Showing posts with label Ramadhan KH. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan KH. Show all posts

Friday, April 23, 2010

Pembakaran | Puisi Ramadhan KH

0 komentar

Pembakaran
Ramadhan KH

1

Pacar!
Coklat matamu subur,
Coklat darah tanah Cianjur.

Tapi pacar!
Yang meneteskan air hujan
di bawah alismu hitam,
hanya kedua molek tanganmu
dan aku dengan mesra dibalur madu.

Dan pacar!
Bulan perak telah bertukar bara api.
Dan aku dan aku lagi
yang mesti membalik tanah
seperti neteskan air hujan di mata kedua belah.

Pacar!
Yang lain tak ada.
Kau dan aku hanya.



2

Kalung melati kemenangan,
dibelitkan di leher jenjang,
tapi cuma bulan yang merayu,
kemarin dan hari ini tetap gerah merebah.

Dan tenggelamnya matahari
hanya malam menyepi,
kurban dinanti menyendiri
untuk di hari pagi.

Patahnya malam,
hanya berarti pengungsian
ditusuk di bagian yang paling lunak.

Dara!
Kalau mau ganti cerita,
jangan menanti turunnya hujan!

Dara!
Kalau mau ganti warna,
mesti ada pembakaran!


3

Penyair
kayu pertama
di tumpukan pembakaran.

Penyair
abu landasan
di tumpukan reruntuhan.

Dara!
Bimbang hanya
mencekik diri sendiri!

Dara!
Takut hanya
buat makhluk pengecut!


4

Siapa cinta anak,
jangan jual
tanah sejengkal.

Siapa cinta tanah air,
jangan lupakan
bunda meninggal.

Siapa ingat hari esok,
mesti sekarang
mulai menerjang.


5

Keris tempaan Dewi Cikundul,
diembunkan di bulan pagi.
Minumlah setetes darah sangkuriang,
satukan ketiga sungai di hari suci.

Keris tempaan Dewi Cikundul,
diraut di bulan pagi.
Kalau jumpa bukan yang dicari,
balikkan ketujuh gunung berapi.



6

Dara
sudah lari bersembunyi
sejak senja.
Kota ditikam menyendiri.

Tiada ranting kebahagiaan,
burung malam tiada terbang.
Tiada daun kebebasan,
juga sedapmalam ketakutan.

Bunda,
setengah darahku yang tinggal,
kukira mesti kuhabiskan seperti dulu;
sayang,
kalau gadis-gadis mesti jadi perawan tua,
sebab malam ketakutan
tak menemukannya dengan pria.

Bunda,
setengah darahku yang tinggal,
kukira mesti bercecer di jalanan;
sayang,
kalau dengan bulan tak bisa lagi bersua,
sebab malam ketakutan
tak mengizinkan untuk bercanda.


7

Juga belati di batu laut,
tak setajam
cianjuran di atas petikan pantun.

Dan untuk kebebasan jiwa
kuserahkan hidup dan bayi merah.
Bunda bilang dan ajarkan
Kesabaran membawa roh ke alam sorga.
Penyair paling setia m
engajak sekali waktu untuk bersikap.

Juga belati di batu laut,
tak setajam
cianjuran di atas petikan pantun.

Puisi Angkatan 66 Dendang Sayang | Ramadhan KH

0 komentar

Dendang Sayang
Ramadhan KH

1

Di Cikajang ada gunung,
lembah lengang nyobek hati,
bintang pahlawan di dada,
sepi di atas belati;
kembang rampe di kuburan,
selalu jauh kekasih.

Di Cikajang ada kurung,
menahan selangkah kaki,
bebas unggas di udara,
pelita di kampung mati;
fajar pijar, bulan perak,
takut mengungkung di hati.

Di Cikajang hanya burung,
bebas lepas terbang lari,
di bumi bayi turunnya,
besar di bawah mengungsi;
sepi di bumi priangan,
sepi menghadapi mati.


2

Sejoli ciuman sepanjang malam
di kepanasan tanah priangan.

Mengharap fajar menambah umur.
Siang mengulang kerja,
biar antara kejepitan hati.

Sejoli geletak antara semak,
mengulang takut menghadap maut,
serangga menyusup di lubang-lubang.

Masih tanya apa sampai bulan pagi
bertemu di pelukan paling akhir,
kepastian hanya dalam harap dan berharap.

Sejoli ciuman sepanjang malam
di kedinginan pantai selatan.


3

Bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas tali-tali kayu berlubang.

Sumur segala derita,
bersamaan semua berpelukan.

Bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas hati-hati dara berluka.

Sumur segala sayatan,
penampung tangis bertukaran.


4

Kemboja putih di senja hari,
Rama-rama hitam jatuh di pangkuan janda muda.
Kemerahan di ufuk barat,
Membawa menyusur dari pantai ke pantai.

"Tengok dataran tanah priangan, Gadisku manis".
Ayah dipaku di lima tempat, B
unda berlari dari tepi ke tepi,
Tiada menemu teratak lengang.

"Tengok dataran tanah priangan, Gadisku manis". D
an si dara tiada bisa berkata,
Pacar gugur tiada menemu kuburannya.
Dan si dara hanya bisa meraba,
Membelitkan kalung kenangannya.


5

Gadis dendang di ladang pisang,
belum tahu manis jantungnya.

Aduhai!

Gadis dendang di matahari,
hanya bisa tahu teriknya.

Aduhai!


6

Kijang
jadi buruan,
ladang.
kesepian.

(Malam hitam
gemetar. )

Kijang
minta pengurbanan,
tanda
kejantanan.

(Bulan perak
memudar. )


7

Aku tutup rapat pintu dan jendela
untuk tidak tahu lagi derita
dibawa angin dan cahaya.
Tapi kembang hitam dan awan hitam
terselip selalu di tali rebab menikam.

Dihitung pacar di jari,
di satu musim larat dinanti.
Tapi derita sepanjang cerita,
pacar yang tak bisa dihitung,
larat yang tumbuh sepanjang tahun.

Tangis dan air di kelopak mata,
kalau bukan untuk diriku,
diuntukkan buat pacarku.


Tuesday, April 20, 2010

Biografi Ramadhan KH (1927-2006)

0 komentar

Wartawan dan penulis biografi Ramadhan KH (Ramadhan Kartahadimadja yang akrab dipanggil Kang Atun) meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ke-79, Kamis 16 Maret 2006 pukul 08.30 waktu Cape Town, Afrika Selatan, atau pukul 13.30 WIB. Jenazah pria kelahiran Bandung 16 Maret 1927, ini akan tiba di Tanah Air Sabtu 18 Maret 2006 dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

Anggota Akademi Jakarta yang sudah lama menderita kanker prostat itu meninggalkan satu istri, dua anak (Gumilang Ramadhan dan Gilang Ramadhan), serta lima cucu. Istrinya Salfrida Nasution Ramadhan, yang bertugas sebagai Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan adalah istri kedua yang dinikahi 1993. Istri pertamanya, Pruistin Atmadjasaputra, yang dinikahi 1958 telah lebih dulu wafat 1990.

Menurut isterinya, Salfrida Nasution, walaupun beberapa bulan ini kankernya sudah sangat menjalar, bahkan hingga ke tulang sehingga kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, Ramadhan masih bersemangat menulis dua buku terakhirnya. Dua buku yang belum terselesaikan tersebut adalah kumpulan cerpen dan novel. ”Bapak juga menjanjikan akan menulis satu sajak lagi buat saya, tetapi belum kesampaian, beliau sudah keburu dipanggil...,” tutur Salfrida yang masih larut dalam kesedihan, sebagaimana ditulis Kompas 17/3/2006.

Ramadhan, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan Raden Edjeh Kartahadimadja dan Sadiah, ini sejak kecil sudah akrab denga dunia sastra dan tulis-menulis. Dia sudah mulai produktif menulis sejak masih di SMA.

Hingga akhair hayatnya, sastrawan Angkatan '66, itu telah menulis lebih dari 30 judul buku. Salah satu karyanya berupa kumpulan puisi yang diterbitkan dalam buku berjudul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya (Jawa Barat) sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadhan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, sebagaimana dirilis Kompas, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. "Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti,” papar Sapardi.

Karya Ramadhan itu disebut Sapardi sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an, bersama karya-karya WS Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar.

Pada tahun 1958, sesaat setelah menikah dengan Pruistin Atmadjasaputra, Ramadhan resmi menekuni karier sebagai wartawan kantor berita Antara di Bandung, Jawa Barat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru. Tugasnya sebagai wartawan dan kiprahnya di dunia sastra membuat Ramadhan banyak bergaul dengan para seniman Indonesia.

Menurut Kompas, perjalanan hidup kemudian membawanya sebagai salah seorang penulis biografi terbaik di negeri ini. Diawali dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang (1981), dia kemudian menulis biografi tokoh-tokoh terkenal di Indonesia, seperti AE Kawilarang, Soemitro, Ali Sadikin, Hoegeng, Mochtar Lubis, dan DI Panjaitan.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang merupakan biografi mantan Presiden Soeharto yang dibuat saat Soeharto masih berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1988.

Selain menulis buku-buku biografi, Ramadhan juga menulis karya sastra: Priangan Si Djelita (1956); Ladang Perminus
- Royan Revolusi, Novel, 1958; Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemoraine, Novel, 1972; Kemelut Hidup, Novel, 1976; Keluarga Permana, Novel, 1978 dan Untuk Sang Merah Putih, Novel, 1988. Karyanya, Ladang Perminus berhasil meraih penghargaan SEA Write Award, 1993.


dari berbagai sumber

Monday, April 19, 2010

Kumpulan Sajak "Tanah Kelahiran" | Ramadhan KH

0 komentar

Kumpulan Sajak "Tanah Kelahiran"
Ramadhan KH

1

Seruling di pasir ipis,
merdu antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
burangrang - Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun

Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.


2

Harum madu
di mawar merah,
mentari di tengah-tengah.

Berbelit jalan
ke gunung kapur,
antara Bandung dan Cianjur.

Dan mawar merah
gugur lagi,
sisanya bertebaran
di kekeringan hati.

Dan belit jalan
menghilang lagi,
sisanya menyiram
darah di nadi.


3

Kembang tanjung berserakan
di jalan abu menghitam,
ditusuk bintang di timur,
hati luka di pekuburan.

Mau pergi, Nak?
-Ya, Ma. Ke mana?
- Entah, turutkan jejak lama.
Tak singgah dulu, Nak?
- Ya, Ma,
singgah cucurkan air mata.

Kembang tanjung berserakan
dipungut gadis berdendang.

Gede mengungu di pagi hari,
bintang pudar, bulan pudar,
si anak tinggalkan pekuburan,
bersedih hati.

Kembang tanjung berserakan,
dan melayu di tali benang.


4

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
lewat musim penghujan.

Gadis-gadis menyongsong pagi
di pucuk-pucuk teh yang menggeliat,
di katil orang lain menanti.

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
lewat angin dari selatan.

Ujang-ujang menyongsong hari
memikul kentang ubi galian,
dengan belati orang lain menanti.

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
juga penyair dinanti tikaman orang.


5

Hijau tanahku,
hijau Tago,
dijaga gunung-gunung berombak

Dan mawar merah
disobek di tujuh arah,
dikira orang menyanyi,
lewat di kayu kecapi.

Hijau tanahku,
hijau Tago
dijaga gunung-gunung berombak.

Dan perawan sendirian,
disamun di tujuh jalan,
dikira orang menyanyi,
tangiskan lagu kinanti.

Hijau tanahku,
hijau Tago,
dijaga gunung-gunung berombak.



6

Seruling berkawan pantun
tangiskan derita orang priangan,
selendang merah, merah darah
menurun di cikapundung.

Bandung, dasar di danau
lari tertumbuk di bukit-bukit.

Seruling menyendiri di tepi-tepi
tangiskan keris hilang di sumur,
melati putih, putih hati,
hilang kekasih dikata gugur.

Bandung, dasar di danau,
derita memantul di kulit-kulit.


7

Setengah bulatan bumi
kusilang arah membusur,
Nyatanya
aku hanya pengembara

Seruling dan pantun
di malam gelap
menyeret pulang
turun di kali Citarum.

Dan aku kembali
ke pangkuan asal.
Bunda,
dan aku kembali
ke pelukan asal.
Kiranya
dengan tambah tua!


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |