Demam
Restu Ashari Putra
sayang, beri aku ciuman di puisi terakhirku ini
sebab aku tak punya ongkos pulang
hartaku habis buat berobat di klinik terdekat
dokter cuma bilang, “kau teruslah menulis sajak!”
“resep obat ini berikanlah pada tetanggamu
yang melarat!”
senja telah turun, azan mengembang
nyeri di rusuk tulangtulang
aku semakin tak bisa pulang
kepalaku pening dengan sajaksajak
yang sengaja kau buang
sayang, beri aku ciuman di puisi terakhirku ini
aku tak akan pulang
aku ingin sakit bersamamu disini
2008
Showing posts with label Restu Ashari Putra. Show all posts
Showing posts with label Restu Ashari Putra. Show all posts
Monday, April 18, 2011
Demam | Restu Ashari Putra
0 komentar Monday, April 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Dongeng Negeri Pujangga
0 komentar Monday, April 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDongeng Negeri Pujangga
Restu Ashari Putra
tak ada yang lebih dari kata
dari dongeng negeri pujangga
setiap hari hanya mencatat nasib
dari takdir lari ke takdir
lebih dari sekedar karir
adalah kata yang selalu belajar
di kemudian hari sebutlah cinta
apakah itu para raja dan ksatria
penunggang kuda
tak lebih dari sekedar membangun
istana atau berpesta sambil meminum
arak dan memikul derita
para wanita tak menjadi abadi
dipeluknya setiap hari
hanya karena seketika,
Permaisuri, raja menderita!
Ksatria, tolong carikan malaikat
dari negeri seberang!
aku saja! pekik pujangga
ah, mengapa kita begitu tak berdaya?
padahal masih ada berjuta hamba
terkulai di halaman istana
kini kita berdua
Wahai paduka, serahkan jari-jarimu,
serahkan, serahkan padaku!
aku punya kisah untukmu
tentang dusta, tentang azab para dewa
tapi ingat, setelah paduka sehat
mari bersama kami
mengabdi
lebih atau tidak dari sekedar katakata
di tanah air cinta
di negeri lebih dari pujangga
2008
Tubuh Muda Menjelma Katakata | Puisi Restu Ashari Putra
0 komentar Monday, April 18, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTubuh Muda Menjelma Katakata
Restu Ashari Putra
:dani Ibrahim
tubuh itu kerdil menahan beban yang patah
dari langit
duduk di hadapannya adalah tatapan siasia
tentang masa depan yang kalah
karena kenyataan begitu menyiksa
meski senyum selalu mengalahkannya pula
dengan sebatang rokok secangkir kopi
kawan, mari kita minum bersama!
harapan pun masuk kerongkongan
sembari rasakan pahit, perih melilit
kalaulah adikku budi tak sekolah
kalaulah aku tak harus kuliah
kalau bukan orang tua yang ada di jiwa
kalaulah dunia tak butuh biaya
kelak kutuntaskan tujuhpuluhdelapan halaman
katakata dalam komputer tua! pekik kau dalam
mimpi buta
tubuhmu semakin hilang
tawamu terdengar getir
hanya suarasuara yang pecah di sudut jiwa
lalu kau menjelma katakata
yang bakal dibaca di hari tua
2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
