CINTAKU PALSURudi SetiawanCintaku pada-Mu seperti cendawan di musim penghujanhanya tumbuh disaat aku butuh.Rinduku pada-Mu penuh dengan kepalsuankusembunyikan dibalik topeng ketaatanKupuji diri-Mu dengan slogan-slogan kemunafikankupamerkan dengan sombong dan aroganKurayu diri-Mu dalam puisi-puisi palsukupahat pada dinding-dinding kosong jiwakuDengan bangga kusebut Kau sebagai kekasihTetapi aku memperlakukan-Mu seperti keranjang sampahTempat kubuang semua keluh kesah dan sumpah serapahWahai (yang kuanggap) KekasihEngkau tahu bahwa aku tak bisa bersungguh-sungguh mencinta-MuEngkau tahu bahwa aku hanya berpura-pura memuja-MuEngkau tahu bahwa dibalik sujudku tersimpan kepongahankuEngkau tahu bahwa dalam persembahanku terselip racun kebenciankuDuhai (yang kupaksa) KekasihSaban hari Kau curahi aku kasih sayang-MuDan saban hari pula aku mencaci maki diri-MuSetiap waktu Kau limpahi aku karunia-karunia-MuDan setiap waktu pula aku berpaling dari-MuWahai (yang kukira) KekasihApatah pantas aku berlari dari-MuApatah bisa aku bersembunyi dari-MUApatah mampu aku menghindar dari-MuJika nanti Kau memanggilkuPerlakukan aku seperti kekasih-Mu(meski hanya pura-pura)Doha, 15 November 2009
Showing posts with label Rudi Setiawan. Show all posts
Showing posts with label Rudi Setiawan. Show all posts
Monday, February 18, 2013
Puisi Cintaku Palsu | Rudi Setiawan
0 komentar Monday, February 18, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFriday, January 25, 2013
Puisi Ektase | Rudi Setiawan
0 komentar Friday, January 25, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiEKSTASERudi SetiawanKupeluk kesendirianangin yang mendesis membawa celoteh malamjarum jam seperti ritme dengan nada yang tak indahdinding-dinding kamar membias cahaya yang temaramKurayu sepidengan tumpukan-tumpukan rindu yang menggumpalwajah-Mu timbul tenggelam tersamar dalam balutan gelisahantara ya dan tidak kuberanikan diri untuk mengecup-MuKubuka jendelapada langit yang cerah kulihat bintang-bintang menarisedangkan rembulan meski tak benderang tetap terlihat indahaku merasa bahwa malam ini Kau akan menjadi milikuKutelanjangi dirikuagar lebih nikmat kala mencumbu rayu diri-Mumalam kian membisu membungkusku dalam hasrat yang membuncahtiada lagi suara, semuanya hening, hanya desah nafasku dalam peluk-MuDoha, 12 January 2010
Tuesday, January 15, 2013
Puisi Inferiority | "Kuyakin Cinta-Nya Tiada Batas"
0 komentar Tuesday, January 15, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiINFERIORITYRudi Setiawanaku memang belum pantas berkelana di lembah-Nya,atau untuk sekedar mengetuk dipintu-Nya,aku takut keindahannya ternoda,oleh kotoran jiwaku,oleh sampah ulahku,untuk berjalanpun terasa berat,kakiku dibandul oleh beban dosa yang berat.tapi aku akan terus mencoba meski tertatih-tatih,merangkak dalam harap dan cemas,bukan karena aku tak tahu diri,tapi karena kuyakin cinta-Nya tiada batasDoha, 28 January 2010
Tuesday, January 8, 2013
Puisi Gempa Sumbar dan Jambi | Rudi Setiawan
0 komentar Tuesday, January 08, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
GEMPA SUMBAR Dan JAMBIRudi SetiawanRembulan pucat pasiLangit muram meredam sunyiDesir angin seolah berhentiAmarah laut ditelan BumiRatusan orang terkapar matiWajah-wajah tersaput duka hatiHanya pada-Mu kami berserah diriDoha, 02 October 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Wednesday, January 2, 2013
Puisi Kupanggil Kau Dancuk | Rudi Setiawan
0 komentar Wednesday, January 02, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKUPANGGIL KAU DANCUKRudi SetiawanKau rampas hak-hak kaum terindasDan kau malah tertawa terbahak-bahakDancuk,Kau gusur rumah-rumah orang miskinDan kau justru menari kegiranganDancuk,Kau minta kenaikan gajimu yang sudah tinggiDan kau abaikan derita rakyatmu yang laparDancuk,Kau jual kekayaan negerimu pada penjarah-penjarah asingDan kau biarkan rakyatmu menjadi budak di negeri orangDancuk,Kau perkosa hukum dengan birahi-birahi liarmuSementara rakyat kecil mesti membayar untuk membeli keadilanDancuk,Kau jual belikan undang-undang laiknya barang daganganSelanjutnya kau akan berkata ini adalah untuk kepentingan rakyatDancuk,Wajahmu yang buruk, kau sembunyikan dibalik topeng kesantunanDan celakanya rakyatmu yang bodoh menjadi terpesonaDancuk,Lidahmu yang busuk, kau poles dengan untaian permataLalu kau tebarkan janji-janji palsu diseluruh pelosok negaraDancuk,Keringatmu yang tengik, kau luluri dengan parfum-parfum mahalYang seharga kebutuhan makan sebulan wargamu di kolong jembatanDancuk,Ku serapahi kau dengan caci maki agar kau mau mengertiTapi bila ternyata kau tak juga mau mengerti, akan kusumpahi kau dengan “CINTA”Doha 1 February 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Puisi Kepada Sunyi | Rudi Setiawan
0 komentar Wednesday, January 02, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
KEPADA SUNYIRudi SetiawanDalam desiran angin gurun, kupahat kerinduankuSenandung lirih pohon-pohon kurma, memapah gelisahkuGedung-gedung tua membisu, memasung larakuKepada Sang Pemilik sunyi kuadukan semua keresahan iniDoha, 15 November 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Sunday, December 30, 2012
Puisi Sketsa Kematian "Kematian Menunggu Di Ujung Jalan"
0 komentar Sunday, December 30, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSKETSA KEMATIANRudi SetiawanWajahnya memandangku menyeramkanKucoba untuk menghindar darinyaNamun kakiku semakin melangkah kesanaSang maut bersembunyi disudut gelapMenanti jiwaku datang terlelapKupaksa mataku untuk terus terjagaTetapi rasa kantukku semakin menderaKereta ajal melaju pastiMenunggu rohku terkapar matiKuberlari di lorong-lorong harapanKepada siapa kuharapakan pertolongan ?Liang kubur beraroma busukMengundang jasadku terperangkap masukKubersembunyi di dalam benteng yang kokohDan maut menemukanku lalu menyeretku dengan gagah“ Kullu Nafsin Dzaaiqatul Mauut “Doha, 19 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Friday, December 28, 2012
Puisi "Kesadaran" | Waktu Dan Takdir Adalah Bagian Dari Kehidupan
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKESADARANRudi SetiawanKurutuki takdir yang menurutku tak memihakuKusumpahi waktu yang kuanggap melecehkankuKuserapahi keadaan yang kurasa mempermainkankuKuludahi perjalanan yang kuyakin membosankankuHingga akhirnya aku tersadar bahwa perjalanan, keadaan,Doha, 27 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Puisi Bila Kematian Tiba "Kepada Jasadku" | Rudi Setiawan
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKEPADA JASADKURudi Setiawanengkau adalah sahabat sekaligus kekasihkubersama kita arungi hidup yang fanaberenang dalam comberan waktumengais di sampah-sampah kehidupanJasadkukala-ku senang kau pun bahagiakala-ku sedih kau cucurkan air matakala-ku sakit kau pun menjeritkala-ku resah kau menggigil gelisahJasadkubila kau terluka akupun meranabila kau terhina marahku melandabila kau menderita akupun sengsarabila kau bahagia senangku tak terkiraJasadkusuatu saat nanti kita pasti berpisahakan kutinggalkan kau diranjang kematiansendirian kau akan dilapukan oleh jamansementara aku akan terbang menuju kekekalanentah kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan.Doha, 28 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Puisi Rindu "Rinduku Membeku"
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRINDURudi SetiawanKabut Debu, Angin MenderuLangit Pekat, Matahari TersekatHari Berlalu, Rinduku MembekuSenyummu Terbayang, Anganku Melayang.Kujangkau, Tak TerjangkauKuraih, Tak TeraihKudiam, Bayangmu Semakin TerngiangDoha, 12 October 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Thursday, December 27, 2012
Puisi Tentang Kerbau "Kebo" | Rudi Setiawan
0 komentar Thursday, December 27, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKEBORudi Setiawankemana kau pergisawahku merinduimuseperti saat-saat dahulukau tinggalkan jejak kakimudiatas lumpurnya yang becek dan bauDoha, 4 February 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Saturday, November 24, 2012
Puisi Cecak Untuk Kekasihnya | Rudi Setiawan
0 komentar Saturday, November 24, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
PUISI CECAK UNTUK KEKASIHNYARudi SetiawanDiajeng,Tembok putih ini menjadi saksi bisuKisah kasih kita berduaSaat kita merayapinya bersama-samaBerburu Nyamuk (penghisap darah)Berburu Wereng (hama perusak)Dan sesekali menangkap kecoak (yang mengotori perkantoran)DiajengDinding ini adalah layar kehidupan kitaTempat kita berpetualang sepanjang waktuMembersihkannya dari serangga-seranggaYang berusaha mengotorinyaDiajengKemarin sudah kuingatkan kauJangan berburu diatas lantaiLantai bukan habitat kitaLantai tempat berbahaya bagi kita berduaDiajengMestinya kau tahu, bahwa diatas lantaiAda kucing Garong yang selalu mengintaiYang setiap saat bisa menerkam kitaDari berbagai penjuruDiajengMaafkan aku, yang tak bisa menolongmuKala kucing Garong menerkammu malam tadiAku tak kuasa untuk melawannyaAku tak cukup kuat untuk menandinginyaSekali lagi maafkan aku diajeng.DiajengKini tak kudapati kau disisiku lagiAku mesti sendiri meredam sepiCicak tua yang tak lagi perkasaMerayapi dinding yang mulai kotor dan bernodaDoha, 10 November 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Wednesday, November 21, 2012
Puisi Kerendahan Hati | Rudi Setiawan
0 komentar Wednesday, November 21, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
KERENDAHAN HATIRudi SetiawanJangan kau sanjung puji dirikuSebab sanjung puji itu seperti ribuan pedangYang menusuk-nusuk hatiku dan akan membuatnya matiSebaiknya kau caci maki saja dirikuKarena caci maki itu terasa bagaikan belaian bidadariMembuatku bergairah untuk hidup dan berkarya lagi.Doha 21 October 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Monday, November 19, 2012
Puisi Hikayat Secangkir Kopi
0 komentar Monday, November 19, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
HIKAYAT SECANGKIR KOPIRudi SetiawanMusim dingin menghajarMatahari tak mampu menghangatkanAngin seperti freezer alamiTembok-tembok tebal tak kuasa menghalangiSecangkir kopi panas, leleh dilidahkuPagi terasa dingin membekuDari balik jendela, kulihat wajah kotaYang sibuk berdandan seperti gadis muda yang dimabuk cintaSecangkir kopi menemanikuMengusir sepi dan gelisah hatiKucoba menyapa pagi dengan senyum yang kupaksakanDia tak membalasnya, acuh tak acuh dia melengos pergiSecangkir kopi tinggal seperempat isiTumpukan kertas berserakan diatas mejaLaptopku masih menyalaHasratku makin membara menulis bait-bait kataSecangkir kopi seperti ilusiMembius angan-angankuMenenggelamkanku dalam barisan kataTanpa maknaDoha, 5 November 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Thursday, November 15, 2012
Puisi Taman Bunga | Puisi Bunga Cinta Kita
0 komentar Thursday, November 15, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
TAMAN BUNGARudi SetiawanLama kutunggu saat dimana kau dan akuBerada di taman bunga cinta kitaKumainkan kecapi mendendang laguDan kau bersenandung dalam iramanya.Kuncup-kuncup bunga bermekaranWarna-warninya membias keindahanAroma wanginya memancarkan kegairahanKupu-kupu dan kumbangpun menari kegiranganSepasang angsa berenang dalam kolam cinta merekaSementara kita semakin hanyut dalam lagu kasmaranJangan hiraukan langit yang memandang penuh iriKita abaikan saja angin yang mendesah cemburuDoha, 20 October 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Sajak Kaum Pinggiran | Rudi Setiawan
0 komentar Thursday, November 15, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
SAJAK KAUM PINGGIRANRudi SetiawanMalingpun punya mimpi, punya cita-citaLontepun punya harapan, punya cintaPengemispun punya asa, punya rasaSebelum kau tangkap para maling ituSelidik dulu kenapa mereka mencuriKarena “ lapar ” atau karena “ hobi ”Sebelum kau rendahkan para lonte ituCari tahu dulu kenapa mereka melacurKarena “ dijual ” atau karena “ menjual ” diriSebelum kau usir para pengemis ituTanya dulu kenapa mereka mengemisKarena “ terpaksa ” atau karena “ dipaksa ”Doha, 02 October 2009http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Wednesday, November 14, 2012
Puisi Jejak Kasih Seorang Ibu | Puisi Untuk Hari Ibu
0 komentar Wednesday, November 14, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
JEJAK KASIH SEORANG IBURudi SetiawanIbu,Terekam jejak-jejak indahmu kala membentukku menjadi seperti sekarang iniJejak-jejak kasihmu yang harum mewangi tak akan pernah kulupakanSaat aku masih ringkih dan lemahKau tatih aku, kau gendong aku, kau dekap aku dengan kehangatan cintamuKetulusan yang kau tanamkan pada jiwa dan ragakuMenjadi energi yang dahsyat bagi inspirasikuIbu,Kala aku kanak-kanak, kau tuntun aku dengan prilakumu yang elokKau rendra hari-hariku dengan kasih sayangmu yang utuhDongeng-dongeng yang kau ceritakan tentang makna kehidupanKala menghantarku beranjak kealam tidurkuSeolah terpahat direlung-relung hatikuMemberikan pencerahan yang indah dalam warna jiwakuIbu,Saat aku remaja dan kenakalanku menjelmaDengan sabar kau menasehatiku dan bukan mencacikuPetuahmu mengalir seperti udara yang menyejukan kalbuMeski kau bukan filosof namun kata-katamu sebijak para pujanggaWalau kau bukan professor namun analog-analogmu secerdas para ahliJiwa pemberontakanku menjadi luntur karena kebijakanmuIbu,Kini aku telah mandiri, dengan seabrek gelar dan kepangkatanLalu munculah sifat sombongku terhadapmuAku mulai enggan menuruti nasehatmu, dan kuanggap sebagai angin laluAku merasa lebih pintar, lebih ahli dan lebih mengerti darimuAku tak mau lagi mendengar petuahmu, yang kuanggap telah usang dan ketinggalan jamanAku mengguruimu dengan dalil-dalil agamaAku menuturimu dengan teori-teori ilmiahKarena aku merasa bahwa aku adalah manusia generasi modern danengkau berasal dari generasi masa laluIbu,Sungguh tak pantas aku berbuat demikianSungguh tak elok aku memperlakukanmu seperti ituAku tak akan mampu membayar dengan berapapun hartakuatas setetes air susu yang telah kau tetekan ditenggorokankuAku tak mungkin bisa mengganti dengan seluruh pengabdianku padamuatas ketulusanmu membersihkan kotoran-kotoran masa kecilkuIbu,Maafkanlah semua kesombongankuDalam kesadaranku yang baru hinggap iniIjinkanlah aku bersimpuh dikakimu31 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Tuesday, November 13, 2012
Puisi Neraka, Tempat Kembaliku | Rudi Setiawan
0 komentar Tuesday, November 13, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
NERAKA, TEMPAT KEMBALIKURudi SetiawanKulihat tubuhku diseret dengan kejamOleh wajah-wajah yang bengis lagi beringasTanganku dirantai, kakiku dibelengguTubuhku dicambuk dan dilempari dengan batuRasa sakit dan perih tak terperiNamun segala siksa dan azab terus menderaDidepanku menunggu jurang lebar yang mengangaDipenuhi dengan batu-batu api yang menyala-nyalaAku tak bisa lagi sambatMulutku telah tersumbat oleh rasa sakit yang hebatAku tak kuasa untuk mengeluhLidahku telah kelu dibalut perih yang membekuWajah-wajah yang bengis berkata:Wahai Rudi inilah tempat kembalimu “Neraka”Tempat dimana para munafik beradaTempat kepalsuan dan semua topeng dibukaKau sholat hanya agar kau disebut taatKau berpuasa supaya kau disebut zuhudKau bersedekah mengharapkan gelar dermawanKau pergi haji agar semua orang menaruh hormatKau berdakwah biar semua orang menganggapmu alimKau berpuisi memuji Allah supaya kau disebut sang PecintaKau mengobral kebaikan agar kau dimuliakanKau berjuang dijalan-Nya agar kau disebut mujahidTapi Allah Tahu bahwa semua yang kau lakukan itu palsuDia mengawasi semua yang tersembunyi dalam hatimuDia melihat segala yang terbetik dalam isi kepalamuWahai Rudi inilah tempat kembalimu:“NERAKA”Doha, 26 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Sajak Merah Putih | Rudi Setiawan
0 komentar Tuesday, November 13, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
SAJAK MERAH PUTIHRudi SetiawanWahai merah putihApakah merahmu masih benar-benar merahSemerah darah para pejuang yang membanjiri bumi pertiwimuWahai merah putihApakah putihmu masih benar-benar putihPutih yang suci, sesuci jiwa para leluhur bangsa yang dengan tulus menegakkanmuWahai merah putihMerahmu adalah lambang keberanian, kejantanan dan keperkasaanPutihmu adalah simbol keluhuran budi pekerti, ketulusan hati dan kejernihan jiwaWahai merah putihSelama kau masih berkibar diujung-ujung tiang yang tinggi menjulangDari kota Merauke sampai ke kota SabangMaka negeri ini masih bernama IndonesiaWahai merah putihTanahmu kini tak lagi dihuni oleh para pemberani dan pejantan sejatiMelainkan sekumpulan pengecut yang kecil hati dan selalu menetek pada majikan-majikan dari BaratWahai merah putihBumimu kini tak lagi dipimpin oleh orang-orang yang tulus dan jernih hatiMelainkan segerombolan serigala yang rakus dan tega memakan mayat saudaranya sendiriWahai merah putihKini kau mulai koyak dimana-mana dan kibaranmu pun tak lagi bermaknaWarnamu mulai kusam dan memudar dipenuhi oleh kotoran dan nodaTiang penyanggamu mulai lapuk digerogoti rayap-rayap bermulut busukWahai merah putihAkan kubakar kau, agar merahmu semakin membaraMenyala benderang membakar keberanianku dan membangkitkan kejantanankuLalu aku akan berteriak: “AKU BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA”Doha, 2 February 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Monday, November 12, 2012
Puisi Cahaya Diatas Cahaya | Rudi Setiawan
0 komentar Monday, November 12, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
CAHAYA DIATAS CAHAYA(Nuurun ‘Alaa Nuur)Rudi SetiawanKutulis syair iniKala rembulan purnamaDari pantulan cahayanya kupunguti kata demi kataLangit merona merah jinggaDesir angin mengalunkan simponi nadaEmpat serigala muncul dari dalam jiwakuMengabariku tentang kisah kematianTentang anekdot-anekdot kehidupanTentang “TUHAN” yang semakin jauh dari dekapanDi hulu subuh yang senyap iniSaat mata kepalaku disergap oleh kantuk yang melandaMata hatiku masih ingin berbicaraBercerita tentang gelisah hati dan kerinduan jiwaCahaya rembulanMengingatkanku pada “MAHA CAHAYA” keindahanYang karena-Nya kehidupan ini tertata begitu sempurnaNuurun ‘Alaa NuurPercikan-percikan-Mu menerangi jiwa-jiwa yang gulitaMenyibak segala gelap yang berlapis-lapisCahaya diatas CahayaNuurun ‘Alaa NuurDari balik kabut pekat jiwakuIjinkan aku mengintip keindahan Cahaya-MuAllaahu Nuurus samaawaati wal ardliDoha, 31 January 2010http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan
Subscribe to:
Posts (Atom)











