Showing posts with label Rai Sri Artini. Show all posts
Showing posts with label Rai Sri Artini. Show all posts

Saturday, May 28, 2016

Puisi Babak Luka | Rai Sri Artini

0 komentar




BABAK LUKA
Rai Sri Artini

Babak babak luka telah mengukir tubuhmu
seikat hampa bersarang di dalamnya
Ku ketuk ketuk.
                                           Sepi
Ku panggil panggil.
                                          Bisu
Saat senja mulai menabuh doa
belum juga tiba hatimu untuk kubuka

tinggal aku berdiri di halamanmu mengiba
tak kuasa melawan tunas tunas sunyi di rongga matamu

Apa lagi,
 selain dadamu lapang yang menyengatku
 seutas senyum dingin memenjarakanku
hingga ku tak paham arah apalagi jalan pulang

letup letup tawa hanya bayang bayang di siang hari
ia tak pernah singgah di rumahmu
karena ada beku bertahta di ruang tamumu

Ingin ku bunuh sajak sajak rapuh melepuh
Inginku tuangkan pemanis dalam kopi pahitmu
                                       kemudian minumlah seteguk saja
di dalamnya ada manisnya perindu dan pahitnya luka
maka dinginmu akan mengeriap datar dan
                                       menghangat
kisah kisah pun mulai mengalir dari hampamu
dan harapan mulai bertunas
meski kenangan masih tergenang di sudut ruangan


namun setidaknya asap kopi akan melahirkanmu setiap menit
begitu hikmat
merayakan hidup dan
terbuka menyambutku bertamu di sudut perapian

(Tegaljaya, 19 April 2015)



Wednesday, January 13, 2016

Puisi Mencinta | Rai Sri Artini

0 komentar


ilustrasi

Mencinta
: Benny T
Rai Sri Artini

Pernah kita sepakat  menuntaskan kerisauan
Pernah kita berjanji  meninggalkan kecemasan
hanya bahagia dan syukur yang kita pilih
meski dalam pekat malam sekalipun
kita tetap menyetiai semesta karena di altarnya kita bersumpah setia

tak ada air mata yang sembunyi dalam lipatan hari
tak ada cemburu yang menggenapkan riak hujan apalagi mencemburui sikap
Perjalanan, meski berliku namun kita menikmatinya

Katamu, kita memilih tersenyum saja
Ditiap simpang jalan, kita mengambil nafas menghitung jejak untuk terus mengambil pijak
Dalam jeda  kita rajin mengamati segala rasa yang berdedah dalam nampan waktu
Kadang kita menjelma angin, hujan. Kadang diam-diam menganyam mimpi dalam senyap

dalam kesenyapan selalu kau sampirkan rindu
atau menulis bait-bait mentari dikeningku
kita tak pernah menyamarkan pedih dan kehilangan
hanya menegaskan sekulum senyum
menegakkan kepala dalam segala musim

pernah kita sepakat menulis tubuh semesta dengan air
air puisi yang mendiruskan kesejukan agar jiwa jiwa bangkit
menemui langit
langit mahaluas  tak berbatas
seperti kulum rindumu di keluasan hatiku

( April 2015)

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |