Showing posts with label Dadan Dania DK. Show all posts
Showing posts with label Dadan Dania DK. Show all posts

Thursday, April 22, 2010

MASIHKAH BUNGA `KAN MEKAR | Puisi Puisi Perjuangan

0 komentar

MASIHKAH BUNGA `KAN MEKAR
Dadan Dania DK

Langit memerah darah manakala Yogya berpagar sangkur
pagi-pagi empat Mei empat tujuh
fajar memudarkan pijar belulang yang terbakar
kenyataan memanggilmu tampil
insyaf akan tanggung jawab
yakin akan kebenaran Islam
Yoesdi Ghazaii, Anton Timoer, Nursyaf, Ibrahim dkk
menuntunmu bangkit sebagai anak kandung revolusi.

Udara pertama yang kauhirup
wanginya mesiu
atas kerikil dan onak yang terserak
beranjak meniti hari yang bertaji
dada membusung punggung terpampang
menantang cambuk dan dera seterumu
bekalmu semata takwa,
takwa yang membinar jadi syukur
manakala pesona bertahta di beranda sukma
takwa yang berpijar jadi sabar
manakala petaka tersaji di serambi hati.

Bagai debu di garis horison,
tak orang baik-baik berpikir akan ujudmu
bagai punguk di balik awan
tak orang benar-benar mendengar akan cicitmu

Jalur yang terentang putus diranjah mereka
kauluruskan telunjuk dengan gemeletuk gigi
"setapak saja langkah meranjah sela hela
menjamah ranah membentang prana sengketa
gemerlap derapmu kurancap ...
tercapai atau tergapai", itu serumu.

Tekad yang terpahat, tombak mahaampuh meruntuhkan musuh
perisai tangguh menadah pongah punah,
kendati jiwa terpancang atas gelinjang lantang
t'lah kau perketat sekerat ikat.

SSSSST ... JANGAN RIBUT, TUHAN LAGI RAPAT

0 komentar

SSSSST ... JANGAN RIBUT, TUHAN LAGI RAPAT
Dadan Dania DK

Lewat konsepsi setengah jadi,
Tuhan menggiring manusia ke meja diskusi
petuah pun senggama dengan serapah.

Tuhan mengibar panji meniup sangkala dahana laga
di padang yang sarat, t'lah sepakat malaikat jadi wasit
kala langit kesumba jadi merah dan membara
Tuhan-tuhan jadi panglima mendera divisi
pekik yang cabik dan teriak yang koyak
sesayat kecewa terlempar dari semangat yang terjerat
seiris tangis yang bersamaan, adalah lahar yang merembes
di kaki bukit.

Dengan menyandang Asahi pentax,
kuandai satu kabar yang berkobar
(Seorang anak meratap dengan keranda mayat tanpa isi di sisinya
"Jenazah Tuhanku hilang dimangsa elang"
Adalah penjejal headline harian sore kotaku.

seonggok umat mengumpat-umpat
menyumpah-nyumpah
pada tuhannya.
"tuhan yang pengecut,
kautinggal kami dalam jerat."

Mereka memang umpan mapan yang larut dan latah
jadi sasaran terdepan
sepah dikunyah ketamakan tuhannya.

Kutinggalkan mereka yang tak mau punya anak karena
merasa Tuhan mulai miskin
kutinggalkan mereka yang menganggap Tuhan kurang cerdik
dan mengajak-Nya berpolemik

Jauh dan pertarungan yang tak henti,
dalam bilikku dalam satu sudutnya)
Allah tersenyum padaku
padamu
pada mereka dan semesta cipta.

Dalam sujud
dalam simpuh
kubisikkan lirih, "Mereka diperdaya tuhan yang khianat."


Cicalengka,1398 H

PADA SIANG PADANG SIA

0 komentar

PADA SIANG PADANG SIA
Dadan Dania DK

Slang dengan geranggang garang
terjang
pancang belulang penyangga daging
guncang
hari yang cabik mengajak diri menelusuri nyanyian pagi
melacak rengkak yang terpijak dan terarak
tak hendak aku berandai akan mungkin yang lunglai.

Tangga senja yang terpana
teratak yang retak telapak yang porak
cahaya pun poranda
'kan kuselusupkan anganku ke bawah ketiak sayap malam
tanpa meniti senja berselakah.

Siang yang kerontang menyengat-nyengat
menusuk-nusuk
bumi yang gatal hari yang binal
gelinjang surya tersandung bukit
(Matahari tak berkedip melumat moleknya pagi)
mengapa tak kureguk pagiku yang hangat?
mengapa tak kupeluk pagiku yang erat?

Bertegar pada siang
sukma kemoyak mengejar jentera yang tercampak
bumi, tidakkah kau lupa?
darah dan nanahmu tercecer sepanjang saat
ayo kembali pada jejakmu
ayo temani aku menengok pagi

jangan hantarkan pada koyaknya senja
tiada rela desahku sedah dan sepah,
tanpa usia puas mengunyah.


Cimahi,1398H

BARA | Puisi Dadan Dania DK

0 komentar

BARA
Dadan Dania DK

Pagi yang kering menyulut huma dan terbakar
aku tersesat di tengah bara
siang pun garang menendang gersangnya pagi
bebek-bebek terserak begitu saja melepas teriak
hendak diguncang kenyataan dengan kelantangannya
hendak disesaki kenyataan dengan teriaknya
sedang aku tersekat di kepengapan sempitnya sekat
susut pada satu sudutnya, diremas ganasnya kenyataan.

Bebek-bebek itu, juga aku
kian parau kian risau
kelu dan kaku dalam kebisuan yang terpaksa
gembala hanyalah tonggak-tonggak bergetah,
wajahku, ... kau lihatlah wajahku,
adakah berdarah?

Tatap pun nanar kian pudar
dan isak makin serak
dan ratap makin senyap
langkah pun gontai kian lunglai
kaku kakiku terpaku berat terpahat
karena kata yang tak kau dengar
karena cita yang tak tergapai

Panasnya kenyataan membakar kenangan dan harapan,
gembala pun tunduk sembunyi di balik tudung
dari sinisnya kerling surya yang menghantam
tudung pun kian kering
hati pun kian kering
kering
kering
diriku lihatlah diriku
kering
kerontang
diganggang kenyataan yang terik.


Cimahi, 1397H

PAGI-PAGI DI BINAMUDA | Dadan Dania DK

0 komentar

PAGI-PAGI DI BINAMUDA
Dadan Dania DK

Masih pagi,
ketika datang dirimu di senggang fana
ujung kerudungmu melambai seiring gontai
tertunduk wajah mengeja langkah
tengadah di beranda kelas
anggun wajahmu mengayun tatap
terbata mataku di matamu.

Masih pagi,
ketika datang dirimu di luang rasa
kini kueja langkahmu pelan
hingga lumat ditelan lalang dan lolong.

Masih pagi,
ketika kau lewat dan aku terjerat.

Cicalengka, 1397H

PLOT YANG HILANG | Liku-liku laku laki-laki luka

0 komentar

PLOT YANG HILANG
Dadan Dania DK

Liku-liku laku laki-laki luka
lagi-lagi laga lagu-lagu lugu
kata kita-kita kutu-kutu kota
tumpuk'ndak tampak
makar mekar di kamar tak berkumur

Liku-liku laku laki-laki luka
kusobek sabuk kusibak sibuk
kugali gula-gula gila
kubakar kabar-kabar kubur kabur
kukapar pikir ke koper
kucari ciri-ciri cara curi coro-coro.

Liku-liku laku laki-laki luka
uring-uring urung orang-orang
hingga sangkar tersungkur
sangkur tersingkir

hingga
kuku-kuku
kakiku
kaku-kaku

PINTU DIKETUK | Dadan Dania DK

0 komentar

PINTU DIKETUK
Dadan Dania DK

Pintu diketuk
tuk
tuk
tuk
(menari jemari tanpa kemudi
atas tuts mesin tik)
remuk
hiruk pikuk

duduk
tunduk
mengangguk
menepuk
menggaruk
ngantuk
batuk
meneguk

tepuk
garuk
teguk
batuk
uk
uk
uk
k
mengetik
matematik

yang mengetuk pintu itu aku
yang jemu dari buku-
buku
ku

TIADA KULIHAT MATAMU MENGUCAP CINTA

0 komentar

TIADA KULIHAT MATAMU MENGUCAP CINTA
Dadan Dania DK

Zahra,
kupetik jeruk-jeruk mungil di kebunmu
lalu mataku tersesat pada sela jemarimu
pada alunan suaramu
pada senar gitar akustikmu
tangga bagi tatap dari jari hingga rona
Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta

Tatap yang kutancap jadi kesiap pada jemarimu
sejenak lagumu terhenti
jemari yang tak lagi lekat pada gitar, cengkrama denganku
pelan kutelusuri remasmu
parasmu
Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta

Ketika rinai berderai dan pekat menyekat lorong esde satu
kencan kita tanpa sengketa
cerita akan diri akan duri
hanya lengan yang berlabuh di bahumu
ketika kita sambung jalan talaga bodas dari ujung ke-ujung D
an tiada kulihat matamu mengucap cinta

Telah kusebut Bandung adalah perang tak berujung
lalu kubimbing desahku menghirup napas Wanaraja
tatapmu jadi perangkap
akupun lelap dalam dekap
dalam kecup

Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta

Wanaraja yang asri, nyatanya penjara sepi tak terperi
lantas kupacu diriku menerjang juang tak kunjung reda
hendak kulupa matamu tanpa cinta
hendak kulunak detak yang menghentak
hendak kukatupkan kuak yang menggerit
namun rindu tiada terperabu
meronta dan perkasa
dari jauh terulur matamu mengusap hanjuku
kuhadapkan tatap padamu
tiada rasaku terbias dimensi kala dan antar

Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta.


Wanaraja, 1397H

BIARKAN HATIMU BERBINCANG PADAKU

0 komentar

BIARKAN HATIMU BERBINCANG PADAKU
Buat Herry

Dadan Dania DK

Herry ...
Temaram lorong yang kita lewati
temaram bilik yang kita tempati
temaram pula malam yang merangkul

Kita bawa sepi atas delman-delman kecewa
kita isi sunyi dengan merdunya cengkrama
kita bias lara terkelupas.

Biarkan hatimu berbincang padaku
terpekur menekuni katamu satu-satu
sekolah, jelita, dan cita yang menerpamu
memapahmu ke teluk teduh
menyeretmu ke lembah kesah
sendunya risau dan gurau yang galau.

Herry...
pada bundel dukaku, secarik laramu susut
sesuap riangku merana dalam piring sukamu
sekolah, jelita, dan cita menderamu
indahnya pagiku

Padahal kau segera lunglai dalam belaian andai
cambuk hari ini adalah yang terlunak, pampangkan punggungmu.

Akh, muaknya hati menatap sepi yang menari
menatap manja yang terjaja
kecewa adalah dera tiada tara
sunyi penjara tak terperi
di tepi danau gita ceritamu, garis ringis melukis paras
kerdilnya jiwa yang lusuh berdebu.
Kerongkongan, tembok perintang hati menggapai mulut
masih tersendat ceritaku buatmu
sedang malam kian larut
larut sajalah kau dengannya
masih perlu kulipat langit yang runtuh terjuntai
agar mentari tak lagi meronta.

Selamat malam.


Cicalengka, 1397H

SELIMUT CINTA MERURUB KITA | Puisi Cinta

0 komentar

SELIMUT CINTA MERURUB KITA
Untuk Naida Panjaitan

Dadan Dania DK

Naida
Tak kupikir, cinta gelimang hidup cuma
Tak kupikir, kita kembara bumi cuma
Cinta, butir padi di huma
Kita, percik peluh altar siang.

Di Viaduk ini
Riak Cikapundung mengajak pergi
Selimut cinta merurub kita
Dan mata bercakap tanpa kata
Kita pulang Naida
Kita jelang papamu yang berkecak
Kita jelang ayahku yang norak dan lembut
Deru kereta membentur dada....
Ayo menyisih, jangan silaukan mata
Kita pulang Naida ....
Kita jelang Bapak dari segala Bapak
Kita jelang Kasih dari segala Kasih
Pada Yesus yang tabah mengunyah hatimu
Pada Allah yang mesra memeluk jiwaku.
Kita pulang.

Biografi Dadan Dania D.K.

0 komentar

Lahir di Wanaraja, Garut, 7 Maret 1957, menghabiskan masa kanak-kanaknya di Pesantren Wanaraja, kemudian aktif dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) mulai dari tingkat ranting sampai tingkat Pengurus Besar (1983-1985).

Jebolan Fakultas Ushuludin Jurusan Perbandingan Agama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menggiatkan diri dalam pendidikan dan pelatihan keislaman. Bersama beberapa sahabatnya : Nina Surtiretna, Anne Rufaidah, dan Rachmat Taufiq Hidayat menulis buku Anggun Berjilbab (Al-Bayan, Bandung, 1995). Sekarang menjabat sebagai Ketua Bidang Sosial dan Dakwah Yayasan Bina Muda Cicalengka (2002-2007)

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |