Showing posts with label Tema Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Tema Perjalanan. Show all posts

Tuesday, November 27, 2012

Puisi Sketsa Sebuah Perjalanan | Matroni el-Moezany

0 komentar


Sketsa Sebuah Perjalanan
Matroni el-Moezany

Kurangkai semua yang terbaca
Dalam kilasan surau-surau semesta

Kuserahkan kerinduan itu
Pada ikan-ikan di pagi hari
Pagi yang membuat aku paham
Makna persahabatan dan kesetiaan

Rindang malam
Tak serindang kata-kata

Kubertanya pada Liya
“Sudah kau serahkan kesedihanmu pada ikan-ikan”
“belum”
Kesedihan tak membuat
Penguasa lari,
Biarkan mereka menikmati indahnya semesta
Menikmati lumatan-lumatan rasa
Menikmati luka-luka massa

Agar Kesedihan semu 
Kau harus biarkan bibirmu mengalir pada orang-orang

Aneh, kesedihan itu menjadi uang-uang bernilai di saku para raksasa

Kubakar semua kesemuan itu, tapi
Dengan apa aku harus membakarnya
Api, aku tak punya
Bara, masih belum nyala
Darah, belum mengalir
Aku jadi bingung melihat ke(semu)an itu,
kulihat ternyata kertas bermakna kekuasaan
kulihat kata-kata ternyata kosong
kulihat senyum tenyata menyakitkan
lalu, apa yang harus kulihat di masa depan

ulama, intelektual, budayawan, seniman
mereka mencari pasar? Mereka mau, di bayar 
kemana aku harus melangkah dan mendamaikan jiwa ini?

Kini semua menjadi pasar
Segalanya bisa diuangkan,
Kata-kata, pikiran, hati, jiwa, rasa karena uang

Tak kusangka ternyata haluan.
Liku yang tak memiliki refleksi

Keberlanjutan jalan itu
Belum membuahkan keranuman

Hijau daun di pangkas
Ditudungi berjuta tubuh penguasa
Walau panas hati kami
Ini sketsa di tengah bangsa

Kuletih bersandar ke tiang pancasila
Budaya datang merayap
Di tambah nyanyian maling-maling
Mengantuk karena kegelapan

Bangsa buruk di daerah kami
Atap langit bumi pun gersang
Tidur pulas tak mandi-mandi

Di jalan pulang aku berjumpa
Matahari meniduri bumi
Dimana hatiku takkan pilu
Mandang kerakusanmu

Yogyakarta, 12 Mei 2010
http://oase.kompas.com/read/2012/07/14/01050674/Sajak-Sajak.Matroni.el-Moezany

Monday, January 17, 2011

Puisi PERJALANAN | Gunoto Saparie

0 komentar

PERJALANAN
Gunoto Saparie

perjalanan ini tanpa peta
melewati hutan kelam kalimantan
seribu kilometer tak terasa
hidup tidak tentu tujuan

ke manakah kita pergi?
kau pun mendadak terjaga
kita terjebak tak bisa kembali
kita merasa betapa sia-sia

perjalanan ini tanpa peta
melalui daerah-daerah asing
seribu kilometer tak teraba
kita tersesat tak bisa pulang

2009

Sunday, August 15, 2010

PERJALANAN MALAM | Puisi Tentang Perjalanan Rindu

0 komentar

PERJALANAN MALAM
LK Ara

Seperti awan
Menjamah punggung bukit di jauhan
Begitu jemariku
Penuh kasih
Penuh rindu

Sebuah perjalanan malam
Sudah kita lalui
Perjalanan rindu
Antara awan dan bukit
Antara kau dan aku

Jakarta, 1986

Thursday, July 1, 2010

PERJALANAN TERAKHIR | Faisal Muchtar Al Khaufi

0 komentar

PERJALANAN TERAKHIR
Faisal Muchtar Al Khaufi


akhirnya kepada puisi juga aku kembali
telah ku ungkap rahasia kegelisahan para pecinta ketakjuban
mereka yang mengerti segala isyarat dan hakikat kerinduan
juga pesan dan nasihat para pemuja keindahan
hingga tibalah saatnya waktu yang akan berbicara

akhirnya kepada puisi juga aku kembali
satu panggung dan seribu mata adalah rekayasa
tumpukan naskah telah ku telanjangi
bersama lakon-lakon yang menyesatkan
lampu-lampu yang tak kenal warnanya
musik yang mengalun tak terekendali
juga klimaks dan anding yang tak pernah usai

kini ku tutup rapat-rapat tirai panggung
akhirnya kepada puisi juga aku kembali

Karawang 2008

Wednesday, May 19, 2010

PERJALANAN KE DUA

0 komentar

PERJALANAN KE DUA
Isbedy Stiawan ZS

jika ini malam seprei
kembali kuncup
karena ranjang
menuju lautan
maka catatlah itu
sebagai perjalanan kedua
setelah berhari-hari
diselimuti badai
atau pantai yang
sesaat tak disinggahi
ombak sekadar mengecup
dan melepas rindu
(kadang kita lupa
pada rindu
seperti ombak
kepada pantai:
tak pernah tercatat
meski begitu letih
merengkuh cinta)
tapi, kini lupakan
tahun-tahun luka
dan khianat
juga dendam

seprei ini sudah jadi lautan
dan ranjang kembali geliat
kecuplah darah di bibir
meski terasa anyir
setelah itu muntahkan
di lautan
alangkah lama
kita susun kenangan
jalan setapak
di antara ilalang
atau balong
di utara pematang

mungkin kita sudah lupa
di sini sepasang ikan
pernah berenang
sebelum pindah
ke ranjang
mengukur panjang seprei
maka jika malam ini
kaukecup geliat ranjang
simpanlah kehangatan itu
sebagai kerinduan pantai
pada kegaduhan ombak
dan kita akan kembali
melaut. melepas kain
mengibarkan angin
sampai di pelabuhan
yang Satu:
dalam diri
bersayap cinta

15-11-2003


Tuesday, May 18, 2010

MENYUSUN SISA PERJALANAN

0 komentar

MENYUSUN SISA PERJALANAN
Isbedy Stiawan ZS

memahami malam berkabut, jalan mengabur
kulihat engkau tetap menempuh
seperti semut hitam yang mendaki batu legam
menyerpih kelam demi kelam
tak sampai pada subuh engkau sudah melepuh
dibakar gigil yang mengalir. seperti lahar
yang mengangkangi ladang-ladang
yang sesaat lagi berbunga
ah! engkau cuma menyusun sisa
perjalanan ini. tapi, sia-sia menjadikannya
bilangan. bahkan sebagai kisah
yang akan engkau kenang ketika uban
memahami malam berkabut, jalan mengabur
kulihat engkau mencabuti uban
dan menanamnya di atas batu hitam
menantang kelam

1 Maret 2002


PERJALANAN PELAUT | Puisi Tentang Pelaut

0 komentar

PERJALANAN PELAUT
Isbedy Stiawan ZS

karena laut mengajarkan rahasia badai
aku pun setia berlayar. dari pulau asing
ke pulau asing aku tebarkan benih pelaut
dan lalu meninggalkan ratusan rumah
yang memendam kesepian
rumah hanya istirah bagi kejenuhan kapal. oh,
laut yang terapit oleh pulau-pulau
di mana tubuhku sesekali dibaringkan?
dari pulau asing ke pulau asing
aku pahami rahasia badai, aku tebarkan
benih pelaut. sementara pada kedalaman laut
kubur mengajarkan rahasia paling akhir

1987

Sunday, May 16, 2010

PUISI PERJALANAN | Puisi Tentang Perjalanan

0 komentar

PERJALANAN INI
Korrie Layun Rampan

Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi

Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani

Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah

Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban

Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam


1974




SESUDAH PERJALANAN
Kuntowijoyo
Isyarat (Sajak-Sajak 1974)


Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh


Monday, May 10, 2010

PERJALANAN KE LANGIT

0 komentar

PERJALANAN KE LANGIT
Kuntowijoyo

Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

Tuesday, May 4, 2010

Perjalanan Ini

0 komentar

Perjalanan Ini
Korrie Layun Rampan

Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi

Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani

Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah

Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban

Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam


1974

Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"

Tuesday, April 27, 2010

SESUDAH PERJALANAN

0 komentar

SESUDAH PERJALANAN
Kuntowijoyo

Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |