Stockholmbuat sofyan waluyo dan z. afifPutu Oka Sukantajelas ini bukan di pendopo taman siswaorang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawadi sebuah gedung di huddingen swediatapak kaki di langit hujan bertanyaada dosenku, ada kawanku, ada wajah haruyang mana pilihanyang mana tempat buanganyang mana tanah airkangen embun meneteskan airanak-anak kehilangan kampunginternasionale mengapungrinduku rindumupenjelajah demam dalam bertemuHuddingen-Amsterdam, November 2000
Showing posts with label Putu Oka Sukanta. Show all posts
Showing posts with label Putu Oka Sukanta. Show all posts
Monday, June 2, 2014
Puisi Stockholm | Putu Oka Sukanta
0 komentar Monday, June 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunday, May 18, 2014
Biografi Putu Oka Sukanta
0 komentar Sunday, May 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Biografi Putu Oka SukantaPutu Oka Sukanta lahir di Singaraja, 29 Juli 1939. menulis sejak usia 16 tahun. Menerima hadiah Nemis dari Chili untuk cerita pendeknya Luh Galuh. Pernah dipenjara selama 10 tahun di zaman Orde baru tanpa diadili karena menjadi anggota Lekra (1966-1976). Kumpulan puisinya al: Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok-Matahari Berlin; diterjemahkan ke dalam Bahasa jerman; Die Mauwer-Die Sonne Berlin (1990), Perjalanan Penyair (1999). Novelnya al: Merajut Harkat (1999), Di Atas Siang di Bawah Malam (2004), Kerlap Kerlip Mozaik (2001). Kumpulan cerpennya, al: Keringat Mutiara (1990), Rindu Terluka (2005), Bukan Kematian (2006).
Saturday, May 10, 2014
Puisi Zhouzhuang Cinta Membelit Kota | Putu Oka Sukanta
0 komentar Saturday, May 10, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiZhouzhuang Cinta Membelit KotaPutu Oka SukantaDi sini sungai membelit kotaseperti cinta membelitkutapi begitu jauh, jauhtukang sampan mengayuh dayungmenghanyutkanku yang sedang mencarimencari, di sini aku mencari, di tanah air aku mencariaku ingin berguru jadi sungaiberabad-abad mengalirkan cintanyamemeluk kota, menghanyutkan kesendirianair kelabu, langit menyatu warnalampiun di tepi kali mulai berbinar-binarmemberi arah denyut manusiaJika aku pulang, di mana tempat berlabuh?Zhouzhuang, 29.11.04
Wednesday, April 16, 2014
Puisi pendek Tentang Patung Liberty | Putu Oka Sukanta
0 komentar Wednesday, April 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPatung LibertyPutu Oka SukantaKutatap patung LibertyTeringat puisi tinggal di buiNew York, 2000
Tuesday, April 15, 2014
Puisi Tolong Pak Presiden Baru | Putu Oka Sukanta
0 komentar Tuesday, April 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTolong Pak Presiden BaruPutu Oka Sukantatolong hati-hati membawa pantatjangan sampai basah kebanyakan dijilattolong hati-hati membeli kacamatajangan salah pilih kacamata kudatolong sering-sering memeriksakan gigijangan sampai taring memanjang sendiritolong buatkan instruksi khususagar wajib memasang perangkap tikusdi tempat kerja dan di dalam dadatolong wajibkan setiap pagi senam kepalamenengok ke kiri kanan, ke belakang ke mukake atas dan ke bawah, bagi orang kayatidak terkecuali polisi, politikus dan tentaratolong pak presiden-baru ingatkan para lelakijangan lupa diriagar ingat neneknya perempuanagar ingat ibunya perempuanagar ingat istrinya perempuanagar ingat pacarnya perempuanagar ingat punya anak perempuan(maaf temanku yang gay, dan yang lesbianini simbol, bukan hanya perkelaminan)kan kita tak akan ada kalau mereka binasaah belum apa-apa terlalu banyak aku minta tolongmaksudku baik, agar jangan melupakan orang minta tolongatau hanya dianggap anjing melolongsekali lagi, aku minta tolongjangan banyak berucap lhomasih banyak aturan diskriminatif lhomenjadikan aku tetap tahanan lhotolong jangan tinggal lhopalagi hanya berucap lhotabik pak presiden-baruaku akan sering kirim puisitolong jangan dibalas dengan mengirim polisiJakarta, September 2004
Saturday, April 12, 2014
Puisi Semakin Sering | Putu Oka Sukanta
0 komentar Saturday, April 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSemakin SeringPutu Oka SukantaSemakin sering kita bertanyatidak hanya di mana kita sekarangkabut knalpot menutup pandangbukankah masih di rumah kita berduaRagu, keraguan, gamang, kegamanganSiapa engkau istriku?siapa aku suamimu?Pacu kuda, kuda dilecut berpacumengusung ide-ide, juga amanat Tuhantelah menjadi mantel atau degup jantungAh, sudah waktunya mencari terminalsejenak, setidaknya mengenang cintadalam kerinduan yang tak berwajahJakarta, 2006
Puisi Bung Agam | Putu Oka Sukanta
0 komentar Saturday, April 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBung AgamPutu Oka Sukantaengkau tidak pernah pergidi manapun engkau kinitertinggal puisitumbuh menggedor tiranimencatat latini, bandar betsi, reformasikembaramu memahatkan puisihingga batas keampuhan insaniengkau tidak pernah pergitiba-tiba aku merasa sendiriJakarta, 2003
Monday, April 7, 2014
Puisi Surat Bunga dari Ubud | Putu Oka Sukanta
0 komentar Monday, April 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSurat Bunga dari UbudPutu Oka SukantaTak ada perangko buat mengirimkutempel bunga di pojok amplopYang terhormat Duniaaku tumbuh warna-warnidari darah pelukis yang dibantaiharumku seharum namanyaUbud, 13 Oktober 2004
Puisi Masa Lalu | Putu Oka Sukanta
0 komentar Monday, April 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMasa LaluPutu Oka Sukantabukanlah duka, ia juga bukan getir yang keruhbukan rindu, sesekali ya, rumah jauh yang kian menjauhbukan hanya album mengusang tapi tulang belakangmasa lalupohon yang merontokkan daun-daun dendammenguning, kering diserap serabut bumijika engkau bertanya: siapakah aku?kujawab singkat, tetapi kuharap engkau tidak kecewa: harapanaku bukan Gautama yang membuang rakit setelah tak terpakaiaku adalah Gautama yang membangun nirbana sambil mencariRM, November 2003
Puisi Dingin Vancouver | Putu Oka Sukanta
0 komentar Monday, April 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDingin VancouverPutu Oka Sukantakuintip dingin Vancouver dari celah tiraidan kutempelkan tangan memberi salam pagiternyata lebih dingin rusuk penjara Tangerangyang menggigit sampai ke sumsum, penghinaankemanusiaan lebih tajam dari saljusuara gagak menyambut remang pagi bersahutanbukan isyarat kematianwalau di Bangladesh, Sri Langka, melantunkan kemiskinangagak Vancouver mengundang mata terbukajendela lalu lintas wacanamembiarkan dingin dilukis beragam nuansalantas, di mana temanku aborigin itubuldozer putih meratakan peradabannyadi dompetku, kusimpan sebuah pusaka:mengapa?Vancouver, Oktober 2000
Wednesday, April 2, 2014
Puisi Bulan di Atas Teras | Putu Oka Sukanta
0 komentar Wednesday, April 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBulan di Atas TerasPutu Oka SukantaBulat tembikarbercahayarelung sutra birudari teras beradu pandangkedamaian rasa melintas sepintassebelum teringat kawan di pengungsianBulan di atas teras, bulan tembikarlampu alami di atas penampunganRM, 2007
Puisi Kemiskinan | Putu Oka Sukanta
0 komentar Wednesday, April 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKemiskinanPutu Oka SukantaDi kamar 210engkau mengusik tak hentinyaAh, aku risih, beri waktu aku sejenak melepaskan diriberi aku waktu sejenak mengaca diridalam kemewahan aku ingin melupakan kemiskinan, tau?Ubud, 11 Oktober 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)

