Sacre CoeurAcep Zamzam NoorLewat pasar yang riuhLewat deretan panjang kaki limaLewat tangga yang disandarkanKe bukit. Aku merasa tak akan sampaiKe puncak menara Sacre CoeurAku pun diamAku pun terpakuMenghitung detak waktuYang disirami butir-butir saljuDi lereng bukit ituPada ranting-ranting pohon lindenKulukiskan raut wajahmuYang runcing namun bertenagaLalu kusimpan sebuah namaDi bawah judul sajakTentang cintaYang belum selesai kutuliskanAngin mendengung dan burung-burungTak bisa berlindungDari dingin. Menara menjulangDan udara yang basahTerasa menekanSeperti ada yang tersembunyiDari balik mantel bulumuYang tebal. Salju berhamburanDari rambutmu yang ikalHarum restoranTercium dari napasmuSuaramu bergelombang di udaraKakimu menginjak awanYang berkilauan dan penuh pahatanAku merasa tak akan sampaiKe puncak menara Sacre Coeur1997
Showing posts with label Acep Zam zam Noor. Show all posts
Showing posts with label Acep Zam zam Noor. Show all posts
Wednesday, February 12, 2014
Puisi Sacre Coeur | Acep Zamzam Noor
0 komentar Wednesday, February 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMonday, February 10, 2014
Puisi Fontana Maggiore | Acep Zamzam Noor
0 komentar Monday, February 10, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFontana MaggioreAcep Zamzam NoorTiba-tiba tubuhmu penuh hujanSeperti patung di tengah air mancur ituDan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daunAku ingat sebatang lilin di tengah laut malam hariDi sini pun cahaya memperlebar wilayah kelamnyaHingga kita bersudutan dengan tajamDalam keremangan yang mengerasKebisuan menjadi bahasaAntara undakan-undakan dan detik-detikYang menggenang. Bunyi gitar terdengar nyaringTapi segera dipatahkan angin yang runcingWajah pengamen itu menjadi pucat dan keperakanDi tengah deretan hari-hari yang menyusutDan mengembun pada patung-patungDi dinding kasar nampak bayang-bayangmuYang bergerak-gerak tanpa lakonDan orang-orang masih berjalan dengan anjingAtau anak-anak mereka yang menggigilKulihat lehermu menghijau seperti tembagaTapi segera mulut cahaya menyerapnyaKe dalam lampu-lampuTubuhmu menyusut dan menjadi percikan airKekekalan memenuhi seluruh kolamKunang-kunang terbang, menjauh dan menghilangAdalah pikiranmu yang masih terpatah-patah –Di taman-taman lain yang lebih remangKulihat jurang-jurang yang digali cahayaSeluruh hujan diterjunkan ke sana1992
Friday, January 10, 2014
Puisi Via Enrico Dal Pozzo, Perugia | Acep Zamzam Noor
0 komentar Friday, January 10, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiVia Enrico Dal Pozzo, PerugiaAcep Zamzam NoorGentong musim dingin mengguyurkan anggurUntuk kita reguk lagi malam iniKau tahu, anggur selalu membuat kita mabukTapi cahaya bulan yang menerobos ketebalan kabutSeperti ingin menjelaskan betapa dingin di luarJika harus kita tempuh tanpa anggur dan mantel tebalAda banyak malam yang telah menyeret kitaMenuruni lereng-lereng basah dan rahasiaKita membangun jembatan dengan seratus ciumanYang berulang. Tapi runtuh jugaLalu kita menggali perigi untuk kenanganTapi seperti sungai, airmata tak bisa disimpanKau tahu, cahaya bulan seperti ingin menjelaskanBahwa antara kedua alis matamu yang licinAda jurang yang semakin mengangaMungkin jembatan itu tak akan pernah terciptaDari bahasa. Tapi guyuran anggur musim dinginMembuat kita tak peduli lagi pada kata-kata1992
Sunday, January 5, 2014
Puisi Rue De Rivoli | Acep Zamzam Noor
0 komentar Sunday, January 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRue De RivoliAcep Zamzam NoorKita melaju dalam rintik gerimisYang menghapus semua alamatDari ingatanku. Udara seperti berombakSungai memantulkan gemaNapasmu gemetarDi ranting-ranting poplarJembatan itu mengangakan rahangMenelan musimYang meluncurkan perahuDalam cuaca dingin. Senja menjadi ajaibDi tengah kebisuanmuDan redupnya anginKe sudut-sudut kafeTak ada yang perlu dilabuhkanKecuali jejak matahari. Sementara kau dan akuMungkin tak akan merubah arah sunyiDengan mencari kehangatanPada gelas atau ciuman1997
Friday, December 27, 2013
Puisi Menjumpaimu | Acep Zamzam Noor
0 komentar Friday, December 27, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMenjumpaimuAcep Zamzam NoorMenjumpaimu di sebuah kotaSeperti menemui kenyataan dunia iniKota itu tak bernama, gedung-gedungnya sangat tuaDan musik menggenang sepanjang jalan-jalannya yang sunyiAku tersentak dan menemukan isyarat-isyarat:Wajahmu memenuhi setiap celah dan sudut kelamTapi daun-daun rontok dan senja menguning seketikaSebuah lagu yang kukenal mengalun dan ingatanku terpotongDi tengah-tengahnya. Kulihat anak-anak muda itu masih berciumanOrang-orang tua menuntun anjing keliling tamanMusim gugur telah membukakan seluruh ruang dalam dirimuKembali aku menemukan isyarat-isyarat:Lukisan-lukisan pudar sepanjang dinding kotaTiang-tiang besar yang menyimpan ceruk dan gaungAdalah pergulatan waktu dengan kesunyiannyaLalu kita sama-sama terpejam dan menunggu datangnya ledakanBibirmu asin seperti darah sedang kuku-kuku tanganmu menancapDi pundakku. Musik terus mengalir dari sejumlah bar di kota ituDan kulihat cahaya menggeliatkan ular-ularnya di sanaSeorang wanita berambut merah meronta-rontaDi trotoar botol-botol pecah seperti kata-kataAku meraba-raba detik dan jam yang lambatPada tanganmu kurasakan denyut nadi ribuan pengungsiKeringat para buruh kasar sekaligus semerbak parfumBintang-bintang film. Dari ketiak serta mulutmu yang mekarKembali aku mencium kenyataan dunia ini:Alkohol keemasan memenuhi mata dan kepalamuPikiranmu tersangkut pada bentangan kawat listrikDengan rambut yang terus memanjang ke lautSeperti hantu. Di kejauhan seorang pemimpin berpidatoMonumen-monumen ratusan tahun terbakarSebuah ledakan menjadikan kita serdadu liar lagiKita menyusuri puing-puing dan kuburan baruPada malam penuh salak anjing dan ringkik kuda ituIsyarat-isyarat lain tak dapat kutolakNanah busuk meleleh dari pelipismu yang retakLalu kedua lenganmu berjatuhan ke tanahSeperti pelepah. Bunyi-bunyian aneh tak lagi terdengarHanya gemeretak mulut kita yang saling mengunyahAku terus mengikutimu dan berpegangan pada birahi rambutmuSebuah keindahan sejati yang kupahami kemudian:Awal dari kemelut dunia kita yang tak berkesudahan1992-1993
Puisi Di Atas Umbria | Acep Zamzam Noor
0 komentar Friday, December 27, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Atas UmbriaAcep Zamzam NoorRambut-rambut cahayaYang dikibarkan angin musim panasSeperti melukisi wajah langitDengan garis-garis keperakan siang hariDi udara sebuah lonceng berayun-ayunBunyinya mendekati sunyi. Seekor kuda melompatRumput-rumput tegak pada maut yang tak nampakLalu cahaya tiarap sepanjang perbukitanMetahari meletakkan sumbunya di atas batuSayur-mayur mekar dalam cahaya. Kusentuh kibaranrambutmuDan kulihat jurang di kedalaman matamu:Seorang wanita telanjang di bawah matahariDengan kaki yang menjulur ke tengah danauKukenang pantai-pantai tropika yang jauhJuga wanita-wanitanya yang hijau kekuninganSeperti mangga. Kubayangkan air segar kelapa mudaLalu aku pun telentang di bawah matahariTelanjang dalam tatapanmu yang berduri:Di sini setiap pohon membuahkan kata-kataSetiap buah adalah kebajikan sekaligus dosa besarAku tak tahu bagaimana kautanam kata-katamu di tanahDan menjelma petuah. Sementara tubuhmu yang pualamBersahutan dengan tiang-tiang beton, bentangan kawat listrikSerta jalan aspal yang hitam dan berkilat di kejauhanKulihat kereta api merayapi waktu pada jalurnya yang pastiTerowongan-terowongan muncul dari setiap penjuruSeekor kuda putihSuara gaib yang berayun-ayun di udara ituAdalah patung dewa yang pecah. Aku menanam tangankuLeherku memanjang serta pikiranku bertaburan di ladingKuperas darahku dan kusuling racunnya yang murniKemabukan adalah jalan yang menanjak di bumi:Sambil merangkak di antara botol-botol yang menjulangKudendangkan mantra-mantra suciku pada alam rayaSayur-mayur menyala dalam sentuhankuTanah keras menjadi gembur serta penuh birahiLalu sebagaimana mahluk-mahluk kiasan lainnyaKau membakarku dengan kebenaran sesaatBunga api dipancarkan payudaramu yang meledak1993
Monday, December 16, 2013
Puisi Pasar Kumbasari, Denpasar | Acep Zamzam Noor
0 komentar Monday, December 16, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPasar Kumbasari, DenpasarAcep Zamzam NoorMungkin bukan sinar bulanYang menyalakan permukaan sungaiTapi di sepanjang jalan ke arah pasarBakul-bakul ikan, daging dan sayuranSeperti mengekalkan malam. Pasar adalah gemuruhSekaligus semadi suara-suaraKulihat yang berjualan itu mulai menariKuli-kuli itu mulai menyanyiSemuanya perempuan –Dingin menyerap keringat merekaMenjadi berbotol-botol arakDi sini setiap perempuan adalah lelakiBekerja adalah sembahyang dan menariBersama mereka kupanggul bakul-bakul ituSambil menyuling keringatku sendiriMenjadi tenaga kata-kataKuminum arak bercampur dingin embunLalu kuminta sinar bulanMelemparkan selendang kuningnya padakuDi antara mereka aku menari-nari gilaMemuja sulur-sulur pohon dan tugu-tugu batuKasmaran menunggu fajar tibaUpacara demi upacara telah kulaluiSepanjang perjalananku melupakan diri sendiriBersama sayuran dan bunga-bunga sesajiDaging babi, ikan laut, kemenyan dan pakaian warna-warniAku menjadi bagian dari gemuruhnya pasarSekaligus keheningan semadi –Pelahan keringatku meneteskan kata-kataKata-kataku menjelma butiran garamMembumbui tanah dan sungaiTempat perempuan-perempuan perkasa ituMenyelesaikan tarian dan kewajibannyaSebagai manusia biasa1995
Friday, December 13, 2013
Puisi Cemara Laut Buat D. Zawawi Imron | Acep Zamzam Noor
0 komentar Friday, December 13, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCemara LautBuat D. Zawawi ImronAcep Zamzam NoorLangit semerah sagaMembayang pada pasir pantaiKetika rumpun-rumpun cemaraMenjadi pertapaDi pantai terlarangKetika bongkahan karang hitamTak lekangTapi juga tak kekalCemara menyimpan warna bulanDi rumpun-rumpunnya yang rimbunSeperti ingin menciptakan hutan lambangTapi keheningan tak lahir begitu sajaDari ombak pasangKeheningan harus dituliskanPada pasirAtau lokan kerontangPerahu-perahu telah bertiupMeninggalkan perkampungan garamMereka akan terus bertiupKe tengahMeninggalkan para pertapa yang khusyukDan bongkahan karang hitamDi tebing-tebingPantai curamPara pertapaBongkahan karang yang bersilaAdalah keheninganYang surut dan kadang meluapSeperti ombak atau waktuAkar-akarnya mengembaraJauh ke tubuh bumiMenyusuri urat darah tanahAkar-akarnyaAirmata yang terus memanjangBerliku-liku dan kembali merambat naikMengirimkan kesedihan pada batang dan daunAkar-akarnya adalah doaYang menjadi embunDilepaskan ujung-ujung daunKe udara1996
Wednesday, December 11, 2013
Puisi Di Museum Vincent Van Gogh, Amsterdam | Acep Zamzam Noor
0 komentar Wednesday, December 11, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Museum Vincent Van Gogh, AmsterdamAcep Zamzam NoorDi ranjang yang kusam kau menggeraikanRambut ilalangmu. Dingin yang setajam kelewangMengendus harum gandung tubuhmu dan mengurapiBulu-bulu halus pada inci demi inci geliatmuYang tak sekuning lukisan ituDi ranjang yang kusam kau membaringkanHarum gandummu. Ruh yang sengungun lampuMerabuki udara yang memar dan menyentuh pelanSetiap gelembung napas yang bergantunganPada langit-langit merah kamarmu.1996
Tuesday, December 10, 2013
Puisi Lagu Bulan April | Acep Zamzam Noor
0 komentar Tuesday, December 10, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLagu Bulan AprilAcep Zamzam NoorSebuah kolam adalah kekekalanDengan akar-akar bakung yang khusyukSerta bunga-bunganya yang mekar di udara sejukSerumpun gelagah dan rumputan liar di tepianPagar-pagar batang kayu dan sebuah jalan menurunYang curam. Kulihat mulut lembah itu seperti kehausanSuara burung-burung dan musik dari gesekan daun-daunMelengkapi wajah langit biru muda yang berkilauanSeperti goresan lembut cat air –Sebuah kolam dengan sekelompok angsa yang riangTapi matamu lebih sunyi dari riak air kolam mana punTanganmu masih bergayut di dahan-dahan pohon palmaDua buah pir hijau muda kini matang di dadamuSebatang sungai jernih penuh batuanNampak bergerak ke lembah yang kehausan cahayaDari bukit-bukit di atas nampan besar semesta iniKata-katamu sudah tak perlu diucapkan mulut lagiKesunyian telah menjelma huruf-huruf yang dibaca anginDikhabarkan ke seluruh penjuru dan halaman bukuDi sini setiap cemara mempunyai lilin paskahnya sendiriSedang gereja-gereja semakin merampingkan diriDengan menara-menaranya yang runcing –Dari senyumanmu sebatang sungai lain membasahi kota-kotaSeperti lagu gembala bagi domba-domba padang pasirSebuah kolam adalah kekekalan merah mudaTapi matamu lebih dalam dari seribu pengakuan dosaDi bahumu bunga-bunga bakung menjalin rambut ikalnyaBunga-bunga tulip tersenyum malu di ceruk pipimuJauh di seberang ladang-ladang gandum, sebuah mata air jernihDengan roda airnya yang terus bergerak laksana waktuNampak mengalir ke dalam matamu yang tak beriak ituSemuanya, seperti cahaya langit musim semi yang megahKolam anggur tak habis-habisnya direguk bumi dahaga –Rambutmu lebih halus dari puisi atau lukisan mana punSeperti anugerah bagi hamparan negeri yang penuh ciuman ini1992
Biografi Acep Zamzam Noor
0 komentar Tuesday, December 10, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Acep Zamzam NoorAcep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996). Mengikuti pameran dan seminar seni rupa di Guangxi Normal University, Guilin, dan Guangxi Art Institute, Nanning, Cina (2009).Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadiNominator Hadiah Rancage 1994.Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi penting seperti Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994), Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995), Takbir Para Penyair (Festival Istiqlal, 1995), Negeri Bayang-bayang (Festival Surabaya, 1996), Dari Negeri Poci III (Tiara, 1996), Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), Utan Kayu: Tafsir Dalam Permaianan (Kalam, 1998), Bakti Kemanusiaan (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2000), Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) dan lain-lain.Sejumlah puisinya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), Aseano (Manila, 1995), In Words In Colours (Jakarta, 1995), A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), Journal of Southeast Asia Literature Tenggara (Kuala Lumpur, 1996), diterjemahkan Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), Poetry And Sincerity (Jakarta, 2006), Asia Literary Review (Hongkong, 2006) serta The S.E.A Write Anthology of Asean Short Stories and Poems (Bangkok, 2008). Juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan termuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan termuat dalam Orientierungen (Bonn, 2008), diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan termuat dalam Antologia de Poeticas (Jakarta, 2008). Belakangan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang dan Arab.Puisi-puisi Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue (Pustaka Jaya, 2001).Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.Tahun 1995 mengikuti Scond ASEAN Writes Conference di Manila, Filipina, mengikuti Festival Puisi Indonesia-Belanda dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Tahun 1997 mengikuti Festival Seni Ipoh II, di Ipoh, Malaysia. Tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten Overzee di Jakarta, mengikuti Kuala Lumpur Southeast Asian Writers Meet di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Makassar. Tahun 2004 mengikuti Winternachten Poetry International Festival di Den Haag, Belanda. Tahun 2006 mengikuti Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang, mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2006 di Bali. Tahun 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale di Magelang, menjadi mentor pada Bengkel Puisi Majlis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Samarinda. Tahun 2008 mengikuti Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, mengikuti Jakarta International Literary Festival di Jakarta, mengikuti Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.Kini Acep tinggal di kampungnya, Cipasung, lima belas kilometer sebelah barat kota Tasikmalaya. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan sambil terus menulis dan melukis. Sekali-kali memenuhi undangan ke berbagai daerah untuk membaca puisi, diskusi, seminar, workshop, menjadi juri atau sekedar jalan-jalan. Jalan-jalan merupakan hobinya yang paling utama, di samping mengoleksi batu akik dan kain batik.
Tuesday, April 5, 2011
Puisi Pernyataan Cinta | Acep Zam-zam Noor
0 komentar Tuesday, April 05, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPERNYATAAN CINTA
Puisi Acep Zam-zam Noor
Kau yang diselubungi asap
Kau yang mengendap seperti candu
Kau yang bersenandung dari balik penjara
Tanganmu buntung karena menyentuh matahari
Sedang kakimu lumpuh
Aku mencintaimu
Dengan lambung yang perih
Pikiran yang dikacaukan harga susu
Pemogokan serta kerusuhan yang meletus
Di mana-mana. Darah dan airmataku tumpah
Seperti timah panas yang dikucurkan ke telingan
Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu
Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin
Aku mereguk bensin dan menyemburkannya ke udara
Lalu bersama mereka akumelempari toko
Membakar pasar, gudang dan pabrik
Sebagai pernyataan cinta
Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa kartu kredit
Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan
Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi
Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi
Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya
Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu
Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya
Menentang penguasa atau memindahkan gunung berapi
ke tengah-tengah kota
Aku berjalan dengan membawa kayu di punggungku
Seperti kereta yang menyeret gerbong-gerbong kesedihan
Melintasi stasiun-stasiun yang sudah berganti nama
Kudengar bunyi rel yang pedih tengah menciptakan lagu
Gumpalan mendung meloloskan diri dari mataku
Menjadi halilintar yang meledakkan kemarahan
Pada tembok dan spanduk. Aku mencintaimu
Dengan mengerat lengan dan melubangi paru-paru
Aku mencintaimu dengan menghisap knalpot
Dan menelan butiran peluru
Wahai kau yang diselubungi asap
Wahai kau yang mengendap seperti candu
Wahai kau yang terus bersenandung meskipun sakit dan miskin
Wahai kau yang merindukan datangnya seorang pemimpin
Tunggulah aku yang akan segra menjemputmu
Dengan sebotol minuman keras
1998
Puisi Bertema Kupu-Kupu | Acep Zam-zam Noor
0 komentar Tuesday, April 05, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKupu-kupu
Acep Zam-zam Noor
Aku tidur dalam pelukan bunga layu
Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang
Ke ranjangmu. Sungai-sungai
Air mata yang mengering dalam doa-doaku
Aku menulis semua yang dibidikkan angin
Membaca semua yang dituliskan semilirnya padaku
Bercakap dengan udara yang dingin:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku
Lautan itu mengandung bulan
Kaulah yang memompa perut gelombangnya!
Ikan-ikan yang minum dari matamu
Burung-burung mabuk dalam kejaran pandanganmu
Kembali pada debu. Kupu-kupu
Merontokkan lembar demi lembar rambutku
Subscribe to:
Posts (Atom)

