Showing posts with label Tema Sajak. Show all posts
Showing posts with label Tema Sajak. Show all posts

Wednesday, April 9, 2014

Sajak Dua Baris | Samsir Mohamad

0 komentar

Sajak Dua Baris
Samsir Mohamad

walau surga menanti
tak seorang berniat pergi
     *
walau amat pahit di bumi
selagi bisa elakkan mati
     *
egaliter baru di bahasa
dalam kehidupan belum nyata

2006

Thursday, January 16, 2014

Sajak Tiga Bait | Wiji Thukul

0 komentar

Sajak Tiga Bait
kepada: kun

yang gelisah mengajakku pulang
aku tahu aku tak sendirian
sesenyap apa di mana pun

ada yang mengajak berhenti ketika lari
ada yang mengajak bicara ketika diam
ada yang mengajak terbahak ketika bungkam
ada yang mengajak jaga ketika tidur
aku tak tahu siapa namamu

yang mengajakku pulang
dengan suara rindu bapa pada anaknya
yang membuatku tersedu
di tengah jalan yang panjang dan remang

Friday, January 10, 2014

Setusuk Sajak | Esha Tegar Putra

0 komentar

Setusuk Sajak
Esha Tegar Putra

aku akan datang padamu, sebagai pemikat balam, atau
sebagai pemanggul kayu hutan yang senantiasa berdiri setia
di belakang guyuran hujan. meski waktu berlalu serupa
nasib yang gagal menyusun kusutnya benang kenangan
aku akan tiba padamu menyerupai bentuk kayu, batu
atau sayap kecil yang baru ditumbuhi bulu

kuberikan bahasa, sebagai pengirim pesan yang berkabar
lewat bunyian. kuberikan makna, agar kau selalu tahu
hendak ke mana jalur angin mengantarkan basah air
yang hilang dari gerai rambut panjangmu

barangkali kau akan hafal sudut kecil dari lukisan abadi
yang setiap saat selalu kukuaskan padamu. “si pemikat balam
atau si pemanggul kayu hutan. lihatlah, agar suatu kali kau
sadar bahwasanya apa yang telah dibenamkan waktu, sulit
untuk dihela kembali.”
maknailah. aku sendiri tak tahu, apa harus saat ini datang
jalan ini terlalu lapang. sebagai apakah aku harus menemuimu?

2008

Saturday, May 14, 2011

Sajak untuk Kawan | Widzar Alghifary

0 komentar

Sajak untuk Kawan
Widzar Alghifary

jika malam ini aku sedih
sungguh, itu bukan bersedih karenamu
kesedihan, dia seperti musim
menyerbu kita tanpa pernah bisa kita melawan

jika malam ini aku bahagia
sungguh, itu bukan berbahagia karenamu
kebahagiaan, dia seperti cuaca
memaksa kita menerimanya begitu saja

dan malam ini, aku tidak sedang sedih atau bahagia
aku hanya ingin melihatmu tertawa

2008

Friday, April 15, 2011

Puisi Api Unggun di Atas Sajakmu | Musthofa Aldo

0 komentar

Api Unggun di Atas Sajakmu
Oleh: Musthofa Aldo

Di sepanjang via dolorosa
Para demonstran membuat api unggun diatas sajakmu
Dan langit pun kehilangan warna
Dan sajak-sajakmu kehilangan kata-kata.

Lalu, bercak-bercak darah bercipratan
Bersama hujan yang gundah sepanjang malam
Menyirami jejak-jejak huruf yang tinggal puing
Menghayutkan perih pada liang luka berkeping-keping

Malam itu kusaksikan
Seorang musafir memanggang puisi
Diatas api unggun itu.

2009

Thursday, March 31, 2011

Secekat Sajak dalam Gerimis Sebuah Pagi

0 komentar

SECEKAT SAJAK DALAM GERIMIS, SEBUAH PAGI
Fati Soewandi

secekat sajak mendesirkan lenguhnya
dalam Gerimis busung, sebuah pagi yang dikandaskan lungkrah Terik
abjad-abjad direnggut setakik pukaunya
tak ada yang mencatat jejak Sabit, gusur Langit,
dan gemetar rindu dalam satu nafas.
di kulum embun pasi
daun-daun muda berkaca: o, kebermulaan senantiasa menagih erang
dan mengakrabi ketidakpastian

berapa benih air mampu menderaskan Hati paling kering

di gigil Janji, secekat sajak mendesaukan seresah dekap
menghunjam rasa benci pada seluruh waktu dan musim
yang tak usai datang dan pergi menjadi Abu
: kata-kata memberi nafas kesunyian yang pernah dikumpulkan

Surabaya 2007

sumber: kompas.com

Sunday, January 23, 2011

Sajak Hitam | Karya Fernando

0 komentar

Sajak Hitam
Fernando Marco

Kesunyian ialah sekumpulan kelelawar
yang memecah kesendirian dalam bisu
melawan setiap kesaksian tak berbatas
tanpa penghalang tembok bernama satu
aku tak ingin menjelajah lagi dalam gelap
walau aku tahu tembok itu ada dihadapan
sangat jelas hitam dan putih ada di sana
bahkan mampu melenyapkan langit
yang tiap pagi kuhela
apa semua ini hal yang sama di tiap sepi
sebuah kesepian apa selalu akan begini
saat pikiran itu adalah sekumpulan kelelawar
itulah sunyi

Padang, Mei 2009

Sunday, September 19, 2010

Sajak Taman Sastra (3) Hendy CH Bangun

0 komentar


Sajak Taman Sastra (3)
Hendy CH Bangun

Setelah puluhan tahun tak bertemu
Berubahkan mata indah yang kau puja dulu?

Lebih baik menerka-nerka
Lewat suara renyah
Pilihan kata-kata bodoh
Dan olok-olok yang kau tahu bohong

Sebaiknya kau berpikir
Lagu yang kau pilih
Untuk ilustrasi mengiringi
Kotak cinta yang kau buka lagi
Hits Chrisye yang populer kembali
Atau Ebiet G Ade yang bicara tentang sunyi
Seperti janji yang berlari tanpa permisi?

Siapa salah tak lagi masalah
Akuilah
Dulu kita pergi selagi marah

Masihkah merekah si senyum manis?
Ah, lebih baik tetap begini
Tak ada yang seindah imaji

Palmerah Barat, 13 Maret 2009

Sajak Taman Sastra (2)

0 komentar


Sajak Taman Sastra (2)
Hendy CH Bangun

Jangan campakkan ke kali
Edelweiss yang kupetik
Dari Lembah Suryakencana kemarin

Ribuan langkahkuTetes deras keringatku
Dari Cimacan sampai ke Puncak
Melewati Kandang Badak
Lalu turun di Pasar Cipanas
Menjiwai bunga cantik itu

Lihatlah lembut putihnya
Usaplah rambut-rambut halusnya
Kau akan merasakan
Cintaku bersamanya
Hiruplah harum tanahnya
Kau akan kenali hasrat
Yang mengalir dari ruapnya

Namun sore itu kau terpaku
Di depan professor yang membuka pintu
"Dia sedang keluar, tidak ada di rumah"
Lalu kau permisi dengan wajah merah

Platonis yang sempurna


Palmerah Barat, 13 Maret 2009

Sajak Taman Sastra

0 komentar


Sajak Taman Sastra
Hendy CH Bangun

: untuk sebuah nama

Terhimpit di sepi selasar
Dan merah cahaya senja
Kau cuma bisa menyumpah
Haruskah cinta melulu luka?
Haruskah semua kotak teka teki silang
Terisi penuh agar kudapat hadiah?

Di antara cemara berjajar di halaman belakang
Koral-koral mengurung langkah sepatumu
Rumput meranggas bukan tempat mengadu
Kata-kata itu kembali bergemuruh
"Kasih pun perlu kepastian
Semacam ijazah atau uang muka sebuah rumah"

Riuh burung gereja
Membuatmu nyaris tertawa
Buku, catatan, map yang lusuh
Tidak beda dengan senandung
Kesetiaan Shinta pada Rama
Yang kerap kau jadikan kidung merayu
Tidak laku, bung

Cinta bukan dongeng masa kecil yang selalu happy end
Seperti pangeran dan putri
ciptaan Hans Christian Andersen
Yang dulu kadang dibacakan ibumu
Sambil terkantuk-kantuk
Dan sibuk mengusir gigitan nyamuk

Ini bukan waktunya menangis
Seperti gelembung perment karet yang meletus
Kau bisa meniupnya lagi
Bahkan seribu kali kalau kau mau
Takkan ada air mata
Yang menetes dari matahari
Yang kau tatap dari lantai
tiga asrama setiap pagi

Palmerah, 13 Maret 2009

Tuesday, August 31, 2010

Sajak 17 Mei

0 komentar

Sajak 17 Mei

: Rosalia Hening Wijayanti

satu lingkar tahun kembali tergores di penampang pohon jati yang kami semai. musim yang merontokkan daun-daun dari ranting pokok jati itu selalu mengingatkan kami untuk waspada: kemarau bisa lama, atau absen dari ramalan cuaca. batang jati kami tumbuh semakin kukuh dan besar, bertunas pula seperti menegaskan harapan kami yang kukuh dan besar. di usia yang begitu muda, pohon kami sering bertaruh dengan angin yang sering berubah haluan, sedangkan kami terlalu sibuk menebak arah buritan. kami berharap pohon kami semakin perkasa dan berwibawa dengan gurat lingkar tahun yang semakin berirama, dan galih menghitam di tengahnya semakin keras oleh usia, oleh cinta yang kian beraroma seperti anggur tua terperam ribuan lingkar cuaca.


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com



Wednesday, August 25, 2010

Dalam Sajak Cinta | Puisi Sajak Tentang Cinta

0 komentar

Dalam Sajak Cinta
Samsul Bachri

Pada lorong-lorong ini saat senja
Aku seperti terbuai akan sebuah lantunan sajak cinta
Syair-syair merdu itu seakan ingin ikut bersamaku dalam kegembiraan ini


Sajak cinta yang bercerita akan indahnya hidup
Dengan sejuta hasrat agar selalu ingin bersama
Sajak cinta akan Rabb yang selalu setia menjaga dan mengingatkan

Dalam syair-syair itu aku seperti yakin akan pilihanku
Dalam cinta yang tumbuh hanyalah rasa
Dalam kasih yang berkembang adalah jiwa

Dalam sajak cinta ini aku seperti manusia yang baru tersadar
Bahwa indahnya dunia ini bukan hanya untuk dinikmati seorang
Ikatlah jiwa lain dalam jiwamu untuk lebih indah

251199


Sajak Tipe 21

0 komentar

Sajak Tipe 21
Hasan Aspahani

1. Telah kusuling
seluruh kata
jadi sajak yang
sangat sederhana

hmm, kenapa masih juga
kau tanya: ini artinya apa?

2. Bunga yang mekar tadi pagi
akan begitu lekas layu, katamu
luruh, selembar demi selembar.

Begitulah, tak juga kau sadar
dalam sajak yang sederhana ini
telah diajarkan oleh mawar
membalas budi kepada tanah dan akar.


Feb 2003


Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Tuesday, August 24, 2010

Kali Ini, di Sajakku Ada Ular

0 komentar

Kali Ini, di Sajakku Ada Ular
Hasan Aspahani

akulah telah belajar pada marah ular
melapis mengelupas lapar ngejar liar

rahangku perangkap, rahang gelap ular
kata kulahap, akh! maki kutuk kutebar

di darahku mengalir racun seribu ular
di setiap lukaku tumbuh taring ular

kuburu Entah pada semak paling belukar
kutemu Engkau pada mangsa menggelapar

Feb2003

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Friday, August 20, 2010

9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong

0 komentar

9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong

Ini sajak kosong. Jika ada yang menemukan sesuatu dalam kekosongan
itu berarti suatu keberuntungan. Ambil saja. Saya sendiri membayangkan
sajak-sajak ini hanya akan berarti ketika di cetak di kaus oblong dan
kemudian dipakai oleh seseorang. Tabik!


/1/

aku berpakaian
maka aku ada

menurutmu,
apakah yang tiada?

/2/

di dalam tubuh yang sehat,
di luar t-shirt yang hebat!

di antaranya, apa yang kau lihat?

/3/

di suatu tempat, sayang
harus kutanggalkan pakaian ini
dan kau? harus kubantu?
atau kau lakukan saja sendiri

untukku?


/4/

tuan bukan Tuhan, bukan?
tunggu sebentar
saya pakai baju dulu...

/5/

engkaulah yang menyapaku,
"hei, kausmu bagus sekali!"

sejak itu, aku tak pernah
mengenakan kaus ini lagi

sampai hari ini, ketika
kupakai lagi kaus ini

dan kau pun berseru
"hei, rasanya aku pernah
melihat kaus seperti ini!"


/6/

kalau kelak engkau bertemu
seseorang dengan kaus seperti
yang membungkus tubuhku ini,
belum tentu engkau saat itu
bertemu dengan aku, sebab
bisa saja...

/7/

kaus ini sebenarnya, hanyalah
sebuah kaus biasa saja, aku
membelinya di sebuah kios
kaki lima, harganya pun tak
terlalu istimewa, artinya
terjangkau oleh kantung siapa saja

di bagian depan kau baca ada
tulisan - DATANG TAMPAK MUKA -
dan di bagian belakang bisa
kau baca - PERGI TAMPAK PUNGGUNG -

masalahnya aku sering lupa, dan
kerapkali bingung menentukan
mana bagian depan, mana belakangnya

meskipun tentu saja aku selalu
ingat, mana punggunggu dan mana muka

tapi, ah! kenapa aku tak pernah
bisa menegaskan, aku ini sedang
datang ataukah tengah pergi?


* inilah sajak ke-8 dan ke-9 yang
saya janjikan di www.cybersastra.net


/8/

dia hendak membeli kaus di sebuah
kios, dia memilih-milih, sebab
banyak sekalu yang bisa ia pilih, ada
kaus bergambar che guavara, ada
yang bergambar bob marley, ada
yang gambarnya slank, eh sinchan
juga ada, smurf juga, donald bebek,
megawati, asterixz & obelix, VW kodok,
dewa 19, dora emon, iwan fals, winnie
the pooh, gus dur, nirvana, converse,
britney spears, amien rais, limp
bizkits,... dia terus saja memilih
sampai pemilik kios itu bertanya, " Anda,
mau cari kaus seperti apa sebenarnya?

"oh! oh! saya mencari kaus polos saja,
biar bisa kugambar wajahku sendiri,
saudara..."


/9/

inilah kaus yang kau berikan
padaku dulu, "kenakan
saja, sebagai pengganti diriku,"
katamu

aku tahu, di suatu tempat
kau tersenyum, melihat
aku memakai kaus ini.
"lihat! kau terperangkap
dalam diriku," katamu.

des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com


Beginikah Mestinya Cinta Disajakkan?

0 komentar

Beginikah Mestinya Cinta Disajakkan?

cinta ini sayang, menyebab jagaku rusuh tidurku resah, maka
sayangku, tanpa setahumu, aku telah membaca
beribu-ribu sajak cinta, tapi hingga kini, aku tak bisa
juga temukan itu keyakinan, aku, wahai sayangku
justru semakin dirundung ragu, dikepung gamang itu

: memang beginikah mestinya cinta disajakkan?

karena, wahai sayangku, rasanya cintaku padamu
tak akan pernah bisa puas terwakilkan
dengan seindah apapun sajak, tersebab itu
sayangku, apakah ada cara lainnya agar
cintaku ini, padamu sempurna sampainya

jan2003

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com


Sajak yang Ditulis di Lampu Merah

0 komentar

Sajak yang Ditulis di Lampu Merah
Hasan Aspahani

tak ada, tak
ada

(sebab baru saja
kutemu sekata

lampu hijau menyala)

ah, bodohnya
hidup kok mau-maunya
diatur oleh
warna-warna.

jan2003


Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com


Thursday, July 29, 2010

DI DEDAHAN SAJAK

0 komentar

DI DEDAHAN SAJAK
Nanang Suryadi

di dedahan sajak beburung jiwa singgah
istirah melepas lelah

penempuhan adalah jejalan panjang
berliku dalam pusaran waktu

di dedahan sajak beburung jiwa menyanyi
nyanyi rindu kekasih diri

demikian cinta memanggil panggil
mendebarkan jejantung hati

di dedahan sajak beburung jiwa melagulagu
mengetuk paruh pada pepohon irama kata

pepohon hidup menari-nari
dipeluk dipagut sepoi hembus berangangin

di dedahan sajak beburung jiwaku singgah
istirah melepas lelah

Depok, 2002

Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi


Tuesday, July 6, 2010

Sajak Cinta | Sajak Tentang Cinta Pranita Dewi

0 komentar

Sajak Cinta
: bagi kita

sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami-istri
di sisi kita ada cinta

rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta

kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta

2003

Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"
Pranita Dewi

Thursday, July 1, 2010

Puisi Tentang Buruh | Sajak Buruh

0 komentar

Sajak Buruh
Faisal Muchtar Al Khaufi

buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan

anak – anak negeri berjalan pergi
menyisir waktu dan ruang
tubuhnya di beli hatinya terkunci
oleh singa-singa industri

seperti melacur….
seperti robot-robot bernyawa…

darahnya mengental keringat mengkristal
dalam panas yang menggumpal
deru mesin-mesin pecahkan telinga
bersama lapar yang menganga

memuja tembaga….
memuja mesin-mesin…..
seperti berhala….
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau upahnya dikebiri
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau hak-haknya dicuri
buruh…bersatulah

Karawang, 2008


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |