Showing posts with label Pantun Ajip Rosidi. Show all posts
Showing posts with label Pantun Ajip Rosidi. Show all posts

Monday, May 10, 2010

Pantun si Paku Gelang

0 komentar

Pantun si Paku Gelang

Gelang si paku gelang
gelang si rama-rama;
Pulang aku kan pulang
mengembara cukup lama

Gelang si paku gelang
paku haji tumbuh di huma;
Pulang aku kan pulang
namun masih di bumi fana

Gelang si paku gelang
menjadi ulam penyedap rasa;
Pulang aku kan pulang
bertemu denganmu entah pabila


Pantun Pulau Seribu

0 komentar

Pantun Pulau Seribu

Pulau Seribu di Teluk Jakarta
laut tenang langit kelabu;
Hati rindu tak menemukan kata
hendak bersimpuh di pangkuanmu

Pulau Seribu kebun kelapa
nelayan diusir konglomerat;
Hendak mengadu hati nestapa
karena diri telah khianat

Pulau Seribu milik siapa
kalau rakyat digusur pejabat;
Diri khianat karena alpa
memohon ampun dunia akhirat


Pantun Air Mancur

0 komentar

Pantun Air Mancur

Air mancur di jalan Thamrin
tempat mandi anak jalanan;
Takkan keliru dengan yang lain
kalau denganmu berhadapan

Air mancur memancar jernih
orang meminum air kali;
Hilang dahaga lenyaplah letih
kalau engkau muncul di hati

Air mancur di tengah kota
menyiram debu sehari-hari;
Mau menegur kehilangan kata
semua terungkap di dalam hati


Pantun Pergi Ke Laut

0 komentar

Pantun Pergi Ke Laut

Kalau tuan pergi ke laut
carikan saya ketam betina
udang galah dan tenggiri
ikan kerapu di dalam bubu;
Kalau tidak karena takut
kupaksa untuk berjumpa
agar kau jadi mengerti
betapa rindu melihatmu

Kalau tuan pergi ke Tanjung
bawalah kain barang sekayu
untuk baju anak yang kecil
sudah lama tak ada ganti;
Aku merasa tidak beruntung
selalu kautolak bertemu
padahal tidaklah musykil
asal kauampuni dosaku keji


Pantun Kembang Jati

0 komentar

Pantun Kembang Jati

Elok rupanya kumbang jati
dibawa itik pulang petang;
Elok nian kasih di hati
engkau terima dengan sayang

Elok rupanya kumbang jati
terbang melayang di atas rumah;
Elok nian hatimu suci
menerima aku sedang gundah

Kumbang terbang di atas rumah
berkeliling mencari mangsa;
Hatiku selalu merasa gundah
karena diri berlumuran dosa


Pantun Burung Pipit

0 komentar

Pantun Burung Pipit

Burung pipit terbang melayang
turun minum di dalam paya
paya dinaung pohon kelapa;
Terasa sempit hidupku sekarang
engkau tinggalkan tak berdaya
meraba-raba hilang cahaya

Burung bangau pulang ke sarang
pohon asam di atas atap
ditunggu anak sudah dahaga;
Hanya engkau pemberi terang
bagi hidupku dalam gelap
agar selamat dari neraka

Batang kelapa sangat tinggi
beruk meloncat sekali jadi
buah menimpa pedagang sayur;
Aku mengharap kaukasihani
hati menangis tiada henti
sia-sia ingin kautegur


Friday, May 7, 2010

KUMPULAN PANTUN | Pengantar Pantun Ajip Rosidi

0 komentar

PENGANTAR

Pantun sebagai bentuk puisi sangat digemari di seluruh Nusantara. Setiap bait lariknya selalu genap dan terbagi menjadi dua, ada yang setiap baitnya terdiri dari 2, 4, 6, 8, 10, 12 larik ... dan seterusnya. Larik bagian yang pertama disebut sampiran, sedangkan bagian yang kedua disebut isi. Sering tidak ada hubungan apa-apa antara bagian sampiran dengan isi, kecuali persamaan bunyi akhir: larik pertama berbunyi akhir sama dengan larik ketiga, larik yang kedua berbunyi akhir sama dengan larik keempat. Dan kalau lebih dari empat larik, maka larik ketiga berbunyi akhir sama dengan yang keenam, dan larik yang keempat berbunyi akhir sama dengan larik kedelapan, dan seterusnya.

Dalam banyak bahasa daerah bentuk puisi demikian terdapat juga. Dalam bahasa Sunda ada sisindiran, dalam bahasa Jawa ada parikan, dalam bahasa Batak ada pardohom, dan lain-lain. Tapi bukan hanya kepopulerannya saja maka bentuk puisi pantun istimewa. Menurut hasil penelitian para ahli, pantun merupakan bentuk puisi asli Nusantara. Pantun hanya ditemukan di dalam bahasabahasa Nusantara, tidak terdapat dalam bahasa-bahasa lain.

Pada awal kelahiran sastera Indonesia modern, pantun pernah populer. Balai Pustaka dan penerbitpenerbit lain banyak menerbitkan buku pantun. Tapi sejak , awal tahun 1930-an, setelah S. Takdir Alisjahbana mengejek pantun sebagai ocehan nyinyir nenek-nenek yang tak ada kerja, maka semangat menulis pantun menjadi padam.1 Penerbitan buku pantun tidak dilakukan orang lagi. Dalam majalah-majalah hanya ruangan kanak-kanak yang sekali-sekali memuatkan pantun. Namun demikian dalam kehidupan masyarakat pantun tidak mati. Orangorang Melayu tetap menandak sambil menyanyi berbalasbalasan pantun. Begitu juga orang Sunda dalam nyanyian kawih-nya banyak menggunakan sisindiran. Dan orang Jawa pun sampai sekarang banyak menyanyikan parikan. Di Malaysia setiap tahun ada lomba berbalas-balasan pantun, di samping di Kelantan ada yang disebut dikir barat, yaitu semacam kelompok nyanyian dengan tukang karut sebagai penyanyi utama, diikuti oleh para penyanyi yang lain.

Dalam sastera bahasa Indonesia modern juga pantun sering muncul. Sanusi Pane, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, dan lain-lain, kadang-kadang menulis pantun atau menyelipkan pantun dalam sajak-sajaknya. Hal itu menunjukkan bahwa pantun sebagai bentuk puisi tradisional Nusantara tetap bergema dalam lubuk hati para penyairnya, yang modern sekalipun. Memang ada kecenderungan orang merasa malu menulis pantun, karena takut disamakan dengan nenek-nenek nyinyir yang tak ada kerja oleh S. Takdir Alisjahbana. Pantun dianggap bentuk puisi kuno yang sudah ketinggalan zaman.

Tapi mengapa soneta tidak dianggap kuno, malah dianggap modern? Para penyair Pujangga Baru kawan seangkatan S. Takdir Alisjahbana banyak yang menulis soneta. Padahal soneta mungkin lebih tua daripada pantun dan tidak mustahil di negeri asalnya sudah menjadi semacam kerajinan nenek-nenek tua nyinyir yang tak ada kerja juga. Tapi karena datang dari Barat (yaitu berasal dari Italia masuk ke Indonesia melalui jendela Belanda), soneta tidak dianggap kuno. S. Takdir Alisjahbana sendiri menulis soneta. Bahkan apa yang disebut puisi bebas sekalipun sudah mempunyai tradisi yang cukup tua ketika diperkenalkan oleh para pelopor perpuisian Indonesia modern.

Maka pada akhirnya, yang menentukan sebuah puisi indah atau tidak, berharga atau tidak, bukanlah semata karena bentuknya. Yang penting adalah kreativitas yang mendukungnya. Kalau ditulis oleh nenek-nenek (dan kakek-kakek) yang nyinyir tak ada kerja, maka bentuk puisi bebas juga dapat saja membosankan dan tidak bermutu sama sekali. Sebaliknya bentuk puisi lama dapat saja menyuguhkan sesuatu yang baru kalau lahir dari tangan orang yang kreatif.

Itulah sebabnya saya mencoba menulis pantun sesuai dengan tradisi Melayu. Sebelumnya sudah ada juga pantun yang spontan meluncur dalam beberapa sajak saya, tetapi waktu itu saya tidak berniat menulis pantun.

Kita jangan silau oleh yang datang dari luar, karena yang kita miliki pun cukup berharga. Bukan berarti dengan mata membuta kembali kepada yang lama, melainkan memberinya makna yang baru. Pantun sebagai bentuk saya kira tetap memikat dan dapat menjadi wadah ekspresi seni yang tinggi. Dalam pantun-pantun yang saya tulis, saya masih banyak terikat dengan yang lama. Bahkan sampiran lama saya pergunakan untuk diisi dengan sesuatu yang sesuai dengan visi saya. Saya kira isi demikian jarang atau mungkin tak pernah terdapat dalam pantun Melayu. Dengan demikian saya membuat pantun Melayu tradisional menjadi sesuatu yang baru, karena digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan orang. Niscaya langkah ini dapat dilanjutkan dengan langkah-langkah lebih jauh oleh para penyair lain yang menganggap bentuk puisi traidsional dapat saja diberi makna baru. Dan bentuk puisi tradisional yang khas tidaklah hanya terdapat dalam bahasa Melayu saja.

A. R.
Mino, Osaka, 30 Maret 2003


Thursday, May 6, 2010

PANTUN SUMUR DI LADANG

0 komentar

PANTUN SUMUR DI LADANG

kalau ada sumur di ladang
boleh itik menumpang mandi;
kalau saja umurku panjang
mungkinkah kauterima aku mengabdi

Kalau itik menumpang mandi
air sumur jangan keruh;
Kalau kauterima aku mengabdi
Siang dan malam aku bersimpuh

Air sumur janganlah keruh
Untuk minum supaya sehat
Siang dan malam aku bersimpuh
mencari ridho cucuran rahmat


PANTUN DARI MANA

0 komentar

PANTUN DARI MANA

Dari mana hendak ke mana
hendak bertemu tuan kadi;
Hari mana bulan mana
kita bertemu meski sekali

Dari mana hendak kemana
hendak pulang ke kampung hulu;
Hari mana taun mana
engkau masuk dalam hatiku

Dari mana hendak ke mana
dari tepian hendak ke huma;
Entah kapan entah pabila
aku merangkak kau terima


PANTUN ANAK IKAN

0 komentar

PANTUN ANAK IKAN

Anak ikan dipanggang saja
hendak dipindang tidak berkunyit;
Kalu engkau dapat menjelma
akan kutempuh meski ke langit

Anak ikan tertangkap jala
hendak dipotong lepas kembali;
Kalau engkau dapat diraba
hidup hampa jadi berarti

Anak ikan kena dikail
dimasak dengan daun cendana;
Meski bertemu barang mustahil
kalau kau mau pasti laksana


PANTUN KE TELUK SUDAH

0 komentar

PANTUN KE TELUK SUDAH

Ke teluk sudah ke tanjung sudah
ke Campa saja yang belum;
Bersujud sudah berkhalwat sudah
berjumpa saja yang belum

Hendak ke teluk ke tanjung belum
hendak ke Mekah tiada perahu
kembali ke pulau kejauhan;
Hendak kupeluk hendak kucium
hendak kudekap melapas rindu
engkau raib dari jangkauan


PANTUN PULAU PANDAN

0 komentar

PANTUN PULAU PANDAN

Pulau Pandan jauh ke tengah
di balik pulau Angsa Dua;
Hampa badan hati pun gundah
karena engkau tidak teraba

Pulau Pandan kian merapat
gunung Kerinci menjulang tinggi;
Tiada teraba tiada terlihat
engkau di mana sukar dicari

Pulau Pandan jauh ke kanan
pulau Bintan di sebelah kiri;
Harus bagaimana aku gerangan
hendak berjumpa susah sekali


PANTUN PISANG EMAS

0 komentar

PANTUN PISANG EMAS

Pisang emas dibawa berlayar
pisang batu di atas peti;
Hati cemas engkau kian samar
kian menjauh dari hati

Pisang batu di atas peti
dimakan beruk pemetik kelapa;
Engkau menjauh dari hati
hidup terasa menjadi hampa

Pisang raja hanya setandan
dihaturkan pada tuan haji;
Siang malam tersedan-sedan
karena aku kautinggal pergi

Pisang raja dalam perahu
jadi simpanan jurumudi;
Aku sengsara hilang tuju
mohon ampun tak kauberi

Pisang makanan jurumudi
tidak keluar dari lemari;
Mohon ampun tak kauberi
aku tersiksa sampai mati


PANTUN KEBUN BAMBU

0 komentar

PANTUN KEBUN BAMBU

Kebun bambu hijau terbentang
Sepanjang bukit di sekelilingku;
Nasibku selalu terasa malang
karena terlempar dari sisimu

Kebun bambu ditebang orang
jadi lahan perumahan baru;
Hati rindu bukan sembarang
namun engkau tak mau tahu

Rebung tumbuh di musim semi
pengganti batang yang sudah tua;
Kalau engkau memenuhi janji
aku menunggu tidak mengapa


Friday, April 30, 2010

PANTUN BULAN PURNAMA

0 komentar

PANTUN BULAN PURNAMA
Ajip Rosidi

Di atas Mino bulan purnama
langit bersih terang sekali;
Menyebut nama memuja nama
hanya engkau di dalam hati

Bulan purnama meskipun terang
kalah oleh cahaya lilin;
Kasihku hanya engkau seorang
tak nanti ada yang lain

Bulan Purnama di atas bukit
cahaya menerangi kebun bambu;
Tanpa engkau hidup jadi pahit
segala yang lain hanyalah batu

Bulan purnama bulan perbani
Bulan gerhana kentongan dipalu;
Baru hidupku mengandung arti
bila denganmu aku bertemu

PANTUN TANJUNG KATUNG

0 komentar

PANTUN TANJUNG KATUNG
Ajip Rosidi

Tanjung Katung airnya biru
kalau boleh menumpang mandi;
Hidup selalu memendam rindu
bertemu denganmu meski sekali

Tanjung Katung airnya biru
tempat gadis berenang-renang;
Hidup selalu menanggung rindu
hanya padamu aku terkenang

Tanjung Katung airnya biru
berkecimpung simbur-simburan;
Hati selalu ingat yang satu
kian dekat dengan kuburan

Tanjung Katung airnya biru
lautnya dalam langitnya jernih;
Hati selalu ingat padamu
semakin kuat terpaut kasih


PANTUN HUJAN GERIMIS

0 komentar

PANTUN HUJAN GERIMIS
Ajip Rosidi

Hujan gerimis sepanjang hari
angin bertiup dari Tenggara;
Hati menangis tersedan tak henti
karena hidup sebatang kara

Angin bertiup kencang sekali
kilat menyambar guruh bergegar;
Tersedan sunyi di bumi sepi
seorang diri hidup terlantar

Kilat menyambar guruh bergegar
tak ada tempat sembunyi
Seruanku pilu tak kaudengar
terlempar aku ke jurang sunyi


PANTUN HARI LEBARAN | Pantun Tentang Lebaran

0 komentar

PANTUN HARI LEBARAN
Ajip Rosidi

Pada hari Lebaran ramai takbiran
sepanjang malam tiada henti;
Hidup fana berakhir di kuburan
merindukan engkau sebelum mati

Hari Lebaran bermaaf-maafan
menghapus dosa lahir dan batin
Kalau dengan engkau berhadapan
tidak kuharap lagi yang lain

Hari Lebaran hari yang suci
saat manusia menjadi fitri;
Harap engkau menerimaku kembali
setelah sesat lepas kendali

Saat manusia menjadi fitri
segala dosanya Kauampuni
Setelah sesat di bumi keji
mencari ridhoMu di langit hati.


PANTUN DARI KYOTO

0 komentar

PANTUN DARI KYOTO
Ajip Rosidi

Kyoto kota seribu jinja
tujuan orang berwisata
menonton matsuri sepanjang hari;
Hidup sejahtera di dunia
tanpa engkau tidak bermakna
seperti terbuang ke lorong sunyi

Dalam istana peninggalan Shogun
taman luas pohon pun rindang
benteng dan parit di sekelilingnya;
Mencari engkau bertahun-tahun
tiada henti malam dan siang
namun engkau tetap rahasia

Benteng dan parit mengelilingi
menjaga dari serangan musuh
meski jumlahnya beratus ribu;
Hidup terasa tak punya arti
karena engkau terlalu jauh
entah dimana aku tak tahu


Jinja : Bangunan suci penganut Sinto, seperti gerej abagi orang kristen
Matsuri : Festival
Shogun : Panglima militer penguasa sebenarnya di Jepang ketika Kaisar (Tenno) hanya sebagai lambang

Thursday, April 29, 2010

PANTUN HARI JUMAT

0 komentar

PANTUN HARI JUMAT
Ajip Rosidi

Pergi ke kobe setiap jum'at
dengan kereta dari Umeda;
Mencari engkau setiap salat
sampai atahiat tidak berjumpa

Naik kereta dari Umeda
lalu turun di Sannomiya;
Meski berjumpa kita tiada
namun engkau kucari juga

Waktu pulang dari Sannomiya
aku turun di Kitasenri
Meski di mana engkau berada
namun tetap akan kucari

Waktu turun di Kitasenri
aku berjalan seorang diri;
Engkau kan tetap kucari
meski harus melintasi mati


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |