Showing posts with label Mega Vristian. Show all posts
Showing posts with label Mega Vristian. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Puisi AH "Basa Basi Dalam Puisi" | Mega Vristian

0 komentar

AH
Mega Vristian

Sudah waktu tak bisa
semenjak TKW dan TKI banyak yang mati,
disambut presiden dengan hoby menyanyi.

(Hong Kong, Yau Ma Tei 2012)

Monday, November 26, 2012

Puisi Shalat | Mega Vristian

0 komentar


SHALAT
Mega Vristian

shalat di atas sajadah
shalat di atas kehidupan

menangis di atas
maghfirah
meloncat ke luar
kesadaran atas kehendak-Nya.

( Hong Kong, Tsim Sha Tsui 2012)
http://oase.kompas.com/read/2012/08/03/23190077/Puisi-puisi.Mega.Vristian

Saturday, November 24, 2012

Puisi Tentang Pernikahan | Mega Vristian

0 komentar


PERNIKAHAN
Mega Vristian

Awal juni
Angin membawa harum melati
Kita sama-sama tersenyum
Diusia senja
Lega memenangkan ujian cinta

( Hong Kong, Sheraton Hotel Juni 2011)
http://oase.kompas.com/read/2012/08/03/23190077/Puisi-puisi.Mega.Vristian

Thursday, November 22, 2012

Puisi Sepanjang Jalan Kenangan | Mega Vristian

0 komentar


SEPANJANG JALAN KENANGAN
Mega Vristian

udara mengeras di luar, bersama gerimis yang ritmis itu lagi
dan kita membaca puisi di dalam, di kursi-kursi sepi, di debur laut hati
kita memahami kebekuan yang telah begitu lama menahan rindu mencair
dan perlahan, malan menimbun larut di jalan-jalan
dan pada akhirnya kita pulang, sendiri-sendiri, berjalan dan bercakap
dengan bayangan, bercakap dengan kenangan dan separoh impian
yang disisakan rembulan untuk esok pagi.
juga kehangatan yang sempat tersingkap dan mengerjap
kau tahu? ada yang tak kuasa kuterjemahkan: airmata yang perlahan
melinang di sepanjang kenangan
masih pula airmata yang itu lagi

(Hong Kong, antara Tsim Sha Tsui dan Causway BAY 2012)
http://oase.kompas.com/read/2012/08/03/23190077/Puisi-puisi.Mega.Vristian

Sunday, May 22, 2011

Puisi Guman Penghabisan Seorang TKW

0 komentar

GUMAM PENGHABISAN SEORANG TKW
karya :Mega Vristian

segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan

hari datang dan pergi
menjinjing selaksa teka-teki
kemungkinan pun gerbang tak terkunci

sedang ajal dan duka
menunggu di tikungan
menyergap harapan

selamat tinggal tak sempat terucap kepadamu, nak saat kereta tiba
mayatku diturunkan dari tiang gantungan
dicatat di satudua kalimat oleh koran-koran


"hari ini seorang tkw indonesia telah digantung hukum singapura"
lalu hilang di lubuk malam
orang-orang tak menyimpan arsipnya

di bekas roda kereta maut yang tiba dan berlalu jelas benar kemiskinan memerosotkan martabat
keadilan hanyalah kata-kata manis bagi orang tak berdaya tak masuk hitungan dalam politik
segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan

aku bergumam sendiri menggumamkan duka penghabisan
mengumamkan kembara tkw
martabat terlalu jauh sudah diperosotkan kemiskinan

(Hong Kong, Mei 2004.)

Monday, April 18, 2011

Puisi Derita TKI | Elegi Nirmala Bonet

0 komentar

ELEGI NIRMALA BONET
Mega Vristian

dengan tangan perempuan
kujinjing harapan
dari tanah kupang kampung halaman
menyeberang selat dan laut
tinggalkan tanah air
yang kemarau panjang
tempat rumputrumput mengejang

di negeri harapan
kelak mimpi kujadikan bulan
kujadikan matahari
bola cahaya
hari-hari esok
kuseka awan kehidupan

nirmala bonet
namaku nirmala bonet
perempuan
remaja sembilan belasan
kutinggal kampung halaman
kutinggalkan semuanya
kan kutukar mimpi dengan kenyataan
hidup harus diperjuangkan
rumput mengejang tak boleh meregang

di kualalumpur aku tiba
bergelut dengan keringat kerja
pada sebuah keluarga
tapi apalah nasib,
majikan yang kuharap baik hatinya
bikin aku tak lagi bisa bedakan
antara macan dan manusia
tubuhku ia cabik, luka menganga
mereka macan lapar
liar brutal
rintih dan jerit tangisku
tak ia dengar
terpuruk aku dalam genang darah
gelepar. tinggal gelepar

nirmala bonet
namaku nirmala bonet
perempuan
remaja sembilan belasan
kutinggal kampung halaman

mau menukar mimpi dengan kenyataan
tapi perih kini seluruh rasa
memar ini jiwa dan raga
bulan dan matahari
pergi entah ke mana
alam kembali temaram
gelap. perlahan kian pekat
kian pekat
mengubur harapan

(Hongkong,Mei'2004)

Puisi Bulan Sabit | Mega Vristian

0 komentar

BULAN SABIT
Mega Vristian

bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
seperti kau, kekasih
yang selalu datang
menjemput dan menunggu
menyertaiku di detik-detik peristiwa
pahit dan manis tanpa meminta


ketulusan ini jugalah
tanah hitam subur
di mana kesetiaan bertunas
cinta mengembang
mengalahkan musim


bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
di biru langit hidupku
kasihmu purnama malam
fajar penyulut siang
tak kuucapkan memang
sadar kepekaan cinta
bermata elang

(Hong Kong, April 2004)

Sunday, April 17, 2011

Biografi Mega Vristian

0 komentar


BIOGRAFI MEGA VRISTIAN

Juara Pertama Lomba puisi yang diadakan komunitas Perantau Nusantara, berkerja sama dengan milis Apresiasi-Sastra(2005). Meraih EssoWenni Award untuk sebuah karya puisinya di bulan Juli 2005. Juara tiga dan masuk Top Ten dalam lomba apresiasi Puisi yang diadakan milis Apresiasi-Sastra (2006- 2007). Karya-karyanya dimuat dalam beberapa buku antara lain: Antologi Puisi-Cerpen-Esai Sastra Pembebasan (2004), Dian Sastro For President - On/Off Book (2005), Antologi Puisi Untuk Munir (Nubuat Labirin Luka) – Sayap Baru & Aceh Working Group (2005), Kumpulan Cerpen Nyanyian Imigran – Dragon Family Publisher (2006), buku kumpulan cerpen "Selasar Kenangan" - AKOER (2006), Antologi puisi " Ijinkan Aku Tuhan" penerbit Dragon family Publisher (2008) dan Kumpulan puisi “ Lima Kelopak Mata Bauhinia” (2008). Mendapat Puisi Award (2009) dari tabloid Apakabar – Hong Kong. Sekarang menjadi anggota komunitas sastra , Perantau Nusantara dan Kelompok Teater ANGIN di Hong Kong.


Puisi SMS Ultah Buat Negeriku

0 komentar

SMS Ultah Buat Negeriku
Puisi Mega Vristian

Mbah, uang devisa dariku dan saudara-saudaraku sudah lumayan banyakkan?
cukuplan untuk membeli obat gosok buat penyakit encok
makanya jangan genit-genit ah
usia 64 seharusnya sudah bisa mapan dan menyediakan rumah yang nyaman buat anak cucu, lihat aku dan saudaraku masih diperantauan karenamu
ohya jangan menambah hutang lagi ya, mbah
kelak, masak itu yang kau wariskan pada kami

“ Selamat ulang tahun, bagaimanapun aku sangat mencintaimu"

(Causway Bay, Juli 2009)

Menguak Palung Kenangan | Mega Vristian

0 komentar

Menguak Palung Kenangan
Mega Vristian

jerit tangis bocah tak mampu menahan tekad kepergian ibunya
Di pintu pagar tanaman beruntas berjanji akan menunggu kepulangan
pagar tanaman beruntas yang tak pernah meranggas kering, walau tiap pagi dipetik nenek buat lauk makan selalu tumbuh lagi begitu berulang sekian musim
hingga si bocah tumbuh ditimang penantian didewasakan arus waktu

Kilatan petir sesekali membelah gelap ruang
seorang bocah berdiri di tepian jendela kamar
menengadah ke langit mencari tatapan kasih ibu
yang mungkin tersangkut di rembulan diantara derasnya hujan

Perlahan sang anak bernyanyi
Ibu sosokmu timbunan puisi / yang kubaca dengan segenap hati dan jiwaku/ yang tak pernah kubayangkan jika akan menjadi terkenang/ Letih penantian tak harus berakhir kematian/ Aku pun ingin sepertimu yang selalu tersenyum/ selayak puisi akan selalu hidup/ mesti raga kelak tergeletak tak berdaya dikeranda

(Causway Bay, Juli 2009)

Seusai Badai Berpeluk Puisi | Mega Vristian

0 komentar

Seusai Badai Berpeluk Puisi
Mega Vristian

Nak, semalam angin berputar kencang,
pepohonan tumbang ribuan kelopak bunga berguguran
Kupu-kupu dan burung entah digiring angin kemana
papan-papan iklan kaum kapitalis runtuh
Jatuh tepat di kepala PJTKI yang sedang jadi turis.
Promosi jajaran photo perempuan Indonesia pencari kerja
depan kantor agen Hong Kong digoyang angin kekanan kekiri
terbaca jelas walau tak tertulis,
- murah, tak cocok bisa ganti dijamin aman karena ada pendekeng kuat
Angin Juga menerbangkan selendang bayimu.

Selendang merah batik bermotip naga
yang sengaja kau selipkan ke koper bertahun silam
ketika ibu bersiap perang,
melawan sakit, melawan luka, melawan ketidak berdayaan
selendang penuh ingus dan airmata itu,
prasasti katamu yang kita pahami berdua entah bagi ayahmu
Maap, ibu lupa mengangkatnya dari jemuran bambu di jendela apartemen
seusai badai reda kucari tapi hilang.

Angin bisa merampas dan menerbangkan apasaja
saat berkolaborasi dengan badai kuasa mengaduk bumi,
tapi tak bisa merenggut kenangan kebersamaan kita,
meski selendang penggendong bayimu tak akan lagi memeluk rindu akanmu dikesendirian dan dikedinginan malam-malamku

Pada genang sisa hujan yang tersisa di ceruk waktu
wajah ibu terpantul menua tapi semangat didada tak bisa diremukkan usia
Mata tak mampu lagi menembuskan benang ke lubang jarum
tapi masih bisa membaca jelas elegi sebuah penantian
kau tulis bertinta darah air mata di buku harian
yang kau simpan di lubuk hatimu
meski tak pernah kau bacakan padaku, tapi ibu bisa memahaminya

Nak,
Di tanah perantauan ternyata tak bisa egois memanjangkan hidup kita sendiri
Tapi ada yang harus dilakukan ketika melihat bulikmu, budemu
bulik dan budenya orang lain juga para perempuan pekerja rantau
ditindas orang lain, ibu tak bisa diam nak, sebagai manusia kita tolak dijadikan mesin.

(Hong Kong, Hung Hom ,19 Juli 2009)

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |