Showing posts with label Kuntowijoyo. Show all posts
Showing posts with label Kuntowijoyo. Show all posts

Monday, May 10, 2010

Contoh Puisi Alam | ALAM SEDANG BERDANDAN

0 komentar

ALAM SEDANG BERDANDAN
Kuntowijoyo

Tangan yang tak nampak
Menjentikkan kasih ke pohonan
Semi di cabang-cabang
Adapun di rumputan
Seribu warna jambon
Memberikan madunya
Pada lebah dan kupu-kupu

Wahai yang menghias diri di air sungai
Simpanlah senja di bawah batu-batu
Angsa putih ingin mencelupkan bulu
Menuai ikan-ikanmu

Perawan mencuci mukanya
Masih tertinggal wangi kulitnya di permukaan
Ketika burung mandi dan menyanyi

Terdengar bagai engkau bangkit kembali
Tangan yang tak nampak
Mendandani.

PERJALANAN KE LANGIT

0 komentar

PERJALANAN KE LANGIT
Kuntowijoyo

Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

MALAM | Puisi Puisi Malam

0 komentar

MALAM
Kuntowijoyo

Bayang-bayang bumi
Memalingkan tubuh
Memejam lelah
Meletakkan beban ke tanah

Maka malam pun turun
Memaksa kucing putih
Mengeong di pojok rumah
Memanggil pungguk
Yang sanggup mengundang bulan

Karena hari sedang istirahat
Di ladang angin mengendap
Tidur bersama ibu bumi
Dari kasih mereka
Ilalang berisik
Ditingkah suara jangkrik
Di sungai, air
Pelan-pelan
Melanda pasir

Justru pada tengah malam
Rahasia diungkapkan.

Puisi Kelahiran | Puisi Tentang Kelahiran

0 komentar

KELAHIRAN
Kuntowijoyo

Setelah benih disemaikan
Di pagi pupus menggeliat
Bayi meninggalkan rahim
Memaklumkan kehadiran

Cempaka di jambangan
Menyambut bidadari
Turun memandikan
Bahkan hari menanti
Sampai selesai ia mengeluskan jari
Merestu kelahiran
Membungkus dengan sari
Mendendangkan kehidupan

Para perempuan
Berdandan serba kuning
Pucuk mawar di tangan
Duduk bersila
Menggumam doa-doa

Hari yang semalam dikuburkan
sudah tiba kembali

Selalu kelahiran baru.

Puisi Lelaki | Puisi Tentang Lelaki

0 komentar

Lelaki
Kuntowijoyo

Ketika kentong dipukul
bintang-bintang berebut
menenun pagi
jadi samudra

Di laut
naga memukul ombak
perahu tergoyang
bagai mainan
Dua ribu tangan menjinakkan air
menahan gelombang
Halilintar di kepala
bagai isyarat
memaksa laut
menyerahkan diri
untuk dijamah
Pelaut sudah turun
jaring-jaring perkasa
menangkap duyung
yang menggoda cinta
Para lelaki
berdiri di pinggir kapal
mengagumi wajahnya
menarik napas
Lelaki:
yang hanya bercinta di malam hari

Tuesday, April 27, 2010

Puisi Yang Terasing | Kuntowijoyo

0 komentar

YANG TERASING
Kuntowijoyo

Ada dinding-dinding di gedung
membagi ruang jadi dua:
engkau dan semesta
Kamar-kamar raksasa
menyimpan hidup
dalam kotak-kotak
Engkau terkapar di sana
terpaku di kursi
tangan ke lantai
dilingkar tembok baja
yang membungkus napasmu

Sedang di luar
hari berjalan sebagai biasa
lewat lorong luas
yang indah hiasannya
mengirim berkas matahari ke kamarmu
memancing duka.

SUASANA (2)

0 komentar

Seekor mainan kijang
duduk di atas kursi
hari itu
sudah dijanjikan
sebuah tamasa

Sedang bocah lelaki
diajar ibunya
mengucap selamat datang
ketika Bapa pulang

Diam-diam
mawar kembang di halaman
rumput
mencat mukanya
hijau dan cantik

Sebentar, waktu
Bapa kembali
pintu terbuka
vas di meja
mekar merah warna
selapis taplak sulam sutera
melambai tepinya:
Senyum di mana-mana.

MENARA

0 komentar

MENARA
Kuntowijoyo

angin selatan
mendaki pucuk menara
meliukkan puncaknya
dua meter dari tanah

orang berkerumun
dengan mata silau
mengagumi kubah
alangkah indahnya
sungguhkah ini terjadi

dua puluh jari meraba
dua puluh ribu jari meraba
sebenarnya,sebenarnya

beginilah
kalau sudah tiba waktunya
menara pun
merendahkan diri
mencium tanganmu.

Puisi Suasana | Puisi Tentang Suasana

0 komentar

SUASANA (1)
Kuntowijoyo

Yang serba kaca
sudah ditanam di kamar
cangkir dengan kopi di dalam
mengawasi pagi
membiarkan uap menyedap kamar

Bapa sedang memandikan bocah
terdengar air berkecibak
Ibu menyiapkan rahmat pagi
memerintah burung di luar
untuk menyanyi
dan angin pagi
melompat jendela
mendandani pipinya

Ingatlah, Ibu menyediakan
kopi dan pipi - untuk dicium
ketika bapa pergi
lunak kulitnya terasa
bagai tangan halus
menghapus sisa duka

Pagi semerbak oleh
wangi tubuhnya
mengantar bapa pergi bekerja.

1974

Contoh Puisi Lama | SANG UTUSAN

0 komentar

SANG UTUSAN
Kuntowijoyo

Dikabarkan
pada tanggal satu bulan Muharam
akan tiba Sang Utusan
dalam perjalanan kembali
menjenguk warganya

Mereka keluar dari rumah-rumah
berdiri di taman
menantikan
Bunga-bunga mawar di tangan
nyanyi kudus
dan detak-detak
harapan

Tidak.
la tidak mengikuti angin utara
ia lewat menurut ilhamnya.
Pulang, ia akan mengetuk pintumu.

Mereka saling memandang
barangkali itu benar
lalu kembali ke rumah
menaburkan mawar di ambang
menyimpan nyanyian

Malam tidak tidur
untuk di pagi hari
mereka temukan
jejak Sang Utusan
di halaman.

sajak sajak 1974 ISYARAT

HARI KE n

0 komentar

HARI KE n
Kuntowijoyo

Hari ke n dari Adam dilahirkan
mega putih menyingkir ke tepi
langit terbuka
sederet burung undan
terbang di garis cakrawala

Tidak habisnya engkau memuji
hari itu di hutan
serigala mencumbu kijang
yang berubah jadi kencana
engkau duduk di tepi telaga
mengaca
bahkan engkau heran, mengapa
bibirmu tersenyum.

PINA

0 komentar

PINA
Kuntowijoyo

Di atas pohon pina
surya
mempersembahkan sinarnya
pada semesta

Seseorang tertidur
sangat lelap
di bawahnya
tidak tahu
bahwa Waktu sudah berjalan
sampai di tikungan
dan berhenti:
Sebagai ada yang tertinggal

Seseorang yang dikasih
sedang menikmati istirahat
sangat sayang membangunkan.

Puisi Tentang Pemandangan | PEMANDANGAN SENJA

0 komentar

PEMANDANGAN SENJA
Kuntowijoyo

Dua ekor ikan
Menutup mata
Mereka lihat tanda
Air berhenti mengalir
Maka gugurlah kepercayaan
Perempuan menangis di jendela
Menghentikan pejalan
Lelaki tidak juga datang
Merpati di pucuk atap
Kesal menunggu senja
Menahan dingin
Mengharapkan bintang turun menyapa
Jauh di langit
Kelompok pipit mencari pohonan
Adakah masih tersedia daunan?
Mereka hanya berputar-putar.

Terasa juga malam ini
Lelaki tidak akan pulang
Barangkali sore harus dibatalkan
Tidak ada lagi:
Merpati harus tidur di awan
Pohonan sudah ditebang
Tidakkah kaudengar tidak ada lagi peradaban?


PADA HARI YANG LAIN

0 komentar

PADA HARI YANG LAIN
Kuntowijoyo

Pada hari yang lain
di angkasa
seribu gagak raksasa
menyerbu matahari
menggugurkan batu-batu
terbang menutup ruang

Malaikat langit ketujuh
turun menghalau perusuh
menghunus pedang guntur
berkilat-kilat
darah mengucur hujan
langit amis kemerahan

Engkau di sini
di kebun semangka pinggir desa
bersama lima bidadari
mengajarmu menyanyi
dan merangkai puisi.

Puisi Tentang PEPOHONAN | Kuntowijoyo

0 komentar

PEPOHONAN
Kuntowijoyo

Sebagai layaknya pepohonan
menampung kenangan
dunia yang tergantung di awan
sudah sampai di simpang

Ada kubu terbungkus daunan
mengeluh pelan
memanjakan impian
Ayolah kubur dukamu di rumputan
senja sudah mendekat
malam berjalan merayap
engkau tentu mengharap bulan

Dalam pepohonan
yang berbuah rindu
aku mendengar
sesuatu yang tak kutahu
Namun aku suka padamu.


sajak sajak 1974 ISYARAT

ENGKAU, SUKMA

0 komentar

ENGKAU, SUKMA
Kuntowijoyo

Sukmamu bangkit
Bagai bianglala
Berdiri
Di cakrawala
Merenda siang dalam impian
Gemerlap warna-warni benang sutra.

Badai tidak datang
Angin pulang ke pangkalan
Istirahat panjang.

Langit menyerah padamu
Menggagalkan lingkaran
Surya kabur kembali ke timur.

Sepi.
Hanya napasmu yang tenang
Terdengar bagai nyanyian.

MOBIL | Puisi Berjudul Mobil

0 komentar

MOBIL
Kuntowijoyo

Mobil-mobil sudah berangkat
pergi ke tengah kota
meninggalkan gas dan debu
terdengar mereka tertawa
karavan yang sempurna
Di pusat kota
di muara yang deras airnya
mereka labuh waktu

Aku menutup mata
tidak karena debu-debu
aku ingin melihat rumahku
dalam sunyi di tengah rimba kunang-kunang
Alangkah jelasnya, Tuhan, alangkah jelasnya.


PABRIK | Puisi Bertema Pabrik

0 komentar

PABRIK
Kuntowijoyo

Di sini dilahirkan raksasa
bertulang besi bersaraf baja
tidak perlu nyanyi
dan ninabobo bidadari
Berjalan sedetik sesudah turun dari kandungan
melambaikan tangan
Aduh, jari-jarinya gemerlap bagai halilintar
Laki-laki dan perempuan
datang menghormat
ia pun mengulurkan tangan
untuk dicium.

Sesungguhnya ia dilahirkan dari rahim bumi
oleh tangan lelaki
Sesungguhnya ia dicipta dari tanah
untuk membantu ayah
menggembala kambing dan menyabit rumputan.
Sayang, mereka sangat memanjakannya
hingga raksasa itu jadi anak nakal
mengganggu ketenteraman tidur.

Awaslah, jangan lagi engkau melahirkan
anak-anak yang bakal jadi pembunuhmu.

MUSIM PANEN | Puisi Tentang Musim Panen

0 komentar

MUSIM PANEN
Kuntowijoyo

Setelah semusim
tangan-tangan sibuk
memotong pohonan
di kampung halaman
pak tani
mengundang anak-anaknya
memanen kolam
sudah waktu ikan dinaikkan

Segunduk matahari
menyingkirkan sepi
dari danau
mendorong sampan
berlayar dua-dua

Di bukit
batu sudah dipecah
sekejap saja, bagai hanya main-main
rumah-rumah berdiri
melindungi perempuan
melahirkan bayi

Hari itu derita dihapuskan
Keluarlah lelaki-perempuan
memainkan udara dengan selendang
menyulap siang dalam impian
warna-warni dan wewangi

Anak lelaki-perempuan
menabuh genderang
menyebar kenanga
memaksa matahari
berhenti di balik daunan

Malaikat dan bidadari
menonton tarian
senyum mereka
menyentuh pohonan

Semesta berpesta
di tengah hari
pada musim panen abadi.


Puisi Tema Pejalan | Kuntowijoyo

0 komentar

PEJALAN
Kuntowijoyo

Pejalan sudah kembali
mukanya pucat pasi
terbungkuk
di bawah kain lusuh
tak ada lagi cahya matanya
bergegas pulang
ke rumah yang tak jelas di mana
berhasrat keras melepas beban
yang lama mendera punggungnya

(rumahmu tidak di sini
tetapi jauh di dasar mimpi)

ia tercengang
tidak ada jalan balik lagi
musnah dihamburkan angin
hanya debu-debu

ia merintih pelan
takut membangunkan derita
menahan lelah yang sangat
sempoyongan, dan
terbatuk-batuk
ah, alangkah penat
(ternyata ia hanya harus berjalan
atas putusan sendiri
di pagi hari)

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |