Showing posts with label Idris Pasaribu. Show all posts
Showing posts with label Idris Pasaribu. Show all posts

Friday, May 7, 2010

BIOGRAFI IDRIS PASARIBU

0 komentar

Lahir di Delitua, pada 5 Oktober 1952. Pernah sekolah SR, SMP, SMA, Fakultas Hukum. Pernah menulis cerpen dan puisi remaja sejak usia 16 tahun dan terus menulis sampai kini. Pernah menjadi wartawan sejak usia 18 tahun sampai kini. Pernah puisinya dan cerpen dimuat diberbagai media di Medan dan Jakarta. Pernah puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Sastrawan 1977 di Medan, kemudian puisi lainnya di berbagai Antologi. Pernah cerpennya dimuat di Antologi jejak yang diterbitkan Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU, 1999). Pernah cerpennya dimuat di antologi cerpen Sastrawan Indonesia-Malaysia “Muara”_I dan III, kita tahu juga dia pernah jadi Redaktur Budaya Hr. Analisa sampai sekarang.

Sunday, May 2, 2010

Pembangunan Melenggang

0 komentar

PEMBANGUNAN MELENGGANG
Idris Pasaribu

sejuta mata memandang
sekejap sirna tertelan tsunami
aceh pun meregang

kenapa pembangunan jalannya melenggang
bagai bebek pulang petang?


Puisi Korban Tsunami | Pusara Dinda

0 komentar

PUSARA DINDA
Idris Pasaribu :

- kekasih korban tsunami

adinda,
aku datang dengan sejuta bunga
sejuta aneka warna dan aroma, untukmu
kemana aku harus meletak
sementara pusaramu aku tak tahu
hanya kusaksikan dari teve
alat-alat berat, buangkan jasadmu
sebuah lubang besar
menganga

adinda,
nisanmu tak kutemukan
lelah aku mencari entah di mana
kubangun sebuah nisan abadi
di hatiku
di sini!

2005

Puisi Gempa Bumi dan Tsunami | Lonceng Nias

0 komentar

LONCENG NIAS*)
Idris Pasaribu:

baru saja lonceng gerejamu berdentang
kau nyanyikan kidung agung, atas lahirnya Isa
kau gilirkan hosti.
inilah darahku, darah perdamaian
Inilah tubuhku, tubuh menyelematkan.
dentang lonceng menggemuruh, bukan oleh tarikan tangan
Di guncang dan di ambingkan oleh gempa
kau berseru, berhentilah…
tiba-tiba air menggerumuh
sapukan seluruh tubuh, jiwa, ruh
entah ke mana
raib.
tahun lalu, banjir menghabiskan segala.
dua bulan lalu, api menjilat semua yang ada
kini tsunami menyapu seluruh
bersama kau dengan saudaramu di Aceh
kini gempa datang lagi
tubuhmu tak habis di landa tsunami dalam berbagai versi

2005

*) pulau Nias di Sumatera Utara


Puisi Bencana Tsunami | Kita Harus Melawan Meutia

0 komentar

KITA HARUS MELAWAN MEUTIA
Idris Pasaribu :

I
Ketika tsunami portugis menghempasmu meutia,
Kau gagah menantang dan melawan
Kau dirikan pelabuhan tua meurehom daya*)
Kau hitung semua biji pala, cengkeh dan merica
Kau tantang dengan darah merah, kau usir mereka.
Kau melawan meutia.

II
Ketika tsunami belanda menghempasmu meutia, kau gagah
Angkat senjata
Kau hunuskan rencong mengacung ke angkasa.
Kau derapkan langkah
Kau perempuan perkasa
Kau bangunkan kerkhooft*)
Jenderal pun kau kubur di sana
Tak sejengkal tanahmu dengan nyaman di injak olehnya.
Kau melawan meutia.

III
begitu banyak tsunami kau hadapi meutia, sayangku.
begitu gagah kau menghadang dengan darah dan airmata.
dengan doa pada bentang sajadah

IV
akhir desember 2004
tsunami gemuruh hancurkan semua dalam lara
dalam sejarah panjangnu, kau tak henti di landa tsunami
berbagai rupa
kita harus melawannya meutia
mari singsingkan lengan baju, hapuslah kucuran airmata
kucurkan keringat baru, membangun rumah baru

2005

*) nama kerajaan kecil masa lalu sekitar kota Lamno kab. Aceh jaya
*) komplek kuburan serdadu Belanda yang tewas di Aceh

ACEHKU SAYANG, ACEHKU MALANG | Puisi Idris Pasaribu

0 komentar

ACEHKU SAYANG, ACEHKU MALANG
Idris Pasaribu :

Deru air bersama angin melaju
Derak pepohonan dan rumah tumbang
Dalam gerak singkat
Dalam detik
Sirna
Acehku sayang…
Tak habis di rundung malang
Acehku malang…
Bawa ribuan jiwa melayang
Bersama Tsunami ruh mengawang

2005


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |