Showing posts with label Sitor Situmorang. Show all posts
Showing posts with label Sitor Situmorang. Show all posts

Sunday, October 11, 2015

Puisi Gema Sumpah Pemuda Tahun 1928 | Sitor Situmorang

0 komentar



GEMA SUMPAH PEMUDA TAHUN 1928
oleh Sitor Situmorang

dipersembahkan kepada kenangan
jasa para founding fathers R.I.


“Jangan pernah berhenti
menyanyikan tanah-air tercinta!”
demikian kutulis kubaca
tulisan pada poster pameran

karya lukisan seniman muda
generasi pewaris panggilan
di millenium ke-3

kata-kata itu mengalir dari sanubari
saat aku diminta menyambut dengan
sepatah kata pameran kaum muda
ingin menyumbang pada budaya bangsa

lalu kami bersalam seperti
sama-sama mohon restu leluhur
dengan salam yang mengandung

Satu Nusa
Satu Bangsa
Satu Bahasa

nusa di antara berbagai nusa
bangsa dalam taman bangsa-bangsa
bertautan di seantero dunia
membina ragam budaya manusia

Satu Bahasa: Jiwa Merdeka
Satu Semangat: Peri-Kemanusiaan
terpadu dalam getaran Jiwa
sumbangan kita: Roh Budaya Indonesia

panggilan
Nusantara Bahari

dalam lagu khidmat sederhana
berisi himbauan leluhur:

“Jangan kamu pernah berhenti
menyanyikan lagu cinta tanah-airmu!”

“Apakah di masa tersulit atau
di saat paling bahagia!”

Lagukan-lah selalu
Lagu tunggal:
Lagu “Tanah-air Tercinta”

Disertai janji pengabdian
Sedalam-dalamnya!
Selama hayat dikandung badan!

(28 Oktober 2001)


Monday, July 5, 2010

Puisi Sitor | The Tale of Two Continents

0 komentar

The Tale of Two Continents
Sitor Situmorang

Satu rasa dua kematian
Satu kasih dan dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra

Dua kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketakpedulian tuju

Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri

Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra

Chathedrale de Chartres | Sitor Situmorang

0 komentar

Chathedrale de Chartres
Sitor Situmorang

Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih

Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat

Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata

Ketika malam itu sebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
tersedu is dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis

Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu

Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah dari Pasah
ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan isteri yang setia

Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
Bersatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lambaian cinta setia dan pelukan perempuan

Demikianlah
Cerita Pasah
Ketika tanah basah
Air mata resah
Dan bunga-bunga merekah
Di bumi Perancis
Di bumi manis
Ketika Kristus disalibkan




Puisi Tentang Matahari "Matahari Minggu" | Sitor Situmorang

0 komentar

Matahari Minggu
Sitor Situmorang

Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota

Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas

Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan

Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba
Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima


Kebun Binatang | Sitor Situmorang

0 komentar

Kebun Binatang

Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan

Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung

Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang

Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan

Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan

Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan


Sajak Sitor Situmorang | Amoy-Aimee

0 komentar

Amoy-Aimee
Sitor Situmorang

Terbakar lumat-lumat
Menggapai juga lidah ingin
Api di pediangan

Terkapar sonder surat
Mati juga malam dingin
Lahirnya hari keisengan

Mari, cabikkan malam Amoy
Jika terlalu – ingin malam ini
Besok ada mentari sonder hati

Belum apa-apa hampa begini
Jauh dalam terowongan nadi
Berperang bumi dan sepi



Surat Kertas Hijau | Puisi Sitor Situmorang

0 komentar

Surat Kertas Hijau
Sitor Situmorang

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan


Puisi Dia dan Aku | Sitor Situmorang

0 komentar

Dia dan Aku
Sitor Situmorang

Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali

Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi

Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji

Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari

Puisi Lereng Merapi | Sitor Situmorang

0 komentar

Lereng Merapi
Sitor Situmorang

Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran ….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu ….


SAJAK SITOR SITUMORANG | PERHITUNGAN

0 komentar

Perhitungan
Buat Rivai Apin

Sudah lama tidak ada puncak dan lembah
Masa lempang-diam menyerah
dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian

Aku belum juga rela berkemas
Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan
dada?
Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong

Keyakinan dulu manusia bisa
hidup dan dicintai habis-habisan
Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali
kuburan sendiri

Rebutlah dunia sendiri
dan pisahkan segala yamg melekat lemah
Kita akan membubung ke langit menjadi bintang
jernih sonder debu

Detik kata jadikan abad-abad
Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang
Sesudah itu malam, biarlah malam

Bila hidup menolak
Ia kita tinggalkan seperti anak
yang terpaksa puas dengan boneka
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tapi tak ada lagi kita
Sedang mereka rindu pada cinta garang
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam
Bersama kita, tarian perawan janda ….



Puisi Kaliurang (Tengah Hari) | Sitor Situmorang

0 komentar

Kaliurang (Tengah Hari)
Sitor Situmorang

Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut Dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut ‘manggil aku berlayar dari sini

Tungguhlah aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita akan bersatu lagi.

Biografi Sitor Situmorang

0 komentar

Sitor Situmorang dalam kumpulan Rindu Kelana (Pilihan Sajak 1948- 1993). Sastrawan angkatan 45 ini lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924. Sitor sempat menetap di Paris. Pada 1981 menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda, dan pensiun 10 tahun kemudian. Sejak 2001 ia kembali tinggal di Indonesia.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).

Thursday, June 24, 2010

PUISI SITOR SITUMORANG UNTUK RAMADHAN KH

0 komentar

TAMASYA BATU-BATU KARANG LEMBAH
(Upacara)

untuk Atun di usia 75 (Atun - nama kecil Ramadhan KH)

ini aku datang lagi ziarah
tertegun menatap dari lereng lembah
melayangkan pandang khayal batu-batu karang
melayangkan pandang khayal batu-batu karang
aral melintang sekujur dasarnya membentang

tamasya jagadraya (masih wacana)
lukisan citra sang arsitek borobudur yang baka
lantuman lagu panen abadi
yang memadukan hidup dan mati

sambil sadar-aku ke jakarta akan kembali
(lagi pula) rindu Paris bisa bangkit lagi
sambil terangkat hanyut irama tarian puak
saat tubuhku seluruh mengirup serempak

baubauan panen semesta
menuju jagadraya


Sumber : Buku Ramadhan KH - Tiga Perempat Abad
Karya Puisi

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |