Showing posts with label Sutan Takdir Alisyahbana. Show all posts
Showing posts with label Sutan Takdir Alisyahbana. Show all posts

Monday, May 26, 2014

Biografi Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar






Biografi Sutan Takdir Alisjahbana 

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), merupakan tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli tata Bahasa Indonesia. Buku-bukunya antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932), Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935), Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (novel, 1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969), Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971), Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978), Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian http://kumpulankaryapuisi.blogspot.co.id/2014/02/puisi-perempuan-slamet-sukirnanto.html Sunyi (1978), Kalah dan Menang (novel, 1978), Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985), Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985), Sajak-Sajak dan Renungan (1987).



Monday, March 24, 2014

Puisi Buah Karet | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Buah Karet
Sutan Takdir Alisjahbana

      Sekali aku duduk dibawah pohon karet dan terkejut
mendengar letusan nyaring diatas kepalaku: biji matang
menghambur dari batangnya.
      Ya, aku tahu, dimana-mana tumbuh menghendaki
bebas dari ikatan!
                                    *
      Terdengarkah itu olehmu, wahai angkatan baru?
      Putuskan, hancurkan segala yang mengikat!
      Rebut gelanggang lapang disinar terang!
      Tolak segala lindungan!
      Engkau raja zamanmu!
                                    *
      Biar mengeluh, biar merintih segala nenek moyang!
      Lagi pohon yang bisu insaf, bahwa biji yang sekian
lama dikandungnya itu akan mati busuk dibawah
lindungan.
      Bahwa bayangan rindang yang meneduhi itu meng-
halangi tumbuh.

5 Mei 1944
Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 2, 25 Desember 1945.

Friday, March 21, 2014

Puisi Seindah Ini | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Seindah Ini
Sutan Takdir Alisjahbana

      Tuhan,
      Terdengarkah kepadamu himbau burung di hutan
sunyi meratapi siang di senja hari?
      Remuk hancur rasa diri memandang sinar lenyap
menjauh di balik gunung.
      Perlahan-lahan turun malam menutupi segala pan-
dangan.
                                    *
      Menangis, menangislah hati!
      Wahai hati, alangkah sedap nikmatnya engkau pandai
menangis!
      Apa guna kutahan, apa guna kuhalangi?
                                    *
      Aku terima kasih kepadamu, Tuhan, memberiku hati
tulus-penyerah seindah ini:
            Sedih pedih menangis, waktu menangis!
            Girang gembira tertawa, waktu tertawa!
            Marak mesra bercinta, waktu bercinta!
            Berkobar bernyala berjuang, waktu berjuang!

10 Agustus 1937
Dari: Pujangga Baru, Agustus, 1937

Monday, March 10, 2014

Puisi Kerabat Kita | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Kerabat Kita
Sutan Takdir Alisjahbana

masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelukmu:
“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.”

Telah lama aku mengembara:
Jauh rantau kujelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Baragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerma dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.

Di runtuhan Harapa dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafkur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan ummat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di
London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
saga Islandia yang megah di padang salju yang putih.

Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu:
Dimana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kujunjung
dimana-mana langit kita yang esa

Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita,
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.

Honolulu, HARI IBU, 1962
Dari: Majalah Horison, Oktober 1971

Friday, March 7, 2014

Puisi Selalu Hidup | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Selalu Hidup
Sutan Takdir Alisjahbana

Dan ketika aku melihat dari kebunku kebawah
ke sawah tunggul jerami di tanah yang rekah,
dan dari sana memandang ke bukit kering merana,
terus ke hutan hijau dibaliknya,
sampai ke gunung yang permai bersandar di langit biru,
maka masuklah bisikan kedalam hatiku:
Hidup ialah maju bergerak,
selalu, selalu maju bergerak,
gembira berjuang dari tingkat yang satu ke tingkat
yang lain.
…………………………………..
Topan, datanglah engkau menyerang!
Malang, datanglah engkau menghalang!
Kecewa, engkaupun boleh datang mendera!
Badanku boleh terhempas ke bumi!
Hatiku boleh hancur terbentur!
Wahai, teman, besi baja yang keras
hanya dapat ditempa dalam api yang panas.
Dan Tuhan,
berikan aku api senyala-nyalanya!

Tiap-tiap beta keluar dari nyalamu,
terlebur dalam bakaran apimu,
nampak kepada beta:
Dunia bertambah jelita!
Diriku bertambah terkurnia!
Dan engkau, Tuhan, bertambah mulia!

21 Agustus 1937
Dari: Pujangga Baru, 1937

Monday, March 3, 2014

Puisi Pemacu Ombak | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Pemacu Ombak
Sutan Takdir Alisjahbana

Pemacu ombak di segara raya,
Gelisah terapung berbuai-buai
Diatas alun kecil-kecil,
Menantikan ombak tinggi padu,
Gairah menggulung menuju pantai.

Didepan membentang samud’ra biru,
Jauh menghabis di garis lengkung,
Tempat langit mantap bertahan,
Dan awan tipis takjub tertegun.

Disini segalanya tiada berhingga:
Ketinggian langit melingkungi semesta,
Keluasan angin di gelanggang biru,
Kedalaman rahasia ombak bergolak.
                      
“Datang, datanglah alun perkasa!
Tinggi biru berpuncak putih,
Saya ‘lah siap diatas peluncur,
Menanti anda menjulang tinggi.”
                       
Meninggi, meninggi alun biru.
Sejenak pendek:
otot berseregang
mata terpaku
jantung terhenti
Dan peluncur tangkas merebut ombak,
Garang liar mengejar pantai.

Cepat cergas pemacu gairah,
Tangkas terpegas di papan peluncur,
Menguakkan tangan meluruskan badan,
Menegakkan kepala anggun bangga,
Laksana dewa, muda ria
Merangkum rahasia permainan abadi,
Antara langit, air dan angin.
                       
Pemacu ombak di segara raya,
Gelisah terapung berbuai-buai
Diatas alun kecil-kecil,
Menantikan ombak tinggi padu,
Gairah menggulung menuju pantai.

Pantai Kuta, 17 September 1974

Wednesday, February 26, 2014

Puisi Manusia Utama | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Manusia Utama
Sutan Takdir Alisjahbana

      Beta selalu menggemari pemandangan lantang: di
pinggir laut yang luas, di puncak gunung yang tinggi.
      Dan sekarang beta berdiri di tengah padang yojana:
sejauh mata memandang ruang lapang, diatas mem-
bentang gelanggang awan terbang.
      Disini dada kurasa limpah ruah, darah mengalir
berbusa-busa, tenaga mekar tiada berhambat.
      Tuhan menjadikan manusia penguasa seluruh buana:
matanya tembus menerus segala adangan, telinganya
menangkap segala getaran, langkahnya melewati segala
watas dan tangannya menjingkau ke balik angkasa.
      Dan hanyalah ketakutannya sendiri yang menjadikan
makhluk itu ulat papa tiada berdaya.
      Beribu tali dibelitkannya sekeliling badannya, se-
hingga akhirnya ia tiada dapat bergerak lagi.
      Picik matanya akan rahasia alam dan takutnya akan
mati disucikannya menjadi agama. Malasnya berpikir
dan menyelidiki dinamakannya percaya.
      Takutnya bertanggung jawab disembunyikannya di
balik nasib. Ngerinya berjalan sendiri dipalutnya dengan
keluhuran sepuhan adat.
      Dan akhirnya tertutuplah sekalian kemungkinan alam
yang luas baginya dalam kepompong gelap yang di-
jalinnya sendiri …….
      Sedangkan bagi kepompong ulat, makhluk yang lata
itu, alam menjanjikan kemuliaan dan kemegahan, telah
sepatutnya bagi kepompong manusia, makhluk utama
yang lengkap berakal dan berbekal itu, hanya teruntuk
kehinaan dan kemelaratan.
      Sebagai hukuman akan kealpaannya terhadap pen-
jelmaan kebesaran dan kekuasaan Tuhan dalam dirinya.

4 Mei 1944
Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 2, 25 Desember 1945

Puisi Kepada Kaum Mistik | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Kepada Kaum Mistik
Sutan Takdir Alisjahbana

I
Engkau mencari Tuhanmu di malam kelam
Bila sepi mati seluruh bumi
Bila kabur menyatu segala warna
Bila umat manusia nyenyak terhenyak
Dalam tilam, lelah lelap.
Tahulah aku, Tuhanmu Tuhan diam kesunyian!

Tetapi aku bertemu Tuhanku di siang-terang
Bila dunia ramai bergerak
Bila suara memenuhi udara
Bila nyata segala warna
Bila manusia sibuk bekerja
Hati jaga, mata terbuka
Sebab Tuhanku Tuhan segala gerak dan kerja

Aku berbisik dengan Tuhanku
dalam kembang bergirang rona
Aku mendengar suara Tuhanku
dalam deru mesin terbang diatas kepalaku
Aku melihat Tuhanku
dalam keringat ngalir orang sungguh bekerja

II
Berderis decis jelas tangkas
Tangan ringan tukang pangkas
Menggunting ujung rambutku
Jatuh gugur bercampur debu

Aku melihat Tuhanku Akbar
Ujung rambut di tanah terbabar
Teman, aku gila katamu?
Wahai, kasihan aku melihatmu

Mempunyai mata, tiada bermata
Dapat melihat, tak pandai melihat
Sebab beta melihat Tuhan di-mana2
Diujung kuku yang gugur digunting
Pada selapa kering yang gugur ke tanah
Pada matahari yang panas membakar

19 Oktober 1937

Tuesday, February 18, 2014

Puisi Hidup di Dunia Hanya Sekali | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Hidup di Dunia Hanya Sekali
Sutan Takdir Alisjahbana

Mengapa bermenung mengapa bermurung?
Mengapa sangsi mengapa menanti?
Menarik menunda badai dahsyat
seluruh buana tempat ngembara
Ria gembira mengejar berlari
anak air di gunung tinggi
memburu ke laut sejauh dapat
Lihat api merah bersorak
naik membubung girang marak
mengutus asap ke langit tinggi!

Mengapa bermenung mengapa bermurung?
Mengapa sangsi mengapa menanti?
Jangkaukan tangan sampai ke langit
Masuk menyelam ke lubuk samudra
Oyak gunung sampai bergerak
Bunyikan tagar berpancar sinar
Empang sungai membanjiri bumi
Aduk laut bergelombang gunung
Gegarkan jagat sampai berguncang
Jangan tanggung jangan kepalang

Lenyaplah segala mata yang layu
Bersinarlah segala wajah yang pucat
Gemuruhlah memukul jantung yang lesu
Gelisahlah bergerak tangan
Terus berusaha selalu bekerja

Punah
Punahlah engkau segala yang lesu
Aku hendak melihat
api hidup dahsyat bernyala,
menyadar membakar segala jiwa.
Aku hendak mendengar
jerit perjuangan garang menyerang
langit terbentang hendak diserang.
Aku hendak mengalami
bumi berguncang orang berperang
Urat seregang mata menantang

12 Januari 1938

Thursday, February 13, 2014

Puisi Menghadapi Maut | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Menghadapi Maut
Sutan Takdir Alisjahbana

Kulihat,
Kurasakan:
Peluru mendesing menembus kening,
Pedang bersinau memenggal leher,
dan
Tergulinglah jasad di tanah:
Darah mengalir merah panas.

Sekejap pendek:
Kaki melejang-lejang,
Urat berdenyut meregang-regang.
Sudah itu
Diam
Sepi
Muka menyeringai pucat pasi.

Datang mendorong dari dalam:
Mana harapanku, mana cita-citaku?
Sebanyak itu lagi ‘kan kukerjakan!
Mana isteriku, mana anakku,
karib handai tolan?
Lenyapkah sekaliannya selama-lamanya?
Kelam!
Ngeri!

Tanganku mengapai-gapai:
orang karam mencari ranting.
Wahai nasib,
Sebanyak itu perjuangan!
Sebanyak itu pengikat!
Pemberat hati kepada dunia!

Sedangkan,
Dari semula telah kutimbang,
Kupikir, kurenung matang-matang:
Ditengah peperangan seluruh buana,
Hebat dahsyat tiada beragak:
Bom peluru mungkin menghancur remuk,
Perampok penyamun mungkin menggolok,
Disentri, kolera, lapar mungkin mencekik …

Dan diantara mati perlbagai mati,
Bukankah ini telah kupilih,
Dengan hati jaga, mata terbuka?
Wahai rahsia hidup!
Penuh pertentangan, penuh kesangsian!
Berat sungguh menjadi manusia!

Tahanan Seksi Tanah Abang, Januari 1945
Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 19-20, 10-25 September 1946.

Puisi Kalah dan Menang | Sutan Takdir Alisjahbana

0 komentar

Kalah dan Menang
Sutan Takdir Alisjahbana

Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab kuputuskan, bahwa kemenangan sudah
pasti untukku saja. Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara

Di padang lantang yang kutempuh ini,
aku tak mungkin dikalahkan:
Sebab disini jatuh sama artinya dengan bertambah
kukuh berdiri.
Tiap-tiap pukulan yang dipukulkan berbalik berlipat
ganda kepada sipemukul.
Malahan algojoku sekalipun yang akan menceraikan
kepalaku dari badanku, akan terpancung sendiri seumur
hidupnya:
Melihat mataku tenang menutup dan bibirku berbunga

4 Mei 1944
Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 2, 23 Desember 1945.

Thursday, May 5, 2011

Puisi Api Suci | Sutan Takdir Alisyahbana

0 komentar

Api Suci
Sutan Takdir Alisyahbana

Selama nafas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api, bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.
Seperti baja merah membara
Dalam bakaran Nyala Raya,
Biar jiwa habis terlebur,
Dalam kobaran Nyala Raya.

Sesak mendesak rasa di kalbu,
Gelisah liar mata memandang,
Di mana duduk rasa dikejar.
Demikian rahmat tumpahkan selalu,
Nikmat rasa api menghangus,
Nyanyian semata bunyi jeritku.

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |