Showing posts with label Arya Baskara. Show all posts
Showing posts with label Arya Baskara. Show all posts

Thursday, May 15, 2014

Puisi Kehadiran Cinta | Arya Baskara

0 komentar

KEHADIRAN CINTA
Arya Baskara

Biarlah hari – hari di semesta ini..
menjadi saksi ..penyatuan hati yang
mengaliri untaian suara angin yang
lirih.saat menyambut air yang
menetes di atap nurani yang polos
dan selalu berserah diri kepada-NYA
Adakah salah bila hati menyikapi
gundah?

Diantara pemberian
TUHAN yang tak mungkin ku hindari.
Apakah jalan hitam putih suratan
bisa menjadi sinar yang menerangi
Iman …dan manjadi cahaya dalam
pencarian makna hidup hakiki
Ku tundukan wajah ini untuk
mengangkat harkatku sebagai
makhluk pencari hikmah
yang denganya dapat mencintai
dan dicintai.

2 Oktober 2010 pukul 4:59

Puisi Pernikahan Yang Tertunda | Arya Baskara

0 komentar

PERNIKAHAN YANG TERTUNDA
Arya Baskara

Kisanak ? apakah kau dengar derap langkah kaki kuda menendang nendang dadaku
dimanana nyai kasih duduk di atas pelana Rindu yg fana,
terdengar terompet dari surga menyerata membelah kalbu
menunggu prajurit Cinta mengantarkan kamu untuk ku
demang kegundahan jiwa..jangan bawa lara ke arahku
Diantara Raja takdir yg sudah menguasainya
Duhai Pangeran pemilik Mukzizat
Bisakah kau beri aku satu buku kisah Cinta bersamanya
yang membasuh semua luka asmaraku
Lebak sari madu dan kenangan terpilih
Tolong hadirkan dia duduk bersamaku
menatap mentari dan linggkar Pelangi
menjadi penghulu bagi aku dan dia
Serta angin sebagai wali
atas`pernikahan hati..
Atas Cinta yang tertunda....

7 Oktober 2010 pukul 3:56


Puisi Peralihan Semesta | Arya Baskara

0 komentar

PERALIHAN SEMESTA
Arya Baskara

Kerling alam tak terasa berganti sudah
ujur yang tak terasa mengantar kita pada kian rapuhnya semesta ini
kita semua terbawa pada semakin sepuhnya Bumi
Jagad Raya kini semakin Renta

Tanah Raya ini tidak terjaga
tergantikan tebing tebing terjal dengan bangunan yang semena mena
HUtan dan hijau daun menjadi parodi tekhnologi yang mengeringkan isi alam
sehingga angin mulai enggan semilir hadir

Coba kita cium aroma Esok Pagi
Beda rasa denagan tetes embun 50 tahun lalu
apa ada beda warna senja yang kemarin
Dengan Pelangi yang menghantar Fajar tenggelam

Bisakah kita mewakili diri sendiri menananam Pohon satu saja di depan Rumah
Mewakili Milyaran Umat yang ada
Dan menyiraminya sampai berbuah
Berharap sejuk dini hari nanti

Peralihan semesta dan bencana bencana yang ada
Lampirkan kertas kosong yang harus diisi oleh janji
Satukan diri dengan Jagad Raya
Bukti Cinta kita semua pada SANG PENCIPA

6 Desember 2010 pukul 23:35


Wednesday, May 14, 2014

Puisi Penantian yang Panjang | Arya Baskara

0 komentar

PENANTIAN YANG PANJANG
Arya Baskara

Bisakah kau ceritakan padaku malam ini, tentang Rindu kemarin..
kalamana gundah terasa bagai angin yang berdesir setelah hujan....
dan tampilkan  semua niat menjadi semangat mewujudkan Mimpi.

Adakah cahya mentari menerangi jiwa ?
yang tertutup mendung pagi ini....dan membuka celah sinar hati seutuhnya.
Mungkin lentera yang terpasang, masih menyala dan membuatmu  bimbang?
Seraya Aku membuka lemari kasih yang tersisa satu pada Rasa

Beritakan padaku tentang Cinta  yang kau tunjukan kemarin,
agar kusadur lembar perlembarnya untuk kujadikan buku harapanku siang nanti.....
dan kutahu seberapa banyak halaman penantian ini .
Bisikan Padaku apa yang kau mau kemarin....
dan akan kuteriakan kepastian padamu...Hari ini !!!!

1 November 2010 pukul 4:22


Puisi Jakarta “Doeloe,kemarin,besok dan masa depan | Arya Baskara

0 komentar

jakarta “Doeloe,kemarin,besok dan masa depan
Arya Baskara

Sebagai ibu Kota kau terima semua org yg menghampirimu,
kau tabah saat smua orang memakimu,
macet,banjir,kotor dan banyak makian yg ditujukan kepadamu,
apakah ada yg menyayangimu,menjaga
kebersihanmu,memelihara disiplin berkendara,menjaga keamananmu,
dan menyayangimu
bersyukur saat ini ibu kota semakin megah,
di usia rentamu aku berharap agar semua orang yang hidup dan tinggal di pangkuanmu...
akan selalu menghormati dan menyayangimu,
memelihara dan menjagamu...ayo kita sayang iBU kota

3 Maret 2011 pukul 6:47


Puisi Hanya Sepekan | Arya Baskara

0 komentar

HANYA SEPEKAN
Arya Baskara

kusembunyikan cerita ini dalam hati, dalam rasa dalam kesunyian Nurani
mengeluarkan buih sejuta kenangan manis...
bergelembung menutup sebentar kepedihan yang berakar
aku berbaring di bawah Mimpi..memandang ceria di pelupuk mata....Hanya Sepekan kurasa

Merpati itu menghampiriku...berkeliling mencoba menghiburku..
dahan yg tertiup angin seperti bernyanyi...syahdu bertanya padaku.....
kenapa kau tak terbang bersama burung dan angin yang nyata didepanmu..
tinggi menuju matahari agar terbakar semua  khayalku...
jadikan debu dan tabur di setiap sendi sendi yang berlari mengejar harapan....

Sempurnakan akhir cerita ini

Dengan keikhlasan Cinta dan kesucianya....penjelma dahaga  bahagia

aku keluar dari Mimpi

Hari ini...dari semua bayang bayang...dari semua masa ...
dari semua keelokan desir angin yang membuatku tertidur

aku ngak mau kembali berbaring....
aku ingin memandang semua yang Indah
mensyukuri semua kisah dan menghindari semua rasa Kecewa....

15 Juni 2011 pukul 12:17


Puisi Hengkangnya situresmi Asmara | Arya Baskara

0 komentar

Hengkangnya situresmi Asmara
Arya Baskara

Tegasari mustika menghampiriku kemarin..
Mebangunkan tidurku dari pelana lara cinta 2 tahun silam
Smarakasih dua kali terlewati
Ragadahana bertajuk jasad gelisah yg tak berhenti mengurai cerita
Raih tanganku wahai nyai seribu kasih
yg memaparkan sayang atas singgasana bahagia jiwa
Ratu pertapa di urung niat bercinta tak tersusun
Dari Sehelai rasa hulu hati terbayang
ranum rindu itu dalam mata berkedip
Peristiwa terbangnya bathin berkelana
Mencari kaca jiwa kosong..terendam
Punggawa rindu yang sempat hadir dalam diri
Prilaku kurcaci akal katakan keinginannya untuk bisa ucapkan “ Aku Bukan Halal dari bagian Gurun pertengkaranmu“!
Aku adalah pasir dari gunung pudar di lahar panas kerinci hasrat
Dan bidak yg berlari menyongsong
Tak. Jauh dari sini
Dara itu menarik gelisahku dari perahu tak berdayung
Aku adalah layar yang takut menepi
Petik bintang itu dari pelangi berwarna yang tergerai diatas langit yang cemerlang
Biar kamu tahu hujan siang ini di terangi Mentari
Dan aku basah dibawah teriknya

27 April 2012 pukul 14:11


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |