Meditasi Kecil tentang Musik GamelanMartin Jankowskidengan mata setengah terpejampenabuh gamelan menatap ke dalam kekosongandia seperti tak kenal susah lagitangannya menari mabuk di atas kuningandi belakangnya dengan mata setengah terpejampara penabuh gamelan menatap ke dalam kekosonganmereka seperti tak kenal susah lagitangan mereka mabuk menari di atas kuningansuara melayang yang tak adaputusnya padat mengisi udaramenghapus batas antarapenabuh dan udaradantatapan mata setengah terpejampara penabuh gamelanmenembus kami
Showing posts with label Martin Jankowski. Show all posts
Showing posts with label Martin Jankowski. Show all posts
Monday, February 3, 2014
Puisi Meditasi Kecil tentang Musik Gamelan | Martin Jankowski
0 komentar Monday, February 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, January 22, 2014
Puisi Pertukaran Budaya | Martin Jankowski
0 komentar Wednesday, January 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPertukaran BudayaMartin Jankowski“Orang Jawa yang kotor dan miskin itumerusak seluruh budaya kami.”kata para penjaga pura denganramah sambil melemparkanpandang menghinake bawahlalu sambil membungkukdi hadapan sang tamu yang membungkammereka minta sumbangansepuluh kali lipat dari yang biasa
Puisi Pohon-pohon di Pantai Sundak | Martin Jankowski
0 komentar Wednesday, January 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPohon-pohon di Pantai SundakMartin Jankowskimeninggalkan hiruk pikuk kotabagiku auman hempasan ombak punmenjadi puisisegerombolan raksasa yang bermainlempar-lemparan batu vulkanistelah menciptakan pantai untukkudi sini aku duduk mengharapkan masa yang lebih baikdi belakangku kampung sedang menunggu dan di depankulaut yang mematikandi lapangan kampung yang berdebu pohon-pohon membentangkantangan-tangan kayu mereka menjadi atap teduhmereka mengangkat tangandan kalau aku menatap laut tanpa suara mereka menarikantwist tropis di belakang punggungkukawanan bergairah dalam ekstase siangentah kapan rasa lapar ini akan surutyang membuatku menjelajahi negeri-negeri asingmungkin ombak yang tahuhanya sekilas aku menoleh ke belakangdan terhentilah gerakanpohon-pohon yang menarikalau aku kembali menatap lautmereka melanjutkan tarian mereka
Puisi Razia dekat Lembar di Lombok | Martin Jankowski
0 komentar Wednesday, January 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRazia dekat Lembar di LombokMartin JankowskiCoba lihat, kata sopir, saatdi tengah perjalanankami mendekati razia polisiyang ditandai rambu,menunggu kami di pinggir jalan.Coba lihat, kata sopir, waktu diamenyembunyikan tiga lembar uang dalam kepalan tangannyalalu membiarkan tangannya bergantung keluarjendela dengan santai, seakan-akan kebetulan saja.Polisi, dekat mobil kami, memandang ke arah lain.Coba lihat, kata sopir, sambil perlahanmenjalankan mobil kembali dan menarikkepalan tangannya, lalu membukanya:tangan itu kosong. Kau lihat, kata sopir,sangat sederhana persoalan negeri ini:semua orang capek dan tak ada yang punya uang.Kalau kau kenal aturan mainyang kupakai tadi, polisi akan pura-puratidak tahu. Hanya saja, kalau kau punya masalah, sebaiknyakau minta tolong pada preman saja, merekalah yang kadang-kadangmasih punya harga diri.
Sunday, January 19, 2014
Puisi Perjalanan Pulang dari Wonosari | Martin Jankowski
0 komentar Sunday, January 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPerjalanan Pulang dari Wonosaribuat JoniMartin Jankowskidi atas sepeda motor yang menderumelalui jalan berbelok-beloktak habis-habisnya naik turun bukitmelewati sapi-sapi yang sedang melamunanak ayam dan tukang pikuldi bawah pohondalam remang-remangmeditasi manis sambil mabukkecepatannaik turunkena angin sejukdi atas boncenganbersandar pada punggunghangat pengendaradikelilingi kedip cahaya merahdalam terowongan terbuat dari udara dan warna hijaumungkin lagu yang sama kami senandungkanpengemudi aku dan sepeda motordisertai harum aspalasap knalpot dan debu segardan pada langit senja dari emas cairdengan noda gelap di sana sini yangmembentang selebar jagat raya di cakrawalatak hentinya puncak hitamMerapi yang mendidihmenorehkan garis asapnyamenyeberangi lembah yogyalalu memasuki malam
Saturday, January 18, 2014
Biografi Martin Jankowski
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Martin Jankowski
Lahir tahun 1965, besar di bagian Timur negara Jerman. Menulis lagu, puisi, cerpen, naskah drama dan esai. Novelnya adalah “Rabet oder Das Verschwinden einer Himmelrichtung” (Rabet atau hilangnya sebuah mata angin, 1999), kumpulan cerpennya “Seifenblasenmaschine” (Mesin gelembung sabun, 2005). Datang pertama kali ke Indonesia tahun 2002 atas undangan Rendra, ikut dalam “Festival Puisi Internasional Indonesia”
Puisi Malam Purnama di Pantai Bali (untuk Walter Spies) | Martin Jankowski
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalam Purnama di Pantai Baliuntuk Walter SpiesMartin Jankowskibulan mengembungkan pipinya sambil tersenyum lebardi tengah biru kehitaman lembut di atas laut dan meludahkanemas ke atas ombak halus bergoyang keperak-perakansebuah perahu kemalaman bergegas melewati ayunan cahaya ituke arah kampung di bawah batu karang berkerakperahu nelayan beristirahat di pantaipohon kelapa berderak-derak kena angingendang malam berbisikdikelilingi tarian ratusan bayang-bayangberbagai sosok bergegas melalui jalan setapakdi belakang gubuk-gubukarus udara sekering padang pasir membawasuara gong yang halus dan lagu pujian anjingpada dewa panassang malamgubukku ditempati roh halusjika di luar gubukpara kekasih berjalan berpasanganayam jago menjerit sepanjang malamseakan ada yang mau membunuhnya
Puisi Hanoman di Prambanan | Martin Jankowski
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHanoman di PrambananMartin Jankowskisaat Hanoman sang raja keradiam-diam menyerahkan cincin RamaSinta tahu dia akan selamatdan Rahwana akan kalahsementara ketujuh anak Hanoman dudukdi depan teve di rumah dan menontonfilm kartun Jepang sedang istri Rahwanamemasak nasi dengan ikan asin dan suami Sintamenyopir kijang usangnya sebagai taksi liar di Yogyadi Prambanan busur-busur emas berkilauancinta akhirnya menang dan para penarimembungkuk dengan anggun di hadapan tamu-tamuuntuk foto digital yang penghabisanmembungkuk di hadapan tamu dari belandadari jepang perancis dan jerman sebaborang indonesia hanya menginjak tempat pertunjukanmewah di depan candi suci Prambananitu sebagai penari atau pelayanyang lain terlalu mahal
Subscribe to:
Posts (Atom)

