Showing posts with label Alizar Tanjung. Show all posts
Showing posts with label Alizar Tanjung. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Puisi Kas "Kita Berbahagia Di Kilangan Tebu" | Alizar Tanjung

0 komentar

kas
Alizar Tanjung

paraku, mendorong kayu bersama sapi gemuk, seperti
mengelilingi lingkaran bumi yang kecil, kita tertawa,
membiarkan bibir kita beruap air tebu, sungut-sungut putih
tumbuh di lengkung bibir atas kita, sampai siang tengah
hari kita berjalan sepanjang putaran sepanjang bundaran.

Membesarkan masa lalu membesarkan rumpun tebu dari
potongan-potongan batang tua, menanamnya di tanah,
bertunas dan menjulang ke langit, beruas-ruas buhul, ada
yang begitu riang di krisik daun. Air-air temu mengangkut
ke kuali, mematangkan gula, kita membuat acuan betung
dan lingkaran daun tebu. Meneteskan gula hangat.

Acuan-acuan kecil itu acuan gula-gula tebu mungil di hari
bermain senja hari, menikmati kelereng, gambar, kajai,
tanek-tanek, mobil-mobil kayu, gatal-gatal miang tebu.
Melewati jalan-jalan setapak ladang tebu itu kita membau
aroma sepelah-sepelah tebu, lumpur-lumpur sehabis hujan.

2011

Tuesday, February 5, 2013

Puisi Gulai Jantung | Alizar Tanjung

0 komentar

Gulai Jantung
Alizar Tanjung

dirimu jantung pisang, diriku seonggok daging yang beruas dan
berpilin ujung ke ujung, ditumbuhkan darah jantungmu dan
jantungku. aku menyaksikan jantungku kumpulan darah sedangkan
jantungmu kumpulan warna.

jantungmu dari tebasan parang, ke pangkal tumbuhmu, tentu saja
luka itu adalah busuk, tumbuh itu adalah pucuk, sebab itu kau biak
dari dua tubuh, satu dari jantung batang, satu dari urat
pangkal.

dalam kelopak bidukmu yang karam ke dalam daging jantung,
dirimu menyimpan anak-anak udang yang bengkok, bercangkang
lunak, hidangan makan malam, menikmatimu di lidah menikmati
bibir. dalam cerup jantungku yang berbiduk bungkuk,
akan aku simpan jantung yang lain.

pada bidang meja yang sama, sendok dan garpu tertelungkup,
gelas kristal kosong, serbet melipat ujung ke ujung di kotak plastik,
dirimu menyelami santan menyelami rasa lidahku, menyelami
kenikmatan keluar dubur. diriku menikmati keterasingan makan malam.

sebab itu kita berbeda.

2011

Thursday, January 10, 2013

Puisi Di Kayu Kundur Aku Turun Dari Tangga Cahaya

0 komentar

di kayu kundur aku turun dari tangga cahaya
Alizar Tanjung

paling atas, menuruni lereng kerikil terjal perut
ular betina. katanya di bawah jembatan sana,
di penurunan ketujuh di rumpun pisang, seekor
ular siap menghisap selembar kain panjang ukiran
batik, melingkar di balik lapisan batu.

konon katanya ular yang berdiam ratusan tahun,
menghisap segala yang lewat dalam tubuh,
dan aku benar-benar sampai di pangkal cahaya.
rumpun batang pisang tua, bunga rumput teki,
jalar akar bunga bakung, hidup di parit batu.

entah pada penurunan keberapa lepas
dari cahaya, aku sampai di sarang ular betina,
lapisan-lapisan batu, akar-akar pakis rasan, aku
terlahir baru di rahang ular betina – batu-batu
yang melengkung dari tangan tetua. ular betina
menghisap daun-daun pisang muda, ular betina
menghisap puting jantung pisang.

Padang, 2011

Thursday, December 27, 2012

Puisi Kapan Terakhir Kali Kita Bertengkar? | Alizar Tanjung

0 komentar

kapan terakhir kali kita bertengkar?
Alizar Tanjung

aku menemukanmu sebagai batang kayu mati, menjalar
sebagai dinding, lantai, jendela-jendela tertutup, lae.
tubuhmu kumpulan warna kusam rayap di atap, bunyi siul
temali jemuran, denting seng siang hari, lubang atap, sebab itu
kutemukan dirimu adalah cahaya jahat yang menyediakan
lubang hujan. kamu sediakan tubuh bagi angin, masuk dari
lubang dinding, aku sadari ini sudah sangat lama.

kita sudah lama tak bertemu, terakhir kali kita bertemu, kau
menjelma akar kayu, membelit masa lalu, akar serabutmu
menjulai ke masa depan, lalu masa depan telah masa lalu.
aku foto-foto di dinding, warna-warna kabur, kaca-kaca
etalase, akarmu membelit akar tubuhku. lalu hujan adalah
tamu kenangan yang menginap minum kopi, tandas candu
itu.

kau kemudian pecahan kayu dalam tungku, yang aku
temukan abu tungku, tiga buah batu, bulu-bulu kucing yang
tidur semalam, kencingnya yang amis, jaring-jaring lawah
tua, nyamuk-nyamuk yang terperangkap, sisa-sisa
penggorengan di kawah kuali. aku masa lalu.

2011
http://oase.kompas.com/read/2012/07/16/20494869/Puisi-puisi.Alizar.Tanjung

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |