HujanM.Hafizh HaqqaniTetesan air yang turun dari awanMembasahi tiap jengkal kehidupanMenumbuhkan banyak harapanDan juga kenikmatanAwan kelam yang melintasi cakrawalaBertabrakan dengan lainnyaMenimbulkan petir yang luar biasaTanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala
Showing posts with label Tema Hujan. Show all posts
Showing posts with label Tema Hujan. Show all posts
Saturday, May 28, 2016
Puisi Hujan | M.Hafizh Haqqani
1 komentar Saturday, May 28, 2016 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSaturday, May 17, 2014
Puisi Tak Jadi Hujan di Singaraja | Riki Dhamparan Putra
0 komentar Saturday, May 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTak Jadi Hujan di SingarajaRiki Dhamparan PutraAku tau kau tak ingin pulangtanpa hujanBurung-burung sudah jauh. Peluit kapalterdengar senja di daratanOktober penuh teka teki. Bunga bunga mekartak ingin membagi wangiAku terluka. Tanah hitam purbanimu mengerjarkubagai akar akar anggur penuh doa; mungkin sebentang layar. layar? bukan!hanya angin puyuhseribu tangan batu yang sunyi tiba-tiba merontaingin tumbuh!tiang tiang patahkendi kendi penuh dongeng berjatuhandi pucuk pucuk tanahbagai serpihan kaca benggalalapar dagingku tak puas mengunyahnyaSaat itulah aku ingin melupakansegala yang pernah kuketuk di tubuhmu; desa desa menuju malam. menuju lampu!kutu kutu tanpa pohonmengendap di dasar senyap impianku;buah-buahan yang tak pernah matanggugusan arca dan aroma cengkeh di bukitadalah ombak yang ingin tidurdi hamparan pasir penuh bulanEngkau ingin menyepuhnya untukku. Untukku?Jangan, Kekasih! Biarkan saja begitu.Bukankah engkau ingin menjadi hujanyang tak pernah turundi altar cemas musim tanamku?Cuaca begitu liarDan di bawah bintang jatuhdoa doa hanyalah gumpalan angin garamyang gampang terbakarPadam bersama waktuKembang kembang api di lautadalah tangan lembut bidadari yang ingin kau sentuhdengan hati kanak-kanakmu2003
Monday, April 28, 2014
Puisi Suatu Sore, Menunggu Hujan Reda | Dimanuga
0 komentar Monday, April 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSuatu Sore, Menunggu Hujan Reda--untuk Pak BS--Dimanugasore itu langit muntah hebataku yang terjebak dalam pikiranterkurung dalam ruangakhirnya menemukan kawannya sendirikawan diskusidimanapun "orang aneh" selalu samadikucilkan dan diasingkan oleh kepicikanpikiran-pikiran puritan memaksa semua mulut untuk diammulut yang melawanapalagi yang dipaksa senggama olehnyasore itu langit berkeringat hebatpara fundamentalis punya peran fundamentaldari situ saya disingkirkandan dari situ pula diskusi bermulatentang Herakleitos yang berbicara perubahandalam kutipan dari tajuk sebuah majalahdari filsafat eksistensialismeSoren Aabye KierkegaardNietzsche hingga Sartredari dialektika Hegelmaterialisme dialektik Marx-Engelshingga Lennon yang mengkritik tuhantentang Profesor Driyarkara dan filsafatnyatentang Ahmad Tohari dan Dukuh Paruknyatentang Ahmad Wahib yang mati kecelakaanhingga tentang saya yang lebih banyak berkawan dengan senimantentang kapitalisme yang tidak bisamenyejahterakan rakyat sebuah negaradan komunisme tidak bisa berbuat apa-apabahkan saya tidak bisa membicarakannyabersama teman-teman kantornyamenurut teman-temannya hal itu tabusaya tak mau semakin diasingkantentang penjagal yang tertawa-tawa banggadan filmnya bisa ditonton dimana-manahingga Jembatan Bacem yang menjadi saksimayat-mayat terapung di kalikritik tentang agamadan para penganutnya yang miskin logikatentang dogma yang memaksa penganutnyapercaya untuk tidak bertanyatentang Golden Rule yang tidak semua punyatentang ladang masa depan yang ditanami kebenciandan tentang banyak lagi haldalam ruang keterasingan sayadiskusi berakhir ketika tetes hujan terakhirmakan malam menantimembawaku untuk segera kembali"orang aneh" selalu dipaksa tak berdayaKamis, 6 Juni 2013
Thursday, January 30, 2014
Puisi Kebun Hujan | Joko Pinurbo
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKebun HujanJoko Pinurbo(1)Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angindan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujanberguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.(2)Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujandan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujandan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.(2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)
Monday, January 20, 2014
Puisi Hujan di Penghabisan Musim | F.Rahardi
0 komentar Monday, January 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHujan di Penghabisan MusimF.Rahardilaksana kepingan mawar yang putihlangitpun mekar dan rontokdi atas kota itumatahari mengibas-ngibaskan jambulnyayang basah dan lembabtak ada yang dapat ditertawakantak ada yang patut kita tangisijenguklahdari jendela kamarmu yang longgarseekor camar melintas di udaradi antara tetes-tetes yang malasanginpun habisdan dahan-dahan mahonimengacungkan canggalnyalurus ke atasSumowono, 1974Pernah dimuat di Harian Kompas, 6/1-76
Puisi Hujan | Yustan Aziddin
0 komentar Monday, January 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHujanbuat maseri mataliYustan Aziddinmenyanyilah kau menyanyilahdalam lagunya sudah terujipada atap-atap berbintang pada sirap gentingbagi segala hati berabad musim dititimeneteslah kau meneteslahdengan tetesan berkali-kaliberingsut siput lintasi lantai duka dan ranah rindubayangkan sekuat kuasa di muka muara membirumenyanyilah kau menyanyilahusaplah segala pipiberabad musim dititi maka kini angin bergantibagi segala hati kabut berat menenggan pergi
Puisi Tali Hujan | Esha Tegar Putra
0 komentar Monday, January 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTali HujanEsha Tegar Putradi hari yang paling pucuk,tali-tali hujan putusdan cuaca berupa diam yang paling rahasiamanakala sajak menggulung jadi kepompongbasah di punggung daunsebuah suara dalam lembut bahasa menggemadari ladang, dari rangkap musim, dari leburangabuk pohon dan urat tanah.mungkin dirimu,“sesuatu yang berkarib dengan genangan air,genangan laju mirip sungai,”barangkali kau“sesuatu yang dikutukuntuk cuma jadi gema ladang”kaukah seruan liar itu,bakal membuat tali-tali hujanmenyambung diri dengan genangan air?barangkali kau cuma seekor kecebong,atau mungkin kunang-kunang sepiyang mengetuk tiap pintu pohonuntuk bertamudan bertemu kekasihmuJalan Tunggang, 2008
Saturday, January 18, 2014
Puisi Narasi di Bawah Hujan | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNarasi di Bawah HujanSoni Farid Maulanahujan, curahkan berkahmu yang hijaupada lembah hatiku.puaskan dahaga tumbuhan,hingga jiwaku terasa segar membajak kehidupan.di pinggir jendela aku ingat benar tahun laluaku masih kanak, bersenda gurau, bernyanyi riang,memutar-mutar payung hitam di bawah curahmu;yang berkilauan bagai perak disentuh matahari.o, hujan. Puaskan dahaga jiwakuagar hidupku menyeruak bagai tumbuhanmenjemput Cahaya Maha Cahaya1984-1989
Puisi Catatan dalam Hujan | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCatatan dalam HujanSoni Farid Maulanaaku serahkan seluruh jiwaku padaMukarena menolak adaMu berdasarkan pikiranadalah kesia-siaan belaka.keimanan adalah kerinduan yang bengalyang berulang jatuh memanjat langit rohanihingga malam berlalu dalam tahmid dan takbirhingga kokok ayam mengerek cahaya fajardi kalbuku. Hujan yang turun menghapusjejak kemarau di dahan-dahan pohonansungguh indah warnanya. Irama suaranyayang menggetarkan ini sukma; adalahsalawat bagi segala jiwa yang berlayarke muara Cahaya Maha Cahayasemata Cahaya Maha Cahaya1991
Tuesday, May 21, 2013
Puisi Tentang Hujan | eto kwuta
0 komentar Tuesday, May 21, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHujaneto kwutasengaja engkau mengecup basah rerumptuanmeleleh di ujung mata menawan, dari awan yang perawanturun ke bumi, memeluk hitam-kelam tanah lalu terdiamdi ujung waktu. kau terus merayu waktu dengan merinaiindah di batas senja, meliuki daun-daun menari riapada tetes-tetes bisu yang tercurah dari ketidakalpaanMuyang dalam bersama adaMu di bola mataku.St. Arnoldus Nitapleat, 2013
Sunday, May 5, 2013
Puisi Pagi yang hujan | Arman Yuli Prasetya
0 komentar Sunday, May 05, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPagi yang hujanArman Yuli PrasetyaAroma tanah basahBurung berkicu melihat titik-titik hujanAwan tergelar sewarnaTapak kaki membekas diairMemberi rasa dan warnaAtas sinar matahariHangat nuraniAngin bergerakMenelusuri relung-relungPada lembar daunKuncup-kuncup bungaMengepakkan sayap burung-burungWarna kupu-kupuDalam bahasanyaAngin dan hujan berbicaraAku pejamkan mataMencoba mengerti bahwaYang dibawa anginSegenap luruhTak mampu aku mencapainyaButir-butir hujan turunAku dengar terus mengayunBojonegoro, 04-05-2013
Friday, March 1, 2013
Puisi Di tengah Hujan | Adi Nugroho
0 komentar Friday, March 01, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi tengah HujanAdi NugrohoTubuhnya basah, kuyup dikukup hujan. Dan di seberang, seorang wanita masih berdiri pada tepian jalan. Tampak suntuk terkantuk, matanya sayu seperti pilas, dibelai angin dingin malam kota. Adakah yang dinanti? Rambutnya yang melambai, kisut awutawut disapuh buih. Wajahnya tampak sedih. Bagai menahan perih lukadukaHendak kemana ia? Rendarenda pakaian gugur dilipur. Seakan hujan adalah atap ketenangan. Seakan hujan, mereda kemarahan. Ia Menarinari tanpa ragu dalam ketukrintik hujan. Dari lalulalang lelah sampai kota basah, tak ada lagi yang bisa menyapanya. Sungguh penuh tanya, adakah rindu semadu menunggu hujan reda. Bila tak ada yang dirindukan, haruskah mencintai hujan. Berdiam diri hirau disapu hujan yang suaranya kian sengau. Senarai wajahnya yang lunglai menjadi jawab, hujan adalah kepasrahan. Hujan tak perlu dicintai, tapi menjadi milik orangoorang yang kadung disekap rindu. saat airmata mengucur, carilah hujan yang siap berbagi kerapuhan.Wanita itu masih kaku, dan semakin lugu di basah kota, yang lekang dari lalulalang. Kau memang sendiri, tapi pada hujan kau bisa dapatkan hilang sepi. Begitu mungkin pikirmu, dari kebas tanganmu yang mengembang. Wajahmu tengadah pasrah pada awan. Berharap hujan terus datang. Bahwa hidup boleh hampa, tapi pada hujan kau meramu rasa. Kau mengembang senyum juga, dari rimbun bulir air. Kemana lagi harus merindu, saat tak ada yang ditunggu, kecuali pada hujan. Meskikah mengutuk hujan, bila rintikrintiknya melantunkan lagu kerinduan. Dan hujan tanpa kenangan, adalah sepi paling tepi.Wanita itu pun hilang bersama hujan.Pada genang jalan, senyummu mengembang tenang.Penulis saat ini bergiat di Komunitas Langit Sastra dan Pendiri AADT. Bisa dihubungi @ijonkmuhammad dan ijonkmuhammad.tumblr.com. Tulisannya banyak dimuat media massa. Buku pertamanya saat ini berjudul “Belajar Merawat Indonesia”.
Sunday, January 27, 2013
Puisi Tentang Hujan "Turun Hujan Tiada Henti" | Daman Surachman
0 komentar Sunday, January 27, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHUJANDaman Surachmanhari ini tak ada senjasebab hujan menggilabagai beling kacajatuh diatas gentingdan bumi hadapkujadi purbajadi hutan rimbajadi hewan dan jadi mutiaradan suaraberwarna seribu iramadan malam-malam gluduk bertalu-talujadi cerita keluargaku di pagi butahari ini tak ada pagi jugatak ada senyum mentaritak adasebab hujan terus menggilahanya tahu itu senja itu pagi jam yang bicaradan kita tak usah kecewasebab Allah menunjukkan kekuasaanNyasebab Allah menunjukkan keberkahanNyahari iniair membumibanjir menantikita diuji untuk berhatiKemayoran,Jan 2013
Wednesday, January 2, 2013
Puisi Cerita Hujan | Daman surachman
0 komentar Wednesday, January 02, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCERITA HUJANDaman surachmanHujan bercerita padaku.Betapa sedih melihatku kesepian menunggu bulan purnama dan kerling matamu yang syahdu. Makanya malam-malam ia singgah menemuiku, menyentuh atap dan jendela dan ia mengalir berpendar dan bercerita padaku tentang rindu pada dunia karena Allah semata.Mengapa kau bercerita saja hujan. Mengapa kau bersedih melihatku? Gerakan saja hatinya dan rindukan padaku.Ah, tak usah takut, kata hujan. Itu hanya menunggu waktu dan kesempatan. Hujan terus mendendangkan lagunya, sampai ke kalbu, dalam sangat dalam, sampai mataku terpejam. Tes,tes,tes…
Penang, Juli 2003
Friday, December 28, 2012
Puisi Mengenang Hujan | Agus Dwi Rusmianto
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMengenang Hujan: Pameta FilsabilaAgus Dwi Rusmiantohujan ituadalah ungkapan gerahsepanjang malioboro yang gelisahsebab ribuan kata dipalsukan imajinasi diampada lajur-lajur waktuberjalan cepat sehari sebelumnyahujan ituadalah Vredeburgditinggal peradaban menuju senjasementara di kepala pasar malam mulai menjalarberkoartawar menawarhujan ituadalah teh manis pinggir jalan;sebuah ruang perawan kesepian. mungkinlantas mengunyah jarakkilometer empat belas menuju puncakhujan ituadalah satu-satunya suaraberkejaran meniriskan usiapada jalan lengang tanpa tianghujan itusama-sama mengaduhserupa basah membuat teduhSleman, 12 - 13 Desember 2011http://oase.kompas.com/read/2012/09/04/22152173/Puisi-puisi.AD.Rusmianto
Puisi Fragmen Hujan | Putu Gede Pradipta
0 komentar Friday, December 28, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFragmen HujanPutu Gede PradiptaSayu mata hujandikawal gerimismenembus kabutmenuju rerimbunrambut hitam itu.Seorang perempuanmembuka perlahanpayung hitamnyahendak berlindungdari kuyup hujanyang kian berusahamulai mengurung.2012http://oase.kompas.com/read/2012/07/27/22222431/Puisi-puisi.Putu.Gede.Pradipta
Sunday, December 23, 2012
Puisi Elegi Hujan | Ebed JA
0 komentar Sunday, December 23, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
ELIGI HUJANEbed JAIbu hujan telah melahirkan anak hujanIbu hujan kembali mengandung anak hujanUsianya satu jam sembilan bulanDan siap menghujam jadi anak hujanMenenggelamkan mimpi seharianMelepas ikan ikan para nelayanSebab lautan tengah bernama badaiKemarin telah aku saksikanIbu hujan melahirkan anak hujan yang kembar siamHingga ibu hujan meninggal ditepian malam yang kelamNamun masih saja kusaksikan anak hujan berkeliaranWajahnya seamsal bulanYang tanggal di rerimbun hutanDan anak hujan menjerit ketakutanSebab ibu hujan belum meninnggalIbu hujan hanya menjemput keluarga hujanDi dermaga hujan281112
Friday, December 7, 2012
Puisi Dalam Hujan | Bunyamin F Syarifudin
0 komentar Friday, December 07, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
sumber gbr : fantasyartdesign.com
Dalam HujanBunyamin F. Syarifudindalam Hujan, ku pasrahkan doa-doabersama riciknya yang mengalir ke selokan,ke sawah-sawah, lalu ke tempat-tempat yang menanti basahmungkin besok; padi-padi dan bunga-bungaserta cakrawala akan merekahakan mengibaskan sayap-sayapnya pada cuaca yang mengabutdalam Hujan, yang tetap terisak,ku pasrahkan segalanyapada yang Tak TerhinggaHu!2010http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1
Friday, November 23, 2012
Puisi Pendek Menyambut Hujan | Sobih Adnan
0 komentar Friday, November 23, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
MENYAMBUT HUJANSobih AdnanBersiaplah;Segala haru kenangan akan lantang bercerita,Di mulai dari basah tanah pertama, yang dihembuskan udara.2012http://oase.kompas.com/read/2012/10/06/21185410/Puisi-puisi.Sobih.Adnan
Saturday, May 14, 2011
Sajak Hujan | Sajak Tentang Hujan
0 komentar Saturday, May 14, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Subscribe to:
Posts (Atom)



