HampirJoko PinurboAda sepasang pengemis buta suatu hari datang ke rumah.Sebelum minta sedekah, mereka bertanya dulu:“Apakah Tuan sudah kaya?” Aku menimpal: “Hampir!”Dengan halus mereka mohon diri, kemudian menujuke tetangga sebelah yang mungkin saja hampir sisa hartanya.Kini aku merasa benar-benar sudah mampu. Telah kusiapkanrapelan sedekah bagi sepasang pengemis buta itu.Mereka muncul juga akhirnya, tapi langsung menujuke tetangga sebelah tanpa minta sedekah dulu ke aku.Ketika mereka lewat di depan rumahku, samar-samar akumendengar suara: “Tidak usah ngemis ke tuan yang satu ini.Kasihan, dia hampir miskin. Besok saja kalau dia hampir mati.”2001
Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts
Showing posts with label Joko Pinurbo. Show all posts
Saturday, February 8, 2014
Puisi Hampir | Joko Pinurbo
0 komentar Saturday, February 08, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiThursday, February 6, 2014
Biografi Joko Pinurbo
0 komentar Thursday, February 06, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Biografi Joko PinurboJoko Pinurbo lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 11 Mei 1962. Menyelesaikan pendidikan di SMA Seminari Mertoyudan Magelang dan melanjutkan studi pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (tamat tahun 1987). Sejak tahun 1992 bergabung dengan kelompok Gramedia. Kumpulan Puisinya: Celana (1999) memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001, Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002, Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004) menerima penghargaan Sastra Khatulistiwa tahun 2005, Pacar Senja – seratus puisi pilihan (2005).
Tuesday, February 4, 2014
Puisi Tentang Boneka, 3 | Joko Pinurbo
0 komentar Tuesday, February 04, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBoneka, 3Joko PinurboBoneka monyet itu mengajakku bermain ke rumahnya.Di sana telah menunggu siamang, orangutan, simpanse,gorila, lutung dan bermacam-macam kera lainnya.“Kenalkan, ini saudara-saudaramu juga,” monyet berkata.“Kita mau bikin pesta kangen-kangenan sambil arisan.”Aku ingin segera minggat dari rumah jahanam itu,tapi monyet brengsek itu cepat-cepat menggamit lenganku.“Jangan terburu-buru. Kita foto bersama dululah.”Kami pun berpotret bersama.Monyet menyuruhku berdiri paling tengah.“Kau yang paling ganteng di antara kami,” siamang berkata.“Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda.“Yang di tengah,” lutung berkata.“Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidupdi alam nyata,” gorila berkata. Mereka semua tertawa.1996
Monday, February 3, 2014
Puisi Peristiwa Mei : Jakarta, 1998 | Joko Pinurbo
0 komentar Monday, February 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMei: Jakarta, 1998Joko PinurboTubuhmu yang cantik, Meitelah kaupersembahkan kepada api.Kau pamit mandi sore itu.Kau mandi api.Api sangat mencintaimu, Mei.Api mengucup tubuhmusampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.Api sangat mencintai tubuhmusampai dilumatnya yang cuma warnayang cuma kulit yang cuma ilusi.Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Meiadalah juga tubuh kami.Api ingin membersihkan tubuh mayadan tubuh dusta kami dengan membakar habistubuhmu yang cantik, MeiKau sudah selesai mandi, Mei.Kau sudah mandi api.Api telah mengungkapkan rahasia cintanyaketika tubuhmu hancurdan lebur dengan tubuh bumi;ketika tak ada lagi yang mempertanyakannama dan warna kulitmu, Mei.2000
Puisi Dangdut | Joko Pinurbo
0 komentar Monday, February 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDangdutJoko Pinurbo(1)Sesungguhnya kita ini penggemar dangdut.Kita suka menggoyang-goyang memabuk-mabukkan katamemburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut.(2)Para pejoget dangdut sudah tumbang dan terkulai satu demi satukemudian tertidur di baris-baris sajakmu.Malam sudah lunglai, pagi sebentar lagi sampai, tapi kau tahanmenyanyi dan bergoyang terus di celah-celah sajakmu.Kau tampak sempoyongan, tapi kau bilang: “Aku tidak mabuk.”Mungkin aku harus lebih sabar menemanimu.2001
Puisi Pulang Mandi | Joko Pinurbo
0 komentar Monday, February 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPulang MandiJoko PinurboLama minggat ke Jakarta dan tak pernah adakabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintudan berseru: “Ayo kita mandi!”Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengannyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkansepasang tato di pantatnya.“Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda,“sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.”Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktupada tekstur hidupnya, kerak kenanganpada tipografi nasibnya.“Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!”Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotoryang lengket dengan tubuhnya.Kamar mandi kemudian sunyi.Ia menghambur keluar,berjingkrak-jingkrakseperti kanak-kanakdapat bingkisan di hari Lebaran.“Aduh cakepnya,” aku menggoda,dan ia memelukku sambil berkata riang:“Mandiku sukses sekali, abang sayang.”Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandiia langsung mencopot tubuhnya yang usangdan menggantinya dengan yang baru,yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama.“Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukkusambil memamerkan tubuhnya yang trendi.Ah ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakartaagar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia.1999
Friday, January 31, 2014
Puisi Tentang Meditasi | Joko Pinurbo
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMeditasiJoko PinurboCelana tak kuat lagi menampung pantatyang goyang terus memburu engkau.Pantat tak tahan lagi menampung goyangyang kencang terus menjangkau engkau.Goyang tak sanggup lagi menampung sakityang kejang terus mencengkram engkau.Telanjang tak mampu lagi melepas,menghalau Engkau.2000
Thursday, January 30, 2014
Puisi Kebun Hujan | Joko Pinurbo
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKebun HujanJoko Pinurbo(1)Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angindan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujanberguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.(2)Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujandan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujandan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.(2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)
Wednesday, January 29, 2014
Puisi Malin Kundang | Joko Pinurbo
0 komentar Wednesday, January 29, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalin KundangJoko PinurboMalin Kundang pulang menemui ibunyayang terbaring sakit di ranjang.Ia perempuan renta, hidupnya tinggalmenunggu matahari angslup ke cakrawala.“Malin, mana isterimu?”“Jangankan isteri, Bu. Baju satu saja robek di badan.”Perempuan yang sudah tak tahan merindu ituseakan tak percaya. Ia menyelidik penuh curiga.“Benar engkau Malin?”“Benar, saya Malin. Lihat bekas luka di keningku.”“Tapi Malin bukanlah anak yang kurus keringdan compang-camping. Orang-orang telah memberi kabarbahwa Malin, anakku, akan datangdengan isteri yang bagus dan pangkat yang besar.”“Mungkin yang Ibu maksud Maling, bukan Malin.”“Jangan bercanda, mimpiku telah sirna.”Walau sakit, perempuan itu memberanikan diri bertanya:“Ke mana saja engkau selama ini?”“Mencari ayah di Jakarta.”Lalu kata ibu itu: “Ayahmu pernah pulangdan aku telah sukses mengusirnya.”“Benar engkau Malin?” Ibu itu masih juga sangsi.Dan anak yang sudah lelah mengembara itu pun bicara:“Benar, saya Malin. Malin yang diam-diamtelah menemukan ayahnya dan membunuhnya.”Sambil memejamkan mata, perempuan itu berkata:“Bila benar engkau Malin, biar kusumpahi ranjangdan tubuhku ini menjadi batu.”Tapi ranjang tidak menjadi batu, dan perempuan itu punmasih di situ, seakan ada yang masih ditunggu.1999
Tuesday, January 28, 2014
Puisi Di Bawah Kibaran Sarung | Joko Pinurbo
0 komentar Tuesday, January 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Bawah Kibaran SarungJoko PinurboDi bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidurke haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka.Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurusdengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung.“Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung.“Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam,yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano,piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nadasakitmu, musik klasikmu, mengalun merdu sepanjang malam,”hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam.Di bawah kibaran sarungrumah adalah kampung.Kampung kecil di mana kaubisa ngintip yang serba gaib:kisah senja, celoteh cinta,sungai coklat, dada langsat,parade susu, susu cantikdan pantat nunggingyang kausebut nasib.Kampung kumuh di mana penyakit,onggokan sampah, sumpah serapah,mayat busuk, anjing kawin,maling mabuk, piring pecah,tikus ngamuk, timbunan tinjaadalah tetangga.“Rumahku adalah istanaku,”kata perempuan itu sambil terusmemainkan pianonya, piano tua,piano kesayangan.“Rumahku adalah kerandaku,”timpal lelaki itu sambil terusmeletupkan batuknya, batuk darah,batuk kemenangan.Dan seperti keranda mencari penumpangdari jauh terdengar suara andongmemanggil pulang. Kling klong kling klong.Di bawah kibaran sarungkutuliskan puisimu,di rumah kecil yang dingin terpencil.Seperti perempuan perkasayang betah berjagamenemani kantuk, menemani sakitdi remang cahaya:menghitung iga, memainkan pianodi dada lelaki tuayang gagap mengucap doa.Ya, kutuliskan puisimukulepaskan ke seberangseperti kanak-kanak berangkat tidurke haribaan malam.Ayo temui aku di bawah kibaran sarungdi tempat yang jauh terlindung.1999
Puisi Penagih Utang | Joko Pinurbo
0 komentar Tuesday, January 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPenagih UtangJoko PinurboPenagih utang itu datang tengah malam.Ia duduk dengan sopan, kedua tangan ditangkupkan,baju batiknya yang murahan tampak terlalu kedodoranuntuk tubuhnya yang kurus dan kusam.“Langsung saja, ada perlu apa?” aku menghentak.Ia terperangah, badannya mengkerut, dan kopiahnyayang longgar seakan bergeser dari letaknya.“Maaf, kalau tidak salah ini sudah jadwalnya.”“Jadwal bayar utang, maksudnya? Sabarlah, saya sedangbanyak keperluan. Bapak lihat sendiri brankas sayasedang ludas, kolam renang belum selesai saya perbaiki,toilet baru akan saya lapisi emas, isteri belum sempatsaya tambah lagi. Mohon pengertian sedikitlah!”Tamu itu berkali-kali minta maaf, kemudian permisi.Sebelum meninggalkan pintu, ia sempat berbisikdi telingaku: “Tidak bikin keranda emas sekalian Pak?”“Dasar rakyat!” dalam hati aku mengumpat.Entah mengapa, setiap kali melayat orang meninggalaku selalu melihat penagih utang itu menyelinapdi tengah kerumunan. Ia suka mengangguk, tersenyum,namun saat akan kutemui sudah tak ada di tempatnya.Tahu-tahu ia muncul di kuburan, melambaikan tangan,dan ketika kudatangi tiba-tiba raib entah ke mana.Dan orang kaya yang banyak utang itu akhirnyamati mendadak persis saat sedang mencoba keranda emasyang baru saja selesai dibuat oleh ahlinya.Mewakili para pelayat, bapak tua berbaju batik itu tampilmenyampaikan kata-kata belasungkawa.Dalam sambutan singkatnya antara lain ia mengatakanbahwa kematian tragis almarhum tetap tidak dapatmenebus utang-utangnya. Namun ia mengajak hadirinuntuk mendoakan arwahnya, memaafkan segala salahnya,syukur-syukur bersedia ikut menanggung utang-utangnya.2001
Sunday, January 26, 2014
Puisi Penumpang Terakhir | Joko Pinurbo
0 komentar Sunday, January 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPenumpang Terakhiruntuk Joni AriadinataJoko PinurboSetiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becakyang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanyamengantarku ke tempat-tempat yang aku suka.Entah mengapa aku sangat suka tamasya dengan becaknya.Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya.Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.Aku akan menabur kembang di atas makam nenek moyang.Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becakakan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang.Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya berceritatentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakartadan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang.Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang.Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumahkarena repot mencari ini itu, termasuk mencari utangbuat ongkos pulang ke perantauan.Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,batuknya mengamuk, pandang matanya berkunang-kunang,aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak.Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.”Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan,sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkinbermimpi, di dalam becaknya sendiri.Sampai di kuburan aku berseru bangun dong pak,tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya.Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkandi atas makam nenek moyangku atau di atas tubuhbang becak yang kesepian itu.2002
Puisi Sepasang Tamu | Joko Pinurbo
0 komentar Sunday, January 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSepasang TamuJoko PinurboDi ruang tamu ini, sekian tahun silam, saya menerimaseorang pemuda kurus kering yang datang menawarkan akik.Saya tidak suka akik. Lebih tidak suka lagi pada bualannyatentang kesaktian akik. Seberapa pun hebatnya,akik hanya akan melemahkan iman.Tanpa basa-basi saya minta anak muda yang tampakkelaparan itu segera angkat kaki.Ia pun pamit dengan penuh ketakutandan sambil pergi matanya tetap memandang sayu kepada saya.Tentu bukan karena akik kalau rumah itu terpaksa saya jualkepada seseorang dan orang itu kemudian menjualnyakepada seseorang yang lain, demikian seterusnya.Rumah itu memang angker,tidak pernah bikin tenteram penghuninya.Kini sayalah yang duduk terlunta-lunta di ruang tamu ini.Wah, mewah benar bekas ruang tamu kesayanganku.Ada pendingin udaranya, ada cermin besarnya,ada pula lukisan tidak jelas yang pasti sangat mahal harganya.Cukup lama saya menunggu, tapi si empunya rumahtidak juga keluar menemui saya. Saya bermaksudmenawarkan obat kuat yang dibuat khusus untuk orang kaya.Dengan jengkel saya mengintip ke ruang tengah.Wah, si empunya rumah sedang sibuk bergoyang-goyangmengikuti irama musik yang ia bunyikan keras-keras.Setelah saya panggil berulang-ulang dengan suara lantang,barulah ia sudi menemui saya.Tidak salah lagi, dia adalah si bekas pedagang akik yang dulumenghiba-hiba di hadapan saya.Sayang ia pura-pura tidak pernah kenal saya.“Masih jualan akik, Pak?” saya coba memancing reaksinya.Ia menjawab ketus: “Jangan bicara akik dengan saya.Akik hanya akan melemahkan iman.”Setelah menimang-nimang seluruh jenis obatyang saya bawa, dengan sinis ia berkata:“Maaf, tidak ada yang cocok dengan kapasitas saya.”Kemudian ia memerintahkan saya segera angkat kakidan sebelum saya sempat pamitan ia sudah buru-buru masukke ruang tengah untuk melanjutkan kesibukannya.Suatu hari saya mendengar kabar bahwa si bekas penjual akikyang mulai sombong itu sedang terkapar di rumah sakit,terkena penyakit berat yang entah apa namanya.Saya menyempatkan diri menjenguknya.Duh, kasihan juga melihat ia terbaring lemah dengan matakadang terpejam kadang terbuka.Ketika di kamar sakitnya hanya tinggal kami berdua,saya bisikkan di telinganya: “Rasain lu!”Serta-merta matanya membelalak dan dengan gagahia menimpal: “Prek lu!”Cukup lama kami beradu pandang, dan kami sama-samaberusaha tidak tertawa atau malah mengeluarkan air mata.2001
Tuesday, October 9, 2012
Puisi Ulang Tahun | Joko Pinurbo
0 komentar Tuesday, October 09, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Ulang TahunJoko PinurboHari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50.Saya duduk membaca di bawah jendela,matahari sedang mekar berbunga.Seorang bocah muncul tiba-tiba,memetik kembang uban di kepala saya.Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.Pada hari ulang tahun saya yang ke-9saya diajak ayah mengamen berkeliling kota.“Hari ini kita akan dapat duit banyak.Ayah mau kasih kamu sepatu baru.”Karena kecapaian, saya diminta ayahduduk menunggu di atas bangkudi samping tukang cukur kenalan ayah.“Titip anakku, ya. Tolong jaga dia baik-baik.Akan kujemput nanti sebelum magrib.”Sebelum magrib ia pun datang.Tukang cukur sudah pulang. Anaknya hilang.“Ibu tahu anak saya pergi ke mana?”tanyanya kepada seorang perempuan penjaga warung.“Dia pakai baju warna apa?”“Dia pakai celana merah.”“Oh, dia dibawa kabur tukang cukur edan itu.”Sampai di rumah, ia lihat anaknyasedang duduk membaca di bawah jendela.Kepalanya gundul dan klimis,rambutnya yang subur dicukur habis.“Ayah pangling dengan saya?” bocah itu menyapa.Lama ia terpana sampai lupa bahwa uangyang didapatnya tak cukup buat beli sepatu.Gitar tua yang dicintanya terlepas dari tangannya.“Anakku, ya anakku, siapa yang menggunduli nasibmu?”(2011/2012)
Subscribe to:
Posts (Atom)


