Showing posts with label Subagio Sastrowardojo. Show all posts
Showing posts with label Subagio Sastrowardojo. Show all posts

Sunday, February 23, 2014

Sajak Sejenak | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Sajak Sejenak
Subagio Sastrowardojo

tamu

masih ada yang mau singgah
di pondok tua – kesan sesal
gamit rindu, gores duka
biar terbuka pintu muka
buat tamu tak terduga
siapa akan mengajak berbicara –
rumput, batu, matahari
arti kabur di pudar hari
di bawah jenjang berdiri bayang
di tangan pisau belati
tiba ia menoleh memperhati

Saturday, February 22, 2014

Puisi Leiden 30/10/78 (Malam pk. 20.15) | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Leiden 30/10/78 (Malam pk. 20.15)
Subagio Sastrowardojo

pada ketinggian usia
mimpi mulai pucat
daerah tandus menapak ke pinggir kota
jejak di pasir tak nampak
kenangan habis tersadap dari dada
membeku darah kata
anak yang baru lahir
masih mengenalnya sebagai sajak
orang lain membiarkannya tergeletak
di antara buku-buku tak terbaca
barangkali hanya Shakespeare sempat menyimak
tetapi dia pun kini sudah tak ada

Puisi Paris 19/10/78 (Malam pk. 3.15) | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Paris 19/10/78 (Malam pk. 3.15)
Subagio Sastrowardojo

sudah beberapa hari ini
telah putus tali pusat
maka kabur gambar kenangan

kumakan bubur perpisahan
dan aku melayang tanpa pedoman
di belakang layar kayon
yang kaupasang
sebelum gamelan dibunyikan

dari jauh ini
aku tak tahu
lakon apa yang kaudirikan
buat malammu sendiri

tapi yang kaudengar pasti
menurut kabar cuaca di tv
di Paris ini turun hujan mawar

Thursday, February 20, 2014

Puisi Leeuwarden 13/11/78 (Malam pk. 3) | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Leeuwarden 13/11/78 (Malam pk. 3)
Subagio Sastrowardojo

mengalir arus malam
sehingga tenggelam badan
tak tertinggal kesan

dari puncak hulu
mata air menunjukkan jari
ke mana muara berhenti

teluk buntu
sudah tentu
sebelum terbuka ketelanjangan pagi

laut tak terinjak
teduh sendiri
tergoncang sepenuh hari

menetes air kelam
tertahan di telapak
menampa tanpa gumam

Tuesday, February 18, 2014

Puisi Paradise Regained | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Paradise Regained
Subagio Sastrowardojo

hari yang mempesona
betapa hampa cita
tembikar retak di bawah rabaan jari

jam terlalu deras
insin saja dilepaskan dari pergelangan
lantas lekas menembus ruang malam
yang cerah intinya
di mana bersinar cahaya di langit angan
dan tak hangus muka oleh usia

langkah mengalah
dan berita pertama terdengar dari sumbernya
yang asli

kuncup muda terpetik dari ranting
lalu membuka bunga sajak

kehadirannya merdu seperti lonceng
lembah meriah

sungguh firdusi
tak kelak
tak ketika

semerbak abadi

Monday, February 17, 2014

Puisi Di Dalam Dada | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Di Dalam Dada
Subagio Sastrowardojo

jika dibelah dadaku
akan nampak semua yang diangan

ada gunung ada lembah
ada pohon di pinggir sawah
jalan setapak menuju ke rumah

tapi ada juga kota lama
dengan gedung runtuh
dan langit terbakar merah

ada juga hutan rimba
tempat nyawa tersesat
terbayang di dalam
lengking rusa yang lari terluka
sudah berkumandang sebelum sempat bersuara

kalau alam tak terangkum dalam dada
bagaimana kata seakan terbit dari tiada
tangan akan hampa meraih ke udara

Sunday, February 16, 2014

Biografi Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Biografi Subagio Sastrowardojo

Subagio Sastrowardojo lahir di Madiun, pada 1 Februari 1924. Karirnya di dunia seni dimulai pada zaman revolusi dengan menyanyi dan melukis. Baru tahun limapuluhan mulai menulis cerpen, sajak dan esai. Ia sempat memperdalam pengetahuannya dalam bidang sastra dan teater di Yale University. Dan saat ini (maksudnya sekitar tahun terbit buku ini, 1975), ia tinggal di Adelaide, Australia, mengajar bahasa dan sastra Indonesia di sana. Kumpulan puisinya, Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), Hari dan Hara (1982). Kumpulan cerpennya Kejantanan di Sumbing (1965). Esainya Bakat Alam dan Intelektualisme (1972) dan Sosok Pribadi dalam Sajak (1980).

Dalam sastra Indonesia, Subagio lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio dicatat pertama kali dalam dunia perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya, Simphoni, terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Kreativitas Subagio tidak terbatas sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Bahkan cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik.

Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, Subagio banyak melukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya, dimana manusia-manusia tersebut adalah makhluk yang mencoba mempertahankan kewajiban namun tergoda oleh sifat-sifat naluriahnya. Puisi-puisi Subagio dinilai mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam serta tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang dalam puisinya digunakannya secara dewasa dan matang. Sementara esai-esainya banyak menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam.

Subagio meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 di usia 72 tahun.

Saturday, February 15, 2014

Puisi Matinya Seorang Penyair | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Matinya Seorang Penyair
Subagio Sastrowardojo

napas begitu tipis seperti kaca
jangan dipecahkan dengan berkata-kata
keheningan jadi pengiring paling setia
bagi kelana di kelam buta
hari kemarin sudah tiada

betapa lama sebelum rela
membunuh api kenang menyala
di luar keramahan kamar telah terkubur sisa mimpi
hilang nanar
tanpa sesal sosok setubuh dengan sepi

terbaring di dataran asing
juga langit kelihatan lain
rumah-rumah redup tanpa jendela
tapi dengan tidak menanya
dicium tanah lekat di tangannya
belahan benua ini sebagian dari nasibnya
dia tak kembali ke pantai tua

rindu lama tidak lagi bergejolak
demam yang diidap sudah reda
detik-detik kini lebih berarti
daripada terus mencari
di balik ufuk pasir melebar
telah habis basah air menghibur
sampai puas digosokkan tubuhnya
ke bumi bisu

penyair meraba permukaan hari
di sini geraknya berhenti
di ambang gurun tak bertepi
dalam perkawinan dengan sunyi
dia tidak sanggup lagi bernyanyi
ketika napas putus mengalir
di udara bergema pekik terakir

Puisi Tembang Pangkur | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Tembang Pangkur
Subagio Sastrowardojo

ketika didendangkannya lagu yang dipelajarinya
dari orang tua
bidadari pada mendengar dari balik dinding
dan nenekmoyang yang pernah tinggal di bumi
diam tepekur

sudah lama dia tidak menyanyi tembang pangkur

laut lalu berhenti di titik nadir
dan kijang berdebar mulai minum dari pangkal telaga
angin kembali ke hutan purba

kota terbakar sudah hilang asapnya
mengapa harus terus mendendam

di teras alam merelung kedamaian

Friday, February 14, 2014

Puisi Perempuan yang Berumah di Tepi Pantai | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Perempuan yang Berumah di Tepi Pantai
Subagio Sastrowardojo

bunga yang kusenangi kupasang di jendela
daun pintu terbuka
kursi lengang dekat meja
lagi kupanggil namanya di lorong rata
menjauh langkah tergesa
bergema hampa

lampu di kamar tetap menyala
tumpah di pangkuan surat lama
lonceng mati di angka tiga
masih yakin dia ada
tinggal aku diam terjaga
pagi rebah di pinggir desa

sinar hari membelah ruang
rumah kosong nampak tua
hiasan dinding tanpa guna
di pantai kembali surut air kelam
ke lubuk laut entah di mana
betapa dalam sunyi menikam

tikar pandan terhampar di lantai
sandal sepasang tak terpakai
kopi di cangkir belum tersentuh
berapa lama harus bersimpuh
menanti sapa di mulut pintu
ucapan salam kepadaku

semua sudah bersih di dalam
pakaian putih terlipat di tilam
badan siap menyambut dia yang diharap
ingin diri meniarap lata
berteriak seru mari
tapi setiap terbilang kata
bayangan hening lari

tubuhku rumah yang butuh dihuni
suasana hampa damba akan isi
air tenang menangis di rongga sunyi
apatah kehadiran tanpa dihadiri
kemanusiaan minta saksi
lonceng bergoyang sebelum mati

telah kusisir rambutku kusut
kaca bening tergantung di sudut
asal saja pecah hening ini
dibawa berbincang sepanjang pagi
atau diam pandang-memandang mengajuk hati
tamu, datanglah datang

seandainya datang, aduh
kubasuh kakinya sambil berdendang
kusupkan nasi dengan tangan sendiri
kesendirian begitu ngeri
setiap dia memalingkan wajahnya ke mari
aku akan memekik girang ya aku di sini

tak terlarai aku dan dia
darat dan laut saling memadai
hamba dan tuan berkait abadi
sudah terdengar ombak berdebur di karang
sayup-sayup memanggil suara tersayang
lekas ke pantai aku menjelang

Puisi Tentang Upacara | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Upacara
Subagio Sastrowardojo

ajarilah bagaimana menjadi tua

terkuak gapura kesadaran
sehingga tampil kerajaan dalam

tenunan kata mantra
yang kuhamparkan pada hari-hari besar
di bendul pura
adalah untuk menyambut tamu turun tangga

jika berkenan tiba
apakah sempat memberi tanda
dengan kelining lonceng genta
di kuil pedanda

di halaman yang tersapu bersih
dengan tubuh putih
aku menanti di bawah cemara
aku boneka yang butuh dihidupi

bukankah kesetiaan dan kesabaran sebagian
dari upacara

bulan yang berlayar di puncak batu candi
adalah pengawal gawat
yang memungkinkan lakon terjadi
di manakah teluk sunyi yang tidak disinggahi

air di mana pun suci
juga yang terpercik di korban bunga melati
setetes dari telaga purba yang sakti

sebelum ini kutanggalkan keinginan satu per satu
jiwa murni timbul dari siksaan sakit dan ngeri

pengabdian menuntut penderitaan yang dicari sendiri

aku telah membasuh di pemandian tirtasari
dan merasa tak bersalah seperti anak kembali

manusia selalu tinggal sebatang kara
tanggung jawab tertimpa pada seorang diri
nyawa yang yatim minta dipelihara

saudara kandung yang lahir sebelum dan sesudahku
bahkan bunda yang teringat mukanya dalam lamunan
tinggal terkurung dalam pengasingan masing-masing

nasib terkungkung dalam penjara sepi

ketakutan tidak datang dari maut yang tiba-tiba hadir
melainkan dari pedih yang tak kunjung berakir

jadikan aku anak emas
yang tak lepas dari hati

adakah angan-angan yang lebih manis
daripada mengatasi kecemasan
dan bisa berlaku sebagai jantan

terlimpah kasih kepada laki-laki gemilang
bagimu aku putra pahlawan
yang berani lebur dengan bayangan hilang

ketika api hari mati
aku menari sebagai wayang
mengikut getar langkah dewa

satu gerak tubuh kembar
tingkah gending tabuh kebyar
desah napas mengembus seirama

dari pembakaran jenasah menyala merah sekar padma

Puisi Hari dan Hara | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Hari dan Hara
Subagio Sastrowardojo

pada pertemuan begini mesra
tugas kita hanya mengalami
tanpa berkata-kata
dan membiarkan air liur mengaliri kulit ari
(ah, betapa sakit cinta menusuk hati)
kita tinggal mengalami
tapi tanpa bergumam
tanpa mencatat kejadian sehari
bahkan tanpa mengulum dendang sajak
hanya mengalami

berdua kita terbuang ke benua asing
kini apa lagi yang tersisa
daripada membuat diri terbiasa
kepada kehadiran saat ini
sudah terbasuh dendam dari dada
tak perlu kita berpaling
atau menanti kapan akan dipanggil kembali
ruang kamar melingkup
dan tangan terlalu sibuk membagi kartu di meja
permainan nasib antara kita

telah kulalui hutan belantara
sekedar sampai kepada penjelmaan ini
berupa ketelanjanganmu yang rela kujamah
jiwa yang sendiri
membutuhkan tubuh yang ramah
apakah kau sendiri tak ngeri
berbaring seorang diri di ranjang
biarkan aku jadi anjing setia
yang menjaga kemanusiaanmu
terbujur ke seberang malam
aku ingin jiwamu tenteram

tibamu di balik kelambu
tidak begitu kentara
apakah kau kukenal atau orang asing
selalu ada batas pemisah
antara nyawa dengan nyawa
yang membedakan laki dan betina
tetapi sebelum menyingkir malam dari jendela
telah kutembus tirai keramat
ayam jantan berkokok di kebon tetangga
betapa nyaring terdengar

selama kita masih sempat berbicara
perkawinan kita belum sempurna
dalam terkenang kita hanya mengambang
belum tenggelam ke pusat nikmat
luluh dalam paduan irama
jadi diam semua nada
yang tertampung hanya hening
hening lena tak berisarat

terdampar di tilam terakir
harus kita putuskan hubungan sejarah
seperti dulu pada awal musim
(di gugusan sorga yang pernah tenggelam)
kita tampil sebagai anak bugil
yang lupa akan kebengalan hari silam
di sini masih mutlak kebebasan
curahkan diri sepenuhnya dalam pelukan
amboi, gila kita mengigal
sampai terasa degup tunggal

air dalam
membangkitkan gairahku lama diam
apa saja kini tak kutempuh
mahluk kerdil yang biasa takut
rela lenyap ke laut tubuhmu
sekedar menikmati kelakian yang penuh
tak ada yang haram
buat nyawa disiksa asmara
maut, aku tidak lagi pengecut

malam sebagai bukit hitam
menghunjam ke dada
apa kau masih bisa tidur
di tengah kegelapan mengancam
tidakkah nampak akir menjelang
pada tapak kaki menghilang
peganglah erat tanganku menggapai
tinggal kau satu-satunya yang bisa kusentuh
sedang hasrat hidup masih penuh

di antara empat dinding
aku belajar berdiam diri
dan mematikan kata di kening
mimpi rahasia terbenam di sanubari
sehabis gerhana
bulan hamil dengan benih kenangan
yang menua
aku yakin
dalam tubuhmu tertawan segenap nasibku
hidup tersita

ketika kutengok dalam kaca
kulihat kau terbayang di muka
raut wajah yang sama
dan lekuk bibir itu diremas cinta
letih debar jantung yang seirama
telah bertukar dua nyawa
kita tidak berbeda
berpadu susu dan dada

di balik pesona
aku tidak mencari makna
di luar kamar pengenalan serba samar
tetapi sebelum tumbang semua lambang
ingin kurenggut kehadiranmu membekas di tikar
sudah tersirat sinar pagi di gapura
dekat gerbang diriku segera dinanti

* di dalam nitologi Hindu Hari-Hara adalah personifikasi dewata dalam bentuk setengah laki-laki setengah perempuan

Thursday, February 13, 2014

Puisi Panji Lanang Kelana | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Panji Lanang Kelana
Subagio Sastrowardojo

di ruang sunyi
di tengah dada
ada lengking
ada sakit
berhenti bunyi jeram di bukit
istana sudah kosong
di antara tiang batu rindu terbaring

darah mengental
masih nyaring tuntutan tanah
dari mana berasal
dan bila kembali
taruhan yang salah
telah membuat diri mengembara
bayangan rumah surut di cakrawala

pada wajah silih berganti
belum bertemu apa yang dicari
topeng-topeng bisu
mengubur sisa haru
di balik dinding
betapa larut sinar hari
raut muka makin kejam
sosok asing hanya mau ramah semalam

kelana terkutuk tergolek di pinggir kota
(yang bukan punya dia)
sudah lama dia tidak bersolek
menyayangi rupa di kaca
hidupnya tidak untuk siapa
hanya untuk dirinya dia berada
jadi kabur garis pinta
dia tidak lagi punya apa
warisan yang masih ada
tinggal coretan mesum di kamarnya
gambar semu yang kabur artinya

dia tidak menyesal
bahwa dia tinggal di bawah hujan bintang
dan berjalan sebagai pangeran
yang memburu dan diburu kasih sayang
dia masih membutuhkan bukti
bahwa dia pernah di sini
bayang diri terlempar di layar kenangan
dan disiksa di sana kekal

dari pola ramuan nada
ingin didengarnya kata-kata
lagu tidak bisa sempurna
tanpa terjalin suara manusia
bahasa merdu itu yang begitu dikenalnya
bicaralah kirana madu kusuma
di tengah kehampaan ditangkapnya gema

hati melekat pada gejala yang diraba
jari gemetar mengusut makna pada tubuh mempesona
nestapa tumbuh dari bercumbu dengan dunia
dewi, di matamu membujuk nikmat sorga

yang memberinya keberanian
menempuh kegelapan
adalah benih
yang mau membenam ke perut malam
kalau tiada napsu
apakah mungkin dia pahlawan
menapak benua tanpa kawan
pada batas pajar
bakal ditemuinya kepuasan

pengalaman perawan
yang menyimpan rahasia tak terjamah
mengapa tidak dihisapnya segera
sampai tetes getah penghabisan
terkam sebelum kesempatan luput dari tangan
serta hidup susut oleh usia
di mulut masih titik air selera

sudah sekian saat
dia menunggu dekat kayu membara
dan melihat pijar terbasmi
lalu menyala berulang kali
bulan tua terasing di gurun pasir
dan dia seperti anjing
menggonggong mengusir sunyi
tidurnya diganggu oleh mimpi yang sama
nyawa laki dikejar dendam berahi

sejak termakan buah terlarang
ladang lama tinggal gersang
di dada telanjang
tersurat nasib petualang
selepas rindu merundung kekosongan baru
tidak setia jiwa jalang

Sajak yang Tak Peduli | Subagio Sastrowardojo

0 komentar

Sajak yang Tak Peduli
Subagio Sastrowardojo

sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap
tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |