Di Jalan Jenderal Sudirman di Sebuah Loteng TuaTiga Lelaki Menyanyikan Lagu LapalomaPiek Ardijanto Soeprijaditiga lelaki ketemu pada suatu haripenyair pelukis dan penyanyisi penyair mengerti musik dan seni rupasi pelukis tahu lagu dan sastrasi penyanyi penikmat lukisan dan puisidalam mengisi sepi loteng tuapecahlah percakapan merekatentang iqbal tagore dan li tai potentang rembrandt dan picassotentang schubert dan mozarthingga lupa waktu terus merambatketika jam dinding terdengar samarsi penyair memetik gitarmenentukan nada dan iramalalu ketiganya tegak dekat jendeladari mulutnya mengalir lagu lapalomapandang menembus sawangmengejar megamegatatapan menebar jauhpada batas kota dan desa teduhmenyaksikan keluasan wajah bumidi hati mekar ucap syukur kepada illahirasa keindahan yang bersembulanlebur pada panorama alam gubahan tuhandan lagu lapaloma terus terbangentah di mana bersarang
Showing posts with label Piek Ardijanto Soeprijadi. Show all posts
Showing posts with label Piek Ardijanto Soeprijadi. Show all posts
Sunday, March 16, 2014
Puisi Di Jalan Jenderal Sudirman di Sebuah Loteng Tua
0 komentar Sunday, March 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunday, March 9, 2014
Puisi Memusar Pada Diri | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Sunday, March 09, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMemusar Pada DiriPiek Ardijanto Soeprijadikudengardengus angin gunungkapan kuikuti kembaranyakulihatlangit seperti tempurungkapan kugapai cakrawalakusadariberdiri di pinggang gunungdiriku sebutir debu di duniakurasakandemikian keras detak jantungkapan usai menggetar dadakurenungkanAllah yang mahaagungkapan aku kembali padanya
Friday, March 7, 2014
Biografi Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Friday, March 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Piek Ardijanto SoeprijadiPiek Ardijanto Soeprijadi lahir di Magetan, 12 Agustus 1929. Berprofesi sebagai guru. Menggeluti senis sastra, seni drama dan seni musik. Oleh HB Jassin dimasukkan ke dalam golongan angkatan 66. Kumpulan puisinya: Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lelaki di Pinggang Bukit. Tulisannya juga terkumpul dalam Apresiasi Sastra dalam Nilai-nilai Luhur Budaya Bangsa.Sepanjang hidupnya, Piek telah mengumpulkan 14 penghargaan di bidang sastra yang ia terima dari berbagai lomba atau sayembara mengarang puisi, prosa dan esai sastra.
Thursday, March 6, 2014
Puisi Ketika Mengikuti Angan | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Thursday, March 06, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika Mengikuti AnganPiek Ardijanto Soeprijadikitrimari kita tebas tumbuhan rawa begitu suburbiar akarnya tidak mencakar dasar lungsurkitrimari kita keruk segenap lumpurbiar hidup kita lebih makmurkitrimari kita tabur benih ikanbiar berbesaran dan berbiakankitrimari kita kerja sementara menanti musim tibabiar anakanak kita menjaringi hasilnyakitriusulku betapa indahmengangguklah
Wednesday, March 5, 2014
Puisi Ketika Mancing | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Wednesday, March 05, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika MancingPiek Ardijanto Soeprijadipagi bening begini heningdi tepi rawa peningbetapa senang mancingplung kulempar kail berumpan cacingcuma sebentarikan telah menyambartersangkut di ujung pancing menggelepardi pangkal siang ikanikan laparsiapa tak betahterlingkung gunung sangat indahya illahi kauberi juga aku hiburan hari inidi setebah lembah begini sepi
Tuesday, March 4, 2014
Puisi Jalan Tuntang | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Tuesday, March 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJalan TuntangPiek Ardijanto Soeprijadimendung tebal menjemputkumengucapkan selamat datangketika aku sampai ke jalan tuntangyang masih seperti dulu jugalengang menjelang senjakuperlambat langkahkumenatapi pepohonantepi jalan tambah tuamenggoyangkan rerantingnyamenyampaikan salamgerimis luruh menyapu debudi jalan ini pernah juga luruh rindukupada perawan ayu yang kinimungkin sudah punya menantubila dulu kami jadi berumah tanggakuusapusap jalan beraspal dengan sepatukubarangkali masih menyimpan bekastelapak kaki kami berduadi jalan ini kami sadap malamdan hatiku kulabuhkan padanyamungkinkah kabut tipis itubisa menghapus kenangan di jalan iniketika kugandeng gadis menggelitiki hatiwaktu aku masih jejakadan sekarang entah di mana dia
Puisi Ketika Berdiri di Sini | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Tuesday, March 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika Berdiri di SiniPiek Ardijanto Soeprijadiah terbayang masa mudaku dulubersama orang tua hidup di kaki gunung membirusementara bapak nembang pangkur di tengah sawah membajakaku istirah di pematang sempat membuat sajakkini memandang bulir padi runduk bergoyangandi pinggir rawa pening begini sepisementara mengusir burung beterbangandi sekerat bumi ini aku ingin memetiki puisiMenatap Mendung Ketika Senjamungkin seperti mendung itumerunduk dari punggung gunungcepat diterpa angin turunmenyergap kotadalam heningbegitu pun maut nantimerunduk dari balik pintu waktudi kamar tibatiba ketika senjamenyergap akudalam terbaring
Monday, March 3, 2014
Puisi Dalam Rindu | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Monday, March 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDalam RinduPiek Ardijanto Soeprijadiambarawa sudah jauh di bawahudara dingin jenuh menjamahmasihkah hatimu kemelutsebab bumi tersaput kabutsementara menanti mentari bersinarmarilah kita diam sebentarmengisi rongga sepimenangkap bahasa sunyinah kaudengarkahrisik bumiangin menyibak ampakampakturun dari puncak bukit birunah kaudengarkahrisik hatimeningkah batin bergolakseberkas rasa mengorak rindu
Sunday, March 2, 2014
Puisi Ada Jarak | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Sunday, March 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAda JarakPiek Ardijanto Soeprijadiberdiri di pinggang bukit meniti garis alitpertemuan bumi dengan langitsadar ada jarak antara sini dengan sanatapi entah berapa jauhnyamungkinkah kita meraih satu titik di cakrawalaberdiri di pinggang bukit meniti jalan jarum jamsementara bernapas lepas dalamdalamsadar ada jarak antara kini dengan nantitapi entah berapa lamanyamungkinkah kita menangkap satu detik di ujung waktuberdiri di pinggang bukit kini di siniberdampingan tersaput sepisiapa tahu pastiberapa panjang jarak hati kitaberapa lama tegangan rasa tahan menanti putusnya
Friday, February 28, 2014
Puisi Ketika Mendengar Tangis | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Friday, February 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKetika Mendengar TangisPiek Ardijanto Soeprijadikaudengarkah tangis bocah itu sejak tadisuaranya menebari desa sunyimerambati bibirbibir air sepimungkin ibunya ke pasar kota belum kembaliajaklah kemari kita bawa nembang gambang sulingdi tepi rawa pening begini heningsementara dari dangau kita menghalau gelatik dan pipit pekingyang mau neba merusak bulir-bulir padi mulai menguningjiwanya kan terajun tembang kitaraganya kan terselimuti udara begini segarnyapasti sebentar saja dia pulas di sinimeski jarumjarum mentari lepas menusuki kulit bumibiarkan dia mendengkur tetap di pangkuanmusementara kita terus berlagubarangkali dia kan mekarkan mimpinya yang indahtentang dunianya yang sumringah
Puisi Menanti Waktu Pisah | Piek Ardijanto Soeprijadi
0 komentar Friday, February 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMenanti Waktu PisahPiek Ardijanto Soeprijadibarangkali ada sisa waktumuyang kausediakan bagikulalu kita menangkap sepi di tepi kotamenancapkan mata di gunung telamayabukankah kau telah tahusetiap kabut lewat kemelut batinkumungkin kau pun ingin menumpahkan hatisebagai bekal yang kubawa pergisementara angin mendesirbetapa aku gelisahkarena ketika mentari menggelincir
Subscribe to:
Posts (Atom)
