SANG PEJUANG
Karya : Euis Rohayati
Kudengar sang pejuang meringis
Menahan sakitnya jiwa yang teriris
Walau tubuh penuh luka
Namun semangat dalam dada tetap membara
Kulihat sang pejuang tertatih
Walau merintih menahan perih
Senyumnya siratkan harapan sebuah kemenangan
Matanya berkata “akulah yang akan kibarkan bendera kemerdekaan?”
Kutatap wajah sang pejuang
Tampak guratan saksi perang
Wajah kusamnya menyiratkan sebuah makna
Bahwa perang akan berlangsung lama
Showing posts with label Tema Perjuangan. Show all posts
Showing posts with label Tema Perjuangan. Show all posts
Wednesday, May 18, 2011
Puisi Sang Pejuang | Puisi Tentang Pejuang
0 komentar Wednesday, May 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTuesday, April 19, 2011
Puisi Puisi Perjuangan | Sebuah Jaket Berlumur Darah
0 komentar Tuesday, April 19, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSebuah Jaket Berlumur Darah
Taufiq Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN
1966
Puisi Tema Pahlawan | Pahlawan Tak Dikenal
0 komentar Tuesday, April 19, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPAHLAWAN TAK DIKENAL
Oleh : Toto Sudarto Bahtiar
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(1955)
Siasat, Th IX, No. 442 1955
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Thursday, March 31, 2011
Puisi Catatan Pinggir Wiji Thukul | Fati Soewandi
0 komentar Thursday, March 31, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCATATAN PINGGIR: WIJI THUKUL
Puisi Fati Soewandi
lelaki dengan kuasa angin, datang menebarkan keagungan sebuah perjuangan
menghidupkan badai di tanah leluhurnya, melumat seluruh keangkuhan
langit merah yang mencatat sejarahnya, adalah
sejatinya peradaban yang dipentaskan hantu-hantu dendam
dan kebencian.
sepanjang usia sajaknya menggetarkan perlawanan baru
dan perjalanan penuh loncatan dalam setiap amin kita!
lelaki dengan pusaran cahaya, memijarkan api yang menggiring kesakralan
bahkan kebangkitan riwayat-riwayat laskar nabi
ribuan malaikat pun menyalak di keluasan jagad yang absurd
melengkapi pentas sewujud pertarungan ini.
dan ia gelar kehormatan
di antara berdetik perih kenyataan.
Surabaya 2007
sumber : kompas.com
Tuesday, March 29, 2011
Puisi Nasionalisme Tanah ini Negeriku | Fati Soewandi
0 komentar Tuesday, March 29, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTANAH INI NEGERIKU
Fati Soewandi
tanah ini negeriku
peta leluhur berlumur petaka
baunya sesaji basi
wajah-wajah tanpa mata dan nurani
menyayat kebesaran sejarahnya
kehormatan tak pernah utuh
mengusung nelangsa sepanjang waktu menua
asing menggemakan nyanyian tanah kelahiran
berjalan gamang
menempuruk dan tak pernah teramat tulus
sengketa mengancam harapan, berkepanjangan
satu abad di ambang penghabisan
kini kucatat dan terkemas
dalam perangkap waktu yang menunggu dengan rindu
abad yang menggelar kesudahan
takdir kepedihanmu, negeriku
Surabaya 2007
sumber : kompas.com
Sunday, March 27, 2011
Puisi Mansur Samin | Pidato Seorang Demonstran
0 komentar Sunday, March 27, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPIDATO SEORANG DEMONSTRAN
(Puisi Mansur Samin)
Mereka telah tembak teman kita
ketika mendobrak sekretariat negara
sekarang jelas bagi saudara
sampai mana kebenaran hukum di Indonesia
Ketika kesukaran tambah menjadi
para menteri sibuk ke luar negeri
tapi korupsi tetap meraja
sebab percaya keadaan berubah
rakyat diam saja
Ketika produksi negara kosong
para pemimpin asyik ngomong
tapi harga-harga terus menanjak
sebab percaya diatasi dengan mupakat
rakyat diam saja
Di masa gestok rakyat dibunuh
para menteri saling menuduh
kaum penjilat mulai beraksi
maka fitnah makin berjangkit
toh rakyat masih terus diam saja
Mereka diupah oleh jerih orang tua kita
tapi tak tahu cara terima kasih, bahkan memfitnah
Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara
apakah kita masih terus diam saja?
Monday, February 21, 2011
Puisi Tentang Perjuangan | Walau Setetes Darah
0 komentar Monday, February 21, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWALAU SETETES DARAH
Aspar Paturusi
ada setetes darah
terjerembap di jalanan
ada setitik air mata
tersungkur di atas darah
darah ini darah siapa
airmata ini airmata siapa
hanya langit mendung memayunginya
tapi bumi tahu siapa yang empunya
jangan bersedih dedaunan
kicaumu jangan sendu hai burung
darah itu menetes dari roh nurani
butir airmata adalah belaian damai
jangan biarkan darah itu mengering
jangan abaikan titik airmata itu
walau cuma setetes darah dan airmata
dari sini awal kemerdekaan
dikumandangkan
jakarta, agustus 1996
Sunday, August 29, 2010
Puisi Perjuangan by Hasyuda Abadi
0 komentar Sunday, August 29, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPerjuangan
jika kau gagal dalam sesebuah perjuangan, gembirakanlah hatimu kerana tidak selamanya kau berjuang untuk gagal atau untuk menang. ketika kau menang dadamu naik ke atas tanda bangga. kau tidak dapat sembunyikan makna kegembiraan itu. kau seolah terbang jauh ke alam riang tanpa menyedari suatu hari kau akan menjejak bumi nyata lantaran terjadinya putaran kehidupan. kau ingin selamanya menang kerana ada waktunya kau enggan menerima kegagalan. saat itu kau cari kesalahan insan lain. tapi sayang itu akan membawamu lebih jauh lagi daripada menerima harga sebenar perjuangan. gembirakanlah hatimu jika betapapun usahamu mencuba tewas, kerana perjuangan tidak pernah dihentikan oleh kemenangan semata-mata. sebaliknya kegagalan adalah kemenangan bagi yang menyedari kesilapan dengan redha untuk muhasabah.
Kumpulan Puisi:Kembali di Lahad Rahsia
HASYUDA ABADI
Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu, Sabah.
8 Rabiulawal 1429H
Tuesday, May 25, 2010
BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN
0 komentar Tuesday, May 25, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN
Taufiq Ismail
Pada tahun keenam
Setelah di kota kami didirikan
Sebuah Musium Perjuangan
Datanglah seorang lelaki setengah baya
Berkunjung dari luar kota
Pada sore bulan November berhujan
dan menulis kesannya di buku tamu
Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan
Bertahun-tahun aku rindu
Untuk berkunjung kemari
Dari tempatku jauh sekali
Bukan sekedar mengenang kembali
Hari tembak-menembak dan malam penyergapan
Di daerah ini
Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan
Dan potret-potret para pahlawan
Mengusap-usap karaben tua
Baby mortir buatan sendiri
Atau menghitung-hitung satyalencana
Dan selalu mempercakapkannya
Alangkah sukarnya bagiku
Dari tempatku kini, yang begitu jauh
Untuk datang seperti saat ini
Dengan jasad berbasah-basah
Dalam gerimis bulan November
Datang sore ini, menghayati musium yang lengang
Sendiri
Menghidupkan diriku kembali
Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya
Di waktu kebebasan adalah impian keabadian
Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan
Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan
Begitulah aku berjalan pelan-pelan
Dalam musium ini yang lengang
Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga
Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur
berbendera
Maket pertempuran
Dan penyergapan di jalan
Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam
Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt
PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu
Gambar lasykar yang kurus-kurus
Dan kuberi tabik khidmat dan diam
Pada gambar Pak Dirman
Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali
Ke ruangan yang sepi dan dalam
Jendela musium dipukul angin dan hujan
Kain pintu dan tingkap bergetaran
Di pucuk-pucuk cemara halaman
Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan
Deru konvoi menjalari lembah
Regu di bukit atas, menahan nafas
Di depan tugu dalam musium ini
Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah
Aku berdiri dan menatap nama-nama
Dipahat di sana dalam keping-keping alumina
Mereka yang telah tewas
Dalam perang kemerdekaan
Dan setinggi pundak jendela
Kubaca namaku disana.....
GUGUR DALAM PENCEGATAN
TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN
Demikian cerita kakek penjaga
Tentang pengunjung lelaki setengah baya
Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
Datang ke musium perjuangan
Pada suatu sore yang sepi
Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
Dan sebelum dia pergi
Menyalami dulu kakek Aki
Dengan tangannya yang dingin aneh
Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
Ke tengah gerimis di pekarangan
Tetapi sebelum ke pagar halaman
Lelaki itu tiba-tiba menghilang
Tuesday, April 27, 2010
MUSIUM PERJUANGAN
0 komentar Tuesday, April 27, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMUSIUM PERJUANGAN
Kuntowijoyo
Susunan batu yang bulat bentuknya
berdiri kukuh menjaga senapan tua
peluru menggeletak di atas meja
menanti putusan pengunjungnya.
Aku tahu sudah, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
terkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
ibu-ibu direnggut cintanya
dan tak pernah kembali
Bukalah tutupnya
senapan akan kembali berbunyi
meneriakkan semboyan
Merdeka atau Mati.
Ingatlah, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.
Wednesday, April 21, 2010
DIPONEGORO | Puisi Pahlawan Perjuangan
0 komentar Wednesday, April 21, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDIPONEGORO
Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
KRAWANG-BEKASI | Puisi Tentang Perjuangan
0 komentar Wednesday, April 21, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKRAWANG-BEKASI
Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
1948
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
Saturday, March 13, 2010
Puisi Pahlawan | Kumpulan Puisi Tentang Pahlawan
1 komentar Saturday, March 13, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
DIPONEGORO
Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
DONGENG PAHLAWAN
WS Rendra
Pahlawan telah berperang dengan panji-panji
berkuda terbang dan menangkan putri.
Pahlawan kita adalah lembu jantan
melindungi padang dan kaum perempuan.
Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.
Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba.
Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi
kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)

