Pensiunan pegawai negeri di Departemen Perhubungan ini, di lahirkan di Lama Inong (Aceh Selatan/sekarang Aceh Bast Daya-Abdya) tanpa pernah menuliskan tahunnya. Di besarkan di Meulaboh dan banyak menimba ilnu di Medan. Saat tinggal di Meulaboh, ia bersama beberapa rekannya mendirikan teater " Fajar Menyingsing ". Aktif menulis cerpen, puisi, bahkan novel di tahun 1970. Dua novelnya yang terpenting adalah " Catatan Seorang Hostess " (Majalah Mayapada Jakarta, 1971), " Berikan Aku Cinta " (Harian Palapa, 1974). Tahun 2002 ia di percaya sebagai Ketua Penyunting Antologi Puisi/Cerpen Penulis Acch " Putroe Phang " (Dewan Kesenian Aceh, 2002). Salah satu cerpenis terkemuka Aceh ini dalam musibah Tsunami lalu, kehilangan rumah dan seluruh harta benda.
Showing posts with label Ridwan Amran. Show all posts
Showing posts with label Ridwan Amran. Show all posts
Thursday, May 27, 2010
Monday, April 26, 2010
ANDAI LAUT KELAM | Kumpulan Puisi Laut
0 komentar Monday, April 26, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiANDAI LAUT KELAM
Ridwan Amran :
Andai laut kelam
Mentarikanlah langit
Agar jelas hitam pada hitamnya
Agar jelas putih bukan birunya
Dalam suatu perjalanan yang tak pernah usai
Dari kehidupan anak manusia
Andai bumi kelam
Rembulankanlah langit
Menyinari Lord Byron sebiduk cinta dengan kakaknya
Bunga-bunga yang jatuh layu dalam bara fitnah
Laut-laut dan sungai-sungai beku
Mengutuk itu perahu
Biar laut kelam dan langit kelam
Dan kedengkian merengkahi bumi
Dari permusuhan darah dan nanah
Mengukir cinta Romeo dan Juliet
Yang berpeluk kekal dalam tubuhnya
Kini laut tidak bercerita lagi
Tentang rindu, tentang cinta dan airmata
Dan langit bukanlah semata harapan
Karena bumi yang panas semakin panas
Merontokkan kesetiaan
membakar kejujuran
Kecuali dengki fitnah dan kesombongan
Membungai pohon-pohon
Dan kulik elang merebahkan senja
Manusia telah memangsa manusia
Andai laut kelam dan langit kelam
Dan bumi luruh di telan kelam.
Saturday, April 24, 2010
PULANG
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPULANG
Ridwan Amran
Dia yang pergi datang lagi dengan badai
Berdiri di ambang pintu rumah tua
Ada perempuan tua renta terbujur kaku
Ada wanita muda yang kering mersik
Dan Bocah telanjang yang dahaga
Duka meraba dirinya
Ibu terkasih membatasi cinta
Lara merintih di matanya
Anakku, istriku, tenggelam di pusaran rindu
Dia yang berbalik dengan hati kering
Tanpa airmata
Andai hidup berguna
Mengapa mati harus sia-sia
PELACUR TUA | Puisi Tentang Pelacur
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPELACUR TUA
Ridwan Amran :
Pelacur tua menjemput bulan di jendela
Menggelarkan sejuta mimpi dalam airmata
Ketika Cinta mendekap dan memudar
Di taman kembang-kembang plastik
Di bawah siraman-siraman remang lampu-lampu
Segelas empedu mencair semanis madu
Pelacur tua di rangkul bulan di jendela
Mengirimkan angin-angin
Di batas pengembangan di Ujung dunia
Dengan hati kosong dan mata hampa
Tertatih menuju khalikNya
Pelacur tua di lambai bulan di jendela
Tanpa kekasih membisikkan janji setia
PADANG SEURAHET *)
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPADANG SEURAHET *)
Ridwan Amran
Padang seurahet padang ombak membersit
Membasahi jejak-jejak yang kering
Ketika bulan menjenguk masa lalu
Dan nama-nama yang terukir di pasir
Si neli si rot dan si dara
Meluncur di lidah ombak
Padang seurahet di sini cinta terluka
Mendung gelisah dalam duka burung camar
Jerit bocah menguak kebekuan kelam
Menggigil dalam pandangan yang pasrah
Masih adakah esok mentari di balik cemara
Setelah kehidupan rernuk dalam prahara
Padang seurahet kau dan aku
Lagu ombak lagu mesra dan haru
* nama kampung di pinggir kota meulaboh
ACEH | Puisi Tentang Aceh
0 komentar Saturday, April 24, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiACEH
Ridwan Amran :
Biru lautmu birunya hatiku
Di sana purnama terluka
Tentang keadilan yang terkubur
Dan cinta kasih yang terbujur
Berlumur darah
Kenangan apa yang akan kusematkan padamu
Seuntai puisi yang tak bergema'?
Pada mavat-mayat tanpa kubur
Atau pengungsi yang terusir dari rumah
Atau harta benda yang porak poranda
Dalam maraknya resah di mulut senjata
Dalam maraknya fitnah di pelatuk senjata
Hukum apa yang ku undangkan padamu
Untuk menawarkan panas api
Untuk menyejukkan bumi-bumi
Untuk mengibarkan panji-panji damai
Agar nelayan berlayar di lautmu
Agar petani mencangkul di ladangmu
Agar pengungsi kembali ke rumah sendiri
Menyirami kasih sayang yang abadi
Hukum apa yang ku undangkan kepadamu
Andai bahasa telah mengering dalam kitab
Andai hati telah membeku tanpa peduli
Kemiskinan, kemeiaratan, dan kesengsaraan Yang memerihkan jiwa rakyat
Aceh, biru lautmu biru hatiku
Di sana purnama terluka
Subscribe to:
Posts (Atom)
