Showing posts with label Eto Kwuta. Show all posts
Showing posts with label Eto Kwuta. Show all posts

Wednesday, January 13, 2016

Puisi Kesepakatan | Eto Kwuta

0 komentar


ilustrasi

Kesepakatan
Eto Kwuta

Kamu indah.
akan kunikahi engkau
kala mentari menengok pagi esok dan
esok pagi
hinggap di bola matamu.

Dia di sana ‘kan? kamu terus bertanya.
ia. iYa. Ia menunggu kapan kita sepakat lagi
mengenakan bibir matahari
melumat hitam, juga, putih pada wajah ibuku.

St. Arnoldus, 27-29 April 2014


Puisi Ingin punya Boneka | Eto Kwuta

0 komentar


ilustrasi

Ingin punya Boneka
Eto Kwuta

Kamu bilang ingin punya boneka kan?
ah, jangan terlalu cepat-cepat. nanti juga Dia berikan satu atau
dua untuk temani makan malam kita. Mari rayakan dahulu perjamuan:
memecahkan roti, meneguk anggur kata, kita, menjenguk puisi.
Cuma berdua saja.

Ende, 26 April 2014


Saturday, August 16, 2014

Puisi Suatu Kali di Biara | Eto Kwuta

0 komentar

Suatu Kali di Biara
Eto Kwuta

Kadang aku bertanya
mengapa di biara kita belajar
memberi juga ciuman

Maka kujawab sendiri:
ciuman yang menghasilkan buah
yang jatuh, di depan juga di belakang kita.
Ah, benar?

Kalau kamu bertanya
siapa yang di depan dan
siapa yang di belakang
Pasti, ada yang bilang: Yudas Iskariot.

Lalu, siapakah Yudas Iskariot?
saya atau kamu? pengkhianat atau penjahat?
mungkin keduanya benar.
tapi, jangan ceritakan ke siapa siapa.

Lihat! ada goresan di dalam
rumah itu:
Diam, ini biara.
Dilarang bicara kuat-kuat!

Nitapleat, 05/05/14


Tuesday, May 6, 2014

Puisi Sebuah Nama di Suatu Malam | Eto Kwuta

0 komentar

Sebuah Nama di Suatu Malam
Eto Kwuta

Aku bangun tengah malam
menemukkan diri diam
dicumbu derai-derai yang datang dari hening.
Namanya, Puisi.

St. Arnoldus, 25 Maret 2014


Monday, May 5, 2014

Puisi Catatan kepada Embun | Eto Kwuta

0 komentar

Catatan kepada Embun
Eto Kwuta

Selalu pada setiap pagi
Kujumpai beningmu bersama dedaunan
Di sana, kusebut namamu:

Mulanya aku menegun
Saat beningmu terasa basah
pada jari-jari ini , lalu kukecup basahmu
Dan namamu kutulis:
Sejuk.

Engkau embun sejuk
Pada pagi yang biasa
Leluasa engkau berbahasa
Hingga rumput-rumput berkedip: Ah basah,
sesejuk itukah engkau?
Aku jua  berkedip: Ah basah,
sesejuk itukah engkau?
(perlahan mentari merangkak)
Engkau tak lagi basah.

Semua heran dan bertanya:
Adakah engkau tinggalkan jejak?
Aku jawab: Ya,
jejak-jejak bisu yang  indah
Engkau selipkan di kerling mataku
yang lagi basah

Aku pun mencatat:
Engkau embun basah
Sesejuk jejak-jejak bisu
Datang, datang, selalu datang
di setiap pagi yang biasa
Menyelip indah butiran-butiran
basah pada kerling mata ini.

Nita Pleat, 17/09/2013


Friday, February 21, 2014

Puisi Aku di Bibir Malam II | Eto Kwuta

0 komentar

Aku di Bibir Malam II
Eto Kwuta


Sungguh aku jatuh cinta
Pada hitam-kelammu
Dikoyak-koyak sepi-seram
Sendiri aku masih di bibirmu

Dan siang selalu kurayu
Bersama terik mentari
Lantaran aku mesti kembali
Mencumbu dingin di jantungmu

Oh, malam..gelisahku:
Aku takut selalu jatuh
Di bibirmu.

Nice Place, 17/08/13.


Puisi Aku di Bibir Malam I | Eto Kwuta

0 komentar

Aku di Bibir Malam I
Eto Kwuta

Serupa disekap
Aku terpenjara malam
Meraba-raba diri
Sendiri tak jua berlari.

Hanya berdiri, berdiam
Akrabi diri menanti matahari
Menepisnya kepada pagi dan
Aku kembali pulang

Bawa cerita kepada siang
Bahwa aku selalu jatuh
Di bibirmu.

Nice Place, 17/08/13.


Wednesday, December 4, 2013

Puisi Tentang Bola Mata (Dari Rakyat) | Eto Kwuta

0 komentar

Tentang  Bola Mata
(Dari Rakyat)
Eto Kwuta

Pada bola mata itu
Kata-katamu
Berkhidmat penuh janji-janji nikmat:

Revolusi
Sungguhkah revolusi
atau korupsi?

Matamu mata yang paling malang
Selalu melakoni:
Kebohongan.

Nita Pleat, 24 November 2012


Puisi Di Pantai | Eto Kwuta

0 komentar

Di Pantai
Eto Kwuta

I

Kata-kata kurangkai dalam hening
Menggusur dukaku hilang
Tiada terbayang

II

Kita berpelukan erat
Sejauh tangan tergenggam kuat
Serasa mengalir darah
Lalu angin mendesir basah
Ssshhhh........
Dan waktu pun menjalang:
Sudah selesai?

III

Katakan ombak
Bahwa kita benar biarkan liar
Letupan hasrat berpagutan basah
Mengalir kepada hatiku  juga hatimu
Ssshhhh.......
Angin terus meronta
Dan kita berbisik:
Sungguhkah cinta!

Boba-Bajawa, 4 Januari 2013


Thursday, November 28, 2013

Biografi Eto Kwuta

0 komentar


Biografi Eto Kwuta

Eto Kwuta Lahir di Flores Timur, Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), 6 Juni 1989, mulai menulis puisi, drama, dan cerpen sejak SMA di Seminari San Dominggo Hokeng, Larantuka, Flores Timur, NTT. Sekarang masih menulis puisi, cerpen, dan drama. Beberapa puisi dan cerpen termuat di Flores Pos, Pos Kupang. Untuk saat ini, sedang menyelesaikan kuliah Filsafat di STFK Ledalero, Maumere, NTT.

Kini menjadi Pemimpin Redaksi di Komunitas Sastra Sandal Jepit (Sebuah komunitas penulisan puisi yang diselenggarakan oleh para frater atau calon imam dan misionaris dalam SVD (Societas Verbi Divini) atau Serikat Sabda Allah, Nita Pleat, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Kumpulan puisinya dalam Antologi Puisi Penyair NTT (Ratapan Laut Sawu) akan segera terbit.


Thursday, November 14, 2013

Puisi Tentang Pelukis | Eto Kwuta

0 komentar

Pelukis
: Fr. Vian Fuka , SVD
Eto Kwuta

seberapa jauh kau mengawini cat
-yang melumat kuas pada kanvas
melintasi wajah manusia pun misterinya

aku adalah tubuhku: wajahnya
lukislah aku serupa adam dan hawa
di Eden yang sunyi

lalu keindahan kau selami dengan warna
saat tanganmu menggemulai
dicumbui diam dan waktu merayap
di dinding
(wajah itu sudah kau nikahi
dengan seleramu yang sederhana
dan biasa-biasa saja)

dalam tabir waktu aku terperangah
menatap beku tubuhku
itu aku, kah?

jadi seberapa jauh kau mengawini cat
sejauh itu dia melukismu jadi aku

St. Arnoldus Yansen, 2013-09-30.

Friday, May 24, 2013

Puisi Di Jedah Nafas-Mu, Aku | Eto Kwuta

0 komentar

Di Jedah Nafas-Mu, Aku
Eto Kwuta

Di jedah nafas-Mu, aku tersentak
dan senja ini membentang kepak.
Lalu Engkau tertunduk tiada mengajak
melukis kayu yang tak lagi tegak.

Tuhan.......
Aku tersentak,
malu menanam hati pada puncak retak.
Sembari kuberpijak,
menatap-Mu memeluk diam tanpa sajak.

Tuhan.......
Kini di jedah bisu-Mu, kupeluk
dalamnya duka Golgota.
Dan kebenaran hanyalah seteguk
Lalu tumpah pada akhir cerita.

Tuhan....
Aku buta.
Sehabis terhempas dangkalnya cita-cita.
Mungkin sampai senja berlalu
berlari menepis malam hingga pagi
bercerita.
Aku tetap buta.
Terperangkap kebutaan mencinta.
Di sini masih kujumpai Golgota
bercerita tentang cinta dalam derita.

Tuhan......
Aku gemetar.
Pada hidup yang berputar berujung duka.
dan tanya apa itu kebenaran tak mampu kukata

Tuhan ......
Di jedah nafas-Mu, kutengadah
menyapa diri yang payah
susah
sepi

Tuhan....
Panggil aku
Panggil aku debu pada kaca
Panggil aku kayu pada abu
Ternyata aku sampah

Tuhan....
Di jedah nafas-Mu, kuberkisah
"Ternyata cinta itu murah, tapi
mencinta itu tidaklah murah."

St . Mikael-Ledalero, 15/03/12


Tuesday, May 21, 2013

Puisi Tentang Hujan | eto kwuta

0 komentar

Hujan
eto kwuta

sengaja engkau mengecup basah rerumptuan
meleleh di ujung mata menawan, dari awan yang perawan
turun ke bumi, memeluk hitam-kelam tanah lalu terdiam
di ujung waktu. kau terus merayu waktu dengan merinai
indah di batas senja, meliuki daun-daun menari ria
pada tetes-tetes bisu yang tercurah dari ketidakalpaanMu
yang dalam bersama adaMu di bola mataku.

St. Arnoldus Nitapleat, 2013


Puisi Tentang Lelaki | Eto Kwuta

0 komentar

Lelaki
eto kwuta

Seperti semut berebut
Madu di mulut:
Wanita

Nita Pleat-Ledalero, 13 November “12


Puisi Tentang Salib | Eto Kwuta

0 komentar

Salib
eto kwuta

itu kayu
berdiri tegak tiada layu
lalu kucumbui Dia sembari merayu:
kayu-Mu kayu manis

sehabis kucumbu manis-Nya
mulailah kumemberontak
"selamatkanlah aku pun diri-Mu
engkau raja, kan?"

langit diam tiba-tiba
dan mengemeretak daun-daun berguguran
golgota pun terbungkam
sepi-seram

inikah kayu
berlumpur dosa
berlumpur
akh, adakah yang lebih manis dari kayu-Mu, Tuhan?

Nita Pleat-Ledalero, 2013


Sunday, May 19, 2013

Puisi Doa | Eto Kwuta

0 komentar

Doa
eto kwuta

Itu perjumpaan tanpa lupa

“Kenapa kita menjangkau-Nya serupa dupa?”

Kita menangkap rupa
Beroleh sehasta hendak sedepa:
Membohongi siapa?

St. Arnoldus Janssen-Nita Pleat, 8 Oktober 2012


Puisi Di Biara | Eto Kwuta

0 komentar

Di Biara
eto kwuta

Tersulam
Benih-benih sedap malam
Mati lalu hidup
Di mulut zaman
:Kita

Nita Pleat, 8 Oktober 2012


Puisi Pilihan | Eto Kwuta

0 komentar

Pilihan
(Permenungan pada detik-detik itu)
Eto Kwuta

I

kucumbu detik-Mu pergi-datang
di detak-detak jantung ini
aku memburu-Mu

II

aku malu
menjalang pada bibir kasih-Mu
lalu memilih cinta akan rumah-Mu.

St. Arnoldus, 30 Desember '12


Monday, April 29, 2013

Puisi Maya "Kita Hidup Berujung Mati" | Eto Kwuta

0 komentar

Maya
Eto Kwuta

Sebentar lagi fajar lembut merekah
Mengapa mimpimu tak kunjung terjaga?

Di dunia ini
Tak ada yang abadi
Mari kenakan senjata cahaya
Mumpung pagi sebentar lagi datang

Maya,
Kita hidup berujung mati
Sekali-kali beri arti

St. Mikael-Ledalero, 10 Maret 2012


Monday, April 1, 2013

Puisi Pada Sebuah Perjumpaan | Eto Kwuta

0 komentar

Pada Sebuah Perjumpaan
Eto Kwuta

I
izinkan aku menatap parasmu
agar kupahat waktu ini untukmu
hingga tak lekas pergi sisakan hampa
bak embun pergi bersua mentari
pasti tak ada arti, kan?

II
waktu ini terasa liat dan dalam
memahat kata pada kita yang bisu
sayang, izinkan aku melukis cinta di jedah nafasmu
dan membawamu kembali pada kisah semalam
hingga rindu ini menari di mentari
“perjumpaan kita indah
selalu membuat aku merindumu”

III
di detak-detak waktu, kusulam kisah yang terlepas
sisa-sisa memburu hatimu, saat jumpa
bisakah kuselipkan merah mawar ini
untuk sua pertama kita

St.Mikael-Ledalero, 24 maret 2012


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |