Showing posts with label Tema Kota. Show all posts
Showing posts with label Tema Kota. Show all posts

Wednesday, November 5, 2014

Puisi Tentang Kota Kecil | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Kota Kecil
Lazuardi Anwar

dipukul ombak
tenang menatap
samudera.

Kota kecil di pantai barat
dipukul ombak zaman ke zaman
camar bermain di lidah senja
tenang menatap samudera.

Kota kecil kota tertinggal
lama sudah tidak memberita
adalah pariaman
adalah kotaku sayang tanah kelahiran.

Kota kecil
dipukul ombak
tenang menatap
tenang mengharap.

1964


Saturday, March 1, 2014

Puisi Tentang Kota | Zaim Rofiqi

0 komentar

Kota
Zaim Rofiqi

Bersandar pada senja gerah
cuaca tak bertuah

Di kota ini
udara menyusutkan diri
seperti racun
membuat mata rabun

barangkali tak perlu sepenuhnya terjaga
seperti ganja
hanya menunduk
dan pelan, pelan
masuk ke dalam ingatan

tapi di kota ini ingatan sebatas papan iklan
buram, berderet tak beraturan
kusam, dihantam bara siang
beku malam

dan yang ia lihat cuma cakrawala kosong
seperti mulut raksasa
perlahan mengisap
apa saja

dan di sudut itu
puing-puing
reruntuhan bangunan
seperti taring
kala

esok tak katakan apa-apa
tak menjanjikan apa-apa
dan barangkali, kini ia sudah tak percaya:

suatu hari ia akan jadi malaikat
yang terbang hikmat
yang melihat dan hanya melihat
dari pucuk-pucuk menara
tanpa bangga

Jakarta 2005

Monday, January 13, 2014

Puisi Kota ini Milik Kalian | Wiji Thukul

0 komentar

Kota ini Milik Kalian
Wiji Thukul

di belakang gedung-gedung tinggi
kalian boleh tinggal
kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja
kalian bebas bangun sewaktu kalian mau
jika kedinginan karena gerimis atau hujan
kalian bisa mencari hangat
di sana ada restoran
kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan
bakmi ayam dan babi denting garpu dan sepatu mengkilat
di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan asli jepang

kalian bisa mandi kapan saja
sungai itu milik kalian
kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri

apa belum cukup terang benderang itu lampu merkuri taman
apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan
kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu jangan!

Thursday, February 14, 2013

Puisi Surabaya "Dunia Kita Sudah Berbeda" | Daman Surachman

0 komentar

SURABAYA
Daman Surachman

Gila! Ku biarkan aku merana sepanjang malam O, Surabaya. Di lobby hotel, di
lift berkeliaran wanita-wanita muda wangi, ada yang bergelayutan di pundak laki-
laki tua, ada yang cekikikan karena senang mengembara, karena uang dan asmara,
ada yang terus menggoda dengan lekuk pinggul dan kerlingan mata,ada yang…
Inikah kota besar kota tua yang kupuja-puja sejak aku kenal sejarah di sekolah,
begitu makin muda dengan segala kenikmatan hidupnya. O, Surabaya kapan kita
berzikir bersama untuk sementara melupakan dosa-dosa kita; selingkuh, menjual
diri, korupsi, berpesta pora. O, Surabaya dunia kita sudah berbeda kini, dirimu
selalu dirayu janji palsu orang-orang masa kini dan orang-orang masa lalu
mengerang dan tersenyum malu. O, Surabaya mari sesaat kita bermeditasi kita
merenung tentang nasib kita yang selalu tidak menang melawan dasi-dasi hitam. O,
Surabaya jangan kelam dalam doa, lawanlah terus yang nista dan buatlah tugu
perjuangan yang kedua. O, Surabaya kembangkanlah seni budaya, intelektual dan
etika. Surabaya O Surabaya….

Sby, September 2007

Wednesday, January 2, 2013

Puisi Tentang Kota "Kendari" | Daman Surachman

0 komentar


KENDARI
Daman surachman

Kucari kau, Kendari
Dalam peta di Jakarta dalam kelam kota tua
Dan malam tiba dengan pesawat udara kau melambai-lambaikan tanganmu

Mestinya jalanmu seperti di Jakarta karena kau punya aspal kau punya pasir kau
punya apa saja kau punya seribu rancangan tapi tak terlaksana.
Tak terbayang olehku ini kota terlalu lugu. Harum ikan bakar mengundang
seleraku.Turis-turis seksi berkeliaran tak takut mimpi menyeramkan.Uah,Ini kota
ramah pada setiap tamu yang datang dan bersahaja.
Bakau memanjang, rotan dan kayu hitam jadi incaran dan jarahan kapitalis asing.
Dan ikan-ikanmu takkan habis oleh semilyar generasi. Karena dilintasi garis
khatulistiwa, garis emas dunia

Kucari kau, Kendari
Tidak dalam mimpi.Ini nyata kuhampiri mu, saudaraku
Mencari generasi yang akan datang; berilmu, berakhlak mulya, dan
berbudaya. Siapa tahu dapat generasi baru dan dapat mengajari generasi yang akan
datang.

Kendari, O Kendari
Mestinya, mestinya…
Aku masih duduk di bandara dan embun menetes dikaca jendela
Kapan,ya Kendari tersenyum seperti kota besar lainnya?

Juli 2007


Saturday, December 22, 2012

Puisi Surabaya Satu | Hotma D.l. Tobing

0 komentar


Surabaya Satu
Hotma D.l. Tobing

Ada yang tak mampu kulupa
Ketika bermukim kala pertama
Di bumi Suro-Boyo
Hampir dua doso warso lalu
Aku dan bojoku manten anyar
Baru pindah dari Jakarta
Kursi tamu belum punya
Belum paham tentang
Seluk beluk kehidupan bertetangga
Kami sangat bersyukur kepada Tuhan
Paparan pak RT tentang hal itu

Senja itu dengan tetangga duduk bersila
Kakek Sutjipto berbicara lantang
Dan lalu panjatkan doa dengan khusuk
Agar kami sehat wal afiat
Menempati rumah
Di Dukuh Pakis Gang Sekian
Suka cita sangat terasa
Usai makan malam
Dilanjutkan jagongan
Dan nonton televisi bersama
Rupanya televisi dengan remote control
melahirkan cerita anyar di desa itu
Tenanan,  iki cerita lawas
Ora iso, ora tau kesupen

Jakarta Juli 2012
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=18&jd=Surabaya+Satu&dn=20120704114735


Friday, November 23, 2012

Puisi Kota Yang Hilang | Bennie Wego

0 komentar


Kota yang Hilang
Bennie Wego

Sudah lama kota hilang entah ke mana
rakyat bertanya tentang tanda-tanda
tentang rumah atau bangunan
mereka saling terpisah oleh batuan
dari tambang-tambang di pegunungan
jadi tembok-tembok kota tanpa junjungan
hanya bangunan tanpa rumah tanpa tuan

Lake Charles, 0612
http://oase.kompas.com/read/2012/07/28/20182793/Puisi-puisi.Bennie.Wego

Sunday, June 24, 2012

Puisi Ulang Tahun Jakarta "Jakarta Nan Megah"

0 komentar

sumber gambar : id.hotels.com

Jakarta Nan Megah
Muhammad Zakaria

Jakarta punya cerita yang indah
Jakarta punya kisah bersejarah
Jakarta punya ekonomi yang luas
Jakarta kebanggaan seluruh daerah

Jakarta adalah kota megah
kota yang dijadikan simbol sejarah
Jakarta dikenal dengan khasnya sebagai Betawi
kota yang menjadi bukti indahnya budaya

Jakarta memang ada di pulau Jawa
tapi kebanggaan seluruh Indonesia
Jakarta memang berada di ibu kota
tapi tak jadi penghalang untuk kita berjumpa

hari ini menjadi hari bahagia
harinya besuka cita
hari yang ceria seluruh Indonesia

24-Jun-2012
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=18&jd=Jakarta+Nan+Megah&dn=20120623204543


Friday, February 3, 2012

Puisi Tentang Kota Sumedang

0 komentar


Sumedang

deddi anggadiredja


ketika purnama jatuh ke haribaanmu, wahai sumedang
ketika pucuk-pucuk pinus di gunung palasari
tegak berdiri

ketika gerimis turun bagai jarum-jarum
menusuk bumi

aku menjadi saksi
tentang keperlayaanmu melawan zaman
tentang ketidak berdayaanmu melawan perubahan
perlaya dan tak berdaya
memang zaman dan perubahan
bukanlah sesuatu yang harus kau tentang
ia akan terus datang dan datang
dengan atau tanpa maumu

wajahmu akan terus berubah
jadikan zaman dan perubahan teman setia
kalau tidak,
ia akan membunuh dirimu kapan saja


sumedang 1984

Wednesday, April 20, 2011

Puisi Kota Tua | Puisi Tentang Kota Tua

0 komentar

Kota Tua
Puisi Ria Octaviansari

menikmati kening keriputnya, mencium bau sirihnya
mengingatkan aku pada kakek tua renta di ujung kota.
matanya serupa gerbang yang selalu memanggilku
untuk menelusuri tiap labirin di halaman penuh ilmu

pergilah ke ruang paling ujung di antara gedung tua
kau pasti akan menemukan arca dada sang raden
yang sangat gagah, segagah purnama di mata
saaat jam berdetak tepat pukul dua belas malam di taman eden.

masih ada sisa waktu?

pergilah ke kafe Batavia, suasana tua nan renta
serupa nenek berkerudung merah, nikmati cahaya
remang lampu gantung yang umurnya sama denganku
dua puluh tiga tahun, berbentuk tungku

berjalanlah ke utara, kau akan melewati lampu bawah tanah
yang menyerupai sinar mata kucing di malam hari.
berdiri dan pandanglah jendela bentuk kerucut
kau bisa membawa kenangan sebanyak-banyaknya dalam keranjang

tapi, jangan sampai jejakmu tertinggal di sana
karena ia akan memanggilmu kembali
untuk menggali waktu dan mengubur kenangan
yang pernah kau bawa

2008

Saturday, March 26, 2011

Ibu Kota Senja | Puisi Toto Sudarto Bachtiar

0 komentar

IBU KOTA SENJA
Toto Sudarto Bachtiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya
0, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan


Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa

Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku


Memahami Puisi, 1995
Mursal Esten


Tuesday, August 31, 2010

Di Taman Kota | Puisi Tentang Taman Kota

0 komentar

Di Taman Kota

1.
taman lapang mendada musim semi. burung-burung menebah hembus angin, seperti mengusir dingin rindu gigilkan hati. kanak-kanak dan orang-orang tua saling sapa dengan senyuman, kata-kata lenyap dalam ayun bunga-bunga. tulip kuning menyala di sela pokok-pokok magnolia.

siapa sangka di negeri senja ini, terpendam aroma derita nenek-moyang kami. air mata negeri laut tempat kami pulang nanti.


2.
burung berdada putih bersayap biru, ekornya hitam panjang. entah dari mana ia datang. mungkin singgah sebentar dari musim-musim gamang sebelum mentari hilang ramahnya, saat ia kembali terbang merunut jalur tualang, memeta garis bujur dan lintang.

burung dara dan gagak-gagak lewat saja, seperti hari-hari biasa.


3.
di tanah ini matahari sering menipu, berkhianat pada musim dan ramalan cuaca. dan angin selalu berubah arah dengan setia.


Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010

TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Wednesday, July 28, 2010

MEDAN KOTAKU | Puisi Tentang Kota

0 komentar

MEDAN KOTAKU
LK Ara

Medan
Lemparkan aku kembali
Kelorong-lorong jalan kota mu
Akan kucari bekas kakiku dulu
Yang tertutup debu
Akan kucari tetes keringatku dulu
Yang menyirami bumi mu

Medan
Lemparkan aku kembali
Kerumah-rumah rakyatmu
Akan kucari bayang juluran tanganku
Yang raib oleh waktu
Akan ku cari sapa ku dulu
Yang ditiup angin kelabu

Medan, kotaku
Lemparkan, lalu dekaplah aku
Ke jantungmu
Biar kureguk lagi cinta kasihmu
Kasih yang perih
Menggoreskan derita
Kasih yang salih
Memberiku makna

Medan, Februari 1986


Thursday, July 1, 2010

Setelah Merenungi Kota

0 komentar

Setelah Merenungi Kota
Faisal Muhctar Al Khaufi

Sebuah perjalanan panjang
nadiku mengutuk setiap kata dan peristiwa
dalam kota yang kehilangan air mata
sebab Tuhan dan Dewa adalah pasangan
lesbian yang lucu pada setiap gedung – gedung
dalam kemandulan imaji para satria rela telanjang
demi pangkat dan kedudukan
hei arjuna ! matamu merah setelah menenggak darah
keringatmu bau sampah tubuhmu kekuning kuningan

ke ladang yang kering kerontang rumput-rumput
teraniaya langit, padi-padi terpaksa menguning tanpa isi
para petani mencangkul sawah dengan leher tergrok harga pupuk
daun-daun pucat penuh debu dan angin berhembus malu-malu
ternyata kemerdekaan hanya milik singa-singa industri
dan sejumlah orang-orang bertahta

memasuki lorong-lorong yang sempit para ibu
menyusui anaknya dengan puting yang berdarah
para bapak mengunyah aspal sambil menggaruk muka
dengan pecahan kaca seketika tikus-tikus mati besama
bau borok yang menyengat

di masjid besar anak-anak berlarian mencari tuhan
yang di sembunyikan tiang-tiang, azan dikumandangkan
dalam speaker yang batuk semntara sepatu dan sandal dicuri
malaikat maut yang miskin


pada pasar-pasar yang tak pernah tidur
ikan asin berbaris sambil menyumpahi iblis
sayur-sayur diikat kebohongan para pedagang
lalu tetesan keringat kuli panggul mengkristal
bersama bau pekat mentimun dan tomat busuk

Tuhan, selamatkanlah kotaku

Karawang 2007

Friday, June 18, 2010

Emha Ainun Nadjib - ANTARA TIGA KOTA

0 komentar

ANTARA TIGA KOTA
Oleh : Emha Ainun Nadjib

di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?
Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga
surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

1997

Wednesday, May 19, 2010

KOTA PENUH SARANG LABALABA

0 komentar

KOTA PENUH SARANG LABALABA
Isbedy Stiawan ZS

peduli apa pada nama
tanganmu merangkai
sarang laba: pekat
di setiap panggil
hingga hilang gema
aku buru tanda
(tapi lelaki itu selamat
dari rencana pembunuhan
oleh sulaman liur labalaba
sebelum masuk, setelah
mereka kehilangan jejak)

mengintip berbagai goa
tak juga jumpa bunda
menimang buah kasih
-Kekasih Tuhan-
terlunta di setiap dinding
mengabarkan para hewan
hilang di hutan-hutan
peduli apa pada nama
kau hanyalah pecundang
pulang dengan gamang
untuk mengenali kota
penuh sarang
labalaba: lengang
setiap kau panggil
andai kau pulang
tanpa pongah
lampulampu kota
bercahaya di wajahmu,
kata bunda
yang kini kehilangan
Cinta…

28 Februari 2005


KOTA CAHAYA 3

0 komentar

KOTA CAHAYA 3
Isbedy Stiawan ZS

(tanjungkarang-telukbetung)

(tiga)

gairah apa yang memilih kota cahaya ini
bagian pengembaraanku
segala tempat telah kurantau
tak juga memukau

kini aku kembali ke kota kelahiran
sejarah purba yang tersimpan
perjalanan adam mencari cinta
di segala semesta

gairah apa yang melahirkan kota cahaya ini
ketika siang yang rusuh?
aku tatap parasmu
membayang kota terbuka
aku pun menyusuri
liku-sungaimu
amboi, gairah apa
yang menggetarkan hasrat ini?

lampung, 25 Juli 2003


KOTA CAHAYA 2

0 komentar

KOTA CAHAYA 2
Isbedy Stiawan ZS

(tanjungkarang-telukbetung)

(dua)

aku ingin kota yang lahir di wajahmu
bercahaya. di dadamu kupahat
rumah yang baru. Jendela dan
pintunya menatap matahari yang terbit
dan lelap. seperti keluh akan sampai
ke dalam getarmu

begitulah, sayang, akan kupangkas
segala bernama rumput
yang menyimpan maut
dari wajahmu kusisir kota cahaya
dalam getar si remaja
mencabuti uban:

kota yang tua dan kacau
tinggal igau
dan aku merantau ke dalam
kota cahaya ini
menggali senyum abadi
amboi, jangan pula kaubalikkan
kota ini, perempuan luth?

- izinkan aku di sini
menetap-tatap! –

lampung, 25 Juli 2003

KOTA CAHAYA 1

0 komentar

KOTA CAHAYA 1
Isbedy Stiawan ZS

(tanjungkarang-telukbetung)

(satu)

sebuah kota cahaya lahir di wajahmu
aku pun singgah. jika diperkenankan aku
hendak mendirikan rumah di sini
dengan pintu atau jendela menghadap
pantai. dan tanganmu jadi sampan,
rambutmu layar. sesekali merapat
di kaca kamarku. seperti tetesan embun
yang mencair: mutiara dalam mimpiku
pecahan-pecahan bintang yang merantau
sepanjang malam akan rebah di kota ini
juga sisa perjalananku penuh luka
sekejap lelap di pelukanmu. dalam mimpiku
segalanya jadi mutiara,
sampan yang kembali
menetap abadi

sebuah kota cahaya lahir di wajahmu
aku pun singgah. jika kauperkenankan
aku akan menjaganya dari pecahan sodom
dan gomora yang kacau
aku bangun rumah di sana
jendela dan pintunya menatap pantai.
tanganmu menjelma sampan
dari senyummu layar membentang
di dalam reruntuhan waktu

kota jadi semerah-dadu
melelapkan hasrat
mengawinkan kota
untuk aku singgah
dan menetap abadi

lampung, 12-24 juli 2003


Tuesday, May 18, 2010

GERIMIS JATUH DI KOTA YANG RAPUH

0 komentar

GERIMIS JATUH DI KOTA YANG RAPUH
Isbedy Stiawan ZS

Senja kering. Lampu saat padam. Kulihat parasmu
menunduk, membuang senyum! Ah! Ini kali baru dimulai
cerita tentang sesuatu yang gelap. Jalan penuh pagar dan
ratusan mulut senapan menganga ketika
gerimis jatuh
di dalam kota yang rapuh

Barangkali, seperti senja yang lain, kota akan
selalu mencatat keluh ini dan merekam parasmu yang
tertunduk. Lantas, malam-malam panjang akan
melelapkanmu. Di antara riuh nyamuk dan kipas angin…

Barangkali, seperti senja yang kemarin, kau
hanya sekali tersenyum. Sesudah itu, gerimis akan
mewarnai parasmu. Gerimis akan merekam suara
belati yang melangkah di tubuhmu,
sampai ke paling gumam:
diam, diam…

Karena itu, sebelum lampu kembali menyala
dan kaca jendela mengirimkan kabar dari dunia lain
peluklah kegelapan ini. Kecuplah keraguan ini. Senja
yang melangkah, yang kering!

10-16 Maret 2002


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |