Showing posts with label Lazuardi Anwar. Show all posts
Showing posts with label Lazuardi Anwar. Show all posts

Sunday, December 7, 2014

Puisi Tentang Singapura | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Singapura
Lazuardi Anwar

Sebuah kota sedang melalap bangganya sendiri
di puncak selang seling kenderaan bergisir
sepi telah lama mati
ketika kita saling mendekati.

Tiada lagi desah berdenyit di sini
kehidupan diburu hari-hari bergetah
keringat menunggu
dentang lonceng di gardu.

Ketika aku menatap
engkau pun berkata:
pabila saudara datang
tiada lagi musim kembang.

Engkau pun mengipas-ngipaskan bangga
di dekatku, betapa sunyi persahabatan
sebuah puisi kuserahkan
kau terima juga tanpa sahutan.

Sebuah kota dilalap bangga
benderang warna bersela keluh
dan kapal pun mengangkat sauh
selamat tinggal.

1977


Puisi Melaka Diremas Sepi | Lazuardi Anwar

1 komentar

ilustrasi


Melaka Diremas Sepi
Lazuardi Anwar

Melaka diremas sepi
angin lembut langkah hang tuah dekat perigi
datanglah ke mari
bersenda dengan puisi.

Benteng portugis menatap ke selat
berwajah cemberut
meneteskan air mata
dalam bahnya melaka.

Bintang kejut dari langit
tidak terkejut bumi peringgit
lautmu yang asin melaka
di tenggorokan mau bersin.

Melaka diremas sepi
diremas keinginan sendiri
laut berombak di bibir selat
mengukuhkan diri bersahabat.

1977


Puisi Sebuah Titik | Lazuardi Anwar

1 komentar



Sebuah Titik
Lazuardi Anwar

Sebuah titik pada sebuah kalimat bagai halte di
terminal yang dibangun dengan tunai berjuta-juta
keringat rakyat melalui pos-pos pajak-pajak
pembajakan terus-menerus.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menahan dengus yang
tercecer di jalan berlubang di kesibukan lalu lintas
kenderaan tanpa arah
tanpa singgah.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menegunkan khianat
pada suami yang meninggalkan rumah
berbulan madu sendiri di tangkai layu
di tangkai penuh debu.

Sebuah titik pada sebuah kalimat bukan berhenti di sini
cuma istirahat di bungalow-bungalow
sebelum pagi
kemudian mandi basah kuyup.

Sebuah titik pada sebuah kalimat menebak batinku
tidak berhenti di sini
sebelum menembus
ujung sayup.

Sebuah titik pada sebuah kalimat belum lagi usai
kesia-siaan masih terbengkelai
di rumah yang beratap
tertembus titik hujan.

Sebuah titik pada sebuah kalimat tidak berarti apa-apa
bagi yang tidak tahu arti titik secara utuh
hanya bernilai kosong di pikiran lompong
bolong-bolong.

1978


Sunday, November 16, 2014

Puisi Kucubit Pipi Kuala Lumpur | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Kucubit Pipi Kuala Lumpur
Lazuardi Anwar

Ada dengus dari kubur
dalam tanur matahari yang
semakin meninggi

Kalau di sini ada sahabat
kupeluk jari-jarinya erat
firdaus, kemala dan baha dalam tebat
kami lahap ketupat demi ketupat

Angin puyeng di tekad bukit
mencurah ke lembah jaya
pemukiman dalam kelam
rumah haram, tanah haram, kata orang.

Kucubit pipimu kuala lumpur
di kelanggengan suara guruh
keasingan yang tidak pernah asing
menyedot napas pabrik di petaling.

1977


Puisi Indonesiaku | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Indonesiaku
Lazuardi Anwar

ini salam hangat dari
hari-hariku yang rawan
tersentuh embun pagi.

Menekur gundahku dalam
wahai indonesiaku manis
siung angin singgah di tiang pencalang
menyingkirkan puting-puting.

Bukit-bukit tersiram matahari
lembah mencelak di tangkai daun
menggelitinglah wahai
indonesiaku manis

Cakram menikam ke lembah dalam
tubuh  yang telanjang
gemetarlah wahai
indonesiaku manis.

Hari-hariku yang rawan
tersentuh embun pagi
bergetar di ujung jari pemain gitar
menggugah lagu indonesiaku yang sinis.

1977


Puisi Nelayan Pantai Barat | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Nelayan Pantai Barat
Lazuardi Anwar

Bukit curam
bukit batu menggeliat dipanggang hari
pecah-pecah ombak bersimpuh di lututnya
matahari terjun ke balik batu karang.

Senja di pantai barat
nelayan bergegas berkayuh pulang
nganga harap yang hampa
tawar laut air ludahnya.

Musim-musim berdatangan
derai puting beliung di pusar laut
terkulai menatap laut busa hidup
cadar bias berlumur kelabu

jemari hari memilin-milin kehidupan
ke laut, bintang pagi belum berangkat tidur
ke darat, matahari terjun ke balik batu karang.

Bukit batu menggeliat sepanjang pantai
derai puting beliung di pusar laut
nelayan pantai barat
cadar bias berlumur kelabu

1970


Sunday, November 9, 2014

Puisi Malam di Pelabuhan Tinggal | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi - sbr : www.indonesia.travel/id/


Malam di Pelabuhan Tinggal
Lazuardi Anwar

Ombak kecil menggelitik kaki dermaga
laut hitam
pantai hitam
malam-malam.

Deru sepinya sendiri
pelabuhan kecil lama tertinggal
rindu pada kapal-kapal
buang sauh.

Laut hitam
pantai hitam
pelabuhan rindukan kapal-kapal
merapat di dermaga

1965

Puisi Gemuruh | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi - sbr : www.canadiannaturephotographer.com


Gemuruh
Lazuardi Anwar

Gemuruh saat kapal buang sauh
gemuruh saat kapal angkat sauh
gemuruh malam
gemuruh bulan.

terpangku bulan sayup
gemuruh terhempas ke pintu
daun-daunnya pun berkepingan.

Kapal buang sauh kapal angkat sauh
bulan sayup malam berkabut
menggemuruh langit jauh
meremas ujung jari sendiri.

Angin pun tak singgah
di langit menggemuruh
di wajah kehabisan api
di wajah kehilangan arti.

1964

Wednesday, November 5, 2014

Puisi Tentang Kota Kecil | Lazuardi Anwar

0 komentar

ilustrasi


Kota Kecil
Lazuardi Anwar

dipukul ombak
tenang menatap
samudera.

Kota kecil di pantai barat
dipukul ombak zaman ke zaman
camar bermain di lidah senja
tenang menatap samudera.

Kota kecil kota tertinggal
lama sudah tidak memberita
adalah pariaman
adalah kotaku sayang tanah kelahiran.

Kota kecil
dipukul ombak
tenang menatap
tenang mengharap.

1964


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |