,ke arah tanjungyang kadang menghilang. Mungkin adasebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,di mana hasrat – dan apa saja yang teringat – terhimpunseperti bangkai burung-burungdi mana tepi mungkin tak ada lagi.Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisihdan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.Sementara kau dan aku, duduk, bicara,dalam sal panjang.Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggapdi perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,yang selamanya menunggu tanda hari:badai, atau gelap, atau –bukan bintang pagi.1996
Puisi 30 Tahun Kemudian | Goenawan Mohamad
0 komentar Thursday, January 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisi30 Tahun KemudianGoenawan Mohamad30 tahun kemudian mereka bertemu di restoran dekat danau.Hujan dan kenangan berhimpitan, berbareng,seperti lalulintas yang langgeng.Terkadang badai meracau,langit kian dekat, dan dari tebing dingin berjalin dengan basahpucuk andilauketika mereka duduk berlima,dengan tuak putih tua,bertukar cerita tentang lelucon angka tahundan rasa asing pensiun,mengeluhkan anak yang pergi dari tiap bandardan percakapan-percakapan sebentar.Terkadang mereka seakan-akan dengarkan teriak trompet darikanal seperti jerit malaikat yang kesaldan mereka tertawa. Sehabis sloki ketiga,waktu pun berubah seperti pergantian prisma:masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim padamarmar makam Cina.Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.Dan pada sloki ke-4 dan ke-5 mereka dengarkan angin susulmenyusul, seakan seorang orang tua bersiuldengan suara kisutke bulan yang berlumut.Pada sloki ke-6 mereka menunggu malam singgah dalamtopeng Habsi. Dan tuhan dalam baju besi.30 tahun kemudian mereka tak akan bertemu lagi di sini.1996
Wednesday, September 26, 2012
Puisi Nota untuk Umur 49 Tahun | Goenawan Mohamad
0 komentar Wednesday, September 26, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Nota untuk Umur 49 TahunPasir dalam gelas waktuMenghamburKe dalam plasmakuLalu di sana tersusun gurunDan mungkin oaseTempat terakhir burung-burung1990
Biografi Goenawan Mohamad
0 komentar Wednesday, September 26, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Goenawan Soesatyo Mohamad (Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941) adalah seorang pujangga Indonesia yang terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Masa Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo ini, pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Dunia Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994. Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo. Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.(sumber wikipedia.com)
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Masa Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo ini, pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Dunia Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994. Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo. Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.(sumber wikipedia.com)
Subscribe to:
Posts (Atom)


