KEMERDEKAAN SEMU
Basilius Andreas Gas
Kemerdekaan semu menghinggap
Bukan diraih karena tetes perjuangan
Dengan motto "Sampai Titik Darah Penghabisan"
Atau gelora pembangkit semangat "Rawe-rawe
rantas, malang-malang putung"
Entah benar atau tidak ejaan pun ku tak tahu
Kemerdekaan semu dirasa
Bukan karena ingin bebas dari belenggu jajahan
Tapi karena merasa lebih bebas
Entah mengapa...
Bebaskah?
Kemerdekaan...
Yah, itulah istilah yang kuguna
Kemerdekaan yang sebenarnya memalukan
Kemerdekaan yang sebenarnya tak boleh kuulang
Kemerdekaan yang bisa keblabasan
2005
Showing posts with label Antologi Puisi Untuk Munir. Show all posts
Showing posts with label Antologi Puisi Untuk Munir. Show all posts
Friday, April 30, 2010
Contoh Puisi Kemerdekaan | KEMERDEKAAN SEMU
0 komentar Friday, April 30, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHIDUP SAAT MATI
0 komentar Friday, April 30, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHIDUP SAAT MATI
Basilus Andreas Gas
Jejak telapak kaki dari kali
Mengkerut kering ditelan detik
Dan disana tergambar nyata yang ada
menumpah segala jalan
Tak bermakna dilicin porselin
Gemerincing logam berganti gemerutuk
Ketika menjatuhi kerak kering
Telapak kaki yang ditinggalkan kesan
Gambaran sejuta nyata dihidup
Kekal hidup dibawa
Mati, habislah cerita
Ceritanya tak habis dimulut cucu
Terus bersambut dari luar garis
Sekarang pun telapak kaki
Tak berujung pangkal diletakkan
2005
Monday, April 26, 2010
RUANG SETELAH DUNIA
0 komentar Monday, April 26, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRUANG SETELAH DUNIA
Azizah Hefni
Manusia hanyalah
lembar-lembar daun ringan
Redam sekali pijak
Lepas sekali hempas
Seandainya ada nyawa
Menepuk dada dengan paket tawa
Acungkan cahaya-cahaya milik Tuhan
yang dititipkan pada satu putaran hidup
Memeluk dunia juga apapun yang ada
Apakah kosmos tak akan menunduk,
Terduduk
Dengan desah berat yang berpunuk-punuk?
Ini hanya perjalanan
tanpa keabadian
Gerak penempuhan
tanpa titik pangkap kepastian
jauh di atas bintang juga bulan
Ada ruang masa depan
Dan Tuhan mengatakan
Kesejatian itu ada setelah alam bertabrakan
Malang, 27 Oktober 2005
Puisi Tentang Kematian | Azizah Hefni
0 komentar Monday, April 26, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni
Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar
Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan
Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun
Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?
Malang, 27 Oktober 2005
Antologi Puisi Untuk Munir
CAK MUNIR DI AWAN | Puisi Asep Sambodja
0 komentar Monday, April 26, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCAK MUNIR DI AWAN
Asep Sambodja
kubuat prasasti
dengan jari-jariku yang mengeras
menahan selangit suara yang membisu
karena cintamu kandas di awan-awan
kuukir namamu
di lubuk hatiku yang kian koyak-moyak
melihat senyummu memudar
di balik awan
kutahu rindumu
seperti pernah kueja ayat-ayat Tuhan
yang memancar di sisi-sisi awan
di balik mega
yang merasuk dalam hatiku
kubuat prasasti
dengan sisa koyak hatiku, seperti dulu
ketika ibu membasuh lukaku
tak sekedar mengingatmu
tapi menjelmakanmu
mengarahkan tatapan tajam matamu
ke rongga-rongga penguasa
yang lalim
yang zalim
dan durjana saja
Depok, 10 November 2005
Saturday, April 24, 2010
HANYA KATA
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHANYA KATA
Anik Sulistya Wati
Masih pagi untuk kutinggal kisahmu saat ini
Denting-denting semangat jiwamu masih gagah di
benak kami
Langkah juangmu masih harum tercium di setiap
hisapan nafas kami
Dan kau tak akan pernah pergi!
Seperti saat ini.....
Mencoba tegar atas hilangnya sorot tajam
matahari
karena kelam awan memaksanya pergi
Sungguh,
Telah terlipat-lipat beribu amarah dalam geram
tertahan
Telah tercucur air mata dalam gelimang sedih
tergenggam
Dan sayatan pilu ini tak akan pernah berlalu
tapi sepertimu
seperti wajahmu,
adalah ruh-ruh bebas yang tak pernah kenal
belengu
Kutanam semangat dan cintamu disini
Disetiap degup jantung yang masih kumiliki
Tak akan kubiarkan waktu menjawab segala
kisahmu
Karena ia tak pantas untuk itu
Keadilan tetap hakmu
Dan perjuanganmu tak akan mati terpenggal tahta
yang hakiki
Dan hanya kata,
hanya kata-kata yang kami bisa rangkai saat ini
Dengan rentetan senyum cinta, dan semangatmu
kami berdiri
Dan akan tegak berdiri
Hongkong, Nov 2005
Puisi Tentang Keadilan | Aku Ingin Bercerita
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAKU INGIN BERCERITA
Aliyah Purwanti
Malam sunyi aku bersandar di sudut kamar
diam dan merenung
Segala harapan mengambang dalam pikiran
baur dalam kegalauan
Munir,
Sebenarnya sebelum detak nadimu tak berdenyut lagi
Aku ingin bercerita,
Tentang kaumku pembantu rumah tangga di rantau
kami berenang dalam keringat darah dan air mata
Sepanjang hari bekerja
Caci maki, hinaan dan siksaan
Bahkan kesucian kami mereka rengut dengan paksa
Harkat dan martabat kami sebagai manusia hilang
Munir,
Jika sudah tak ada yang mau mendengar keluhan ini
Apakah kami pelan biarlah digilas roda waktu
hingga hancur remuk segala harapan menjadi manusia
Sepertimu,
Keadilan memang cuma impian orang-orang
tertindas seperti kita
Keadilan cuma asa yang begitu mahal buat kaum miskin
Munir, biarlah kini aku bercerita pada malam dan
kesunyian
Yang menjadi saksi bisu penderitaanku dan
rekan-rekanku di negeri rantau
Hongkong, 13 Nov 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)
