ZiarahJuniarso Ridwansiapakah menyeret bayangan inimencari sumber cahaya. Penglihatansemakin kehilangan warna,terpaku pada kerlip-kerlip bintangjadilah diri bergerak pada kepekatan abadi,seperti kelelawar terbangdengan gema suara. Mempertanyakanjarak antar ruang kehidupan:sekadar menilik dirisebagai larva busuk.1990
Showing posts with label Juniarso Ridwan. Show all posts
Showing posts with label Juniarso Ridwan. Show all posts
Wednesday, May 21, 2014
Puisi Ziarah | Juniarso Ridwan
0 komentar Wednesday, May 21, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiThursday, May 15, 2014
Biografi Juniarso Ridwan
0 komentar Thursday, May 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Biografi Juniarso RidwanJuniarso Ridwan lahir di Bandung, 10 Juni 1955. Semasa menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Geodesi, aktif di Grup Apresiasi Sastra (GAS) dan Studi Teater Mahasiswa (Stema). Menjadi salah seorang tokoh gerakan puisi bebas yang diluncurkan GAS pada 1976. Tulisannya tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama. Kumpulan puisinya antara lain: Dua Penyair di Depan (1976), Penipu Waktu (1979), Robocop (1994), Tanah Terluka (1996), Air Mengukir Ikan (2000), dan Airmata Membara (2004). Kumpulan puisi dalam bahasa Sunda: Lalaki Langit (1987), Langit Katiga (1996), dan Nu Lunta Peuting (2005). Kumpulan cerpen: Bendera Merah (2004). Buku anak-anak: Budak Motekar (1984), Pengalaman Regu Macan (1984). Buku esainya: Manusia, Teknologi, Mitos, dan Realitas (1982), Seni Budaya Politik (2004).
Wednesday, May 14, 2014
Puisi Starting Over Again | Juniarso Ridwan
0 komentar Wednesday, May 14, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiStarting Over AgainJuniarso Ridwandibatasi kelopak mata, melintas bayanganburung dalam genggaman rembulan. mulaiterjaga dari tidur panjang, kemudianlangit merunduk bersama ribuan pohon;mengeja asma-Mu.dalam figura hatiku, ikan-ikan berenangke hulu dan para musafir mencari tahuhakikat ketiadaan. Persis ibrahimkagum atas kepatuhan alam semesta:masih adakah rindu itu menjelma?1990-1992
Saturday, May 10, 2014
Puisi Le Sacre Coeur De Montmartre | Juniarso Ridwan
0 komentar Saturday, May 10, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLe Sacre Coeur De MontmartreJuniarso Ridwanjangan pedulikan ingatan masa kanak-kanakmu. sebuahbentuk angan-angan, api unggun dan tenda yang lusuh:hanya permaianan ilusi mengantarkan diri, menjadipenjaga bagi kehangatan taman-taman kota. Tangan-tanganjahil, kadang lupa juga akan arti kasih-sayang.dibentuknya batu-batu putih itu, menjadi monumen,lalu dari utara angin mengabarkan keindahan, dan bungarumput menjadi inspirasi, datangnya kerinduan. Siapakahbersembunyi dalam dinding-dinding dingin ini,harumnya mengendap dalam jantung. Kinisentuhan lembut itu, telah melahirkan ribuancahaya bintang baru di langit jiwaku.nikmatilah sajian tarian pinggang ramping di depanmu itu,daun-daun cemara bersilangan, cahaya matahari dansebuah kafe yang ramai. Jangan pula kau tolak pemberiangaun itu, barangkali besok atau lusa ciuman bibir tipisakan membawamu mengembara ke padang-padang rumput,bukankah kau selalu dahaga, untuk mandi dalam kucurananggur, bermain busa dalambenteng kaca. Nikmatilah, karenawaktu hanya penuh permainan harapan,seperti salju luruhsaat senja tiba.kini kau tambah dewasa, semakin tahu arah hidupmu,sambil menerawang dari jalan ke jalan. Memandangmatahari,tak jera untuk selalu bertanya-tanya tentang surga, sepertianak kecil bersayap itu, terus meniup terompet.1999
Friday, April 18, 2014
Puisi Sebuah Tarian Pagi | Juniarso Ridwan
0 komentar Friday, April 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSebuah Tarian PagiJuniarso Ridwanseperti pusaran buih dalam lubuk, tubuhmu berputarmengikuti irama musim. Kemudian terbenam dalamgulungan gelombang angan-angan kosong. Panentelah gagal, hanya sampah menyengat dan eksimyang membalut hari-harimu.pada ujung pematang, bukit-bukit memamerkan dadamengembang. Sejenak, tirai kabut dan selimut hutan jatitelah tersingkap kemarau. Lelehan sunyi telah mengantarkanharum oli pada jendela-jendela rumah. Pada saat itulahbutir-butir gabah telah menjadi konsumen jam, sedangkandirimu tak berdaya, di kepalamu dunia mengeras, daun-daunmeranggas dari gigir alismu.burung pipit kembali merindukan kabel listrik, melintasisuara-suara parau, menghitung sungai-sungai membara,mencari bayangan nafas di balik daun-daun kering.mengikuti gerak tarianmu, pagi telah membentuk keluhanpanjang,pada atap rumbia, matahari telah meletakkan pesan rahasia,hari itukesengsaraan telah menjadi matang dan sempurna.1998
Puisi Di Beranda Rumah, Sore Hari | Juniarso Ridwan
0 komentar Friday, April 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Beranda Rumah, Sore HariJuniarso Ridwanbajuku bercerita tentang perselingkuhan suami-istri,gara-gara noda lipstik pada kaos dalam; lalu eranganjendela sampai terdengar ke pojok-pojok pasar. Di sini,rumah tangga jadi kalut karena dililit piutang,lalu radio pun menyimpan taman kota yang dipenuhigelandanganEcha, sambil duduk mempermainkan gigi, dari tetanggasebelah tercium aroma ikan asin; orang-orang sibukmemasang umbul-umbul dan bendera warna-warni,rumah pun jadi terasa asing. Gesekan daun cemara menerbitkanluka di dalam hati,ilalang mendadak tumbuh di pelupuk mata.dalam rangkulan matahari sore, kursi-kursi membeku,di meja kulit kacang berserakan, bunga-bunga mengering;tiba-tiba aku ingin melupakan asal-usulku, ibu!1995
Tuesday, April 15, 2014
Puisi Revitalisasi Sebuah Kota | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRevitalisasi Sebuah Kota- pelukis Conrad FelixmullerJuniarso Ridwankota adalah kanvas carut-marut,dengan sejumput oksigen diperebutkan,dan kehidupan diatur angka-angka:di sana tubuh identik dengan tanda tanya,melingkar dan melata di lantai bacin,digenangi kucuran syahwat membiru,dan selalu tersesat dalam gairah purba.orang-orang meramu arsitektur mimpi,mencari bentuk lain dari bayangan diri,dan perlahan-lahan tenggelam dalam waktu.ribuan pintu segera dibangun untuk mengurung diri.2003
Puisi Air Mengukir Ikan | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAir Mengukir IkanJuniarso Ridwanbangkai radio itu telah menari bersama sungai,melewati riwayat kematian kota-kota; dengan gulungankabel telah dihubungkan denyut masa depanku,sebuah penantian tak berlimit waktu.di mana-mana, air mengukir ikan, menerjemahkankepedihan demi kepedihan. Basahnya membakar lubuk,mengasingkan pasir ke muara-muara jauh.seperti dirundung berahi, daratan terus mendungus,memburu biru laut. Air pun mengukir ikan.1996
Puisi Air Terjun Bantimurung | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAir Terjun BantimurungJuniarso Ridwanmengikuti jejak purbamencari sumber kehidupan:menimbang rasa dan harapandi bawah naungan pohondi dalam ceruk gua gelapmenerawang masa depan: putihair mengalir mengubah nasibseperti darah dalam nadi:memandu hidupgerak satwa dalam hutansenantiasa mengukurperadaban manusia1990
Sunday, April 13, 2014
Puisi Malingping | Juniarso Ridwan
0 komentar Sunday, April 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalingpingJuniarso Ridwanasal tanah jadi tanahasal air jadi airsepanjang tebingbayang diri jadi asingsaat diam dicarisaat diliput sepitatap biru sekelilinghiduphening.1981
Saturday, April 12, 2014
Puisi Hari yang Bergemuruh | Juniarso Ridwan
0 komentar Saturday, April 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHari yang BergemuruhJuniarso Ridwannyonya Margho membaca surat itu sekali lagi,halilintar menjalar di benaknya, badai punmendera kerongkongan. Surat itu seperti apimembakar deretan gedung, lalu arangyang ditinggalkannya menjelma dirinya. Dalam renta,sendiri porak-poranda.“umur suamiku bagaikan lelehan lilin, mengalir dankemudian menguap, entah ke mana,” tangisnyamerambat, membasahi tanah, menghanyutkankenangan.sekali ini ia menyadari, batu pun bisa diajak bicara,pohon-pohon bisa mendengar keluhannya, dan anginmenjadi sahabat paling setia. Lolongan anjing kembalimengingatkannya akan ladang gandum yang subur,hamparan keju yang harum, atau gemeretaknya kayudi perapian.dibangunnya sebuah angan-angan, pesta penuh riang,kopi hangat mengiringi obrolan ringan, dan semua tamudengan sopan saling bertegur sapa. Sambil mengelus poporsenjata, ia tersenyum getir.“hari ini, memang perang belum usai,” gumamnya.1999
Wednesday, April 9, 2014
Puisi Kuhamparkan Huruf-huruf Menjadi Sajadah | Juniarso Ridwan
0 komentar Wednesday, April 09, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKuhamparkan Huruf-huruf Menjadi SajadahJuniarso RidwanAgus, sengaja kuhamparkan huruf-huruf inimenjadi sajadah pada malam gelap-gulita,saat ini aku coba pahami sebuah dunia,dengan nyanyian granat dan lolongan sunyi.saat ribuan bangkai ideologi terkapar di angkasa,kita sedot dalam-dalam dendam bergentayangan,seperti sebuah kepercayaan:membuat kita menjadi warga masyarakat baru,dengan gairah arak dan permusuhan.dengan bunga ketakutan kita panjatkan doa,sambil menanti yang lain kelaparan,hari ini tak ada beras atau ikan asin,bila mau kunyahlah baut, kabel, atau ban bekas,bukankah solar dan aspal masih tersisa di kuali?dingin ini adalah lengkingan daun-daun gugurdan kita sujud di pojok dapur,mengharap suara-suara tak pernah singgah.2001
Puisi Keyakinan Itu | Juniarso Ridwan
0 komentar Wednesday, April 09, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKeyakinan Itu- Museum Buya HamkaJuniarso Ridwankeyakinan itu, seperti situs, semakin membatu di dalam hati,menempuh bentangan masa tak pernah pudar,lalu terpancar tajam di tepian danau berawan.keteguhan, seperti foto-foto lama, berbicara banyak,buku-buku berdebu menjadi nafas sejarah,pohon-pohon tua telah menularkan kekuatan,jiwa pun tumbuh tak berbilang pijak.udara berkabut, belajarlah pada hutan,hari terang, belajarlah pada gunung,sedangkan matahari tak juga berubah.musim berjalan memilih kenangan,menghitung langkah dan kalimat,terus bergema di dalam dada.2001
Friday, April 4, 2014
Aku Tulis Puisi | Juniarso Ridwan
0 komentar Friday, April 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku Tulis PuisiJuniarso Ridwanaku tulis puisi tentang laut biru,tapi terbaca ledakan bom dan kematian.aku tulis puisi tentang harapan hari esok,tapi terbaca rangkaiankonflik dan cucuran darah.aku tulis puisi tentang surga,tapi terbaca penindasan antar sesama.aku bongkar kata-kata,lalu terbaca keindahan.2001-2002
Puisi Rajah Malam | Juniarso Ridwan
0 komentar Friday, April 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRajah MalamJuniarso Ridwansepanjang sungai merah menggumpal,pohon-pohon nipah menggigil,sesosok jasad menuju hilirmenggali sepi,membongkar bunyi.kelopak bulan terus menganga,mengucurkan kekesalan,setiap detik, kehidupan melayang.bukan karena berbeda sikap,atau hanya sekadar kejahatan,masing-masing memburu nyawa.bulan semakin membara,mengucurkan darah,di halaman rumah;- sendiri.2004
Tuesday, April 1, 2014
Puisi Jalan Lengang | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 01, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJalan LengangJuniarso Ridwansepeda-sepeda tua berkarat,di sepanjang jalan memucat,hanya lengang mengalirdi ujung jalan menanjak,ada pelataran sebuah basilika,gerimis membentuk lingkaran senja,dan bulu matamu meneteskan sepidi hutan-hutan albino,ada lembah subur tubuhmu,di sana api berdendang,lalu urat-urat berdenyut,mengitari puting beranting(jelas, kamu tak suka. Kamu tak rela)di atas aspal berdebu,serpihan muasal membeku,daun-daun busuk berserakan,dan hanya jejak sepatumu,tersisa dari tiupan angin.2005
Puisi Pada Upacara Penguburan | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 01, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPada Upacara Penguburan- Popo IskandarJuniarso Ridwandalam gerimis siang kendaraan beriringanseperti semut ke luar sarang memburu remah roti,di antara raung sirine kereta jenazah merayapmembelah kota diam membeku.di Wanaraja penantian itu menjelmadi tengah kerimbunan pohon petai dan rumpun pisang,tiba-tiba keriuhan do’a itu terhenti:hanya gundukan tanah basah bertabur bungaserta kelembaban udara membisu.impian itu terus berlari, tahun-tahun tak pernah kembalidemikian juga bayangan kucing dan ayam jagokesayanganmusetelah semuanya diam, berarti pula akhir pengembaraandan hanya kenangan menghampiri malamberbintangkini goresan kata-kata tampak di kaca-kaca jendela,bagaikan embun memintal ruang berlumut,dan hanya kenangan menghampar panjang,sebagai pijakan untuk memahami arti sebuah kearifan.2000
Puisi Bandar Jakarta | Juniarso Ridwan
0 komentar Tuesday, April 01, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBandar JakartaJuniarso Ridwanlaut adalah wujud misteri wanita berbahayaaku tak pernah tahu tentang jumlah ombak, jumlah ikandan jumlah pasirnya. Hanya suaranya kemudian menarikhasrat untuk berlayar mengarungi bentangan waktu.2002
Monday, March 31, 2014
Puisi Menghirup Hawa Binatang | Juniarso Ridwan
0 komentar Monday, March 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMenghirup Hawa BinatangJuniarso Ridwantubuh-tubuh legam, aura malam,kepalan tangan erat menyimpan sunyi,urat-urat seperti rel menuju kepundan,dan gelegar guntur bersarang di jantung.suara-sura menyesatkan, pembisik gaib,seperti lagu merdu membangkitkan kepayang,mengantarkan jiwa ke tepi jurang perasaan.seperti Sisiphus mendorong tumpukan uang,batu berhembus angin menggelinding,di lereng waktu pendakian tak ada jeda,mata menelan letih meleleh dari langit.mulut terus bergumam tentang kematian,kelaparan menjaring bangkai sisa pergulatan,gumpalan daging segera mengisi kota lumpuh.2003
Puisi Negeri Impian | Juniarso Ridwan
0 komentar Monday, March 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNegeri ImpianJuniarso Ridwandi sini tak ada Godi atau Afrizal,hanya sorgum dan salju,dengan harapan berayun-ayun,seperti balon di udara pejal.para penyair kembali ke dapur,mengenang kelahiran Hitler,dalam reruntuhan kota lama,dengan sayap kemarahan.di antara katedral berlumut,ornamen batu bertuah,lalu kau menulis hujan,dengna huruf menyerupai rambut.di negeri impian ini,sepi tak ada jeda,menggulung hari-hari basah.2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

