Damai Dalam PasrahHajah Juriyati Mat JalilEntah MengapaSemangat Ku Di Sapa Tempias Air MataPada Sebuah KehilanganYang Tiada BerpangkalanMencari Jejak Yang Tiada BerbekasMencari Suara Yang Tiada GetarnyaMencari Di Kau Hilang Di ManaDalam Pasrah Ada RedhaNamun Harapan Masih KugenggamBiarpun Jauh Tak Mampu KugapaiBiarpun Lelah Bersama SenduYakin Pasti Tetap BersamakuBerbekal Doa Dalam Kemarau DukaWalau Tipis Tak Mudah RobeknyaKu Layar Ia Pada Bahtera RinduMoga Ketemu Pada Janji Yang SatuDalam Sabar Yang Tiada BerbatasDalam Nyata Merungkai SegalaMoga Semangat Ku Kembali BersatuMengakhiri Jelajah PencarianDi Persada Dunia Ciptaan Mu TuhanSegalanya Kehendak Mu JuaDalam Rela Doa Ku Tak PutusMoga Yang Gelap Bertukar TerangSeperti Berganti Malam Dan SiangBerpaksi Bulan Dan Juga MentariDamaikan HatiPada Pencarian IniDamaikan HatiPada Pertemuan PastiMaret 2014Sebuah Sajak hasil nukilan Hajah Juriyati Mat Jalil atas kehilangan pesawat MH370dan telah kami videokan untuk tatapan penonton..Inilah sahaja hasil yang dapat kami beri selain sentiasa berdoa...
Showing posts with label Puisi Penyair Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Puisi Penyair Malaysia. Show all posts
Tuesday, April 1, 2014
Puisi Damai Dalam Pasrah "Tragedi MH370" | Hajah Juriyati Mat Jalil
0 komentar Tuesday, April 01, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiThursday, March 27, 2014
Puisi Jamung Merdeka | Razali Mohd Yussof
0 komentar Thursday, March 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJAMUNG MERDEKARazali Mohd YussofMari Kita ImbauSelembar Demi SelembarEpisod Air Mata Tanah Air.Telah Lima Musim Kita Meneguk UsiaDari Pelabuhan Kelam Ke Tanjung SinarDari Jerbu Udara Ke Langit JernihDari Rimba Bukit Ke Lebuh RayaJuragan Datang Dan Pergi;Di Mana Sebenarnya Kita Berdiri, Di Bumi Sendiri?Telah Lahir Putera BangsawanMengibar Jalur KemerdekaanTelah Lahir Wira Berdarah RakyatMenabur Baja Di Ladang PembangunanTelah Lahir Semangat PejuangMemimpin Rakyat Ke arah PerpaduanTelah Lahir Arkitek BangsaMemercikkan Kegemilangan Malaysia Ke Mata Dunia.Hari Ini Menjelma Sudah Jiwa Insan HadhariDan Dari Kelopak MatanyaMengalir Kali Damai Yang AbadiTetesannnya Yang BeningMeresapi Hasanah Dunia Dan AkhiratRintik-Rintik Embun Tergenang Di HalamanAngin Sepoi-Sepoi Bahasa Membisik Ke Pelosok DesaBerapa Harga Kita Sebenarnya, Di Bumi Sendiri?Mari Kita Nyalakan Lilin Dari Jamung PuisiMenyemarakkan Tembang Bahtera MerdekaBiar Lirik Dan Irama Kita SenadaAlunkan Pada Tanah Pusaka IniAgar Tidak Dicemari Rengekan Biadap Hak KetuananTidak Dibolosi Tusukan Curang Anak Dagang.Tahun Beredar Dekad BerlaluDan Kita Semakin Di Mamah UsiaPergeseran, Memusnahkan Wawasan Anak Cucu Kita;Seteguh Apa Sebenarnya Perpaduan Kita, Di Bumi Sendiri?Mari Kita Bebatkan Luka Di MukaMari Kita Bebatkan Luka Di DadaMari Kita Bebatkan Luka Di SukmaBiar Darah Sengketa Mengalir SejahteraBiar Darah Cinta Meresap Ke Tulang BangsaBiar Darah Silaturahim Bertunjang Ke Jantung Kita.Nukilan:Razali Mohd YussofAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Menjunjung janji Menyanjung Budi | Mahaya Mohd Yassin
0 komentar Thursday, March 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMENJUNJUNG JANJI MENYANJUNG BUDIMahaya Mohd YassinInilah Warisan Moyang Yang Gah Payah Menerjah Sebelum PasrahDalam Gelombang Tsunami Yang Menggegar JatidiriTekad Dan Hasrat Tidak Mengenal GugatKerana Tunjang Akarnya Kental, Sejati, Teguh BersemangatDan Kejap Memasak Bumi Keramat.Inilah Pusaka Peribumi Yang Kemilau Dijagat RayaDalam Sinar Kerdip Bintang Cakerawala WatanPenuh Azam Dan Keyakinan Yang Tepu Dan PaduPohon Peribadinya Menulang Sekukuh PaksiMantap Menjunjung Janji, Telus Menyanjung Budi.Sedari Dahulu Jejak Diselusur Mewangi Ladang Perkasihan SejatiSalasilah Diukir Mengarca Diri Di Samudera Kejelikan SuciDemi Tugas Dan Tanggungajwab Setia Menyebati AtmaDari Perlis Ke Sabah Sumpah Setia Bergema!Kini Kekal Kegemilangan Bertakhta Di Tiara UnggulPucuk Hayatnya Mencecah Jagat Sukma JayaPenuh Kesetiaan Murni Sesuci Doa PertiwiBerdaulat Dan Berhikmah, Bermartabat Dan Beramanah.Inilah Generasi Yang Menyerlahkan Bakti LuhurInilah Jua Pelapis Yang Menyerahkan Diri SekujurBerhujah Petah Dan Bergeliga, Bermadah Beradab BerbahasaDemi Maruah Dan Darjat Bangsa Cendekia.Inilah Barisan Peninggalan Pemugar Tamadun BersusilaMemacu Ilmu Pusaka Takma Perpaduan NusaMelakar Amat Telus Mengabadi Dari Lubuk NuraniBerpekerti Murni Demi Membenteng Kerakusan Nafsi.Inilah Wira Dan Srikandi Yang Terang Hatinya Berfikiran CerdasYang Kaya Ilmunya Berpengetahuan LuasYang Panjang Akalnya Berbicara MolekNegeri Tercinta Dimakmurkan, Masyarakat Tersayang Dididik.Keranamu Malaysia, Semerah Darah Nadi Ikrar IniKami Hidup Sekali Biar Berjasa, Biar Berbudi!Nukilan:Mahaya Mohd YassinAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Mengenangmu Pejuang | Sahrunizam Abdul Talib
0 komentar Thursday, March 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMENGENANGMU PEJUANGSahrunizam Abdul TalibTelah Kalian Terjemahkan Perjuangan Suci ItuMenjadi Selaut Keringat Dan Setasik DarahTercatat Megah Jasanya Di Buku SejarahWalau Jasad Tersungkur Rebah Di Kaki PenjajahKalian Tetap Pejuang Kebanggaan Anak-Anak MerdekaKalian Tetap Pejuang Kebebasan Berhati SuciKebangsaan Seluruh Warga Pertiwi.Bergetar Bibir Menyebut Namamu PejuangBaik Ternama Atau Pejuang Tanpa NamaKalian Datang Dan Pergi, Kembali Dan HilangKalian Gadaikan Kepentingan Demi Iltizam PerjuanganKalian Humbangkan Igau Ketakutan Demi Azam KeyakinanPerjuangan Harus Tabah Meredah ApiPerjuangan Harus Berani Menatang MatahariSentiasa Bijaksana Mencatur Segala TindakSentiasa Berhikmah Sepanjang Hayat Mengatur Setiap Gerak.Pejuang Yang Tidak Mencari NamaAdalah Pejuang Gagah Yang Menghukum Durjana PenjajahMengusir Petualang Laknat Durjana Ke Jalan Pulang,Pulang Mengusung Keranda Walang.Meski Engkau Berkubur Tanpa Taburan Bunga Di Atas PusaraGugurmu Tanpa Kilauan Pingat Tersemat Di DadaTapi Tetap Kalian Dikenang Sejarah Bunga BangsaSebagai Pejuang Terbilang Berhati Sekeras WajaKau Tidak Mudah Tergoda Umpan Yang Kilauan Di MataTabah Mengawal Bicara Tidak Mementingkan Di PerutSahaja.Kepadamu Pejuang Ternama Atau Tanpa NamaDamailah Kalian Dalam Dakapan Rahmat TuhanPercayalah, Perjuangan Suci, Adalah Buahnya Ranum Di Syurga AbadiSeluruh Ingatan Kekal Menyusur Perjalanan ZamanNukilan :Sahrunizam Abdul TalibAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Nikmat Merdeka Sebuah negara | Shaari A.B
0 komentar Thursday, March 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNIKMAT MERDEKA SEBUAH NEGARAShaari A.BBegitu Nyaman Menghela Nafas Di Negara BertuahKuntum Mewangi Pembangunan Berkembang Menghias TamanTerpugar Kemajuan Meninggalkan Zaman PenjajahSeluruh Desa Dan Kota Bertukar Wajah.Malaysia Dalam Suratan Sejarah Pecah PerintahTunduk Menyembah Pantang Membantah Apa DiarahMelawan Ke Pihak Benar Derhaka Terima PadahAnak Kecil Disuntik Ketakutan Sejak Di buaianDigambarkan Melayu Duduk Cari Kutu Sengaja Dilemah LayuJangan Gundah Ilmu Setakat Hanya Sekolah RendahApabila Besar Panjang Hanya Bantu Bapa Di Sawah.Mahkota Merdeka Ini Membawa Limpah RahmatRancang Atur Pembangunan Membawa MatlamatLadang Minda Dibuka Merata Usaha, TerbinaSiang Dan Malam Dipupuk Semangat JuangMenghimpun Cerdik Pandai Mengisi Pekerjaan,Rezeki Bertambah Habuan Keluarga Tumpang Bahagia.Bersyukur Kita Atas Nikmat DikecapiAkal Budi Meluas Laut BicaraJangan Disebut Pisang Berbuah Dua KaliJangan Lagi Mengkapan Jenazah Karung GuniJangan Ziarah Keluarga Secebis Kain Bertukar GantiJangan Jelapang Padi Luas Bergilirkan UbiBila Alu Dan Lesung Bertingkah BunyiPadi Tumpah, Ayam Bersoarak, Periuk Tidak BerisiTatang Dan Sayangilah Mahkota Merdeka Ini Sepenuh ErtiHindarkan Dengki Ke Tepi, Untung Sama BerbahagiPada Seluruh Warga Bangsa Malaysia TercintaWangikan Kuntum Perpaduan Ini Berkurun Harum.Nukilan:Shaari A.BAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Terima Kasih Pengalaman | Sholihin Osman
0 komentar Thursday, March 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTERIMA KASIH PENGALAMANSholihin OsmanSembilan Belas Lima Puluh Tujuh Membuka JendelaMenerpa Cahaya Ke Rumah Zaman BerwarnaSelamat Tinggal Kenangan Selamat Jalan PengalamanMusim Baru Citra Baru Dan Fikrah BaruKita Bina Kota Waktu Memecut Memintas TamadunKeruh Yang Ditampi Dan Kelabu Yang DisisirPatinya Kita Hirup Dan JamahMeninggalkan Sejarah Yang Menduga Dan Luka.Kelmarin Menjadi Bukti Kita Bangsa BerwibawaSemalam Adalah Hakiki Kita Bangsa Yang Merdeka.Ini Daerah Kita Ruang Bebas Yang AdicitraKita Melangkah Meniti PerjuanganDi Kuala Pertemuan Antara Tiga Suara Yang BersatuSenyum Yang Digubah Bersama Sejambak SetiaTerbanglah Beburung Laut Menuju Ke Langit PurbaLangit Berkaca Melukis Bahagia Dari Syurga.Berganti Generasi Kita Bentuk Jalan Ke UfukDari Jalan Berdebu Kepada Aspal BalduDari Rumbia Dan Nipah Menjadi Genting MesraDari Hujung Jari Terbit Hajat Dan CitaDari Utara Ke Selatan Hanya Sekelip MataDari Mimpi Lama Berubah Realiti SemasaPeta Sudah Bercahaya Melukis SejahteraSejahtera Membuka Segala Imaginasi Dan FaktaFakta Lahir Dari Pemikiran Yang Merdeka.Lihat Di Belakang Dirimu Ada Biru MembinaPandanglah Di Atas Dirimu Ada Kuning MenerpaRenungkanlah Di Dalam Dirimu Ada Putih NirmalaPerhatikanlah Di Depan Dirimu Ada Merah Membara.Di sini Tempat Kita Berdiri Tempat Kita BerlariMenjunjung Kedaulatan Pertiwi Kebijaksanaan PerdanaBiar Putih Tulang Berselerak Malang Petaka MeneranjangBumi Tercinta Kita Pagarkan Kita TadahkanDengan Setia Dan WawasanPerjuangan Anak Watan Kental Kentara Ke Akhir Zaman.Nukilan:Sholihin OsmanAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Wednesday, March 26, 2014
Puisi dari Menara merdeka | Wali Leta S.A.
1 komentar Wednesday, March 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDARI MENARA MERDEKAWali Leta S.A.Dari Menara Merdeka Kulihat Cahaya Bersinar GemerlapanMengindah-Pesonakan Panorama Pembangunan Di Tanah WarisanPembangunan Industri Melonkakkan Indeks Ekonomi MapanPembangunan Teknologi Tinggi Meningkatkan Pencapaian CemerlangPembangunan Ilmu Menggilap SahsiahKebestarian InsanMenjana Perkembangan Ketamadunan Bangsa Dari Generasi IlmuwanMenjadi Pemangkin Kepada KedaulatanYang Dilagumerdukan.Dari Medara Merdeka Kulihat Bunga-Bunga Impian Sedang BerkembangMenyegar-Semerbakkan Nafas Perjuangan Di Dada Warga HarapanPerjuangan Murni Membentuk Lembut Luhur Budi BahasaPerjuangan Mulia Melentur Jujur Pekerti BangsaPerjuangan Suci Memulihara Keutuhan Akhlak Dan AgamaDemi Masa Depan, Mari Kita Mempertaruhkan Segala Dengan Waras AkalAgar Setiap Kegemilangan Menjadi Milik Yang Kekal.Dari Menara Merdeka Kulihat Warga HarapanSedang BergandinganMengembleng-Eratkan Perpaduan Dan Rasa Kemanusiaan Yang TerbilangRasa Kemanusiaan Dalam Menghayati Penderitaan AlamRasa Kemanusiaan Dalam Menangani Bencana ZamanRasa Kemanusiaan Dalam Membendung KeganasanYang KejamBiar Jasa Dan Bakti Mengungguli KehidupanSupaya Maruah Dan Martabat Bangsa Tinggi Menjulang.Dari Menara Merdeka Kulihat Lorong Dan Jalan Cerah BenderangMelincah-Luaskan Gerak Langkah Menjejak Puncak WawasanLangkah Berhemah Mengelak Kaca Menghindari KelukaanLangkah Berhikmah Menapak Bijak Tiada KeresahanLangkah Bertauliah Sedia Bertarung Disetiap GelanggangCekal Menghadapi Kerenah Globalisasi Di Alaf CabaranAgar Peta Perdana Akan Diwarna-Serikan Dengan Tinta KehormatanNukilan:Wali Leta S.A.Antologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Di Sini Setia terukir | Ghazali Lateh
0 komentar Wednesday, March 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDI SINI SETIA TERUKIRGhazali LatehIni Tanah Air, Tempat Bermula Dan Berakhir,Cinta Pertama, Di Sini Setia Terukir.Kita Telusuri Batas Sejarah Ke Musim Suram Terjajah,Menguak Hitam Belenggu Dalam Murup Durja Yang Gundah,Saat Melangkah Runduk Di Bawah Serakah Telunjuk,Suara Pun Hilang Terpanar Di Tengah Sorak Petualang.Di Denai Waktu Membiak Tunas Insaf Seluruh Warga,Musibah Lalu Jangan Lagi Meragut Sejahtera Wangsa,Bumi Ini Tanah Air Pesaka Warisan Pejuang,Titisan Darah, Keringat Basah Dan Semangat Menjulang.Malaysiaku Mewangi Setanggi Seribu Aroma NarwastuMelimpah Sejuta Anugerah Dari Rahmat Teguh Bersatu,Menjulang Wawasan Gemilang Ke Puncak Persada Mercu Biru,Membias Bayu Kecundang Jelmaan Cemburu Sejuta Seteru.Alaf Ini Tempoh Memacu Samara Cintakan Bumi Pertiwi,Membilas Noda Hitam Dari Kemelut Sengketa Selisih Semalam,Memesra Anggun, Menghijau Santun, Muhibah RimbunIni Negeri Terbaik, Budaya Tercantik, Rakyat Terdidik,Mengorak Langkah, Berpangsi Arah Menancap Monumen Terindah.Sambutlah Gemersik Suara Nafiri Seruan Perjuangan,Cokmar Kebebasan Biar Lestari Kukuh Dalam Genggaman,Tanah Ini Milik Hakiki Zaman Berzaman,Jangan Sampai Berulang Lagi Nista Kehinaan.Ini Tanah Kita, Padang Permainan Seluruh Anak Bangsa,Ini Jiwa Kita, Nafas Kita, Roh Generasi Merdeka,Nusa Ini Maruah Kita, Citra Kita, Martabat Daulat Perkasa,Wilayah Ini Wacana Hitam Putih Wadah Pemangkin Wibawa.Ini Tanah Air, Tempat Bermula Dan Berakhir,Di Sini Setia Terukir, Cinta Pertama Dan Terakhir,Biar Luluh Jiwa Raga, Darah Setiaku Tetap MengalirBiar Nyawa Luluh Tercicir, Janji Ini Tidak Termungkir.Nukilan:Ghazali LatehAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Kitalah Warga Merdeka yang Mengerti | Amy Suzani Mohd Ainuddin
0 komentar Wednesday, March 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKITALAH WARGA MERDEKA YANG MENGERTIAmy Suzani Mohd AinuddinHari-Hari Derita Yang Lalu Kita UntaikanJadikan Tasbih Kita Zikiri Setiap NikmatTelah Kita Peras Kepedihan Seluruh Masa SilamDan Kini Kita Baurkan Dengan Tetes PengalamanDi Padang Insaf Tempat Kita Mengecap Bahagia.Hari Ini Kitalah Warga Merdeka Yang MengertiUntuk Menjalin Padu Tanpa Iri CemburuSaling Berkongsi Subur Bumi Redup LangitBersama Merasa Indahnya Anugerah KemakmuranHamparan Taftah Berpinar EmasKita Bersenandung Dilatari IntrumentaliaCinta Dalam Nada Sejahtera.Kitalah Kini Warga Merdeka Yang MengertiTidak Mungkin Lagi Banjaran SilamMengundang Musuh Mendaki Puncak Melontar SengsaraKita Pernah Bangkit Dan Jatuh Yang SakitMemperbaharui Ehwal Silam,Menguburkan Dendam WarisanMenjadi Anggun Wawasan.Kitalah Kini Warga Merdeka Yang MengertiMendendang Kasidah Kasih Gema Penuh KeramatTidak Akan Kita Biarkan Lelehan Sengketa Menjadi GolakanLava BerapiAmarah Mencairkan Setiakasih Kepada NusaBiar Elat Khabar Pendusta Mengutus BencanaBiar Desis Angin Petaka Membisik BahayaKita Tetap Gagah Sebagai Pendekar BestariBerkeriskan Minda Berperisaikan AgamaBudaya Warisan Pertiwi.Kitalah Warga Merdeka Yang MengertiCabaran Dan Perjuangan Adalah Rakan PengalamanDan Kita Harus Jadi Warga Paling PerkasaMencerahkan Indera Seluruh Jagat RayaWalaupun Kita Cuma Kecil Di Peta DuniaTetapi Agung Pada Pandangan Buana.Nukilan :Amy Suzani Mohd AinuddinAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Puisi Ceritera pohon Bangsa | Ahmad Shukri Abdullah
0 komentar Wednesday, March 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCERITERA POHON BANGSAAhmad Shukri AbdullahInilah Pohon Hayat BangsaKekar Berpaut Pada Akar Asal BudayaPasak Kukuh Di Bumi Merdeka.Benihnya Disemai Tangan WargaTidak Kenal Makna Gentar Dan Gerak Para DurjaTanahnya Digembur Baja PusakaDisiram Keringat Dan Darah PejuangTidak Kenal Makna Tewas Dan Tunduk MengalahBiar Diserbu Seribu MusuhAtau Sesiapa Sahaja Yang Bernama Penjajah.Akar Harus Tegar Menunjangi BumiBumi Harus Makmur Menyuburi PohonPohon Harus Rimun Menangi Nusa-Jika Pohon Ini Subur MahsulnyaBiarlah Mampu Menyambung Hayat PengembaraYang Singgah Di Bawah Keteduhannya.Kejap Kukuh Pencak Bersulam KeberanianSiaga Segala Tipu Muslihat Di Gelanggang Persabungan-Di sini Pertarungan Bukan Beradu Kudrat KekuatanTetapi Menguji Bijaksana Dan Ampuh Keimanan.Jangan Biarkan Pohon Bangsa Dimamah KemajuanSehingga Dahannya Rapuh Dipatah KealpaanAkar Budayanya Berselirat Membelenggu KetamadunanAkhirnya Subur Bumi Akan Kembali GersangKontang Dibakar Marak Api Kepalsuan.Kembalikanlah Tunjang Ampuh KeyakinanSusurgalurkan Akar Budaya Mencengkam Bumi PusakaAgar Pohon Bangsa Tetap Teguh Menentang MusuhSepadu Melaungkan Tekad Dan KeazamanDemi Pertahankan Mutlak Hak Dan KetuananDemikianlah Mahlnya Harga PengorbananKendatipun Nyawa Galang GentianDisini Pohon Tetap AgamMenyambut Cabaran Zaman.Nukilan :Ahmad Shukri AbdullahAntologi Puisi Sayembara DeklamasiPuisi Bulan Kemerdekan JAMUNG MERDEKAMalaysia
Tuesday, June 26, 2012
Puisi Seiris Simpati | Abdullah Tahir
0 komentar Tuesday, June 26, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSeiris Simpati
Abdullah Tahir
tak 'kan terbina sebuah bahagia
di atas hamparan pasir
yang berderai dan gersang
selagi ombak ganas terus mencumbu pantai
selagi hangatnya mentari membakar pasir
bersama gilisan deru angin
membias setiap butir pasir kering
bagaikan tentera-tentera patuh
membidik peluru buta ke tiap penjuru
bersalutkan nafsu amarah yang derita
andaipun bening malam menghidu niat
akan terlahirkah keindahan pada sebuah tangis
yang membendung harap
sedang suamnya airmata terus simbah
menyalin ruang sabar yang sarat dengan doa
pintanya lahirlah cinta walau seiris simpati
menghapus derita para warga
yang wajahnya setia
mengusung nafas
ke hujung hayat
sumber : www.serumpunmembaitpuisi.blogspot.com
Thursday, May 19, 2011
Sajak Jenaka Politik | Sajak Lucu Tentang Politik
0 komentar Thursday, May 19, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJENAKA POLITIK
Abdul Latip Talib
Politik itu maknanya siasah
bertujuan untuk jadi pemerintah
bukan untuk menjajah
bukan untuk berpecah belah.
Politik itu sangat mudah
Kalau cuma hendak memangkah
politik itu jadi susah
Kalau masing-masing hendak memerintah.
Orang politik bermacam kisah
ada kena sanjung ada kena ludah
ada skandal sudah terdedah
banyak rahsia yang belum pecah.
Orang politik nampak gagah
kerana mereka tak mahu kalah
ada yang amalkan manisan lebah
ada yang amalkan kacip siti fatimah.
Ada pula yang serba salah
tahun 2005 menjelang sudah
janji dibuat mesti serah
Ada yang kata alhamdulillah
Nak menang pilihan raya bukannya mudah
Kena jaga hati rakyat di bawah
ampu sana ampu sini kata sedekah
Tapi rupanya suruh pangkah.
Abdullatip
Jelebu
Sajak Jenaka Malam Pengantin
0 komentar Thursday, May 19, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJENAKA MALAM PENGANTIN
Abdul Latip Talib
Majlis pernikahan dah selesai
tetamu sudah balik si ayah mengelamun sendiri.
Di kamar pengantin kedua mempelai asyik membelek hadiah-hadiah
si ayah pasang telinga mendengar perbualan.
Kedua pengantin sedang membelek sepasang kasut
hadiah dari tetamu yang datang.
" Nak cuba pakai malam ni , bang." pengantin perempuan bersuara
berdebar dada si ayah mendengarnya.
" Boleh saja biar abang masukkan?"
Pengantin lelaki menyarung kasut di kaki isterinya.
"Tak muat bang, sempit oh sakitnya." Ternyata kasut bukan saisnya.
"Kalau Tak muat nak buat camana?" Pengantin lelaki gundah suaranya.
" Sapu air liur…!" Si ayah bersuara
Ketawa pengantin berjela-jela.
Ternyata si ayah silap sangka.
Abdullatip
Jelebu
Sajak Orang Asli Yang Cerdik | Abdul Latip Talib
0 komentar Thursday, May 19, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiORANG ASLI YANG CERDIK
Abdul Latip Talib
Sepasukan anggota polis sedang buat sekatan jalan raya
lalu orang asli membonceng motor membawa isteri dan anak-anaknya
"Awak dari mana?" tanya polis
"Dari belakang ke depan,tuan" jawab orang asli.
" Saya tanya yang betul!" kata anggota polis
" Saya jawab yang betul." jawab orang asli
" Kenapa tak pasang lampu motor?" tanya polis
"Orang gila saja pasang lampu waktu siang." jawab orang asli
" Awak salah!" anggota polis itu marah.
" Motor eden punya, anak eden punya,
bini eden punya, kenapa pulak salah?"balasnya.
" Awak tak takut masuk lokap?" gertak anggota polis
" Makan free, minum free, rumah free apo eden nak takut," balas orang asli.
Anggota polis geleng kepala.
Abdullatip
Jelebu
Wednesday, May 18, 2011
Puisi Barangkali Fitnah | Puisi Tentang Fitnah
0 komentar Wednesday, May 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBARANGKALI FITNAH
Abdul Latip Talib
Fitnah lebih kejam dari membunuh Surah al Baqarah ayat 191
Barangkali manusia dijadikan pelik
Suka menabur fitnah
barangkali mereka rasa seronok
dapat melampias dendam kesumat
Barangkali semua dah tahu
Fitnah memutus tali sahabat
hilang keyakinan musnah kasih sayang
Barangkali elok di riwayatkan
Kerana fitnah Nabi Yusof dipenjara
Kerana fitnah Tuah dan Jebat sengketa
Kerana fitnah budak pintar di bunuh raja
Kerana fitnah Sang Rajuna Tapa derhaka
Kerana fitnah Mahsuri di sula
Kerana fitnah idola di penjara
Barangkali fitnah ada di mata kita
Barangkali fitnah ada di rumah kita
Barangkali selepas ini
entah giliran siapa jadi mangsa.
AbdullatipJelebu 6.2.2004
Puisi Aku dan Cinta | Abdul Latip Talib
0 komentar Wednesday, May 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAKU DAN CINTA
Abdul Latip Talib
Tuhanku
aku ingin tersenyum
dalam mahligai syahdu
meski pun dalam angan-angan
semoga bahagia membalut jiwa ini
Yang hanya milik-Mu
Tuhanku
cinta itu tertanam di hati
halus bagai benang sutera
lembut bagai sentuhan sayap kupu-kupu
jangan biarkan aku menangis sendirian
Temani aku dengan ribuan mawar merah
aku ingin menari dan menyanyi
bersama tiupan angin syurga.
Tuhanku
Kutitipkan segumpal rindu ini di puncak salju
semoga matahariMU terus bersinar
dalam irama yang lembut
aku sujud di hadapan-Mu
Semoga bahagia ini miliku
Yang abadi.
Jelebu, 23.9.2003
Puisi Cinta Allah | Izinkan Aku Mencintaimu Semampuku
0 komentar Wednesday, May 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiIZINKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU
Abdul Latip Talib
Tuhanku
aku mula belajar mencintaiMu sejak kecilku
melalui asuhan ayah dan ibu
melalui madah Tuan Guru
lembaran wahyuMU kupelajari
sabda nabiMU kuhayati
masih terpahat dalam ingatan.
Tuhanku
aku tidak mampu mencintaiMU seperi Saidina Abu Bakar
Sanggup menyerahkan seluruh hartanya
atau seperti Saidina Omar
Yang menyerahkan separuh hartanya
demi mencari keredhaanMU
izinkan aku mencintaiMu
melalui amalku yang singkat
dan sedekahku yang sedikit.
Tuhanku
aku tidak mampu mencintaiMU
melalui solat yang kusyuk
Seperti Saidina Ali
Tidak Berasa sakit
walau panah menembusi kaki
zinkan aku mencintaiMU
melalui solat yang kulakukan dalam waktu yang terbatas
Tuhanku
Izinkan aku mencintaiMU
dengan mencintai isteri dan anak-anakku
saudara-saudaraku
sahabat-sahabatku
dan orang-orang alim di kalangan kami.
Tuhanku
Izinkan aku mencintaiMU semampuku
betapa kerdilnya diri inI
di sisi kebesaranMU.
Jelebu, 8.9.2003
Tuesday, May 17, 2011
Puisi Selamat Hari Jadi, Isteriku | Abdul Latip Talib
0 komentar Tuesday, May 17, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSELAMAT HARI JADI, ISTERIKU
Abdul Latip Talib
Selamat hari jadi, isteriku
kuucap terima kasih
Kerana engkau setia di sampingku
tidak pernah berkata jemu
engkau berkhidmat penuh kerelaan
tanpa menuntut bayaran.
Selamat hari jadi, Isteriku
Kuucap terima kasih
Kerana engkau rela aku jadi suamimu
tidak pernah menyesal
sanggup melahir zuriatku
dan berjaya mengasuh mereka.
Selamat hari jadi, Isteriku
Kuucap terima kasih
Kerana sanggup berkongsi suka duka
dan membuat aku merasa bahagia
takdir menemukan kita
engkau satu dalam sejuta
aku berteduh di bawah pohon kasihmu.
Selamat hari Jadi, Isteriku
Kuucap terima kasih
Kerana engkau rela
menjadi tua bersamaku.
3.8.2003
Puisi Religi Islami | Tasbih
0 komentar Tuesday, May 17, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTASBIH
Abdul Latip Talib
Ketika bertemu seorang sahabat
baru pulang dari tanah suci
aku dihadiah sekalung tasbih
harganya tak seberapa
tapi nilainya amat tinggi.
Setiap pagi, petang dan malam
Kuhitung biji-biji tasbih
Ia bukan sekadar hitungan biasa
ada kesedaran dan keinsafan
Pasrah dan keyakinan
Pada-Mu, Tuhan.
kupetik biji-biji tasbih
kuseru nama-MU
ruang hatiku terbuka luas
Dikau sentiasa dalam mindaku
memerhati penuh kasih sayang
setiap malam
Kudengar biji-biji tasbih berbisik
kamilah penghubung
antara kasih dengan benci
antara engkau dengan Yang Esa
antara Syurga dengan Neraka.
1hb July 2003
Puisi Pesan Buat Suami | Abdul Latif Talib
0 komentar Tuesday, May 17, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPESAN BUAT SUAMI
Abdul Latip Talib
Wahai suami bergelar ayah
lindungi zuriatmu dengan kasih sayang
marah berpada dengan kenakalannya
jangan hamburkan kata-kata nista
Kerana kata-katamu adalah doa
yang tiada hijabnya.
Wahai suami penyambung zuriat
berilah perhatian kepada kaum kerabat
eratkan silaturrahim
bantu yang memerlukan
ziarah yang mendapat kemalangan.
Wahai suami pemegang amanah
hormatilah isterimu
Jangan pandang seperti lalat
berilah perhatian, sentuhan dan kasih sayang
Jika ada salah silapnya
Jangan sakiti hatinya
Fikir cara terbaik membentuknya.
Wahai suami pelindung kasih
cintailah isterimu sepenuh hati
dialah ibu kepada anak-anak
Penjaga harta dan rumah tangga
teman paling akrab
tempat berkongsi suka duka.
Wahai suami tonggak keluarga
Bersoleklah untuk isteri
Sucikan diri dan hati
merdukan suara
dengan madah dan seloka
Ulangi yang isterimu suka
jangan remehkan keinginannya
Jangan butakan hatimu
pada kecantikannya
pada pengorbanannya
setialah pada kalimat
"Kau adalah isteriku".
15.06.03
Subscribe to:
Posts (Atom)
