Showing posts with label Tema Laut. Show all posts
Showing posts with label Tema Laut. Show all posts

Friday, March 1, 2013

Puisi Kepada Laut | Adi Nugroho

0 komentar

Kepada Laut
Adi Nugroho

perahu kecil, jala mungil, burungburung pelikan, senyapsenyap ikan, debur ombak, batu retak, aku dan mata kosong, menunggu: kepada laut.  Aku melamun saja, bertanya pada angin, darimana angan ini, yang ingin dari dingin basah asin laut kecup bunga siput, sejak kau berlayar ke arah yang tak pernah kudengar, tak ada kabar, dan aku terkapar. Kepada laut: Aku berdiri saja, melipir ke dermaga pinggir, aku mencari kerang tak karang, adakah dia melihat jejakmu yang tersapu para pembajak. Kepada laut: aku masih menunggu kebaikan hatimu, sebab arusmu menghanyutku ke pulau rindu. Kepada laut: aku hanyut

Kepada kamu, kepada laut, kepada kita yang kalut. Boleh aku berlaut menjemputmu? mengejar kau, yang membuatku larut di harihari kusut. Biar aku memelukmu lagi, dan merasakan keras debar dada ini. Kerna Debar adalah lagu yang menghantarku pada bisik, jejak, dan merah pipimu.  Seperti ombak dan deburnya, yang cepatnya pergi dan dekat kembali pada ujung jemari kaki. Itulah aku yang teguh, laut akan memperpendek keraguan. Cinta terbaik mestilah tak lama menuju janji mati. Dan kau pun segera tau, pada dada siapa harus bersandar

laut pasang malam larut
entah aku atau bayangku yang terlebih dulu sampai
kukirim dulu keinginanku
lewat nyanyian ombak, dan senja laut
ketahuilah: aku menjemputmu

dan kepada laut: jagalah dia di pelukanmu
sampai aku
hilang rindu

Thursday, February 23, 2012

Puisi Dari Tepi Laut | Hery Firyansyah

0 komentar

Dari Tepi Laut
Hery Firyansyah

Laut biasanya dilalui kapal
tapi kali ini tidak
juga tak ada gitar dipetik
di bawah rindang nyiur
pasir jadi bara
di telapak kaki
dan mentari membakar apa saja
yang menentangnya

lambaian nyiur menggapai lunglai
melenggok hampa
kadang kadang segunduk ombak kecil
datang mengantar riak
kadang kadang pula sepi
yang datang mencekik
dari tengah laut

aku telah pulang
dan kembali lagi kemari
telah pula datang
mengurai mimpi mimpi
sebuah teluk tenang teduh
sebatang nyiur lapuk
setia menunggu

pasir berbercak bercak
putih memanjang menyilaukan
siang malam
riak air asin berlarian
O laut
bila kau ramah
kau buat aku terlena
tapi bila kau gila
O laut
aku tak mau
bertanya tentang kau lagi

Pelabuhan Ratu, 10122011

Saturday, August 14, 2010

LAUT SIGLI | Semua risau kubenam kelaut mu

0 komentar

LAUT SIGLI
LK Ara

Semua keluh kukirim kepadamu
Semua risau kubenam kelaut mu
Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu
Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu
O, laut Sigli

Semua derita ku tumpahkan kepadamu
Semua rindu kunyanyikan untukmu
Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu
Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu
O, laut Sigli
Izinkan aku memanggilmu
Ibu

Sigli, 21 Juli 1986

Wednesday, July 28, 2010

Ke Laut | Puisi pergi ke laut

0 komentar

KE LAUT
LK Ara

Ia pergi kelaut
Mencari ombak
Mencari kabut

Jutaan helai rambut
Gugur dari angkasa
Dari langit luka
Menerpa wajahnya

Ketika mengaduh
Sebelum rubuh
Jeritnya parau
Ombakpun risau
Menambah gembalau

Kini ia meniti kabut
Membubung bersama kabut
Kelangit yang kalut

Sigli, 31 Januari 1986

Friday, July 2, 2010

Sajak | LAUT TAWARKU

0 komentar

LAUT TAWARKU
L.K.ARA

Di lereng-lereng gunung menujumu
Di atas bus yang menderu
Detak hati kian keras
Kuatir nasibmu
Sore itu

Parasmu diusap senja
Alangkah tenang
Salam sederhana kau ulurkan padaku
Tanpa iringan gelombang
Ataupun pikatan kecipak riak
Pertanda bulan akan mengambang

Dalam sunyi malam
Sebelum fajar
Perahu nelayan lesu
Pulang ke pangkalan
Setelah semalaman derendam dingin
Kulihat baju-baju lusuh
Dan mata diberati kantuk

Jalan yang meliku ke pangkuanmu
Wangi oleh kenangan lama
Kian terasa
Sentuhan riang riak-riakmu
Pada mukaku yang meminati

Jalan menurun ke jangtungmu
Lembut oleh siraman embun
Yang menetes teduh
Tanpa suara
Menjamah langkahku
Satu-satu
Kala kuturun ke tepian
Dengan debaran mesra di hati

Friday, June 25, 2010

Sajak Isbedy Stiawan ZS | Laut Akhir

0 komentar

Laut Akhir
Isbedy Stiawan ZS

sebagaimana laut punya akhir: pantai atau muara
dan pada selangkangan bakau,
segala pusat risau
resah dan gelisah di sematkan
tapi bulan ini, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
akankah memiliki akhir
mengalahkan umur?
sudah 48 kali purnama!
getar doa
malam-malam ganjil
iktikaf yang gigil
halaman lambung
yang selalu kosong
(ada juga dahaga
yang selalu dijaga)
sepanjang siang
akankah punya akhir?
tapi orang-orang dari jauh
mengenakan pakaian lusuh
membikin kota penuh
berdatangan dengan
kedua tangan selalu menadah
seperti ia faham
di bulan, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
banyak orang murah tangan
melemparkan sedekah
dari setiap tubuhnya
mengalirkan laut
langit merestui
penghuni langit turun
bersama sayap-sayap berkilau
hendak meminangmu
dan getar doa
juga tangan yang menadah
akan pula dibawa terbang
kau tahu ke mana akhir
segala pengembaraan
kalau tak ke taman-taman
yang dulu sekali ditinggalkan?
beri salam pada malaikat
sebelum laut sampai ke tepian
akhir segala perjalanan:
pantai atau muara,
juga pada selangkangan bakau:
segala pusat risau
untuk dilelapkan….
lalu pantai atau muara
akan membuka halaman
bagi sujudmu selepas subuh
sebelum matahari di kepalamu
benar-benar meluruhkan ubanmu
demikian laut punya akhir
bulan yang memancarkan
kemuliaan seribu purnama
tak henti pada pantai atau muara,
bahkan di selangkangan bakau
kau akan mekar
cahayamu menguar
melebihi tahun-tahun usia
getar doa
selalu memanggil-manggil

september-oktober 2006




Wednesday, May 19, 2010

DULU AKU MINTA MATI DI LAUT

0 komentar

DULU AKU MINTA MATI DI LAUT
Isbedy Stiawan ZS

aku ingin lari dari laut
sejak ia tak lagi
memberi kehangatan
dulu aku minta mati di laut
dalam gemuruh gelombang
dilempar ke pulau tak bernama
tapi kini aku berharap di ranjang
kuhabiskan hidupku
dikubur dengan namaku di nisan

aku bukan perenang ulung
sebab itu aku menolak
sewaktu kau mengajakku,
suatu sore kelabu,
dengan penuh rayu
di ranjang aku mau berenang,
kataku dengan rayuan pula,
biar matiku menyediakan
sejengkal tanah untuk nisan
yang menulis nama dan kenangan
lalu ilalang membuat cantik istanaku
juga wangi bunga yang selalu meruap
kau tertawa. di laut pun kita mati
ada nisan yang mengekalkan
nama, katamu. sebab karang
sudah lama pula rindu
pada nama-nama
maka marilah ke laut
berenang hingga ke lumut
aku akan menepis maut
jika datang memagut,
lanjutmu sambil melambai
tapi sayang, kumau
ranjang jadi lautan
aku berenang dan terkubur
di bawah nisan
mengekalkan ihwalku

23 November 2004


MATI DI LAUT MANA

0 komentar

Isbedy Stiawan ZS

di kamar gelap ini
kau menjelma jadi boneka
rebah di sudut ranjang
menatap langit-langit hitam
napasmu jadi lautan
menggelombang syahwat
mengantar kapal ke pelabuhan
dalam getar arloji
kukirimkan pula napasku
jadi gelombang
menggerakkan layar syahwat
memutarkan kelamin
menuju pelabuhan
sebentar. pantai serasa masih
di benak. tubuh masih
mengekalkan bau pasir. Aku
belum berani meninggalkan
bau sungai dan wangi tanah
gelap. kabut luruh. kamar
makin pekat, dan kau menjelma
jadi boneka di sudut ranjang
tapi, bukan aku di sisimu
bukan perahu ini
entah kau akan mati
di laut mana?

2003-11-10




Tuesday, May 18, 2010

LAUT MEMBAWA JASADKU

0 komentar

LAUT MEMBAWA JASADKU
Isbedy Stiawan ZS

laut membawa jasadku
ke malam-malam pekat. ke makam-makam sunyi
ditanamkan, menyimpan riuh jam
tanah pun basah, melumpurkan langkah
yang berhenti pada gerbang-Mu
kau pun tersedu. hujan turun
mengabarkan ketajaman pisau padaku, dan
laut tak henti membawa jasadku
ke makam-makam sunyi-Mu untuk ditanamkan!
o aku sendiri dalam kematian ini
di semesta sempurna ketiadaanku

1987

DI TEPI LAUT | Puisi Penantian

0 komentar

DI TEPI LAUT
Isbedy Stiawan ZS

kita pernah bermain layang-layang di sini
rambutmu yang tersibak angin adalah benangnya
aku ulur kau biar terbang menyilang cakrawala
tapi kendali tak sudi kulepaskan. Tak sudi
betapa bodohnya aku, benang di tangan putus
kulihat kau terbang sendiri
tanpa bisa kuraih kembali. Tanpa bisa
di tepi laut ini
kunanti layang-layangku yang putus
kunanti kau hadir kembali menemaniku
bercakap-cakap pada karang

1984/1985

Sunday, May 16, 2010

Puisi Alam | Kumpulan Puisi Tentang Alam

0 komentar


Puisi Alam atau puisi tentang Alam, ini diambil dari judul-judul puisi yang berhubungan dengan puisi bertema Alam. Masih banyak puisi-puisi lainnya di Blog ini yang bertemakan Puisi tentang alam. Sahabat bisa mencari di kategori Judul/Tema Puisi. Berikut ini adalah beberapa puisi yang bertemakan alam, antara lain. Cikuray, Mount Rhapsodia, Angin Laut, Laut, Laut Yang Ramai dan Pemandangan di Que-Lin.

CIKURAY, MOUNT RHAPSODIA
Jun Nizami

Melewati dadamu, jalan setapak penuh debu. puncak bayangan, dan hutan-hutan yang kupuja menjelma rahasia-rahasia suram. Tiada mata air, meski dingin terus mengalir, ke jantungku.

Sampai di puncakmu, kabut terurai. Edelweis barangkali penawar, bagi sehimpun kelelahan. Dan kepuasan pendaki, barangkali tersimpan, pada sunrise atau sekerat bulan yang manis.

Sampai di puncakmu, cikuray, aku yang gelisah tak henti membaca bintang untuk menentu arah. Sebab jurang-jurang terus menganga, seperti dari dunia dalam hidup yang terluka. Di mana cinta menjelma satu-satunya pelita, juga unggun, atau perapian-perapian yang menyakitkan bagi seseorang dalam kembara.

Cikuray, kediaman di atas awan. Nestapa terbuka, dan bumi seolah-olah tenggelam. Lantas aku, merasa menjadi seorang penumpang:

dari kapal nuh yang diturunkan
dan ditugaskan
dan dibangunkan,
untuk membangun sebuah peradaban.

2011
http://www.kabar-priangan.com/news/detail/1255


ANGIN LAUT
Kuntowijoyo

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.


LAUT
Kuntowijoyo

Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.

Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?


LAUT YANG RAMAI
Ayi Jufridar

Laut mendadak ramai
deburan ombak terseret angin
ke tengah samudera itu
sedang di bibir pantai
orang saja menari-nari
Laut mengundang sehamparan gunung samudera
datanglah dari penjuru segala
melihat kami menari
menjelang akhir sodorkan air
ketika tubuh bermandi peluh
tapi jangan suguhkan seudati*)
sebab ia sudah mati

Datang,
datanglah dari penjuru segala
ramaikan laut kami yang sepi
dengan lagumu yang sarat cinta

Lhokseumawe, Juni 2005

*) nama tarian terkenal Aceh



PEMANDANGAN DI QUE-LIN
Husseyn Umar

gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
tinggi dan tajam
menjulang menusuk-nusuk awan
air sungai Li berkelok-kelok
bermain-main di celah kaki-kakinya

bilakah sebenarnya
dewa-dewa telah turun dari langit
sempat-sempatnya membuat
pahatan alam yang begini cantik!

1994


Monday, April 26, 2010

ANDAI LAUT KELAM | Kumpulan Puisi Laut

0 komentar

ANDAI LAUT KELAM
Ridwan Amran :

Andai laut kelam
Mentarikanlah langit
Agar jelas hitam pada hitamnya
Agar jelas putih bukan birunya
Dalam suatu perjalanan yang tak pernah usai
Dari kehidupan anak manusia

Andai bumi kelam
Rembulankanlah langit
Menyinari Lord Byron sebiduk cinta dengan kakaknya
Bunga-bunga yang jatuh layu dalam bara fitnah
Laut-laut dan sungai-sungai beku
Mengutuk itu perahu

Biar laut kelam dan langit kelam
Dan kedengkian merengkahi bumi
Dari permusuhan darah dan nanah
Mengukir cinta Romeo dan Juliet
Yang berpeluk kekal dalam tubuhnya

Kini laut tidak bercerita lagi
Tentang rindu, tentang cinta dan airmata
Dan langit bukanlah semata harapan
Karena bumi yang panas semakin panas
Merontokkan kesetiaan
membakar kejujuran
Kecuali dengki fitnah dan kesombongan
Membungai pohon-pohon

Dan kulik elang merebahkan senja
Manusia telah memangsa manusia

Andai laut kelam dan langit kelam
Dan bumi luruh di telan kelam.

Saturday, April 24, 2010

LAUT YANG RAMAI | Puisi Penyair Aceh

0 komentar

LAUT YANG RAMAI
Ayi Jufridar

Laut mendadak ramai
deburan ombak terseret angin
ke tengah samudera itu
sedang di bibir pantai
orang saja menari-nari

Laut mengundang sehamparan gunung samudera
datanglah dari penjuru segala
melihat kami menari
menjelang akhir sodorkan air
ketika tubuh bermandi peluh
tapi jangan suguhkan seudati*)
sebab ia sudah mati

Datang,
datanglah dari penjuru segala
ramaikan laut kami yang sepi
dengan lagumu yang sarat cinta


Lhokseumawe, Juni 2005

*) nama tarian terkenal Aceh

Friday, April 23, 2010

LAUT | Puisi Tentang Laut

0 komentar

LAUT
Kuntowijoyo

menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?


Puisi Angin Laut | Kuntowijoyo

0 komentar

ANGIN LAUT
Kuntowijoyo

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

sajak sajak 1974 - ISYARAT

Tuesday, April 20, 2010

MADAH LAUT | Puisi Tentang Madah Laut

0 komentar

MADAH LAUT
Beni R Budiman

Laut adalah luka tanpa harga
yang mengaduh sia-sia
ketika kata lupa pada bahasa
dan kepala hanya tulang rangka


I
Telah lama kaucintai laut
hingga kapalmu berkayuh
jauh pada tumpukan ombak
pada angin yang berdengung
menyuling badai di suatu palung

"Laut hanya seekor laba-laba
yang rajin memintal sarang
hingga kita tak mampu merayap
menuju ujung jaring langkahnya
Kita akan terjebak di piuh jalan
jauh sebelum sampai tujuan."

Pada birunya yang berlapis
dan bertumpuk seperti kesedihan
kauarahkan hati mengayuh sauh
sungguhpun kau akan kesasar
menentukan haluan kapal

Kau tahu matahari telah berkhianat
memeluk hangat tubuh laut
dan melumat basah bibir pantai


hingga gairahnya berjatuhan seperti
hujan bulan Desember

Matahari sungguh terlalu angkuh
Cahayanya yang menyengat
lebih suka menyeduh kopi
daripada membakar para keparat
yang mengunyah terumbu karang
dan berlindung pada kapal dagang

Kau rindu laut karena sungai-sungai
selalu bertamu dan mencium pipinya
yang lembut seperti agar-agar
serta mengelus tubuhnya yang sintal
meliuk di gigir cekung teluk

"Laut adalah anak-anak
pangeran muda yang riang
yang jiwanya enggan diam
yang senang bernyanyi
sambil kedua kakinya menari
pada terjal karang dan panggung pasir."


II
Laut juga yang membuatmu sadar
dan beta jar menumpahkan kemarahan
tidak dengan mengulum puting payudara
dan licin paha pelacur musiman di jalur pantura
tapi pada kapal tangker yang menyelundupkan
minyak bumi dan upeti dari negeri jajahan


pada perompak yang duduk di parlemen
dan pada ratu bodoh penguasa negeri dongeng

Dari laut itulah kau paham
betapa dendam berkawan dengan kelewang
dan kebencian kita timbun rapi
seperti karung beras di gudang orang tamak

(Suatu hari karung-karung itu
akan berubah menjadi bom waktu
yang meledak saat lapar meruyak)

Kemarahan itu pun kita pasang
seperti perangkap tikus di tiap kampung
Setelah itu segera kita bermimpi
tentang daging dan buah yang segar
di sebuah pulau tanpa penghuni
karena perang saudara menerjang


III
Ternyata laut bukan anak-anak kecil
yang enggan diam setelah kenyang
menghisap puting susu ibunya

"Laut adalah malam yang gelisah
yang menulis sisi buram legenda cinta
raja Jawa yang takluk pada ratu siluman ular
tapi tak mau tunduk pada penjajah Belanda
saat cahaya bintang dan kelip tongkang


berpelukan di atas hamparan gelombang hitam
hingga separuh bayang bulan cemburu."

Lalu orang berbondong datang
menaiki ratusan perahu nelayan
membawa seba kepala kerbau
melemparkannya ke lepas laut
sambil meminta ratu berbaik hati
memberi panen ikan berlimpah
dan nelayan tambat dalam selamat

Tapi selepas pesta kauundang ratu
dari atas bukit karang yang teduh
seperti memanggil seorang gadis
penghibur dari sebuah klab malam

"Kemarilah kau ratu yang cantik
datanglah dengan kereta kencanamu
yang gemerlap berteteskan permata
bersama dayang-dayangmu yang jelita
Kenakan gaun sutera birumu yang tipis
hingga kulit yang bening bagai ubur-ubur
dan payudara seruncing mulut hiu itu
menegangkan seluruh urat zakarku,"
begitu kau bisikkan hasrat liarmu
lewat semilir lembut angin darat

Tapi ratu tak bisa jatuh cinta
pada lelaki iseng yang malang
dan taut di selatan hilang ingatan


(Di selatan laut tak bisa mendengar
karena seluruh suara tinggal lenguh
yang meluncur dari mulut penguasa
yang dusta pada seluruh rakyatnya)

Hanya ombak besar bergulung
menggoyang-goyang karang
mengirim jawaban rindumu
lewat percik yang menjilat leher
dan angin yang mengelus rambut


IV
Kembali kaucumbu taut
setelah paham betapa gunung
tak bisa menahan pohon-pohon
yang hijau dan rindang tumbang

Sedang kau tak mampu menghardik
petualang lapar yang membutuhkan
unggun saat dingin malam menyerang
dan tungku nasi kehabisan bara api

Maka kau kembali memilih laut
mencari pasir putih yang landai
dengan gadis-gadis setengah bugil
yang membiarkan tubuhnya melepuh
setelah seharian dikunyah matahari

Kau pun bermimpi menjadi matahari
yang tak pemah sekalipun b,erkedip
pada setiap payudara yang terbuka
dan selangkangan yang menantang

"Kaukira laut hanya gadis-gadis
yang selalu siaga mengantarmu tidur
di suatu pulau penuh taman bunga
dengan dada bertabur gairah cinta
la mungkin gadis pemandu wisata
yang senang menyuguhkan tequilla
sesekali mengajak tamu-tamu dansa
sambil mendesahkan indah kata cinta
dengan menjilat leher dan daun telinga
hingga tulangmu segera meregang."

Tapi kukira laut bukan gadis-gadis itu
la adalah penyair yang berbudi baik
yang mengajak jalan ke sebuah pasar
dan membelikan ikan jambal besar
karena ia tahu benar bahwa istri
dan dua anak lelakiku dalam lapar

Laut baginya adalah buah kesetiaan
mungkin rasa cinta seorang teman
yang tulus setelah tahu betapa hidup
hanya tumpukan cerita penuh luka


V
Akhirnya kaupinang gairah laut
menjadi istri dan catatan harianmu
yang harus kaugauli di mana saja


Maka ribuan kalimat pun mengalir
seperti air sungai dari puncak gunung
Kata pun berhamburan menulis buih
setelah ombak membantun kapal

Dan dalam benakku laut itu mengalir
memasuki goa-goa di tiap bukit batu
menjebol jendela semua rumah mewah
menyeret seluruh sejarah yang berdarah

Laut bukan muara bagi semua suara
yang meneriakkan duka dengan gema
bukan gudang beras bagi tiap nelayan
bukan tempat pelacur yang menghuni
separuh panti pijat di kota-kota besar
mencuci lubang sisa kelenjar yang sial
bukan tempat membuang hajat pejabat
yang iseng saat rapat dinas di luar kota

(Laut adalah pengembara sejati
yang memuja seluruh topan
dan merobek bendera di tiang kapal)

Dan kini ia melangkahkan kakinya
mendaki seluruh tebing dan lereng
menyusuri jejak kaki setiap pendaki
mengalihkan haluan semua kapal
memindahkan dermaga dari dataran
ke puncak gunung paling tinggi
mengubur seluruh mercusuar
menghanyutkan setiap kitab
yang diturunkan pada para Nabi


la tak lagi gadis manis yang menanti
sungai-sungai datang menjumpainya
tapi ia mengejar sumber mata air
yang menetes dari puncak gunung

1997-2000

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |