Showing posts with label Acep Zam zam Noor. Show all posts
Showing posts with label Acep Zam zam Noor. Show all posts

Wednesday, February 12, 2014

Puisi Sacre Coeur | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Sacre Coeur
Acep Zamzam Noor

Lewat pasar yang riuh
Lewat deretan panjang kaki lima
Lewat tangga yang disandarkan
Ke bukit. Aku merasa tak akan sampai
Ke puncak menara Sacre Coeur

Aku pun diam
Aku pun terpaku
Menghitung detak waktu
Yang disirami butir-butir salju
Di lereng bukit itu

Pada ranting-ranting pohon linden
Kulukiskan raut wajahmu
Yang runcing namun bertenaga
Lalu kusimpan sebuah nama
Di bawah judul sajak
Tentang cinta
Yang belum selesai kutuliskan

Angin mendengung dan burung-burung
Tak bisa berlindung
Dari dingin. Menara menjulang
Dan udara yang basah
Terasa menekan

Seperti ada yang tersembunyi
Dari balik mantel bulumu
Yang tebal. Salju berhamburan
Dari rambutmu yang ikal

Harum restoran
Tercium dari napasmu
Suaramu bergelombang di udara
Kakimu menginjak awan
Yang berkilauan dan penuh pahatan

Aku merasa tak akan sampai
Ke puncak menara Sacre Coeur

1997

Monday, February 10, 2014

Puisi Fontana Maggiore | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Fontana Maggiore
Acep Zamzam Noor

Tiba-tiba tubuhmu penuh hujan
Seperti patung di tengah air mancur itu
Dan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daun
Aku ingat sebatang lilin di tengah laut malam hari
Di sini pun cahaya memperlebar wilayah kelamnya
Hingga kita bersudutan dengan tajam
Dalam keremangan yang mengeras

Kebisuan menjadi bahasa
Antara undakan-undakan dan detik-detik
Yang menggenang. Bunyi gitar terdengar nyaring
Tapi segera dipatahkan angin yang runcing
Wajah pengamen itu menjadi pucat dan keperakan
Di tengah deretan hari-hari yang menyusut
Dan mengembun pada patung-patung

Di dinding kasar nampak bayang-bayangmu
Yang bergerak-gerak tanpa lakon
Dan orang-orang masih berjalan dengan anjing
Atau anak-anak mereka yang menggigil
Kulihat lehermu menghijau seperti tembaga
Tapi segera mulut cahaya menyerapnya
Ke dalam lampu-lampu

Tubuhmu menyusut dan menjadi percikan air
Kekekalan memenuhi seluruh kolam
Kunang-kunang terbang, menjauh dan menghilang
Adalah pikiranmu yang masih terpatah-patah –
Di taman-taman lain yang lebih remang
Kulihat jurang-jurang yang digali cahaya
Seluruh hujan diterjunkan ke sana

1992

Friday, January 10, 2014

Puisi Via Enrico Dal Pozzo, Perugia | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Via Enrico Dal Pozzo, Perugia
Acep Zamzam Noor

Gentong musim dingin mengguyurkan anggur
Untuk kita reguk lagi malam ini
Kau tahu, anggur selalu membuat kita mabuk
Tapi cahaya bulan yang menerobos ketebalan kabut
Seperti ingin menjelaskan betapa dingin di luar
Jika harus kita tempuh tanpa anggur dan mantel tebal

Ada banyak malam yang telah menyeret kita
Menuruni lereng-lereng basah dan rahasia
Kita membangun jembatan dengan seratus ciuman
Yang berulang. Tapi runtuh juga
Lalu kita menggali perigi untuk kenangan
Tapi seperti sungai, airmata tak bisa disimpan

Kau tahu, cahaya bulan seperti ingin menjelaskan
Bahwa antara kedua alis matamu yang licin
Ada jurang yang semakin menganga
Mungkin jembatan itu tak akan pernah tercipta
Dari bahasa. Tapi guyuran anggur musim dingin
Membuat kita tak peduli lagi pada kata-kata

1992

Sunday, January 5, 2014

Puisi Rue De Rivoli | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Rue De Rivoli
Acep Zamzam Noor

Kita melaju dalam rintik gerimis
Yang menghapus semua alamat
Dari ingatanku. Udara seperti berombak
Sungai memantulkan gema
Napasmu gemetar
Di ranting-ranting poplar

Jembatan itu mengangakan rahang
Menelan musim
Yang meluncurkan perahu
Dalam cuaca dingin. Senja menjadi ajaib
Di tengah kebisuanmu
Dan redupnya angin

Ke sudut-sudut kafe
Tak ada yang perlu dilabuhkan
Kecuali jejak matahari. Sementara kau dan aku
Mungkin tak akan merubah arah sunyi
Dengan  mencari kehangatan
Pada gelas atau ciuman

1997

Friday, December 27, 2013

Puisi Menjumpaimu | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Menjumpaimu
Acep Zamzam Noor

Menjumpaimu di sebuah kota
Seperti menemui kenyataan dunia ini
Kota itu tak bernama, gedung-gedungnya sangat tua
Dan musik menggenang sepanjang jalan-jalannya yang sunyi
Aku tersentak dan menemukan isyarat-isyarat:
Wajahmu memenuhi setiap celah dan sudut kelam
Tapi daun-daun rontok dan senja menguning seketika
Sebuah lagu yang kukenal mengalun dan ingatanku terpotong
Di tengah-tengahnya. Kulihat anak-anak muda itu masih berciuman
Orang-orang tua menuntun anjing keliling taman
Musim gugur telah membukakan seluruh ruang dalam dirimu

Kembali aku menemukan isyarat-isyarat:
Lukisan-lukisan pudar sepanjang dinding kota
Tiang-tiang besar yang menyimpan ceruk dan gaung
Adalah pergulatan waktu dengan kesunyiannya
Lalu kita sama-sama terpejam dan menunggu datangnya ledakan
Bibirmu asin seperti darah sedang kuku-kuku tanganmu menancap
Di pundakku. Musik terus mengalir dari sejumlah bar di kota itu
Dan kulihat cahaya menggeliatkan ular-ularnya di sana
Seorang wanita berambut merah meronta-ronta
Di trotoar botol-botol pecah seperti kata-kata

Aku meraba-raba detik dan jam yang lambat
Pada tanganmu kurasakan denyut nadi ribuan pengungsi
Keringat para buruh kasar sekaligus semerbak parfum
Bintang-bintang film. Dari ketiak serta mulutmu yang mekar
Kembali aku mencium kenyataan dunia ini:
Alkohol keemasan memenuhi mata dan kepalamu
Pikiranmu tersangkut pada bentangan kawat listrik
Dengan rambut yang terus memanjang ke laut
Seperti hantu. Di kejauhan seorang pemimpin berpidato

Monumen-monumen ratusan tahun terbakar
Sebuah ledakan menjadikan kita serdadu liar lagi
Kita menyusuri puing-puing dan kuburan baru
Pada malam penuh salak anjing dan ringkik kuda itu
Isyarat-isyarat lain tak dapat kutolak
Nanah busuk meleleh dari pelipismu yang retak
Lalu kedua lenganmu berjatuhan ke tanah
Seperti pelepah. Bunyi-bunyian aneh tak lagi terdengar
Hanya gemeretak mulut kita yang saling mengunyah
Aku terus mengikutimu dan berpegangan pada birahi rambutmu
Sebuah keindahan sejati yang kupahami kemudian:
Awal dari kemelut dunia kita yang tak berkesudahan

1992-1993

Puisi Di Atas Umbria | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Di Atas Umbria
Acep Zamzam Noor

Rambut-rambut cahaya
Yang dikibarkan angin musim panas
Seperti melukisi wajah langit
Dengan garis-garis keperakan siang hari
Di udara sebuah lonceng berayun-ayun
Bunyinya mendekati sunyi. Seekor kuda melompat
Rumput-rumput tegak pada maut yang tak nampak
Lalu cahaya tiarap sepanjang perbukitan
Metahari meletakkan sumbunya di atas batu
Sayur-mayur mekar dalam cahaya. Kusentuh kibaran
                                                            rambutmu
Dan kulihat jurang di kedalaman matamu:
Seorang wanita telanjang di bawah matahari
Dengan kaki yang menjulur ke tengah danau

Kukenang pantai-pantai tropika yang jauh
Juga wanita-wanitanya yang hijau kekuningan
Seperti mangga. Kubayangkan air segar kelapa muda
Lalu aku pun telentang di bawah matahari
Telanjang dalam tatapanmu yang berduri:
Di sini setiap pohon membuahkan kata-kata
Setiap buah adalah kebajikan sekaligus dosa besar
Aku tak tahu bagaimana kautanam kata-katamu di tanah
Dan menjelma petuah. Sementara tubuhmu yang pualam
Bersahutan dengan tiang-tiang beton, bentangan kawat listrik
Serta jalan aspal yang hitam dan berkilat di kejauhan
Kulihat kereta api merayapi waktu pada jalurnya yang pasti
Terowongan-terowongan muncul dari setiap penjuru

Seekor kuda putih
Suara gaib yang berayun-ayun di udara itu
Adalah patung dewa yang pecah. Aku menanam tanganku
Leherku memanjang serta pikiranku bertaburan di lading
Kuperas darahku dan kusuling racunnya yang murni
Kemabukan adalah jalan yang menanjak di bumi:
Sambil merangkak di antara botol-botol yang menjulang
Kudendangkan mantra-mantra suciku pada alam raya
Sayur-mayur menyala dalam sentuhanku
Tanah keras menjadi gembur serta penuh birahi
Lalu sebagaimana mahluk-mahluk kiasan lainnya
Kau membakarku dengan kebenaran sesaat
Bunga api dipancarkan payudaramu yang meledak

1993

Monday, December 16, 2013

Puisi Pasar Kumbasari, Denpasar | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Pasar Kumbasari, Denpasar
Acep Zamzam Noor

Mungkin bukan sinar bulan
Yang menyalakan permukaan sungai
Tapi di sepanjang jalan ke arah pasar
Bakul-bakul ikan, daging dan sayuran
Seperti mengekalkan malam. Pasar adalah gemuruh
Sekaligus semadi suara-suara
Kulihat yang berjualan itu mulai menari
Kuli-kuli itu mulai menyanyi
Semuanya perempuan –
Dingin menyerap keringat mereka
Menjadi berbotol-botol arak

Di sini setiap perempuan adalah lelaki
Bekerja adalah sembahyang dan menari
Bersama mereka kupanggul bakul-bakul itu
Sambil menyuling keringatku sendiri
Menjadi tenaga kata-kata
Kuminum arak bercampur dingin embun
Lalu kuminta sinar bulan
Melemparkan selendang kuningnya padaku
Di antara mereka aku menari-nari gila
Memuja sulur-sulur pohon dan tugu-tugu batu
Kasmaran menunggu fajar tiba

Upacara demi upacara telah kulalui
Sepanjang perjalananku melupakan diri sendiri
Bersama sayuran dan bunga-bunga sesaji
Daging babi, ikan laut, kemenyan dan pakaian warna-warni
Aku menjadi bagian dari gemuruhnya pasar
Sekaligus keheningan semadi –
Pelahan keringatku meneteskan kata-kata
Kata-kataku menjelma butiran garam
Membumbui tanah dan sungai
Tempat perempuan-perempuan perkasa itu
Menyelesaikan tarian dan kewajibannya
Sebagai manusia biasa

1995

Friday, December 13, 2013

Puisi Cemara Laut Buat D. Zawawi Imron | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Cemara Laut
Buat D. Zawawi Imron
Acep Zamzam Noor

Langit semerah saga
Membayang pada pasir pantai
Ketika rumpun-rumpun cemara
Menjadi pertapa
Di pantai terlarang
Ketika bongkahan karang hitam
Tak lekang
Tapi juga tak kekal

Cemara menyimpan warna bulan
Di rumpun-rumpunnya yang rimbun
Seperti ingin menciptakan hutan lambang
Tapi keheningan tak lahir begitu saja
Dari ombak pasang
Keheningan harus dituliskan
Pada pasir
Atau lokan kerontang

Perahu-perahu telah bertiup
Meninggalkan perkampungan garam
Mereka akan terus bertiup
Ke tengah
Meninggalkan para pertapa yang khusyuk
Dan bongkahan karang hitam
Di tebing-tebing
Pantai curam

Para pertapa
Bongkahan karang yang bersila
Adalah keheningan
Yang surut dan kadang meluap
Seperti ombak atau waktu
Akar-akarnya mengembara
Jauh ke tubuh bumi
Menyusuri urat darah tanah

Akar-akarnya
Airmata yang terus memanjang
Berliku-liku dan kembali merambat naik
Mengirimkan kesedihan pada batang dan daun
Akar-akarnya adalah doa
Yang menjadi embun
Dilepaskan ujung-ujung daun
Ke udara

1996

Wednesday, December 11, 2013

Puisi Di Museum Vincent Van Gogh, Amsterdam | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Di Museum Vincent Van Gogh, Amsterdam
Acep Zamzam Noor

Di ranjang yang kusam kau menggeraikan
Rambut ilalangmu. Dingin yang setajam kelewang
Mengendus harum gandung tubuhmu dan mengurapi
Bulu-bulu halus pada inci demi inci geliatmu
Yang tak sekuning lukisan itu

Di ranjang yang kusam kau membaringkan
Harum gandummu. Ruh yang sengungun lampu
Merabuki udara yang memar dan menyentuh pelan
Setiap gelembung napas yang bergantungan
Pada langit-langit merah kamarmu.

1996

Tuesday, December 10, 2013

Puisi Lagu Bulan April | Acep Zamzam Noor

0 komentar

Lagu Bulan April
Acep Zamzam Noor

Sebuah kolam adalah kekekalan
Dengan akar-akar bakung yang khusyuk
Serta bunga-bunganya yang mekar di udara sejuk
Serumpun gelagah dan rumputan liar di tepian
Pagar-pagar batang kayu dan sebuah jalan menurun
Yang curam. Kulihat mulut lembah itu seperti kehausan
Suara burung-burung dan musik dari gesekan daun-daun
Melengkapi wajah langit biru muda yang berkilauan
Seperti goresan lembut cat air –
Sebuah kolam dengan sekelompok angsa yang riang
Tapi matamu lebih sunyi dari riak air kolam mana pun

Tanganmu masih bergayut di dahan-dahan pohon palma
Dua buah pir hijau muda kini matang di dadamu
Sebatang sungai jernih penuh batuan
Nampak bergerak ke lembah yang kehausan cahaya
Dari bukit-bukit di atas nampan besar semesta ini
Kata-katamu sudah tak perlu diucapkan mulut lagi
Kesunyian telah menjelma huruf-huruf yang dibaca angin
Dikhabarkan ke seluruh penjuru dan halaman buku
Di sini setiap cemara mempunyai lilin paskahnya sendiri
Sedang gereja-gereja semakin merampingkan diri
Dengan menara-menaranya yang runcing –
Dari senyumanmu sebatang sungai lain membasahi kota-kota
Seperti lagu gembala bagi domba-domba padang pasir

Sebuah kolam adalah kekekalan merah muda
Tapi matamu lebih dalam dari seribu pengakuan dosa
Di bahumu bunga-bunga bakung menjalin rambut ikalnya
Bunga-bunga tulip tersenyum malu di ceruk pipimu
Jauh di seberang ladang-ladang gandum, sebuah mata air jernih
Dengan roda airnya yang terus bergerak laksana waktu
Nampak mengalir ke dalam matamu yang tak beriak itu
Semuanya, seperti cahaya langit musim semi yang megah
Kolam anggur tak habis-habisnya direguk bumi dahaga –
Rambutmu lebih halus dari puisi atau lukisan mana pun
Seperti anugerah bagi hamparan negeri yang penuh ciuman ini

1992

Biografi Acep Zamzam Noor

0 komentar

Biografi Acep Zamzam Noor

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996). Mengikuti pameran dan seminar seni rupa di Guangxi Normal University, Guilin, dan Guangxi Art Institute, Nanning, Cina (2009).

Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi
Nominator Hadiah Rancage 1994.

Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi penting seperti Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994), Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995), Takbir Para Penyair (Festival Istiqlal, 1995), Negeri Bayang-bayang (Festival Surabaya, 1996), Dari Negeri Poci III (Tiara, 1996), Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), Utan Kayu: Tafsir Dalam Permaianan (Kalam, 1998), Bakti Kemanusiaan (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2000), Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Nafas Gunung (Dewan Kesenian  Jakarta, 2004) dan lain-lain.

Sejumlah puisinya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), Aseano (Manila, 1995), In Words In Colours (Jakarta, 1995), A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), Journal of Southeast Asia Literature Tenggara (Kuala Lumpur, 1996), diterjemahkan Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), Poetry And Sincerity (Jakarta, 2006), Asia Literary Review (Hongkong, 2006) serta The S.E.A Write Anthology of Asean Short Stories and Poems (Bangkok, 2008). Juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan termuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan termuat dalam Orientierungen (Bonn, 2008), diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan termuat dalam Antologia de Poeticas (Jakarta, 2008). Belakangan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang dan Arab.

Puisi-puisi Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue (Pustaka Jaya, 2001).

Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.

Tahun 1995 mengikuti Scond ASEAN Writes Conference di Manila, Filipina, mengikuti Festival Puisi Indonesia-Belanda dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Tahun 1997 mengikuti Festival Seni Ipoh II, di Ipoh, Malaysia. Tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten Overzee di Jakarta, mengikuti Kuala Lumpur Southeast Asian Writers Meet di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Makassar. Tahun 2004 mengikuti Winternachten Poetry International Festival di Den Haag, Belanda. Tahun 2006 mengikuti Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang, mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2006 di Bali. Tahun 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale di Magelang, menjadi mentor pada Bengkel Puisi Majlis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Samarinda. Tahun 2008 mengikuti Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, mengikuti Jakarta International Literary Festival di Jakarta, mengikuti Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Kini Acep tinggal di kampungnya, Cipasung, lima belas kilometer sebelah barat kota Tasikmalaya. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan sambil terus menulis dan melukis. Sekali-kali memenuhi undangan ke berbagai daerah untuk membaca puisi, diskusi, seminar, workshop, menjadi juri atau sekedar jalan-jalan. Jalan-jalan merupakan hobinya yang paling utama, di samping mengoleksi batu akik dan kain batik.

Tuesday, April 5, 2011

Puisi Pernyataan Cinta | Acep Zam-zam Noor

0 komentar

PERNYATAAN CINTA
Puisi Acep Zam-zam Noor

Kau yang diselubungi asap
Kau yang mengendap seperti candu
Kau yang bersenandung dari balik penjara
Tanganmu buntung karena menyentuh matahari
Sedang kakimu lumpuh
Aku mencintaimu

Dengan lambung yang perih
Pikiran yang dikacaukan harga susu
Pemogokan serta kerusuhan yang meletus
Di mana-mana. Darah dan airmataku tumpah
Seperti timah panas yang dikucurkan ke telingan
Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu
Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin
Aku mereguk bensin dan menyemburkannya ke udara
Lalu bersama mereka akumelempari toko
Membakar pasar, gudang dan pabrik
Sebagai pernyataan cinta

Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa kartu kredit
Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan
Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi
Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi
Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya
Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu
Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya
Menentang penguasa atau memindahkan gunung berapi
ke tengah-tengah kota

Aku berjalan dengan membawa kayu di punggungku
Seperti kereta yang menyeret gerbong-gerbong kesedihan
Melintasi stasiun-stasiun yang sudah berganti nama
Kudengar bunyi rel yang pedih tengah menciptakan lagu
Gumpalan mendung meloloskan diri dari mataku
Menjadi halilintar yang meledakkan kemarahan
Pada tembok dan spanduk. Aku mencintaimu
Dengan mengerat lengan dan melubangi paru-paru
Aku mencintaimu dengan menghisap knalpot
Dan menelan butiran peluru

Wahai kau yang diselubungi asap
Wahai kau yang mengendap seperti candu
Wahai kau yang terus bersenandung meskipun sakit dan miskin
Wahai kau yang merindukan datangnya seorang pemimpin
Tunggulah aku yang akan segra menjemputmu
Dengan sebotol minuman keras

1998

Puisi Bertema Kupu-Kupu | Acep Zam-zam Noor

0 komentar

Kupu-kupu
Acep Zam-zam Noor

Aku tidur dalam pelukan bunga layu
Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang
Ke ranjangmu. Sungai-sungai
Air mata yang mengering dalam doa-doaku
Aku menulis semua yang dibidikkan angin
Membaca semua yang dituliskan semilirnya padaku
Bercakap dengan udara yang dingin:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku
Lautan itu mengandung bulan
Kaulah yang memompa perut gelombangnya!
Ikan-ikan yang minum dari matamu
Burung-burung mabuk dalam kejaran pandanganmu
Kembali pada debu. Kupu-kupu
Merontokkan lembar demi lembar rambutku

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |