Showing posts with label Puisi Mustofa Bisri. Show all posts
Showing posts with label Puisi Mustofa Bisri. Show all posts

Tuesday, February 25, 2014

Puisi Identitas atawa Aku dalam Angka | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Identitas atawa Aku dalam Angka
K.H.A.Mustofa Bisri

lahir sebelum masa anak cukup 2
sebagai anak ke 2 dari 9 bersaudara
rumah kami nomer 3 jalan mulia
termasuk 1 dari 17 erte di desa
leteh namanya – 1 dari 34 desa di kecamatan kota –
1 dari 14 kecamatan di kabubaten
rembang namanya – 1 dari 5 kabupaten
di karesidenan pati –
1 dari 6 karesidenan di propinsi jawa tengah –
1 dari 27 propinsi di indonesia
1 dari 6 negara-negara asean di asia –
1 dari 5 benua di dunia –
1 dari sekian “kacang hijau” di semesta.
cukup jelaskah aku?

1987

Thursday, February 20, 2014

Puisi Suwuk Solibin | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar


Suwuk Solibin
K.H.A.Mustofa Bisri

Solibin solimat
Bimat busipat

Langitmu tanpa mendung
Lautku tanpa garam
Mendung bagianku
Garam bagianmu

Solibin solimat
Bimat busipat

Pundakmu tanpa beban
Bebanku tanpa pundak
Hakmu tanpa kewajiban
Kewajibanku tanpa hak

Solibin solimat
Bimat busipat

Kaukemas keserakahan dalam amal kesalehan
Kukemas kecemasan dalam senyum kekalahan
Kaubungkus kebusukan dalam kafan sutera
Kubungkus kepedihan dalam dada membara

Solibin solimat
Bimat busipat

Kau keparat!

1410

Tuesday, February 18, 2014

Puisi Mula-mula | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Mula-mula
K.H.A.Mustofa Bisri

Mula-mula mereka beri aku nama
Lalu dengan nama itu
Mereka belenggu tangan dan kakiku

1987

Saturday, February 15, 2014

Puisi Suwuk Kulhu Sungsang | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Suwuk Kulhu Sungsang
K.H.A.Mustofa Bisri

Sato sampai sato mati
Jalma sampai jalma mati
Maling sampai maling mati
Rampok sampai rampok mati
Tamak sampai tamak mati
Lalim sampai lalim mati
Tiran sampai tiran mati
Buta sampai buta mati
Hantu sampai hantu mati
Setan sampai setan mati
Niatbusuk sampai niatbusuk mati
Atas pertolongan Pasti.

1411

Saturday, February 8, 2014

Puisi Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu | Mustofa Bisri

0 komentar

Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu
K.H.A.Mustofa Bisri

Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni semua

Anak-anak Asmuni
Orang-orang Asmuni
Tuan Asmuni
Raden Asmuni
Bapak Asmuni
Kiai Asmuni
Politikus Asmuni
Pemikir Asmuni
Pembaru Asmuni

Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni

Sayang
Asmuni yang jujur cuma satu
Asmuni yang menghibur
Cuma satu

1988
Dengan permohonan maaf dari Asmuni Andiweky dari Group Lawak Srimulat

Friday, February 7, 2014

Puisi Tentang Guruku | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Guruku
K.H.A.Mustofa Bisri

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya
Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar
Ketika aku besar dan menjadi pintar
Kulihat dia begitu kecil dan lugu
Aku menghargainya dulu
Karena tak tahu harga guru
Ataukah kini aku tak tahu
Menghargai guru?

1987

Thursday, February 6, 2014

Puisi Suwuk Manikcemar | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Suwuk Manikcemar
K.H.A.Mustofa Bisri

telah tergenggam tangan
nyawamu

runduk tunduk
merunduk
tunduk runduk
menunduk

merunduk
menunduk
tunduk
runduk
terbentuk!

tengkukmu pakubengkok
lututmu sikusiku
gagukaku
kakugagu

tak tidak
tak tak

tak tidak      tak tak
tak tak      tak tidak
tak tidak      tak tak

gagukaku
kakugagu
kaku semua
gagu semua

semua ya ya ya        ya saja
yayaya  yayaya  yayaya  saja

yayaya

yayaya  saja

laa ilaha illallah muhammadur rasuulullah

1410

Monday, February 3, 2014

Puisi Balsem dari Tunisia | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Puisi Balsem dari Tunisia
K.H.A.Mustofa Bisri

Di festival puisi di negeri Abu Nuwas
Kepalaku pening setiap hari
Dicekoki puisi-puisi mabok puji
Padahal aku tidak membawa
Puisi-puisi balsemku yang manjur istimewa

Untung seorang penyair Tunisia
Munsif Al-Muzghany namanya
Di samping beberapa kumpulan puisinya
Dia membawa puisi-puisi balsem juga rupanya
(Puisi balsem cukup universal juga ternyata!)
Satu di antaranya begini bunyinya:

Ada seekor kambing
Nyelonong masuk gedung parlemen
Dan mengembik
Maka tiba-tiba saja
Menggema di ruang terhormat itu
Paduan suara : setujuuu!

Peningku sejenak hilang
Lumayan manjur juga

Baghdad (memang ditulis di Baghdad, tapi disebutkan di sini sambil bergaya),
27 November 1989

Sunday, February 2, 2014

Puisi Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat
K.H.A.Mustofa Bisri

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?

Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendiri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenungi arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkhutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan khutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

1987

Puisi Nyanyian Kebebasan atawa Boleh Apa Saja | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Nyanyian Kebebasan atawa Boleh Apa Saja
K.H.A.Mustofa Bisri

Merdeka!
Ohoi, ucapkanlah lagi pelan-pelan
Merdeka
Kau ‘kan tahu nikmatnya
            Ohoi,

Lelaki boleh genit bermanja-manja
Wanita boleh sengit bermain bola
Anak muda boleh berkhutbah dimana-mana
Orang tua boleh berpacaran dimana saja

Ohoi,
Politikus boleh berlagak kiai
Kiai boleh main film semau hati
Ilmuwan boleh menggugat ayat
Gelandangan boleh mewakili rakyat

Ohoi,
Dokter medis boleh membakar kemenyan
Dukun klenik boleh mengatur kesejahteraan
Saudara sendiri boleh dimaki
Tuyul peri boleh dibaiki

Ohoi,
Pengusaha boleh melacur
Pelacur boleh berusaha
Pembangunan boleh berjudi
Penjudi boleh membangun

Ohoi,
Yang kaya boleh mengabaikan saudaranya
Yang miskin boleh menggadaikan segalanya
Yang di atas boleh dijilat hingga mabuk
Yang di bawah boleh diinjak hingga remuk

Ohoi,
Seniman boleh bersufi-sufi
Sufi boleh berseni-seni
Penyair boleh berdzikir samawi
Muballigh boleh berpuisi duniawi

Ohoi,
Si anu boleh anu
Siapa boleh apa
Merdeka?

1987

Thursday, January 30, 2014

Puisi Pilihan | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Pilihan
K.H.A.Mustofa Bisri

Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?

1410/1989

Monday, January 27, 2014

Puisi Orang Penting | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Orang Penting
K.H.A.Mustofa Bisri

Orang penting lain dengan orang lain
Dia beda karena pentingnya
Bicaranya penting diamnya penting
Kebijaksanaannya penting
Ngawurnya pun penting
Semua yang ada padanya penting
Sampai pun yang paling tidak penting
Jika tak penting lagi
Dia sama dengan yang lain saja

1987

Puisi Tentang Istriku | K.H.A.Mustofa Bisri

0 komentar

Istriku
K.H.A.Mustofa Bisri

Kalau istriku tidak kawin denganku
Dia bukan istriku tentu
Aku kebetulan mencintainya
Diapun mencintaiku
Seandainya pun aku tidak mencintainya
Dan dia tidak mencintaiku pula
Dia tetap istriku
Karena ia kawin denganku

1987

Thursday, July 8, 2010

Di Pelataran AgungMu Nan Lapang

0 komentar

Di Pelataran AgungMu Nan Lapang
Mustofa Bisri

Di pelataran agungMu
nan lapang kawanan burung merpati
sesekali sempat memunguti butir-butir
bebijian yang Engkau tebarkan
lalu terbang lagi
menggores-gores biru langit
melukis puja-puji
yang hening

Di pelataran agungMu
nan lapang aku setitik noda
setahi burung merpati menempel pada pekat
gumpalan yang menyeret warna bias kelabu
berputaran mengatur
melaju luluh dalam gemuruh
talbiah, takbir dan tahmit
Dikejar dosa-dosa
dalam kerumuman dosa
ada sebaris doa
siap kuucapkan
lepas terhanyut air mata
tersangkut di kiswah nan hitam

Di pelataran agungMu
nan lapang
aku titik-titik tahi merpati
menggumpal dalam titik noda berputaran,
mengabur, melaju, luluh
dalam gemuruh talbiah,
takbir dan tahmit
mengejar ampunan dalam lautan
ampunan
terpelanting dalam qouf dan roja.




Sajak Mustofa Bisri | Kaum Beragama Negeri Ini

0 komentar

Kaum Beragama Negeri Ini
Mustofa Bisri

Tuhan,
lihatlah
betapa baik kaum beragama
negeri ini
mereka terus membuatkanmu
rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga di tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah
dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan namaMu
menambah segan
dan keder hamba-hamba
kecilMu yang ingin sowan kepadaMu.

NamaMu mereka nyanyikan dalam acara
hiburan hingga pesta agung kenegaraan.
Mereka merasa begitu dekat denganMu
hingga masing-masing
merasa berhak mewakiliMu.

Yang memiliki kelebihan harta
membuktikan
kedekatannya dengan harta
yang Engkau berikan
Yang memiliki kelebihan kekuasaan
membuktikan kedekatannya dengan
kekuasaannya yang Engkau limpahkan.
Yang memiliki kelebihan ilmu
membuktikan
kedekatannya dengan ilmu
yang Engkau karuniakan.

Mereka yang engkau anugerahi
kekuatan sering kali bahkan merasa
diri Engkau sendiri
Mereka bukan saja ikut
menentukan ibadah
tetapi juga menetapkan
siapa ke sorga siapa ke neraka.

Mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan
semua yang mereka lakukan
hingga takbir
dan ikrar mereka yang kosong
bagai perut bedug.
Allah hu akbar walilla ilham.




Puisi di Arafah | Mustofa Bisri

0 komentar

Di Arafah
Mustofa Bisri

Terlentang aku
seenaknya dalam pelukan bukit-bukit
batu bertenda langit biru,
seorang anak entah
berkebangsaan apa
mengikuti anak mataku
dan dalam
isyarat bertanya-tanya
kapan Tuhan turun?
Aku tersenyum.
Setan mengira dapat mengendarai
matahari,
mengusik khusukku apa tak melihat
ratusan ribu hati putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagamu
dari jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat.
Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat dan sianak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan
karnaval menari-nari
dengan riangnya.

Terlentang aku
satu diantara jutaan tumpukan
dosa yang mencoba menindih,
akankah
kiranya bertahan dari banjir
air mata penyesalan
massal ini

Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir menghitung wirid kami
dan sianak
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur dipangkuanku
pulas sekali

Puisi Mustofa Bisri | BagiMu

0 komentar


Bagi Mu


Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada
rendah tanah,
telah kuamankan sedapat mungkin
maniku,
kuselamat-selamatkan Islamku
kini dengan
segala milikMu ini
kuserahkan kepadaMu Allah
terimalah.

Kepala bergengsi yang terhormat ini
dengan kedua
mata yang mampu menangkap
gerak-gerik dunia,
kedua telinga
yang dapat menyadap kersik-kersik
berita,
hidung yang bisa mencium wangi parfum
hingga borok manusia,
mulut yang sanggup menyulap
kebohongan jadi kebenaran
seperti yang lain hanyalah
sepersekian percik tetes anugrahMu.

Alangkah amat
mudahnya Engkau
melumatnya Allah,
sekali Engkau
lumat terbanglah cerdikku,
terbanglah gengsiku
terbanglah kehormatanku,
terbanglah kegagahanku,
terbanglah kebanggaanku,
terbanglah mimpiku,
terbanglah hidupku.

Allah,
jika terbang-terbanglah,
sekarangpun aku pasrah,
asal menuju haribaan rahmatMu.





Sajak Mustofa Bisri | SUJUD

0 komentar

Sujud

Bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia
dan indah begitu pongah
minta sajadah
agar tak menyentuh tanah.

Apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu
dengan congkak,
tanah hanya patut diinjak,
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya jadi lahan
pemanjaan nafsu
serakah dan tamak.

Apakah kau lupa
bahwa tanah adalah bapak
dari mana ibumu dilahirkan,
tanah adalah ibu yang menyusuimu
dan memberi makan
tanah adalah kawan yang memelukmu
dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang
menuju keabadian.

Singkirkan saja
sajadah mahalmu
ratakan keningmu,
ratakan heningmu,
tanahkan wajahmu,
pasrahkan jiwamu,
biarlah rahmat agung
Allah membelai
dan terbanglah kekasih


Biografi Mustofa Bisri

0 komentar

Biografi Mustofa Bisri

Mustofa Bisri dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Sering menggunakan nama samaran M. Ustov Abi Sri. Lulusan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) ini kerap mengikuti forum baca puisi, termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Puisi Syukuran Tutup Tahun 1989; Bosnia Kita; Parade Puisi Indonesia; Antologi Puisi Jawa Tengah. Kumpulan puisi tunggalnya adalah: Ohoi; Tadarus; dan Pahlawan dan Tikus.

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |