Showing posts with label 142 Penyair Menuju Bulan. Show all posts
Showing posts with label 142 Penyair Menuju Bulan. Show all posts

Saturday, February 8, 2014

Puisi Tentang Lanskap | Soni Farid Maulana

0 komentar

Lanskap
Soni Farid Maulana

aku mendengar
nyanyian angin pagi
di tangkai pohonan

aku melihat cahaya sunyi matahari
berkilau lembut dalam bening embun pagi
yang bergayutan di punggung rumputan

aku mendengar salam itu,
salamNya, dilantunkan
kokok ayam jantan

negeri langit

1976

Monday, March 14, 2011

Puisi Bertema Hujan | Hujan Di Cengkareng

0 komentar

Hujan Di Cengkareng
Mariana Lewier P.

Hujan menikam bumi
pada aspal dan lampu bandara Cengkareng
senja ini
kuyup
seorang wanita asyik dengan bacaan
dan syal yang melilit leher
memanjang pada blus putihnya

dari jendela kaca Eva Airways
langit terlihat kelabu
sementara musik klasik terus mendengung,
penerbangan ini (akan segera) menerpa gerimis
tak ada yang menahan
wan kelabu bertabrakan
berlomba menyiram hujan (getar cair)
menggigiti angin
langit pun menahan kata

Aku belum lagi mengulum
(kepenuhan) hujan di Cengkareng
ketika pesawat telah mengangkasa
dan meninggalkan kekelabuan
berganti kecerahan biru
angkasa senja

Jkt 22 Nov-Taipei 23 Nov.2003

Monday, March 7, 2011

Tak Kubaca Isyarat Itu | Puisi Kepergianmu

0 komentar

Tak Kubaca Isyarat Itu
Akhmad Muhaimin S.

kepergianmu betapa tiba-tiba, anakku
sungguh, tak kubaca isyarat itu
wajahmu masih saja berseri nan ayu
meski terbaring, dalam sakit seminggu

naik turun dari ruang picu dan tunggu
ayah dan ibu hanya bisa berdoa untukmu
eyang kakung dan putri mencintaimu
seluruh keluarga mengharap sembuhmu

tapi, pergimu betapa tiba-tiba, anakku
sungguh, tak kubaca isyarat itu
dua atau tiga malam menjelang ajalmu
wangi itu selalu saja di sekitar tubuhmu

sungguh, tak kubaca isyarat itu
wajahmu bahkan semakin berseri nan ayu

Yogyakarta, 2005

Puisi Ahmad S Rumi | Negeri Bandung

0 komentar

Negeri Bandung
Ahmad S. Rumi

Di negeri Bandung
Puisi cukup mahal
Jalannya beraspal
Jalurnya ditunggu preman
Redakturnya amat terkenal

Di negeri Bandung
Aku punya kawan
Namanya lukman dan dadan
Kata sitok, lukman penyair berbakat

Tapi lukman berkasus dengan Indonesia
Dan dadan tidak

Di negeri Bandung

Dan dadan seorang demonstran
Ada kampus terkenal
Dekat galeri popo iskandar
Mahasiswanya tenartenar
Terutama dalam kepenyairan
Padahal dosennya tidak terkenal

Di negeri Bandung
Cerita ini khayalan

Pandeglang, Banten 2005

Monday, February 21, 2011

Kau Tahu Sihir Waria ? | Puisi Tentang Waria

0 komentar

Kau Tahu Sihir Waria ?
Boufath Shahab

jika sekali saja kau kerlingkan mata
akan kusihir dunia menjadi semesta canda dan tawa
pernahkah kau berpikir tentang ruh perempuan yang terjebak
di sekujur badan lelaki, karena kesalahan malaikat pengatur jasad ?
maka bermain-mainlah di kedalaman kelaminku
aku akan telanjang bersama kupu-kupu
atau jika kau mau, aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang telanjang bersamamu
mungkin akan kau temukan bekas-bekas air mata bahagia ibu
ketika pertama kali aku mampu mengeja namaku
dan ia menghadiahiku sebutir bola yang penuh warna
kudekap perut ibu : ibu, aku tak bahagia
aku merindukan sebuah boneka

kini kusimpan bola itu di lemari tua
bersama tetes-tetes air mata ibu, dan seonggok tubuh perkasa yang tak pernah kuminta
karena kelak jika ada yang mengerlingkan mata, bagai kotak pandora yang terbuka
sihirku akan merajalela, penuh canda dan tawa

Bandung-Jakarta, Des. ’2005

Wednesday, February 16, 2011

Puisi Tentang Ibu | Ibu Karya D Zawawi Imron

1 komentar

Ibu
D. Zawawi Imron

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

(Batang-Batang - Madura)

Kata Kata Romantis Puisi Tentang Kehidupan

0 komentar

Hidup
Melody Muchransyah

hidup adalah kehampaan suara-suara pada malam tak berbintang
adalah kenangan indah tentang manisnya rasa kecup cinta
adalah sebuah perjuangan pahit yang berujung pada asa
adalah nyanyian merdu nan sendu

hidup tak hanya hidup namun pula merasa
hidup adalah tentang tangisan dan tawa
tentang kebenaran dan esensi dari rasa percaya
adalah kemesraan dua insan yang mabuk bercinta

hidup meski tak bergeming namun pula tak berlari
hidup memang hanya ada bila kau menikmatinya
hidup adalah merasa bersyukur
dan hidup, bagiku, adalah berada di sisimu dan mencintaimu

Bogor, 16 Januari 2006

Sunday, February 13, 2011

Puisi Tentang Wanita | Wanita dan Kalajengking

0 komentar

Wanita dan Kalajengking
Ellis Reni Artyana

Wanita itu menemukan anak-anak kalajengking di selangkangannya
Matanya masih saja berheran durja
Kalajengking-kalajengking itu melambaikan tangan mereka
Wanita itu tersenyum, di matanya hanya ada naluri seorang ibu

Satu persatu mereka menjepit kulit paha
si wanita merasa geli yang hebat
tawanya pecah seiring menyemburnya racun-racun
Tubuh wanita itu berguncang karena tawa
Hingga jepitan anak-anak kalajengking terlepas

Mereka jatuh dan hanyut oleh airmata wanita yang
tak sadar teralirkan
Wanita hanya mendapati pahanya yang biru-biru saja

Ia menangisi anak-anak kalajengking dengan parau
Di matanya hanya ada naluri seorang ibu

Puisi Kado Cinta | Puisi Untuk Cinta

0 komentar

Kado Cinta
Bambang Widiatmoko

Baiklah kita tutup saja lembaran lama
rasa sesal dan dosa
rasa bersalah jadi luka
kehidupan seperti belantara
penuh duri dan ular berbisa.

Lantas kita bangun rumah
meski tidak terlalu megah
tapi ada gairah memadamkan rasa gelisah
kita lengkapi dengan taman agar betah
duduk berdua, mengukir sejarah.

Jika di luar terjadi hujan badai
kita bisa berlindung di balik tirai
betapa kehidupan perlu kita urai
agar menjadi lurus seperti rambut tergerai
dan pertengkaran menjadi mudah dilerai.

Tak ada kado cinta yang luar biasa
selain kesetiaan tanpa pulasan kata-kata
zikir dan doa haruslah tetap bergema
agar jiwa kita semerbak bagai harum Cempaka
tak ada kado cinta yang lebih berharga – selain asa.

2005

Mimpi Basah | Puisi Tentang Rindu

0 komentar

Mimpi Basah
Aen Trisnawati

mengendapkan kerinduan
pada dinding kamar, pada detak hujan, pada dingin
yang menyeka malam menjadi malam.
suara batuk tertancap di gemuruh
menjadi sunyi

menyimpan kerinduan
pada sebotol air putih
kemudian kuteguk
menjadi bayangbayang
menjelma lingkar matamu
hingga masuk ke kantung kemihku

malam kian sunyi
kutitipkan puisi rindu
di atas bantal biru
lalu mengecup bayangmu dan bergumam pelan
"selamat malam"
dan lelap resah hingga basah

BumiKembara, Desember 2005

Thursday, February 10, 2011

Mencari Ibu | Kumpulan Puisi Untuk Ibu

0 komentar

Mencari Ibu
Alex R. Nainggolan

berapa banyak ibu tumbuh jadi bayangan dalam hariku ?
maka aku pun mencarinya, di atas tanah, sepanjang jalan,
di bawah hujan., tapi selalu kutemukan bentuk ibu-ibu yang lain
menggendong matahari, menancapkan kesakitan di tubuhnya sendiri, atau menyusui bayi yang paling purba
aku kehilangan tanda mencarinya, cuaca kembali datang dengan bencana
yang tak mudah diterka

ibu, ibu, di mana kamu ? seperti masuk ke dalam sesat jalan langkahku
tak ada jawaban, cuma hening yang tak bergeming, menyimpan seluruh masa lalu yang bening

aku mencari ibu di dalam tubuh rempuan
tapi yang kutemukan hanya rahim-rahim yang kosong
kehilangan benih, di sudut-sudut kota berkerumun dengan darah aborsi

aku mencari ibu di tubuh istri-istri
tapi cuma kutukan nyali birahi yang ada
mendekap malam-malam yang penuh keranda

aku mencari ibu lagi, di antara getar suara ponsel
surat-surat yang kutumpuk di lemari pakaian, atau sisa uang untuk belanja
hari ini. tak ada ibu di sana, di pohon-pohon apel
yang ada cuma ulat-ulat, merakit sekarat
tempat adam belajar kata cinta pada hawa
dan menggapai dunia

ibu, di mana kamu ? seperti kundang, tak henti-henti kupanggul kutuk ini
tak kutemukan ibu. hanya patung-patungnya dibangun di penjuru kota

Jakarta, 2004

Syair Perempuan | Puisi Tentang Perempuan

0 komentar

Syair Perempuan
Ahmad Syamani

Kota bergerak mencari kata-kata
Lewat panggung pentas dalam bahasa mata
Memikat
Orang-orang di sini masih menjadi jam
Tidur
Penuh sandiwara murahan

Lihat, salam hangat perempuan
Lentik matanya
Ketika sedikit kata-kata menari
Sampai jejak pintu pentaspun memanggil
Namanya, dengan tekun

Dengarlah, robekan tepukan mengucurkan
Teriakan, ada senyuman diperdengarkan
Untukku dan lampu-lampu kehilangan warna
Kehangatannya, kerinduannya
Sampai kudengar kau mengigau di luar teras
Puisi

Kota-kota kabupaten melewati beribu tapak
Pohonan merah
Kau yang mengatur ruangan kata
Dalam gerak seni
Tanpa kehilangan kodrat.

Subang, 25 September 2005

(Sumber Buku : 142 Penyair Menuju Bulan)

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |