Biografi Fredy Wansyah
Fredy Wansyah lahir di Simalungun, 30 Maret 1988. Kini menempuh skripsi pada masa-masa akhir kuliah di Prog. Studi Sastra Indonesia, Unpad. Selama duduk di bangku kuliah aktif di berbagai organisasi, seperti KOMPAK (Komunitas Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan), JARIK (Jaringan Islam Kampus), FD (Front Demokratik), dan BEM-Fakultas Sastra. Serta mendirikan Komunitas Sastra Pinggir (Majalaya) dan Komunitas Sastra Langkah (Jatinangor).
Tulisannya dimuat di beberapa media massa: Koran Sindo (Suara Mahasiswa, dan Cerpen), Pikiran Rakyat (Puisi), Tribun Jabar (Opini), Analisa (Opini, dan Puisi), Alis (Puisi), Korak (Opini, dan Puisi), Buletin Sadar (Opini), Global Medan (Puisi), Media Indonesia (Opini), Kompas Jabar dan beberapa media internet (Kompas.com – Situseni.com – Kemudian.com – Detik.com).
Buku: G30S (antologi puisi bersama), Bukan Perempuan (Cerpen Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia), Menolak Lupa (Puisi Nominator Lomba Cipta Cerpen Religius Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia), Ponari For Presiden (antologi puisi bersama), Ziarah Kata (antologi puisi Majelis Sastra Bandung), Aku dan Detik Jam (antologi tunggal yang diterbitkan indie), dan beberapa media kreatif lainnya.
Juara I Lomba Penulisan Essay yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Sastra, Unpad (2010). Juara I Lomba Penulisan Puisi yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Sastra, Unpad (2010).
Email: fredywp@gmail.com
Alamat: Pondok Maninjau, Sukawening, Kel. Sukanegla. Jatinangor-Sumedang. 45363.
sumber : kompas.com
Showing posts with label Fredy Wansyah. Show all posts
Showing posts with label Fredy Wansyah. Show all posts
Friday, April 1, 2011
Biografi Fredy Wansyah
0 komentar Friday, April 01, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Tentang Batu-Batu Jalan | Fredy Wansyah
0 komentar Friday, April 01, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBatu-Batu Jalan
Fredy Wansyah
Mereka hidup mati adalah sama
diinjak kaki
tertindas dan digilas
Guncangan bumi membulatkan marah
dari gunung turun ke jalan
Keras ditindas roda-roda lalulalang
kemarin di tepi
hari ini tertepi
Beranak-pinak tanpa bulan madu
mengumpul penghalang jalan
siapa dengar suara mereka
Diam pilihan hidup
Di tepi-tepi jalan kasur mereka tidur
sementara rumput menjulang bukan di jalan
Mereka hidupkan kematian
untuk hidup
bersaing rimba
Tak ada bekas air mata di tubuh mereka
keras di jalan
Jatinangor, 2009
sumber : kompas.com
Puisi Tentang Danau Toba | Di Tepian Danau
0 komentar Friday, April 01, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Tepian Danau
Fredy Wansyah
Danau biru ini disebut Toba
dinginnya pagi tajam seperti melihat kepala kerbau
Danau tak pernah mati waktu, sebab mengalir
mengingatkan kita kepada nyawa yang biru
cerah. Seperti manusia yang berhati menjadi hulu
inderawi.
Danau ini hidup bersama air yang dicintai tanpa mencintai
layaknya aku mencintai negeri ibuku.
Dan, karena cinta bukanlah dengan air mata
Di kakiku tepian yang menyulutkan gelombang kecil
Tertusuk tulang hingga kepala
Yang mendinginkan urat-urat pekerja tubuh.
Di sini aku ingat, tak akan hidup Batak tanpa danau toba
meski danau tak mampu mencintai airnya sendiri.
pelayar, penelayan, pemancing, dan pendanau bergelantungan
pada danau mencari nafkah sendiri demi harga diri
segumpalan marga keturunan sendiri, sebelum mati.
Tapanuli-Jatinangor, 2009-2010.
sumber : kompas.com
Desa Kita Surga tanpa Malaikat | Puisi Fredy Wansyah
0 komentar Friday, April 01, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDesa Kita Surga tanpa Malaikat
Puisi Fredy Wansyah
“Ada daun-daun yang menari bersama lagu burung.
Mereka berbalas percikan air seperti aku
kepada perempuan yang duduk di dalam mataku sekarang.”
“Aku belum menjadi perempuan.
Warna tubuhku tiada hijau yang memberi kita satu nyawa.
Kupu-kupu itu ingin bunga dari daun hijau,
maka dia menangis ketika daun-daun direbut
tanah yang menjadi surga kita dalam berbagi rasa dan menanam rasa”
“Di beranda rumah rumput ini kita menikmati irama dan nada yang dialunkan angin,
disuguhi buah-buah ranum yang dapat kita petik ketika kita lapar,
percikan air di balik
celah daun kuning dapat menghela haus kita setiap usai mendesahkan kata di telinga.
Lupakan kupu-kupu itu, beranjaklah dari kursimu dan pegang ujung celanaku.
Mari kita ikuti gerak daun yang menari di depan rumah kita”
Jatinangor, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
