Showing posts with label Odi Shalahuddin. Show all posts
Showing posts with label Odi Shalahuddin. Show all posts

Friday, January 4, 2013

Puisi Teroris Yang Tak Terjamah

0 komentar

TERORIS YANG TAK TERJAMAH
odi shalahuddin

ketika tak bisa dibeda antara penguasa dan pengusaha
ketika tak bisa dibeda antara pejabat dan penjahat
ketika tak bisa dibeda antara doa selamat dan jimat
maka sesungguhnya kehidupan kita tengah berada dalam ancaman teror yang nyata

para teroris yang menguasai kekayaan negara
para teroris yang berwenang sebagai pengelola
para teroris yang canggih bermain dalam media
bisa terbutakan keyakinan kita oleh permainan kata, yang senantiasa cepat berubah arah

negara bukan mainan yang seenaknya diayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri
negara bukan timbangan untuk selalu menghitung segala untung rugi
negara bukan pula patung, yang disembah layaknya berhala

negara ada, dengan cita-cita, ini haruslah nyata, segera dicipta
bila masih tersamarkan, maka para terorisah yang bekerja
ini lebih berbahaya daripada teroris yang bermain dengan senjata
lantaran kesadaran kita bisa diremas bersifat manasuka
dan kita bersorak gembira terhadap segenap bencana

ayo, dibutuhkan detasemen khusus
yang mampu menerobos dan membongkar

Yogyakarta, 21-22 Juli 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Wednesday, January 2, 2013

Puisi Tentang Luka | Odi Shalahuddin

0 komentar

LUKA
Odi Shalahuddin

tertoreh
menyiksa
kalut pikir

bukankah itu justru
membangkitkan luka lainnya?

mari nikmati luka
sambil bernyanyi dan menari
agar tak terasakan lagi

yogya, 19 Januari 2012
http://odishalahuddin.wordpress.com

Friday, December 28, 2012

Puisi Bangkit | Odi Shalahuddin

0 komentar

BANGKIT 
odi shalahuddin

Bangkitlah dari kursimu, bila itu terasa panas, lantaran uang panas semakin membakar saku celanamu, kecuali bila dirimu ingin menghitamkan diri

Bangkitlah dari tidurmu, bila hanya mimpi yang kau nikmati, sedang mata terbuka terasa siksa belaka, buat apa kau berbangga sebagai pemuda, sedang tiada perubahan bagi bangsa dan negara?

Bangkitlah !!!

Tapi, janganlah bangkit. Sungguh kuharap padamu, yang telah terbujur kaku di pemakaman. Tenang sajalah pada duniamu.

20 Mei 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Berkorban | Odi Shalahuddin

0 komentar

BERKORBAN
odi shalahuddin

tumpah
pada tanah
yang telah basah

mata sayu
tunggu giliran

ini pengorbanan
atau dikorbankan
sama saja

para manusia diingatkan

ayo, jangan segera lupakan
tak perlu tunggu tahun depan
para tetangga butuh bantuan
jangan berpura, hilang sekelebatan

ayo, terus berkorban
setelah harta terus ditingkatkan
sungguh, jangan sampai hilang ingatan
kelak engkau diminta pertanggungjawaban

Yogya, 6 November 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Thursday, December 27, 2012

Puisi Siapa Bermain Api ? | Odi Shalahuddin

0 komentar

SIAPA BERMAIN API?
Odi Shalahuddin

api
api
api
membakar
jiwa-jiwa yang tengah resah
hingga tindak membakar segala

api
api
api
berkobar di mana-mana
dalam kata-kata
dalam bisikan dan gosip jalanan
hingga menyeruak pula
pada ruang-ruang parlemen dan istana
mengeliat
menyebar
membakar
terbakar

api
api
api
terbakar
kebakaran
dibakar
api berkobar
siapa bermain api?

ayo
matikan kompor
air telah mendidih
lebih baik buat kopi

jangan biarkan kompor meledak

6 Januari 2012
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Menagih Janji | Odi Shalahuddin

0 komentar

MENAGIH JANJI
Odi Shalahuddin

ssstttt,
mengetuk pintumu, maaf bukan memelas minta uang
lantaran dirimu telah jadi pejabat negara
sekedar ingatkan, tentang janji-janji yang telah kau tebarkan
maaf, jangan anggap kami sebagai penagih hutang yang bengis

13 Januari 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Seiring Suara Tokek "Ada Atau Tiada" | Odi Shalahuddin

0 komentar

ADA ATAU TIADA?
odi shalahuddin

Ada?
Tiada?
Ada? Tiada?

Ulangan Tanya

Seiring suara tokek

Ada….
(tekkkkeeeeekkkkkk)
Tiada
(tekk……)

Jadi……?

Ah…,
Ini hanya canda
Tak usah dibaca
Percuma
Habiskan waktu saja

Ayo,
kembali kerja dan berkarya

Yogya, 5 Desember 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Tuesday, December 25, 2012

Puisi 2012 | Odi Shalahuddin

0 komentar

2012
Odi Shalahuddin

ada gosip di jalanan
tentang ancaman
tapi ada bisik-bisik pula
tentang keyakinan

perubahan akan terjadi
menuju kehancuran
atau kemenangan

kehancuran menuju kemenangan?
atau kemenangan menuju kehancuran?

ah bila mungkin dinyatakan
maka segala terbuka kemungkinan
bukankah begitu, sobat?

mari nikmati saja secangkir kopi
di pagi hari
walau tak bisa tertawa
lantaran membuka lembaran berita
masih saja banyak kisah duka
bersama setumpuk hutang kerja

ayo nikmati pagi seraya menyeruput kopi
bangkitkan ceria hati, jangan terjebak mimpi

3 Januari 2012
http://odishalahuddin.wordpress.com

Saturday, December 22, 2012

Puisi Aku Belajar Untuk Tidak Percaya

0 komentar

AKU BELAJAR UNTUK TIDAK PERCAYA
Odi Shalahuddin

bila dirimu sendiri yang telah mengajarkan ketidakpercayaan

ketika tanah direlakan, dengan rasa bangga sebagai warga
mengabdi kepada negara, menyumbangkan apa yang dipunya
berdirilah pabrik-pabrik milik para pengusaha
dan orang-orang dari jauh menjadi pekerjanya
warga, khususnya para pemuda, hanya bisa melongo saja

ketika semakin tersingkir, masuk ke dalam hingga benar-benar buntu
tak bisa mundur, sedangkan kebutuhan terus memburu
pergilah ke kota-kota membawa berbagai jutaan harapan baru
tapi nyatanya melamar kerja tertolak melulu
sampai kesal rasanya ingin melempari batu

bagaimana mungkin percaya
bila dirimu sendiri yang telah mengajarkan ketidakpercayaan

ketika rejim otoriter terjatuh, membangun semangat perubahan
waktu yang berlalu akhirnya goreskan kekecewaan
Ketika orang-orang berada pada lingkaran dan puncak kekuasaan
menunjukkan watak aslinya merebut dan mempertahankan
mengatas-namakan kepentingan bersama, tapi hanya sekedar ocehan
Lantaran perubahan sama sekali tak hiraukan gema seruan
dari rakyat yang masih terus bergulat dengan kemiskinan
sedang mainan kata-kata terungkap pula sebagai bualan

bagaimana mungkin percaya
bila dirimu sendiri yang telah mengajarkan ketidakpercayaan

Yogya. 19.01.11
http://odishalahuddin.wordpress.com


Thursday, December 20, 2012

Puisi Sambut Pagi | Odi Shalahuddin

0 komentar


Sambut Pagi
Odi Shalahuddin

Jelang Subuh,
Mimpi menepi
Kendati harap
Ada yang tertinggal

Biar lekat dalam ingatan

Menanti mentari
Ah, lembaran apa
Hendak kau buka?

Jangan meragu  lukis rencana

hei, jangan termangu
segera bangkit usir kantukmu
menyusuri peta buta tak terlupa
dapur dan kamar mandi

buat kopi dan segera mandi !

teruslah ternikmati

Yogya, 7 April 2012
http://odishalahuddin.wordpress.com


Saturday, December 15, 2012

Puisi Ada Cinta Disini | Odi Shalahuddin

0 komentar

sumber gbr : abstract.desktopnexus.com

ADA CINTA DI SINI
odi shalahuddin

dini hari memang waktu baik untuk merenung diri
mengevaluasi dan merefleksi perjalan hari-hari
mengetuk pintu langit yang tak bertepi
memasuki ruang-ruang sepi
sendiri, tapi tak merasakan sunyi
lantaran suara-suara menggema dinding hati
apakah yang selama ini kau cari?
bukankah membangun mewujudkan mimpi-mimpi?

mari masuk tak usah meragu, ada cinta di sini
bagi setiap insan yang haus dan peduli
tenanglah, tak perlu risau ada diskriminasi
semua sama, bisa saling berbagi

ayolah, jangan meragu, ada cinta di sini
jangan takut hatimu akan tercuri
sebab segalanya akan kita nikmati

walaupun sepanjang jalan berduri
menggores tubuh, alirkan darah, muntah ke bumi
itu hanya tantangan yang harus dilewati

ayolah, jangan meragu ada cinta di sini
tapi jangan merasa bahwa semua bisa kau beli
ini adalah soal hati dan soal berbagi

20 Desember 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Tuesday, December 11, 2012

Puisi Tuhan, Aku Yakin Kau Tidak Lelah

0 komentar

sumber gbr : fanpop.com

TUHAN, AKU YAKIN KAU TIDAK LELAH
odi shalahuddin

bencana demi bencana yang melanda Indonesia
kuyakin bukan adzab darimu, Tuhan
tapi irama alam semesta yang tidak lagi berada dalam putarannya
lantaran ulah manusia dengan keserakahannya yang meraja
atau bahkan mungkin terlena dan larut dalam lupa
kuyakin itu, Tuhan,
sebab ketika semesta tercipta, telah kau lepas ia untuk bekerja

pada setiap bencana, selalu saja berulang kebodohan yang sama
tentang orang-orang yang selalu saja berkata-kata
tentang peringatan darimu, kepada para korban yang dinilai menjadi para pendosa
dan ini disiarkan dalam berbagai ruang-ruang agama
tentang ini, aku tidak yakin, Tuhan
walau dalam keyakinan, semuanya adalah atas kehendak-Mu
tapi manusia pulalah yang harus senantiasa menjaga keseimbangan
dan bersikap waspada terhadap berbagai kemungkinan ancaman bencana

pada setiap bencana, selalu saja berulang kebodohan yang sama
tentang para penguasa yang masih gagap,
suntuk bermain dalam ruang prosedur dan administrasi
sedang para korban butuh pengungsian yang aman, nyaman,
dan terjamin kelangsungan hidupnya

pada setiap bencana, anugrah dariMu, menjelma melalui hati dan sosok
ratusan orang-orang yang ringan bergerak membantu sesamanya
para relawan yang tak henti bekerja, ke dalam wilayah-wilayah bahaya
hingga kematian juga sering membayang-bayangi mereka

Tuhan, ketika nama-Mu digemakan, dengan berjuta permintaan
kutahu, kau tak pernah lelah, dan tak akan pernah lelah
karena diri-Mu memanglah tempat meminta

Yogyakarta, 19 November 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Friday, December 7, 2012

Puisi Desaku | Desaku Yang Kucinta

0 komentar



DESAKU
odi shalahuddin

pujaan hatiku…”

desa telah mengubah dirinya menjadi kota. ketika tanah-tanah semakin terpuruk ditenggelamkan oleh aspal, adonan semen dan pasir, dan gemerlap keramik pada rumah dan gedung yang bertumbuhan semakin menjauhkan kaki kita berpijak bumi. tiada batas. aliran listrik, telpon, komunikasi seluler, akses internet memandang wajah dunia dalam layar dan bersapa tanpa menunggu kecemasan suara dering bel sepeda dari pak pos. migrasi bukan kemewahan lagi melainkan menjadi perburuan bagi perubahan nasib. kota-kota. negeri seberang. ragam bahasa. pertemuan-pertemuan lahirkan cinta.

ah, masihkah engkau bertanya tentang asal asli? dunia telah terbentang dan tertiti, dengan kerumunan-kerumuan di setiap sudutnya. ruang pertemuan tanpa batas, lahirkan anak-anak manusia. perpaduan. anak-anak dunia. hidup di desa global  tanpa peta. keberuntungan bila dirimu masih memiliki alamat rumah.

tapi bagaimanakah bagi mereka yang berada dalam kamp-kamp penampungan atau lorong-lorong jembatan sebagai warga tanpa pengakuan atas keberadaannya?

”desaku yang kucinta……..”

desa. manakah berpulang? ketika desa sudah menjadi dongengan atas para pendahulu tentang kampung halaman. jutaan manusia yang hadir dalam ruang pertemuan dan menyapa dunia dari rumah tak berdinding. Bermimpi tentang wajah kampung halaman yang tak bisa lekat dalam kepala.

”desaku yang kucinta,
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku….”

bagaimana hendak melupa, bila hidup tak pernah bersapa dan menyelaminya. hanya lagu. lagu. lagu. lagu. lagu pengisi hati di kala merasa sepi. engkau?

Yogyakarta, 25 november 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Thursday, December 6, 2012

Puisi Kepada Istriku | "Selamat Ulang Tahun Istriku"

0 komentar

KEPADA ISTRIKU
:Sri
odi shalahuddin

walau belum berjumpa,
dan kutahu kau masih terlelap
aku tetap bertahan untuk terjaga
berhasil melewati pergantian hari
dan tepatlah bisa dikata
25 Desember ini tanggalnya

kuucapkan padamu
”selamat ulang tahun istriku,”

aku bisa tersenyum
membayangkan mengecup keningmu
sambil menyaksikan wajah renyahmu
bukan wajah masam seperti tahun-tahun yang sudah
lantaran ucapan datang dariku
setelah berulang isyarat tersampaikan

sehatlah selalu wahai sang istri,
senantiasa kejernihan berpikir mengarungi hari-hari
ringan langkah tapak kaki meniti
penuh semangat, hidup saling berbagi
dipanjangkan umur dan saling mengasihi,

Berdoa kesehatanmu selalu

25 Desember 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Tuesday, December 4, 2012

Puisi Pengecut | Odi Shalahuddin

0 komentar

PENGECUT
odi shalahuddin

pengecutkah aku?
tak berani menulis tentang preman
apalagi tentang mentri dan presiden
membayangkan saja badan sudah gemetaran

pengecutkah aku?
menghindar dalam diskusi tentang agama
apalagi kalau sumpah serapah sudah meraja
makin susah bagiku menangkap logika

pengecutkah aku?
tak berani menulis tentang cinta
apalagi yang serba terbuka
membuat bodohku semakin menganga

pengecutkah aku?
hanya berani menulis fiksi
yang mungkin tak layak kau sebut puisi
tentang awan yang terus berlari
atau hilangnya harga diri

”Pengecut! Dasar Pengecut!”
Nah, bentakanmu itu saja sudah membuat nyaliku ciut

http://odishalahuddin.wordpress.com

Monday, December 3, 2012

Puisi membaca Wajahmu Indonesia

0 komentar

MEMBACA WAJAHMU INDONESIA
odi shalahuddin

aku tak tahu lagi apa harus dikata
membaca wajahmu, Indonesia
tak henti bersolek, namun tak pernah lenyapkan berbagai luka
bahkan kurasa semakin terbuka saja
hingga terseret nanah dan darah sepanjang catatan sejarah
pakaian kebesaranmu, nan agung, luluh tinggal cerita
menjadi dongengan, anak-anak-pun enggan mendengarnya
lantaran telah dinina-bobokan berbagai tontonan dan permainan maya

membaca wajahmu, Indonesia
yang terus saja bersolek hingga hilang rupa
dalam cermin wajah-mu retak, porak-porandakan peta-peta
terlalu tebal bedak dan gincu, membuat kita semakin bertanya
ada apa denganmu, Indonesia?
bagai kehilangan keyakinan, tentang siapa-siapa yang percaya
terasa limbung, bingung, membuatmu jadi bahan tawa

ayo, bangkitlah Indonesia,
jangan persoalkan kentut, selagi jutaan bom waktu telah menyala
jangan persoalkan citra, selagi diambang marabahaya
jangan persoalkan cinta, cukuplah engkau percaya
bersihkan kotoran-kotoran yang melumurimu, segera berbasuh muka
hingga segar pikirmu, dan mata menatap hal yang nyata
tentang apa-apa yang tengah merajalela

Ayo, bangkitlah Indonesia
sambutlah para generasi muda dengan jiwa-jiwa merdeka

Yogyakarta, 30 September 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Bukan Mantra, Tak Perlu Takut Kena Guna-guna

0 komentar

Bukan Mantra, Hanya Ocehan Belaka, Tak Perlu Takut Kena Guna-guna
Odi Shalahuddin

Menghujam nujum perpaduan beragam mantra,
bola api pecah masuk ke dalam kepala
terasa terang namun menyesatkan,
goyang aliran kesadaran
bersemayam dalam
dada akhirnya
dan
putaran semesta
yang pula telah berubah
kehidupan terasa berlari serba cepat
siapa lambat, akan terus disikut dan disikat
dijerumuskan pada  lorong-lorong gelap nan pekat

peta-peta silih beralih rupa, sebelum terhapal seiring berubahnya wajah-wajah bumi
tiang-tiang telah dipancangkan, gedung-gedung menjulang dan jalan-jalan terbang
asap-asap hutan terbakar, membumbung, menggulung berbaur dengan asap-asap cerobong pabrik
bersambut asap-asap knalpot dari jutaan kendaraan bermesin
sepanjang jalan-ruang yang dinyatakan sebagai peradaban baru tanpa tuan,
menghilangkan, kemudian mencipta ulang tentang ke-Tuhan-an

rasa lelah tak mampu usir desir angin yang memanas pun
pada musim penghujan tanpa air kehilangan gelombang
namun halilintar terus saja menyambar-nyambar

jangan kau kata tengah teringat tentang hutan
lahan persawahan atau rimbun beringin
yang menua atau bahkan dihilangkan
apalagi berkali kau katakan
“dulu tak begini rasanya,”
itu sudah jadi pertanda
bahwa dirimu tidak
ikuti perubahan
jaman
ini
!

?
tanya
tak mengapa
sejauh tak berbeda
jangan mainkan mantra-mantra
agar engkau tak dibilang orang gila
atau dijadikan tersangka sebagai perusak negara
kendati kita tahu negara telah dikangkangi para pengusaha dunia
bersama ahli-ahli nujum yang memainkan tombol-tombol kesadaran
sebagai kebenaran yang tak boleh terbantahkan dan terus saja berkeliaran
pada dinding-dinding sekolah dengan para guru yang hilang gairah lantaran
dikejar-kejar kebutuhan bukan untuk menjadi kaya tapi bisa bertahan dalam kehidupan

Yogyakarta, 27 November 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Mengapa Harus Takut

0 komentar

MENGAPA HARUS TAKUT
odi shalahuddin

Ini memang bukan jamannya lagi. Melempar batu sambil sembunyi. Tenanglah, tidak akan ada ancaman jeruji, apalagi dibuat mati. Semua sekarang sudah bisa bernyanyi, tanpa perlu ada seleksi. Jadi, tenangkanlah hati, bila berdiskusi, tak perlu lagi ragukan diri.

Apakah dirimu kupanggil saudara atau saudari, tidaklah akan ada yang peduli.  Terpenting, bukanlah basi-basi atau menyerang sana-sini, apalagi sering tanpa bukti. Mari bangun demokrasi. Membangun kita punya negeri. Tenanglah, akan kubuatkan secangkir kopi, panas mendidih asal bisa tentramkan hati. Ini bukan sogokan, apalagi mengklaim dirimu terbeli. Santailah di sini, ini, benar-benar kopi.

Jadi, tak ada alasan untuk bersembunyi. Semua terbuka tak perlu ada yang ditakutkan lagi.

Mari……

27 September 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Puisi Negeri Hantu | Odi Shalahuddin

0 komentar

Negeri Hantu
Odi Shalahuddin

inilah negeri hantu
di mana sosok-sosok mudah menghilang
menghilangkan diri atau dihilangkan
sementara atau selamanya
dan seperti biasa
kita juga biasa-biasa saja
tidak ada yang aneh di negeri hantu

inilah negeri hantu
tempat otak-otak telah membatu
kaki bertopi dan kepala bersepatu
tidak ada aturan baku
karena hantu di negeri hantu
tidak memerlukan itu

inilah negeri hantu
mantra-mantra menjadi satu
janganlah engkau banyak berseru
itu tidak akan banyak membantu
tenang-tenang sajalah
ya sudahlah

Yogyakarta, 15 agustus 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

Sunday, December 2, 2012

Puisi Aku Percaya Padamu Tuhan

0 komentar

sumber gbr : ramadhan.republika.co.id


AKU PERCAYA PADAMU TUHAN 
odi shalahuddin

percayaku
tak tuntas dalam kata melukiskannya
bersemayam dalam darah
menyelusup ke segenap ruang peredarannya
dari setiap desahan nafas
dari kuku kaki hingga rambut kepala
aku percaya

walau kuakui aku bukan hamba yang baik
bahkan teramat buruk, mungkin
tak penuhi segenap ajaran
bahkan tertinggal
kerap mengabaikan walau tak lupa
lantas tersedu dalam duka, memanggili-Mu
memohon segala permintaan
kuakui, kuakui itu

percayaku, membuat berani mencandai-Mu
tapi tak berani memperolok-olok-Mu
walau kutahu Engkau tak akan marah

Percaya,
tak akan menggoyahkan keyakinan
walau seberondongan rayuan dan hujatan bertebaran

percaya,
tak akan menjatuhkanku sebagai manusia
walau nilai-nilai kemanusian meluntur dalam tindakan

percaya,
kuhormati kepercayaan kalian
sebagaimana kalian menghormati keyakinanku

lantas buat apa meributkannya?

24 Desember 2010
http://odishalahuddin.wordpress.com

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |