Penyair SepiNoor Aini Cahya Khairanipenyair yang lahir dari puisi mencari cintamenelusur jalan sepi memikul beban semestatuhan terbaring di hatinyasudah sampaikah perjalanan o, penyairmenawarkan kesepian dan rindu yang berdebupada cakrawala, sementara jejak terlupajalan kian sepi, hari menepidalam temaram angin membisikkan perpisahankasih yang pergi takkan pernah kembalidi perbatasan kegelapan menyempurnakan kesetiaanpada cinta, penyair melepaskan beban semesta:menuliskan kesepian manusia atas manusiameninggalkan sejarah yang mesti sudah dan pergimenuju misteri yang terbaring di hati
Showing posts with label Noor Aini Cahya Khairani. Show all posts
Showing posts with label Noor Aini Cahya Khairani. Show all posts
Tuesday, February 18, 2014
Puisi Penyair Sepi | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Tuesday, February 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, February 12, 2014
Puisi Senja | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Wednesday, February 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSenjaNoor Aini Cahya Khairaniterpukau kemilau matahari pergihari habis arti, kecuali sepimerayap dari laut dan langit gelapmalam menyekap harapbetapa sia-siakah makna sebuah rahasiamanusia hanya melangkah dari pagi ke senjamungkin ada yang hilang di dada: secarik catatanketika hari pergi dan malam datang membawa bulanatau bintang turun kepadamu menawarkan rindupada sebuah ruang waktu tuhan jatuh cinta padamu
Tuesday, February 4, 2014
Puisi Kisah Sebuah Perjalanan | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKisah Sebuah PerjalananNoor Aini Cahya Khairaniseparuh usia mereka jalankan perahu dari tepike seberang, terpandang: laut damai, alam permai, sesekaliangin mengundang badai. tapi perahu tetap ke depanmembawa anak cucu, menaklukkan gelombangmelepaskan penderitaan yang tak bosan mencengkeramselebih ini sepi. langit menyembunyikan misteriya, betapa lama dan jauh sudah perjalanan merekadi atas perahu: lahir, kawin dan mati. merekabagaikan adam dan hawa. turun dari surga, menjelajah duniaberada di sinikeluasan laut seakan memaku perahu. sementaramereka tertawan ruang biru dan waktu bisupada perjalanan ini seperti ada yang tiada:kepastian cuaca dari apa ke bagaimanamereka mengundang angin melepaskan capaiterlambat ingat: angin mengandung badaiya, berapa nyawa ditenggelamkannya dalam perjalanan?berapa masa depan dihempaskannya ke belakang?separuh usia, separuh perjalanan, separuh percakapan mereka:“jangan bertikai tentang badai, nanti di pantai segalanyasampai. lihatlah semesta: seekor garuda dengan sayap terbukadi dadanya terbayang tempat berangkat dan bertambat kita...!”
Puisi Kediaman Kesekian | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKediaman KesekianNoor Aini Cahya Khairanipada kediaman tiada dinding; sepimenawarkan sekian rasa dirimenyayangkan semesta mencari laotsemerasakan luka menggali nietzschemenghikmati sepi menaut jaraklaotse nietzsche membuat gerakmenarikan semesta di segala musimmengiringi hati menyanyikan ingin
Puisi Mohon Doa Restu | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMohon Doa RestuNoor Aini Cahya Khairanimengisi ruang padat, waktu menjadi tuapertanyaan mendesak tepi agendakertas, daun, pasir atau tanah liattak lagi mewujudkan impianbusa sabun tak berubah seribu bulantapi masih kukasihi diri, kukawini duniamohon doa restu pada bapakmemakan masa depan anak-anakmasuk sekolah bisnis anak pejabat betapa hebat?bisa beli kota, hutan, gunung, laut, langit, negaraapalagi manusia“akan kupikirkan, akan kupikirkan,” kata bapakkukerjakan bimbingan test mereka dengan hati naifpada test penerimaan aku menjawab benar dan dapat nilai 3menjelang pengumuman aku makin pintar:aku anak indonesia tertinggal beribu mil dari petabarangkali tak punya hak asasi berkuasa“indonesia kaya penguasa dan konglomerat nak,berbahagialah sebagai seniman,” seperti kata bapaksuaranya tak mencapai piring kosongkumaka kumakan puisi15 Februari 1996
Sunday, February 2, 2014
Puisi Masyarakat-Masyarakat Majemuk | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Sunday, February 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMasyarakat-masyarakat MajemukNoor Aini Cahya Khairanipada dunia yang tak lagi terbacanama tidak dibuat dari huruftapi air liur berbisaorang-orang kembali jadi bayihak asasi kehilangan gizihari kemudian menayangkan sosok barusiapakah penjajah?orang?sistem?adakah tuhan?di dalam penderitaan mukjizat pergidi luar kitab suci nubuat berhentitapi, kita memang suka mengasuh anak kekuasaanmaka ketika ia sempurna jadi maha tak ada tempat buat yang lainkita belum merdeka
Friday, January 31, 2014
Puisi Mimpi Gemerlap pada Bumi Retak | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMimpi Gemerlap pada Bumi RetakNoor Aini Cahya Khairanimenggali sepi dengan puisiterlihat kepercayaan di dasar bumiretak. sementara langkah memberatdi atasnya, manusia lelap dalam mimpi gemerlapo, sepi dan puisi yang menjadikan manusiadi bawah langit, hidup betapa niskalatapi bumi senantiasa mempesonatapi mimpi senantiasa ada
Puisi pendek "Di Hulu Kali Ini" | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Hulu Kali IniNoor Aini Cahya Khairaniaku ingin menambatkan perahumelepas beban dan pakaian. mandi sepilalu tenggelam di dasar waktu
Puisi Vignet Kalimantan | Noor Aini Cahya Khairani
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiVignet KalimantanNoor Aini Cahya Khairani1di atas sungai hitamhutan dan gunung berjalanmenuju mantra kekuasaan2antara hutan larangan dan cerobong industrimembentang kabel-kabel kekuasaansementara krisis bergayutan di tengahnyaratusan titik api mengepung bayi-bayi3di sini tak pernah unjuk rasa sebenarnyakarena penduduknya begitu berbaktimeski kekuasaan mengajarkan kecemasannamun selalu ditelan bersama pil kb4kami naik dari perahukarena sungai tak lagi birukami dipindahkan dari pedalamankarena hutan kami yang menawankami kehabisan sungai dan bukitdan tenggelam di langit5di sini matahari padam di timurdan pulau tidak milik kamimaka ketika ia kehilangan pesonaflora dan fauna berderak tanpa arti
Subscribe to:
Posts (Atom)
