Showing posts with label Andi Pateddungi. Show all posts
Showing posts with label Andi Pateddungi. Show all posts

Friday, December 6, 2013

Puisi Pesan | Andi Pateddungi

0 komentar

Pesan
Andi Pateddungi

diantara tanah dan langit..
disitu jiwaku menggantung..
setia menunggu sepoi angin yg lugu membawaku..
entah pada siapa aku hinggap..
pengirimku sudah lelah menunggu...

Pantai Losari, 8 Jan 2010

Monday, December 2, 2013

Puisi Pelabuhan Semu | Andi Pateddungi

0 komentar

Pelabuhan Semu
Andi Pateddungi

Aku melayarkan perahuku di matamu,
lalu aku jangkarkan di biru lautmu saat cakrawala menjingga.
seperti lainya, kau karamkan dalam palung terdalam samudra hatimu.
Hidupku adalah pelaut yang kesepian,
sama seperti kapal-kapal yang kau tenggelamkan dengan ombak kebencianmu terhadap jenisku.

Kau tahu, aku bukanlah phinisi yang pandai menulis puisi,
puisiku bukanlah puisi,
aku hanya bisa mengguratkan laraku pada bentangan kain-kain layar yang merapuh,
pada koral-koral yang menempel di lambungku.
Dan pada camar-camar yang menemaniku di samudra tanpa tepi inilah,
aku mengucap doa rinduku padamu, Pelabuhan semuku..

Makassar, 25 Juni 2013

Thursday, November 28, 2013

Puisi Kudeta Setan | Andi Pateddungi

0 komentar

Kudeta Setan
Andi Pateddungi

ada yang salah dengan diriku..
sesuatu menguasaiku..
memaksaku untuk terus bertingkah bahkan berlakon..
berlakon dalam sandiwara harga kacang goreng..
lakon tak bermartabat.. tak bermoral...
sialan.. bangsat !!
aku seperti biang penyakit disini..
tempat ini jadi tak bermoral karena lakonanku..
tatapan-tatapan tajam dan sinis seolah berbisik disampingku..
nada lirih dan pembuncah kesakitan moral sudah menguasaiku hatiku..
tubuh tak seirama lagi denganku..pikiranku dipaksa untuk dimakzulkan..
sudah tak bisa lagi...
aku terkudeta.. sundal !!

Makassar, 5 Mei 2012

Wednesday, November 13, 2013

Puisi Aku Bersetubuh di Tubuhmu | Andi Pateddungi

0 komentar

Aku Bersetubuh di Tubuhmu
Andi Pateddungi

dimalam penuh peluh, jeritan dan desahan
yang menggema bagai riuhan diruang 3 × 4 meter rumahmu,
Aku bertemu denganmu

Aku bersetubuh di tubuhmu,
saat 3 kupu-kupu berhasil menggodamu,memabukkamu
dan akhirnya menghisap nektar putihmu,
Aku tersipu

Aku bersetubuh di tubuhmu,
diwaktu seorang pemuda lusuh tertidur lelap dengan selembar ijazah bertuliskan manamu,
Aku mengingatmu

Aku bersetubuh di tubuhmu,
dikala 2 pejantan beradu jantan di atas ranjang,
Kita telanjang

Dan aku bersetubuh di tubuhmu,
karena kita bertemu, saling tersipu, saling mengingat, dan telanjang.
Akhirnya kita menyatu..

Watampone-Makassar, 3 Feb 2012

Tuesday, November 12, 2013

Puisi Membakar Tungku dalam Kelambu | Andi Pateddungi

0 komentar

Membakar Tungku dalam Kelambu
Andi Pateddungi

Sejak aku ukirkan diriku yang arang pada hatimu yang merah
semesta bersuara
layangkan mosi tidak percaya tentang kebersamaan
keburaman yang jelas kata mereka

di penghujung protes mereka, aku mendelik
delikan pelacur yang acuh pada umpatan para perfeksionis
mata kubutakan
telinga kutulikan
mulut kubisukan
percayaku seperti para pesugih yang yakin bahwa pohon dan kuburan pasti memberinya kekayaan
hahaha, terdengar bodoh bukan ?

kendaraan kita nyalakan dengan pasti,
kita melalui jalan bertabur kristal dan safir
elok dan berkilau
cinta yang bersilau

kita rangkai hati dengan bunga-bunga rose
merah, putih dan jambu
warna perlambang hati yang rindang
sejuk, syahdu yang memikat

pertengahan perjalanan,
semesta lagi-lagi melayangkan mosi tidak percayanya
cuaca pun ikut meneriakkan interupsi
mereka hujankan duri dan kerikil disepanjang jalan
kendaraan kita bergoyang
dan kau mulai mabuk karenanya

kaupun sedikit protes
karena jalan mulai berubah
kau merayu untuk memutar balik
aku menolak
aku menawarkanmu pil anti mabuk
kau juga menolak

kita seperti membakar tungku dalam kelambu,
ragu adalah kekuatanmu
sedang harap adalah diriku
kau melancongkan kata disetiap persinggahan perjalanan kita
kita jadi gunjingan
kau semakin meragu
aku bertahan
entah sampai kapan..

Makassar, 18 Juli 2013

Puisi Belum Cukup | Andi Pateddungi

0 komentar

Belum Cukup
Andi Pateddungi

dia tak biasa menjadi biasa
seperti rasa yang hanya jadi sengsara
apakah hati hanya sarat dengan buaian ?
seperti khayalan yg pendongeng jual ?

dia adalah bayi yang ingin meruntuhkan benteng kokoh
padahal kuasa baru sejumput dia genggam
seperti akal dan hati yg selalu saling membelakang
sama dengan bulan dan matahari yang tak bersatu..

Watampone, 21 Des 2012

Puisi Rasa Lain | Andi Pateddungi

0 komentar

Rasa Lain
Andi Pateddungi

tatap dalam nanar...
terang dalam sendu yang memuncak...
kayu bercabang tak kuasa tegakkan tubuhnya..
dalam biru yang membaharu...

sang kumbang kembali terbang..
melalanglang menari diantara lautan bunga warna-warni..
terang.. kilau merah hentikan sayap2 kokohnya...
tubuhnya pun jatuh tanpa sakit...
mungkin karena rasa yang lain...

Makassar, 6 Nov 12

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |