TerataiKepada Ki Adjar DewantaraSanusi PaneDalam kebun di tanah airkuTumbuh sekuntum bunga teratai:Tersembunyi kembang indah permai,Tidak terlihat orang yang lalu.Akarnya tumbuh di hati dunia,Daun berseri Laksmi mengarang:Biarpun ia diabaikan orang,Seroja kembang gemilang mulia.Teruslah, o Teratai Bahagia,Berseri di kebun Indonesia,Biar sedikit penjaga taman.Biarpun engkau tidak dilihatBiarpun engkau tidak diminat,Engkaupun turut menjaga Zaman.
Showing posts with label Sanusi Pane. Show all posts
Showing posts with label Sanusi Pane. Show all posts
Wednesday, April 16, 2014
Puisi Teratai | Sanusi Pane
0 komentar Wednesday, April 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSaturday, March 29, 2014
Puisi Tentang Doa | Sanusi Pane
0 komentar Saturday, March 29, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDoaSanusi PaneO, Kekasihku, turunkan cintamu memeluk daku.Sudah bertahun aku menanti, sudah bertahun aku mencari.O, Kekasihku, turunkan rahmatmu ke dalam taman hatiku.Bunga kupelihara dalam musim berganti, bunga kupeliharadengan cinta berahi.O, Kekasihku, buat jiwaku bersinar-sinar!O, Keindahan, jiwaku rindu siang dan malam, hendak me-mandang cantik parasmu.Datanglah tuan dari belakang pegunungan dalam ribaan pagitersenyum.O, beri daku tenaga, supaya aku bisa bersama tuan melayangsebagai garuda menuju kebiruan langit nilakandi.
Friday, March 28, 2014
Puisi tentang Sajak | Sanusi Pane
0 komentar Friday, March 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSajakSanusi PaneO, bukannya dalam kata yang rancak,Kata yang pelik kebagusan sajak.O, pujangga, buang segala kata,Yang ‘kan cuma mempermainkan mata,Dan hanya dibaca selintas lalu,Karena tak keluar dari sukmamu.Seperti matari mencintai bumi,Memberi sinar selama-lamanya,Tidak meminta sesuatu kembali,Harus cintamu senantiasa.
Saturday, March 15, 2014
Puisi Kepada Krisjna | Sanusi Pane
0 komentar Saturday, March 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKepada KrisjnaSanusi PaneAku berdiri sebatang kara,Tidak berteman, tidak berkawan.Tangan tertadah k’atas udara.Jiwa menjerit disayat rawan.Hatiku kosong, tanganku hampa,Tidak ada yang sudah tercapai:Aku bermimpi di dalam tapa.Mengingat untung termenung lalai.O, Krisjna tiadakanlah kembaliTitah yang dulu menyuruh dakuMeniup suling di tanah airku.Biarkan daku sekali lagi.Jatuh ke dalam jurang gulita,Supaya lupa, tidak bercita.
Friday, March 7, 2014
Puisi Bimbang | Sanusi Pane
0 komentar Friday, March 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBimbangSanusi PaneAku duduk dalam kesunyian jiwaku dan mencoba membu-nyikan lagu pada kecapi. Ah, tiada suara yang keluar danaku menundukkan kepala, termenung akan tanah air menge-luarkan lagu yang tidak menyambung waktu silam.Adinda datang dan berkata dengan suara penuh duka,“Mengapa Tuan termenung saja, tidak membunyikan lagupenghibur hati? Sudah lama cantingku berhenti, tidak sanggupmelukis tenunanku, karena engkau tidak kudengar membunyi-kan kecapi.”Aku mengangkat kepada dan memandang dia dengan matamurung caya.“Aduh, Adinda, hatiku lemah mendengar suara yang tidaksepadan dengan kehijauan tanah airku.”
Sunday, March 2, 2014
Puisi Syiwa-Nataraja | Sanusi Pane
0 komentar Sunday, March 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSyiwa-NatarajaKepada R. SoeratmakaSanusi PanePada perjalananku melalui Langka purbakala,Mengunjungi tempat keramat, dengan harapan bernyalaDi dalam hati, di bumi India yang mulia,Yang dari dulu sampai ke akhir zaman dalam duniaTinggal kuat dan sakti dan termasyhur, aku melihatDi Sailan, tempat zaman telah silam berkilat-kilat.Astana Rawana sebagai bulan purnama raya.Dan di negara Godawari dan Krisjna, Nataraja,Mahadewa sebagai Penari, Sungai Mahanadi,Dengan meninggalkan India Selatan, kuseberangi,Dan mataku termenung memandang Pataliputra,Tanah daratan, tempat Ayodia dan Hastinapura.Mediadesa, kulalui dan aku berdiri, terkenang,Penuh rindu dendam akan waktu yang silam, dipandangKuruksetra. Aku berada di Sarnath Negara,Tempat Buda pertama kali mengeluarkan sabda.Di Agra dan Fatehpur Sikri, di tepi Jamna,Aku mengherani gedung marmar yang indah tidak terkata.Dalam taman dan astana Taj Mahal, Mutiara Timur,Tempat Syah Jahan dan Mumtaz-i-Mahal bersanding berkubur,Aku bermimpi mengenang cinta.O, jiwa IndiaKupandag gilang-gemilang, kurasa mahamulia.Tetapi, yang kuingat seperti yang paling utama,Ialah, ketika aku, setelah aku sejurus lama,Memandang naiknya Surya Dewa ke cakrawala,Dengan mulia raya, cerlang-cemerlang, bernyala-nyala.Di tepi Gangga yang sakti, melutut dalam Samadi,Dalam candi Kencana, yang berdiri di jantung hatiTanah Hindustan.Aku terkenang akan Nataraja,Yang kuherani denga mata yang bercaya-cahayaDi Ratnadwipa dan India Daksina: Syiwa menariDalam lingkungan api bernyala-nyala, yang tahadiBelum pernah aku dapat, biarpun aku sudahMemandang hampir segala yang indah, yang belum punahOleh zaman dan tangan yang ganas, saksi bercayaDari abad kemegahan, abad yang kaya raya.Di Indonesia, tanah airku,Natesa berdiriDi atas buta, tangan kanan memegang gendang, kiriMemegang api bernyala-nyala. Sikap badan, tanganDan kaki, wajah muka amat permainya: angan-anganKeindahan.Genta candi, merdu, bersahut-sahutanDan aku merasa sebagai berada dalam lautanKedamaian, tiba-tiba ‘ku memandang dengan jiwa,Menari dalam api dunia terang benderang, Syiwa.Dalam dirinya bergerak dan beredar, tidak terperiBerapa banyaknya, bersinar-sinar, berseri-seri,Matahari, bulan dan bintang, semua mengikut bunyiGendang yang mahamerdu dan nyaring, yang tiada sunyiDari memenuhi seantero dunia, Alam yang muramMelayang ke dalam hati teratai api dan suramDiganti sinar caya yang terang benderang dan alamKembali beredar dalam dunia, menari dalamPesta cahaya dan suara.Tiap alam berhatiSendiri, emas yang bersinar-sinar, teratai apiYang kembang, machluk yang indah permai, yang gilang-gemilangMasuk ke dalam, keluar kembali sebagai bintang,Terbang bernyanyi, antara alam yang silang bersilang.Beradu kebagusan, banyaknya tiada terbilang.“Pandang kebagusan dunia, o putera Duka Nestapa,”Kedengaran satu suara yang halus-merdu berkata,“Tujuan sekalian ada dalam diri sendiri,Tidak ada asal tujuan, pangkal ujung, yang diberiDari luar, apa yang kau pandang terjadi sekarang,Tidak ada waktu dulu dan nanti, semua barangSudah ada, ada dan akan ada dalam sebentarItu jua. Supaya segala makhluk tahu benar,Bahwa ia harus turut menari dalam pesta caya.Agar berbahagia, ia harus dalam api bernyalaMembakar segala ikatan buta yang dikarangnya.Dibikinnya sendiri. Api memusnakan kebatannya.Dan jiwa merasa siksa, tetapi, lihat, ia terbangSebagai dewa, indah permai ke dalam cuara terang,Tetapi belum ia merdeka, berkali-kali lagi.Ia msuk untuk membersihkan diri ke dalam api,Sehingga akhirnya ia sadar, bahwa NatarajaIa sendiri, bahwa dunia semata tidak adaDi luar dirinya. Jalan ringkas, putra Nestapa.Mencapai kemerdekaan ini, pandanglah dengan nyata.”Seorang orang duduk termenung seorang diri,Matanya muram, seperti dukacita dunia iniSekaliannya dirasanya. Pandangannya menyayatHatiku, membakar jiwaku, membuat ‘ku teringatAkan sengsara kemanusiaan dan malapetaka.Diri sendiri. O, ‘ku sudah pernah memandang mataYang demikian rupanya itu di alam jasmani,Mata, yang menyuruh daku merdeheka atau mati,Api bernyala-nyala datang mengelilingi dia,Bertambah tinggi, bertambah besar, dan antero duniaTercengang, karena ia tinggal samadi, diam semata.Akhirnya dalam kalbu hati dunia ia bertakhta.Sekalian alam berhenti beredar memberi hormat.Jiwanya makin lama makin lebar dan pada saatIa berdiri dari kalbu hati dunia, segala alamSegala matahari, bulan dan bintang ada dalamdirinya: Ia satu dengan Nataraja, Mahadewa,Ialah dia: seseorang yang mencari sudah merdeka!“O, putra Duka Nestapa, yang berjalan dari candiKe candi, dari negeri ke negeri, mencariKelupaan dan penglipur buat hatimu, yang dibelahOleh malapetaka dan keinginan, yang belum pernahBisa diobati,barang suatu, ketahuilah,Bahwa Bah’gia berada dalam hatimu. Satuilah.Tari segala alam, masukilah Api bernyala,Sehingga engkau akhirnya jadi Syiwa-Nataraja.”
Wednesday, February 26, 2014
Puisi Tentang Awan | Sanusi Pane
0 komentar Wednesday, February 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Arjuna "Kepada R. P. Mr. Singgih" | Sanusi Pane
0 komentar Wednesday, February 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiArjunaKepada R. P. Mr. SinggihSanusi PaneAku merasa tenaga baruMemenuhi jiwa dan tubuhku;Hatiku rindu ke padang Kuru,Tempat berjuang, perang selalu.Aku merasa bagai Pamadi,Setelah mendengar sabda Guru,Nerendra Krisjna, di ksetra Kuru:Bernyala ke dewan dalam hati.Tidak ada yang dapat melingtangPada jalan menuju maksudku:Menang berjuang bagi RatukuMahkota nanti di balik bintangLaksmi letakkan d’atas kepalamSedang bernyanyi segala dewa.
Tuesday, February 25, 2014
Puisi Dibawa Gelombang | Sanusi Pane
0 komentar Tuesday, February 25, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDibawa GelombangSanusi PaneAlun membawa bidukku perlahanDalam kesunyian malam waktu,Tidak berpawang, tidak berkawan,Entah kemana aku ta’tahuJauh di atas bintang kemilau,Seperti sudah berabad-abad;Dengan damai mereka meninjauKehidupan bumi, yang kecil amat.Aku bernyanyi dengan suaraSeperti bisikan angin didaun;Suaraku hilang dalam udara,Dalam laut yang beralun-alun,Alun membawa bidukku perlahanDalam kesunyian malam waktu,Tidak berpawang, tidak berkawan,Entah kemana aku ta’tahu
Monday, February 24, 2014
Puisi Taj Mahal Kepada “Anjasmara” | Sanusi Pane
0 komentar Monday, February 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTaj MahalKepada “Anjasmara”Sanusi PaneDalam Taj Mahal, ratu astana,Putih dan permai: pantun pualamTermenung diam di tepi JamnaDi atas makam Ardjumand Begam,Yang beradu di sisi Syah Jahan,Pengasih, bernyanyi megah muliaDalam malam tiada berpadan,Menerangkan cinta akan dunia,Di sana, dalam duka nestapa,Aku merasa seorang pemintaDi depan gapura kasih cinta,Jiwa menjerit, di cakra dukaAh, Kekasihku, memanggil tuan.Hanya Jamna membalas seruan.
Puisi Mencari | Sanusi Pane
0 komentar Monday, February 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMencariSanusi PaneDi kebun India,Aku pesiarDi kebun Junani,Aku berjalanDi tanah Roma,Aku mengembaraDi benua Barat,Segala bukuPerpustakaan duniaSudah kubaca,Segala filsafatSudah kuperiksa.Akhirnya ‘ku sampaiKe dalam tamanHati sendiri.Di sana BahagiaSudah lamaMenanti daku.
Sunday, February 23, 2014
Puisi Betapa Kami Tidakkan Suka | Sanusi Pane
0 komentar Sunday, February 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBetapa Kami Tidakkan SukaSanusi PaneBetapa sariTidakkan kembang,Melihat terangSimata hari.Betapa kamiMemandang mukaSijantung hati.
Monday, February 17, 2014
Puisi Tanah Bahagia | Sanusi Pane
0 komentar Monday, February 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTanah BahagiaSanusi PaneBawa daku ke negara sana, tempat bah’giaKe tanah yang subur, dipanasi kasih cinta.Dilangiti biru yang suci, harapan cita,Dikelilingi pegunungan damai mulia.Bawa daku ke benua termenung berangan,Ke tanah tasik kesucian memerak silau,Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau,Dibujuk angin membisikkan kenang-kenangan.Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata:Hatiku dibelah sengsara setiap hati,Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua.O, tanah bah’gia, bersinar emas permata,Dalam dukacita engkau mematahari.Pabila gerang tiba waktu bersua?
Saturday, February 15, 2014
Puisi Tentang Lautan Waktu | Sanusi Pane
0 komentar Saturday, February 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLautan WaktuSanusi PaneJiwaku talah lama merenang lautan waktu dan aku berhenti,membiarkan diriku dipermainkan gelombang.Aku bermimpi dibawa arus ke darat sejahtera di bawah langitbertabur bintang.Mata kubuka: awan mengandung guruh berkumpul di langit.Badai turun dan setinggi gunung gelombang naik, mengem-pas-empaskan daku seperti tempurung.Tangan kukembangkan dan mulai lagi mengharung laut,sebatang kara dalam ‘alam tidak berwatas.
Friday, February 14, 2014
Puisi Penyanyi | Sanusi Pane
0 komentar Friday, February 14, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPenyanyiSanusi PanePujangga, kalau ajal sudahlah sampai,Engkau menutup mata di dalam damai,Sebab mengetahui terang rahasia alam,Engkau, yang bermahkota susunan ilham.O, Pujangga, kalau dunia gundah gulana,Engkau bersila, jiwa tersenyum jua,Sebab merasa kegemetaran nyawa dunia,Engkau, Penyanyi lagu mulia.
Wednesday, April 6, 2011
Puisi Tentang Candi | Candi Mendut
0 komentar Wednesday, April 06, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCandi Mendut
Sanusi Pane
Di dalam ruang yang kelam terang
Berhala Budha di atas takhta,
Wajahnya damai dan tenung tenang,
Di kiri dan kanan Bodhisatwa.
Waktu berhenti di tempat ini
Tidak berombak, diam semata;
Azas berlawan bersatu diri,
Alam sunyi, kehidupan rata.
Diam hatiku, jangan bercita,
Jangan kau lagi mengandung rasa,
Mengharap bahagia dunia Maya
Terbang termenung, ayuhai, jiwa,
Menuju kebiruan angkasa,
Kedamaian Petala Nirwana.
Puisi Karya Sanusi Pane
Puisi Kesadaran | Puisi Bertema Kesadaran
0 komentar Wednesday, April 06, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKesadaran
Sanusi Pane
Pada kepalaku sudah direka,
Mahkota bunga kekal belaka,
Aku sudah jadi merdeka,
Sudah mendapat bahagia baka.
Aku melayang kelangit bintang,
Dengan mata yang bercaya-caya,
Punah sudah apa melintang,
Apa yang dulu mengikat saya.
Mari kekasih, jangan ragu
Mencari jalan; aku mendahului,
Adinda kini
Mari, kekasih, turut daku
Terbang kesana, dengan melalui,
Hati sendiri
Puisi Karya Sanusi Pane
Puisi Bertema Pagi | Sanusi Pane
0 komentar Wednesday, April 06, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPagi
Sanusi Pane
Pagi telah tiba, sinar matahari
Memancar dari belakang gunung,
Menerangi bumi, yang tadi dirundung
Malam, yang sekarang sudahlah lari.
Alam bersuka ria, gelak tersenyum,
Berseri-seri, dipeluk si raja siang.
Duka nestapa sudah diganti riang,
Sebab Sinar Bahagia datang mencium.
Mari, O Jiwa, yang meratap selalu
Dalam rumahmu, turutlah daku.
Apa guna menangisi waktu yang silam?
Mari, bersuka ria, bercengkerema
Dengan alam, dengan sinar bersama-sama,
Di bawah langit yang seperti nilam.
Puisi Karya Sanusi Pane
BIOGRAFI SANUSI PANE
0 komentar Wednesday, April 06, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBIOGRAFI SANUSI PANE
Lahir 14 November 1905 di Muarasipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, meninggal dunia 2 Januari 1968 di Jakarta.
Dia pernah bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka, tapi lebih banyak aktif dalam lapangan pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah kebangsaan. Dia pun banyak bergerak di lapangan jurnalistik. Dia memimpin majalah Timbul edisi bahasa Indonesia, 1932-1933.
Sanusi pernah melawat ke India (1929-1930) dan menghasilkan sekumpulan puisi berjudul Madah Kelana (1931). Bukunya yang lain: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927). Banyak perhatiannya tercurah pada sejarah. Lima lakonnya, empat di antaranya berdasarkan sejarah di Jawa. Dua diantara judul itu dia tulis dalam bahasa belanda, yaitu Airlangga (1928) dan Eenzame Garoedavlucht (1930). Tiga judul lainnya dalam bahasa Indonesia: Kertajaya (1932), Sandhyakala ning Majapahit (1933), dan Manusia Baru (1940).
Karya sejarahnya: Sejarah Indonesia (1942) dan Indonesia Sepanjang Masa (1952). Dia pun menerjemahkan karya sastra lama dari bahasa Kawi berjudul Arjuna Wiwaha (1948) dan Bunga Rampai dari Hikayat lama (1946).
Sejumlah puisinya ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963) susunan H.B. Jassin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
