Kau hanya debu waktu
Pranita Dewi
kau hanya debu waktu
pada temperatur di atas 16 derajat celcius
luluhkan jemariku yang ragu
lelehkan tubuhku jadi genangan kaldu
jadi zat yang siap kau reguk saat renta tubuhmu
lalu kau singgahi larik tubuhku
serupa lap yang siap kau lekuk
pada lantai dosaku
sengaja kubiarkan senja itu jadi raut ombak
sebab peraman resah telah jadi sajak
lumut bergelut pada kemelut jisim
mainkan pilahan musim
aku melumat setapak kerangka
yang kini menganyam rahimku
pada pasir dan ombakmu
jiwaku lenguh gapai keluhmu
namun kau masih gurati tubuhku
dengan tubuhmu yang debu
2003
Friday, July 9, 2010
Kau hanya debu waktu
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWaktu luruh, kisah hijau
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWaktu luruh, kisah hijau
Pranita Dewi
2003
Tubuhmu-tubuhku, milik waktu
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTubuhmu-tubuhku, milik waktu
Pranita Dewi
2003
Sajak Puisi | Tuhan tenggelam dalam kelam
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTuhan tenggelam dalam kelam
Pranita Dewi
aku terkenang senja merah
gapai tangan suci malaikat darah
pasir hangus meniris tubuhku
pada remang waktu
"tuhan tenggelam dalam kelam!"
serumu
melulu lenguh
namamu digerus pilu
butir pasir menyisir sepi
riwayat janinku,
kubangan senja keruh
rapuh
kau tuturkan kisah 1000 langit
jatuh di tepi mimpi
yang hanya lumatan tangis
kau mamah perih
di lipatan bibirku
hingga jemari
selesai menari
ufuk meraih pagi
namun, mataku jadi riskan
saksikan jisim tuhan
2003
Parasmu kandas | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiParasmu kandas
Pranita Dewi
parasmu kandas
pada hamparan kertas
kenanganku tandas
larik-larik isak pada sajak
menggurat jejak
antara kita
selalu kutulis serupa
gerimis memeram tangis
tubuhmu beku dalam waktu
jiwaku larut
dalam lelehan lilin
senja mengulum kenangan
sunyikan parasmu
pada baris-baris sajakku
2003
Sajak | Benang waktu Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBenang waktu
Pranita Dewi
kau rajut benang kusut
waktu,
langkah keruh
memilah takdir,
pasir yang tersingkir
lakoni senyap pantaimu
seribu kalbu syahdu
iringi patah-patah kata,
isak ombak
pada kilau awan
pahatan hujan
entah angan atau dingin angin
hiasi lirih mimpimu
kau berlalu
dirajut benang kusut waktu
2003
Puisi Ilusi Ilahi | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiIlusi ilahi
Pranita Dewi
kau lukis kelam
malam pada tubuhku
ragu lalui sajak kelabu
garis sunyi gurati
tatapan samar mata camar
jemarimu rapuh
sajak pun jemu
pada senyap jasadmu
kau hanya mainan senja
luka tuhan
jadi bunga singgahan waktu
ilusi ilahi,
ombak tak sampai di pantaimu
2003
Puisi Kenangan Masa Lalu | Kuukir syair akhir
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKuukir syair akhir
Pranita Dewi
kugurat bait sajakmu
di selaput hatiku
yang kelabu
perpisahan kita
entah!
kuukir syair akhir
saat tangis terkikis
menahan perih
saat sukma terdesak memeram malam
saat kata kaku mengukuh makna
suaramu hilang arah
tiga tahun
mengukur takdir
segala impian
lebur terkubur
beku berpadu debu
tak cukup sampai di situ
senandung lagu pun tak mampu
menahan rasa
jiwa tak kuasa merasa
sayat sakit yang diderita
kubaca sajakmu
kukenang cumbumu
ku tak rela angan sisa
lara melata
2003
Puisi Sajak | Menabur kubur
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMenabur kubur
Pranita Dewi
awan menadah
tangis pilunya
dirimu amsal burung camar
menyeru,"peram sedihmu di sayapku!"
hingga aku harus mengejar
rentetan awan
dan kelabu hujan
kita 'kan sampai
akhir dari awan dan hujan
kita bersama menggapai
puncak rindu
bertahta bersama
di selat danau
di utara bayu
di timur lembayung gugur
menabur gemerlap kubur
2003
Entah seletih apa sunyimu
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiEntah seletih apa sunyimu
Pranita Dewi
serambi diam dan bisu
pilar-pilar ragu
pada ranjang
suaramu jadi asing
musim demi musim
memahami takdirku hanya hawa
lemah terselubung arah jemari pada tali
lunglai menggurat syair di kertas merah
entah seletih apa sunyimu
kutulis parasmu di serambi pagi
entah kapan berarti
ilusi puisi menganga di awan
entah kapan jadi jalan
kelasi sendiri dalam badai
jadi sangsi
pada pilar ilahi
kunanti parasmu
di sunyi puisiku
2003
Cukup | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCukup
Pranita Dewi
cukup kesabaranku
menatap matahari
cukup resah jiwaku
menanti jeritan alam
jeritan kata yang gagu
aku disalibkan cinta
dan lemah karenanya
cukup raguku
mengutuk-ngutuk kau
penyandang bulanku
cukup gemetar hatiku
tertegun
tak bisa kuberkata
sesak rabuku
cukup rasa
detik-detik penyiksaan
menglupas jiwaku
kini
yang sisa
hanya genggaman tanganmu
yang rapuh
senyummu tiba-tiba kelam
2003
Aku mencintaimu, kelam | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku mencintaimu, kelam
Pranita Dewi
malam
menggantung purnama
kelam seketika
kau elang pemangsa
genggam tanganku
diantara rumput yang menepis pagi
di terpa angin
gemericik air menertawakan
debar jantungku yang berkata
malam berdenyut seketika
amsal petunjukan mencekam
di tengah hati sunyi menggapaimu
apakah malam tak berpaling ke bulan?
menandakan hatimu
hingga tersuruk aku
ke kubangan mimpi paling lubuk
entah bagaimana rasaku
tanah menyatu debu
pun darahmu mengalir ke arus mimpiku
bagai tusukan beribu sembilu
cahaya padam
dalam bola matamu yang malam
:aku mencintaimu, kelam!
2003
Kau Mengenang Sukmaku | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKau Mengenang Sukmaku
Pranita Dewi
cinta kita
gemericik air
senandung angin
gerak pasir pantai
nyanyikan ribuan tari jiwa
bagai anak panah Rama
kau menyayatku
hingga jalan yang kulalui
bersinar kilauan cahaya binar
pegunungan tempat kita sama berpegangan
kini tak kedengaran lagi rintihnya
aku cemas kalau gunung yang kita huni
menyembur lahar panas
hati kita seketika pasti tumpas
tapi kau mengenang sukmaku
dengan senandungmu
yang melulu mendung
menanti esok tiba
di tengah rintih kita
2003
Sajak Kenangan tak tersisa | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKenangan tak tersisa
Pranita Dewi
kenangan tak tersisa
di album lama
menyatu debu
di tengah hati padu
debu luka
kini tak lagi
dijangkau
tarianmu
hanya isyarat
pertemuan
tanpa kata
sepikan aku
pada remuk dunia
hanya akhir
akhir syair
angin mencat pohonan
palam bergumam
gamang
di tengah sesal terakhir
tangis pantai mengabur
kerang
tak menyatu
dengan pasir
langit tak terkikis
kelam
aku tak kan menangis
di tengah karam
2003
Parasnya tuturkan suka | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiParasnya tuturkan suka
Pranita Dewi
purnama jatuh di parasku
di pantaiku
di ombakku
sehening hening
kulihat perempuan tua
terbujuk mesra
menembang bisikan leluhur
tak lantas menghela nafas
hanya menyuarakan lebur
lewat keriput parasnya
pasir bernyanyi
debur ombak memecah sunyi
perempuan tua terbaring
kepergian hampa asa
namun aku merasa
parasnya tuturkan suka
2003
Aku baringkan tubuhku | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku baringkan tubuhku
Pranita Dewi
aku baringkan tubuhku
di pembaringan waktu
yang tak usai memungkiri
serentetan hari
dan ribuan bintang
yang melintang
aku baringkan tubuhku
yang tengah ada
akan ketiadaan yang memaksa
aku baringkan tubuhku
di pembaringan waktu
malam padam
di tepi unggunan mimpi
2003
Puisi Pasir hambur | Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPasir hambur
Pranita Dewi
pasir hambur
menunggu rintihan
menitis waktuku
jukung merambah
di tanah leluhur
di air asin
kita bergandengan
muram malam
mengaburkan mimpi
denganmu
tapak air di timpa angin di tepi
berlayar di naungan hati
damai suara pantai
hingga berat 'ku melepasmu
malaikat cinta
terjerat di jeritan tawa
terjaring di tangisan jiwa
cinta kita cahaya
bara api dalam nyata
mesti berapa purnama
kutunggu titisan senja
senantiasa jalan tanpa kata
ke haribaanNya
denganmu
pasir hambur
menunggu rintihan
menitis waktuku
angin mendawai
sehening hatimu
memetikku
2003
Biografi Pranita Dewi
0 komentar Friday, July 09, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAgustus 2003, meraih Juara I Lomba Deklamasi Puisi dan Juara I Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Teater Angin SMU 1 Denpasar. Tanggal 22-24 Agustus 2003 memperoleh beasiswa mengikuti 'A Weekend Creative Workshop: Sound Poetry from Different Faiths" dalam Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Kuta, Bali.
September 2003, meraih Juara Harapan I Lomba Menulis Cerpen Remaja se-Bali, NTB dan NTT yang digelar Balai Bahasa Denpasar; dibukukan dalam kumpulan cerpen Made Patih. Oktober 2003, meraih penghargaan "Sepuluh Resensi Terbaik" Lomba Menulis Resensi Cerpen tingkat Remaja se-Bali yang digelar Balai Bahasa Denpasar. November 2003, meraih penghargaan "Lima Puisi Terbaik" Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB), dibukukan dalam antologi Jendela.
April 2004, ia meraih Juara I Lomba Baca Puisi seDenpasar dalam Pesta Seni Remaja Kota Denpasar. Juli 2004, sebuah puisinya masuk nominasi "Krakatau Award" Lomba Menulis Puisi Nasional yang digelar Dewan Kesenian Lampung, dihimpun dalam antologi Narasi dari Pesisir (DKL, 2004). Agustus 2004, ia meraih Juara I Lomba Deklamasi Puisi se-Bali serta Juara II dan III Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Teater Angin SMU 1 Denpasar.
Agustus 2004, ia meraih Juara I Sayembara Penulisan Puisi se-Bali yang digelar Balai Bahasa Denpasar, dihimpun dalam buku antologi puisi Tuhan, Langit Begitu Kosong; dan juga Juara Harapan III Sayembara Penulisan Cerpen se-Bali, dari lembaga yang sama, dihimpun dalam buku antologi cerpen Tower.
Puisinya juga dimuat dalam buku Maha DukaAceh (Pusdok. Sastra H.B. Jassin, Jakarta, Januari 2005), Dian Sastro for President! End of Trilogy (InsistPress, Yogya, Pebruari 2005), Negeri Terluka, Surat Putih 3 (Risalah Badai, Jakarta, 2005).
Pebruari 2005, ia diundang baca puisi pada pembukaan Paradox Literary Centre (komunitas sastra dan penulis Asia-Pasifik) di Ubud, Bali. la juga diundang mengikuti Ubud Writer & Reader International Festival 2005 di Ubud, Bali. Kini, ia bergiat dalam Komunitas KembangLalang dan Jurnal Sundih di Denpasar.
Tuesday, July 6, 2010
Sajak Gadis dan Kupu-kupu
0 komentar Tuesday, July 06, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiGadis dan Kupu-Kupu
Pranita Dewi
kupu-kupu
kaukah alamat buruk itu
saat petang merambati celah rumah
langkahku berhenti pada genangan warnamu
kupu-kupu
curilah waktu untukku
sebab begitu banyak simbol merah jambu
dari kartu tanpa warna ungu
tempat tanpa alamat yang kau kirimkan
seorang gadis pergi mandi malam-malam
seekor kalajengking datang diam-diam
mengapa harus mencoba malam?
kupu-kupu
kaukah alamat buruk itu
sebab semalam gadisku hilang
tubuhnya nyisakan luka yang dalam
kupu-kupukah yang membawanya terbang?
2005
Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"
Sajak Cinta | Sajak Tentang Cinta Pranita Dewi
0 komentar Tuesday, July 06, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSajak Cinta
: bagi kita
sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami-istri
di sisi kita ada cinta
rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta
kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta
2003
Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"
Pranita Dewi
