Showing posts with label Tema Gunung. Show all posts
Showing posts with label Tema Gunung. Show all posts

Friday, February 14, 2014

Puisi Gunung Meletus "Kelud Mabuk" | Lipul El Pupaka

1 komentar

ilustrasi tribunnews.com

Kelud Mabuk
Lipul El Pupaka

Asap itu sendiri berdiri, seperti tugu
mandangi batang-batang, lahar menyibak
magma mabuk dan tangis mengandung angin
tungkuku belum usai menanak air mata bencana
saat murka kelud datang tiba-tiba
orang-orang berlarian menjauh bukit
menimang duka,
menjerit,
pekik,
___awasssss.. Kelud bererupsi,
___laharnya bermuntahan
___berterbaran bagai topan
___lariiiiiiiiii.. lariii..

Dan anak-anak itu
tak tahu mengapa
tak harus menunggu Emak Bapak kembali
tubuh kecilnya berlari sendiri
menghardik lahar pulang ke rumahnya

Kelud mabuk, terbatuk
dalam pesta muntahan larva
melempar orang-orang ke berbagai arah

Semburan api Kelud hadirkan ribuan duka di pojokan
Lahar itu meluluhlantakan pintu surga hidup mereka
ladang sawah menangis
hewan-hewan meninggal sarang
anak-anak lupa menyusu
orang tua sibuk menyelamatkan diri keluarga
__”Oh… kelud kenapa kau balut rumah kami dengan percikan laharmu“

mengubur rindu rumah petak
dan pertengkaran yang belum selesai
serombongan burung gagak
menggenggam batang-batang
luka menyepuh pagi
tangis menyorak siang
pilu menusuk hati
__”Hai, kelud berhentilah kau bererupsi, tak kuasa hati ini kau cabik cabik”

Oh… Tuhan
jadikan erupsi ini berkah di nanti hari
Atas kuasa-Mu semuanya pasti
Dan kami hanya berdoa disini
Esok dan nanti
Tak ada lagi erupsi.

***

“Teruntuk suadara-saudari di sekitar Gunung Kelud, semoga erupsinya cepat berlalu”
__ aamiin__

Bengkulu, 13 Februari 2014

sumber :www.kompasiana.com/lipul-kidak


Puisi Gunung Kelud "Kelud Meradang"| Rahab Ganendra

0 komentar

ilustrasi

Kelud Meradang
Rahab Ganendra

angin malam tak lagi dingin menyapu badan negeri timur
derunya mematahkan sinar rembulan malam yang bertafakur
tangisan makhluk makhluk terbata bangkitkan kaki kaki tersungkur
batang batang jiwa pedih terajam hati diterjang dentuman guntur

malam panasmu
bintang menjauh dariku
daun layu
pada lereng lereng pilu

atas murka amarah
dari diam manismu yang usai sudah
seiring gemuruh menggoncang gunung tanah
muntahkan lahar dari danau kawah
yang dulu cantik bersolek indah
nan anggun menaungi seantero wilayah

Kelud nan asri
gelegar puncakmu ciutkan nyali
guncangkan hati saudara kami satu negeri
berbondong cemas pucat pasi
berlari
lari
berlindung tuk selamatkan diri
dari sosokmu yang sedang meradang erupsi

bermandi keringat ketakutan
anak anak berkalang deras jerit tangisan
atas hati yang dilanda kecemasan
pada hardikmu dalam letusan
pada bayang bayang pilu ancaman
oleh pekat parasmu diantara abu hitam kepulan

jika murkamu adalah ujian
yang dititahkan penguasa alam ciptaan
mohonkan segala ampunan
redakan
redamkan
lahar panas membakar harapan
hentikan lava termuntahkan
selamatkan para saudara atas tumbal korban
yang tlah menanggung derita tak tertahankan

padamu Tuhan
seru sekalian alam semesta peradaban
biarlah kami belajar pada setiap kejadian
hikmah menjadi pelajaran
pada kami yang tlah melupakan
atas segala berkahMu yang dilimpahkan

***

Pray for Kediri, Malang, Blitar dan Kota Sekitarnya atas Erupsi Gunung Kelud

Jakarta - 14 Februari 2014

sumber : http://m.kompasiana.com/user/profile/rahab

Friday, January 24, 2014

Puisi Gunung Sakarini | F.Rahardi

0 komentar

Gunung Sakarini
F.Rahardi

1. malam hari :

bagai cahaya pecah di jelaga
seperti pancaran obor di lapangan
sebuah desa kecil mengertap di gigirmu
gajah yang lelah, terbungkuk-bungkuk
            melangkah
beban yang menghimpitmu lumayan beratnya
kandang sapi yang gelap
ladang-ladang kurus
sebuah gubuk penunggu jagung
alangkah sepinya
perapian itu – sepinya.

2. siang hari :

tak ada yang ganjil di tempat ini
batang-batang sengon mengejang di tanjakan
jalan setapak ke desa
laki-laki memikul tahi sapi
begitu setia dia pada keyakinannya
pada matahari, pada musim
pada impian-impian di tikar pandan
di kelokan, alang-alang liar berdansa
            dengan angin
tak ada yang ganjil di sini
tak ada yang aneh di tempat ini
tak ada

16 Mei 1974
Pernah dimuat di Harian Kompas, 6/1-‘76

Thursday, February 21, 2013

Puisi Dibatas Senja Kilimanjaro | Dyns

0 komentar

DiBatAs sEnja KiLimAnjAro
dyns

tEtapak bUmi diantaRa cAdas beBatuaN..
dalam lirih heNing magis senjAmu..
meRonA jiNGga meNgalun..
diBalik serpihan awan jingGa ronA senja..
mEngantung diaWan setia Bergilir beruntai turun..
Alam tahu mEnyapa senyap dibalik perdu-PerDu jiwa..
hAntarkan sang surYa dibatas senJA..
JAlan setapak MeNuju pUNcak ..
diRelung syukur KaRunIA..
Hening telah melepas kelambu menari di juntai malam..
Memecah angin dalam bingkai seNja KilimAnjaro
seruling jiwa yang nyanyikan BalaDa SyuKur..
pada sang peNcipta..
merambat di nadi yang berdenyut ditaSbihnya cinta..
seiRing SaPa padaMu sahabat Jiwa..
kutitipkan Rindu pada sang awan beRaRak ..diHening sEnJA..
BeRsama DaMai jiWa...

# SUNSET KILImANJARO
+KOPI HaNGaT bUat SaHAbat
@3FEB2013 DYNS


Friday, January 4, 2013

Puisi Tentang Gunung "Merapi" | Daman Surachman

0 komentar


MERAPI
Daman Surachman

Merapi tegak berabad abad lalu
tak bergeming oleh sang waktu
tak bising oleh hiruk pikuk kota
tak merasa peduli dengan gemerlap dunia
tak merasa penat menunggu bumi Yogya

Anakku, begitulah merapi
mandiri dalam sepi
mandiri membakar semangat diri
memberi peringatan
memberi kesuburan

Merapi nampak setiap pagi
kala bersinar mentari pagi nampak tegar
kala turun hujan pagi nampak kelam
akupun selalu berenang dalam vektor kenangan

Anakku, begitulah Merapi
setia bagi bumi Yogya
seperti setiaku padamu
selalu rindu dan kirim untaian doa
karena jauh di mata

Sleman, Juli 2008


Tuesday, February 8, 2011

Gunung Tampomas | Puisi Keindahan Alam

0 komentar

Gunung Tampomas
deddi anggadiredja

wahai tampomas
kau tak kan meletus sampai kiamat nanti
kau trima pendok mas yang sakti
pangeran sumedang telah menjadi saksi
seizin Sang Hyang Widi

dikakimu kau persembahkan kali
airnya jernih sekali
air sumber kehidupan
rakyat sumedang larang

dari tebing-tebingmu sampai ke kaki
pucuk-pucuk cemara menari-nari
dipuncak yang paling tinggi
ada tempat sidang para wali
dilembahmu
ada sawah para petani

Sumedang, 1961

Friday, July 2, 2010

Puisi Bertema Gunung | Gunung Singgah Mata

0 komentar

GUNUNG SINGGAH MATA
Puisi L.K.ARA

Dari puncak Singgah Mata
Memandang ke bawah
Kelembah pagi
Ke liku-liku senyap

Dari puncak Singgah Mata
Meyaksikan awan
Berguguran
Berkas-berkas caya
Turun kerimbun pohon
Burung – burung
Hinggap dan terbang
Kijang-kijang berkejaran
Di panas bertelau
Pekik dan ciap
Meriangi siang hari
Panorama abadi
Mengusir keresahan

Dari puncak Singgah Mata
Memandang ke gunung di depan
Di sampingnya jalan meliku
Tadi pagi kita lalui
Tanpa engah
Tiap jengkal tanahnya
Mengandung perih
Darah dan keringat
Riwayat derita
Dibawah sangkur penjajah


Monday, May 3, 2010

Puisi Ziarah Ke Makam Tjoet Nyak Dien | Di Kaki Gunung Puyuh Sumedang

0 komentar

DI KAKI GUNUNG PUYUH SUMEDANG
Isnu Kembara

Sampai di sini kita ingat kembali
Hari-hari kemarin kita berziarah
Mendaki puncak menuruni lembah
Hutan mugo glee rayeuk tameih*)
Hudep saree matee syahid*)

Sampai di sini Meulaboh-gunung puyuh*)
Batin teduh akhlatul kharimah
Aceh tanah tumpah darahnya
Sumedang tanah pusaranya
Tjoet Nyak Dien ibu perbu ratu
(gerimis waktu itu adalah airmata cucunya)

sampai di sini
di kaki gunung puyuh sumedang
kami dendangkan syair hikayat perang sabil*)
buat Teuku Umar
buat Tjoet Nyak Dien
buat rakyat Sumedang
buat mesjid Agung
buat Adipati Kesuma Dilaga
buat Temanggung Arya Rurya Kusuma
buat H. Husna dan H. Duhe Djuwaeriah
di tanah wakafmu kami duduk di Meunasah*)
menyerah segalanya kepadamu Tuhan
di sini kami hanya berserah diri


Sumedang, Jawa Barat, 1993

*) hutan mugo glee rayeuk tameih adalh tempat Teuku Umar (suami Tjoet Nyak Dien) di makamkan di dekat Meulaboh-kabupaten Aceh Barat

*) hadeep saree matee syahid adalah semboyan perjuangan rakyat Aceh, yang berarti hidup adil mati syahid

*) gunung puyuh sumedang, tempat di makamkan Tjoet Nyak Dien, setelah wafat dalam masa pengasingan di pulau jawa

*) syair sastra Aceh yang menjadi pemicu semangat perjuangan rakyat Aceh mengusir tentara Kolonial

*) surau kecil


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |