SiangAbdul Hadi W. M.Siang ternyata hanya seorang pejalan jauhDi atas kepalanya yang tak pernah teduhudara kosong. Dan burung-burung hanya beterbanganbagai kasih dan bisik-bisik kitabagai lembut tangan dan cinta sia-sia kitadan kata-kata mengalir bagai sungai ke lautan birunyaMengapa maut juga yang tak terhindardan malam? Mustahil tidurGerimis hanya berangkat ke rumput-rumputdaun-daunan dan ginggang beracun…1973
Showing posts with label Abdul Hadi W. M.. Show all posts
Showing posts with label Abdul Hadi W. M.. Show all posts
Thursday, February 20, 2014
Puisi Siang | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Thursday, February 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunday, February 16, 2014
Biografi Abdul Hadi WM
0 komentar Sunday, February 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Abdul Hadi W. M.Abdul Hadi W. M. atau nama lengkapnya Abdul Hadi Wiji Muthari lahir di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Pernah kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, dan kemudian pindah ke fakultas filsafat universitas yang sama. Kumpulan puisinya Meditasi (Balai Pustaka), kumpulan esainya Gambar Manusia dalam Sastra. Mengasuh ruang kebudayaan Dialog di harian Berita Buana dan pernah bekerja sebagai redaktur di PN Balai Pustaka. Abdul Hadi W.M. sering disebut-sebut sebagai salah seorang penyair liris terkemuka di Indonesia. Meditasi adalah kumpulan puisi yang memperoleh hadiah sebagai buku puisi terbaik yang terbit pada tahun 1976/1977 dari Dewan Kesenian Jakarta dan pada tahun 1979 mendapatkan Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Friday, January 31, 2014
Puisi Tentang Nyanyian | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNyanyianAbdul Hadi W. M.Dalam hutan-hutan yang terik gerimis bersenandungpada siang dan malam mimpi burung-burungTemaram mata langit terpejam karena nyala sebuah tungkusewaktu kabut terbakar oleh goncangan angin dan saljuDan rindu mengapa seketika pedih seakan iringan airberdengung dalam pawai kabung dari ulu jam ke lautanBarangkali kau tak tahu si pengirim menunggu jawabanatas suratnya yang tak sampai, di jendela terjatuh cahaya bulan1974
Thursday, January 30, 2014
Puisi Larut Malam, Hamburg Musim Panas | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLarut Malam, Hamburg Musim PanasAbdul Hadi W. M.Laut tidur. Langit basahSeakan dalam kolam awan berenangPada siapakah menyanyi gerimis malam iniDan angin masih saja berembus, walau sendiriDan kita hampir jauh berjalan:Kita tak tahu ke mana pulang malam iniAtau barangkali hanya dua pasang sepatu kitaBergegas dalam kabut, topiku mengeluhLalu jatuhAtau kata-kata yang tak pernahsebebas tubuh?Ketika terbujur cakrawala itu kembalidan kita serasa sampai, kita lupaGerimis terhenti antara sauh-sauh yang gemuruhDi kamar kita berpelukan bagai dua rumah yang mau rubuh.1974
Saturday, January 25, 2014
Puisi Sehabis Hujan Kecil | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Saturday, January 25, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFriday, January 24, 2014
Puisi Gerimis | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiGerimisAbdul Hadi W. M.ISeribu gerimis menuliskan kemarau di kaca jendelaBasah langit yang sampai melepaskan senjaBersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-katabermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannyadari percakapan terik dan hama“Kau toreh bibirnya yang merkah,” kata hama“Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah”IIKenapa ia tak terkulaidan masih bertahan jugaDan bersenyum pada suryayang mengunyah-ngunyah air matanyaIIIUntukku ingar itu pun senantiasa menyuratAtau mimpiTapi angin masih saja menggigilmendesakkan pagiIVTuhan, kau hanya kabar dari keluhVBurung-burung punasing di sanakarena jarak dan bahasa1971
Puisi Maut dan Waktu | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMaut dan WaktuAbdul Hadi W. M.
Kata maut: Sesungguhnya akulah yang memperdayamu pergi mengembara sampai tak ingat rumah menyusuri gurun-gurun dan lembah keluar masuk ruang-ruang kosong jagad raya mencari-cari suara merdu nabi Daud yang kusembunyiskan sejak berabad-abad lamanyaTidak, jawab waktu, akulah yang justru memperdayamu sejak hari pertama Qain kusuruh membujukmu memberimu umpan lezat yang tak pernah mengenyangkan hingga kau pun tergiur ingin lagi ingin lagi dan ingin lagi sampai gelisah dari jaman ke jaman mencari-cari nyawa-nyawa Abel yang kau kira fana mengembara ke pelosok-pelosok dunia bagaikan Don Kisot yang malang1974
Puisi Bayang-Bayang | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBayang-BayangAbdul Hadi W. M.Mungkin kau tak harus kabur, selayang menjauh dan menghindardari terang lampuIa selalu menjauh dan menghindardari terang lampuIa selalu mondar-mandirmencari-cari bentuk dan namanyayang tak pernah ada1974
Puisi Meditasi | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Friday, January 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMeditasiAbdul Hadi W. M.IKupeluk sinar bulan. Tubuhku kedinginan.Di gerbang cahaya yang berkilauan akan segera nampak di depan kita sebuah gereja tua. Ketika lonceng berbunyi beribu burung terbang ke sana hendak mensucikan diri. Sebab selalu ditempuhnya jalan yang sama, selalu dinyanyikannya lagu yang sama dan sesat di sarang yang sama.Lalu kita dengar paduan suaranya. Seperti deru angin di pantai. “Demi Jesus, pahala sorga dan kenikmatan, akan kami hapuskan dosa kami seluruhnya,” begitu nyanyian mereka. “Tuhan, pujaan Ayub dan Yusuf, gembala Musa dan Muhammad – bentangkanlah pada kami jalan yang benar dari aroma bintang dan buah-buahan.”O, burung-burung, sudahkah kau baca Farid Attar?Yerussalem dan Mekkah tidak seluas hati dan jiwa ini.Pohon-pohon rindang lebat tumbuh juga dalam hatimu.Nyanyikanlah itu sepanjang pagi sepanjang sore.IIDi sini semenjak lama aku aku adalah seorang rahib yang mengheningkancipta dalam sebatang kayu.Kebenaran kudapat dari embun dan mawar.Seperti ciuman perempuan dan bintang-bintang.Tapi perempuan tua ini selalu merayuku dan minta aku menyusu pulahingga kering dan mandul teteknya.Itulah dunia.IIIAkupun sudah letih naik turun candi, ke luar masuk gereja dan mesjid.Tuhan makin sempit rasa kebangsaannya,“Musa! Musa! Akulah tuhan orang Israel!” teriaknyaDi mesjid, di rumah sucinya yang lain ia berkata pula:“Akulah hadiah seluruh dunia, tapi sinarku memancar di Arab.”Aku termenung. Apa kekurangan orang Jawa?Kunyanyiakn Bach dalam tembang kinanti dan kupulas Budha jadiseorang dukun di Madura.Aku menemu sinar di mata kakekku yang sudah mati.Bila hari menahun dan kota jadi benua, aku akan bikin negeri di sebuahflat karena aku pun adalah rumah-Nya.IVBercakap-cakap dari pintu ke pintu. Bernyanyi dari pintu ke pintu. Mengetuknya berkali-kali. Sudah lama aku tak tahu di mana Dia sebenarnya, di mesjid, di kuil ataukah di gereja.Pernah aku percaya benar pada cinta dan kebijaksanaan yang jauh dari kemauanku sendiri. Kata mereka, “Berbaiklah kepada semua orang dan berjalanlah di jalan suci!” Bagai seekor keledai aku pun melenggang membawa beban berisi hartanya dan sampai di sebuah gurun.Kafilah tidak bisa menunjukkan jalan lagi. Kemi berpisah tengah malam. Bintang-bintang berloncatan gembira di langit yang tinggi. Tapi di tengah kelaparan dan panas aku pun menjelma seekor singa. Aku tak mau lagi mendengarkan khotbah dan nasehat. Sakramenku ialah ketiadaan. Sahabatku perobahan yang terus-menerus. Dan kota suciku ialah hati. Kalau di menara itu nanti kuteriakkan azan cacing-cacing akan berkumpul mendatangiku di waktu magrib bersembahyang berzikir mendoakan ketentraman dunia yang baru.VTidak. Sebaiknya kau datang saja di sore hari di saat aku bercermin.Tapi jangan lagi mewujud atau menjelma.Tuhan, siapakah namaMu yang sebenarNya? Dari manakah asalMu?Apakah kebangsaanMu? Dan apa pula agamaMu?Manusia begitu ajaib. Mereka pandai benar membuat ratusan teoritentang Aku dengan susah payah. Tapi siapa Aku yang sebenarnyaAku sendiri pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya Aku, dari manadan sedang menuju ke mana.1974
Thursday, January 23, 2014
Puisi Untuk Sebuah Catatan Harian | Abdul Hadi W. M.
0 komentar Thursday, January 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiUntuk Sebuah Catatan HarianAbdul Hadi W. M.Bulan Juli yang terbakarDan langit musim panasMatahari berganti-gantiAda bayangan daun gugurPada tingkap musim mencariSerta kuntum-kuntum kapurDan kota yang semakin sunyiMalam: Berapa jejak sudah di jalan ituDan gerimis yang pulang sendiriKetika lonceng dari gereja matiKetika pelabuhan dari pulau abadiKau berkata, tak ada stasiunSebelum kereta memencarKau berkata, tak ada daunSebelum pohon berakarDi bawah seribu mawarBulan Juli yang terbakarDan langit musim panasMatahari menyuling keras sekali1974
Subscribe to:
Posts (Atom)

