Biografi Bambang J. PrasetyaBambang Jaka Prasetya atau kadang disingkatnya Bambang JP, lahir di Yogyakarta 28 Oktober 1965. Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia jurusan teater. Antologi puisinya al. Kado Buwana dan Jejak. Bekerja di TVRI stasiun Yogyakarta.
Showing posts with label Bambang J.Prasetya. Show all posts
Showing posts with label Bambang J.Prasetya. Show all posts
Monday, June 2, 2014
Biografi Bambang J. Prasetya
0 komentar Monday, June 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, March 19, 2014
Puisi Sunyi | Bambang J.Prasetya
0 komentar Wednesday, March 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunyiBambang J.PrasetyaKabut terpaku di bukitjuga wajah-Muhilang di semakatauaku lupamemberi tandapada setiap pertemuanruhku1993
Monday, March 17, 2014
Puisi Tentang Lanskap | Bambang J.Prasetya
0 komentar Monday, March 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLanskapBambang J.PrasetyaDi pelabuhan kecilRemang bulan sepotongMengasingkan kebebasan kelelawarmenggambar langit membendung janjiLaut matiMalam berkaratIkan-ikan damaidalam lukisan baruAngin kelabu selatanmenulikan kesadarankembali kita kanak-kanakmenawar-nawar deraakan diapakan senja?jika teramat jauhlangit mensetiai warna biru1992
Sunday, March 16, 2014
Puisi Gumam Jejak Duka | Bambang J.Prasetya
0 komentar Sunday, March 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiGumam Jejak DukaBambang J.PrasetyaBau kuburan di plataran rumah-Mumenyesatkan kesangsianmelacak jejak nabi-nabiRembulan berlayarmenggigil kabutmenawar kembali gairah meruak-ruak sepiberi nama apawaktu berwajah jelaga ini?Juga sajak yang tak mampumenampung gema yang mendengungKembali ke rumah darahmukembali memadamkan magmayang meradang dalam rongga semadiJika sangsi tiba kembalibiarlah mati menjaga pintu misteri1993
Puisi Di Rumah Rindu | Bambang J.Prasetya
0 komentar Sunday, March 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi Rumah RinduBambang J.PrasetyaHujan tak pastimemagar malamsebentar tiba kemudian kembaliada yang ditinggalkanbutiran air menyapu ataplenyap meresap di pelataranrumah pendapaAngin masih seperti duluketika bertemu camar menyapu bekuditarikannya beberapa lagudan daun cemara menari-narimengusik tiang dermagameski tak goyahcemburu badaiberwajah asmara bermulut petakaseperti mendung taburkan kremunsebentar juga basahseperti hidup kitatak terasa menampung laknat1992
Saturday, March 15, 2014
Puisi Seserpih Sepi | Bambang J.Prasetya
0 komentar Saturday, March 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFriday, March 14, 2014
Puisi Suluk Tanah Perdikan | Bambang J.Prasetya
0 komentar Friday, March 14, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSuluk Tanah Perdikan(perjalanan metarual sepasang elang)Bambang J.PrasetyaSepasang elang hitam terbangmenembus cakrawalakala langit kelam dan matahari tenggelammeninggalkan wewangian misteri senja”Kami sepasang elang pengabdi kata hatimata hatikami manjakan dengan tafsir kebenaranberubah selalu menjadi prasangkayang mensia-siakannamun kesia-siaan itupun menjadi karibkarena setiap kenyataankami sandarkan pada kesadaran”Sepasang elang hitam terbangtak hirau angin berarak mendungguntur menggemuruh badai”Sampai letih sayap mengepak gairahSinggah di bibir pantaiMenunggu kembali sang mentariMengeringkan keringat keletihan jiwa kami”Sepasang elang hitam terbangdari pucuk-pucuk ke tangkai keringdari hutan ke rimbadari matahari ke bulandari bintang ke malamdari ujung cahaya ke kelamdari kesangsian ke-tidak pastiandari peradaban ke-biadabanterbang!terbang!dan terbang!”Angkasa rayaadalah gurun sahara ketabahanyang ditumbuhi duri-duri warisan purbayang menggoreskan lukaluka kami abadilukisan dewa-dewayang diwarnai mazmur suci”seperkasa siang menerjangtinggalkan ruang singkirkan waktumencari jalan pintu abadidiikutinya lenggok tarian sungaiberlabuh di jaman suciyang disangga tiang berhala kertasbertumpukan di rongga batok kepala”Keheningan itupun melahirkan keriuhandalam bahasa senyap batin kamibahasa diam adalah gemuruh lautmenggulung setiap gairah kentalkan semangatTerbang!terbang!terbang dan terbang!!Kami terbang!!!bersayap harapKami terbang!!!memerdekakan diritak terikat oleh katatak terikat oleh bentukKami terbang!!!mengibarkan benderakami punya jiwaKami terbang!!!melintas-lintas kerakusan imankami terbang!!!terbang!!!!Kami sepasang elang hitamterbang!!meninggalkan geram serigala di rimba kotayang meninabobokan kenyataanbagai barisan Kurawamendendangkan lagu kematiandi padang Kurusetratidak ada Janaka dan Werkudaraapalagi Yudistira berharap mencuci dendamGenderang telah bertalumerentangkan tangan membukaseribu jalan matahariGendewa telah siapkami tak punya warastrakami tak tahu mesti berperangmelawan apa?melawan siapa?”Musuh tak berwujuddendam tak berbentukpatahkan saja anak panahjika seruas keberanian pun sirnamulailah mengibarkan bendera duka citadi ladang sawah para petanisebelum padi-padi menguningsebelum jagung-jagung berbijidan burung, tikus, ular, werengberpesta poradi tengah ruwatan jagad”Nestapa membakari mega-megamenyilaukan mata kami perihketika pasukan berangkatmenyebrangi batasberbekal omong kosong sematakami lelah menunggu monumen kepalsuankami ingin terbang!!!”Seperti langit dan warna birusepasang elang hitam terbangmembiarkan senja menepitak berlabuhdan dingin mengatup air lautperjalanan ini pun jadi dermaga1993
Thursday, March 13, 2014
Puisi Interlude Lazuardi | Bambang J.Prasetya
0 komentar Thursday, March 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiInterlude LazuardiBambang J.PrasetyaJika angin yang berhentiusaplah wajahmu!Pada langit kamardan dingin merapatdi matamuDesah kerinduanmumeninggalkan pecahan kaca di spreimelukai jerit bocah-bocah malamdibalut kabutTinggallah di sini, kekasihmerenda sunyi jadikan bebatuanlalu taburkan bunga melatibiar aroma mulutmu mengusir resahdi timbun bercak lazuardi1993
Wednesday, March 12, 2014
Puisi Kamuflase | Bambang J.Prasetya
0 komentar Wednesday, March 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKamuflaseBambang J.PrasetyaJangan ganggu aku menjaring misteridi awang-awung berloncatan malaikatkepaknya senandung keabadianair pegunungan membasuh resahKutangkap senyapsenja lenyap didekap gelapsisakan sesak bumiyang penuh kerak hatimengendarai duka terbang di awang-uwungmenuju rimba semurumput-rumput hijau berbunga pisaumenggores ruh purbaberpijar lukanya1992
Puisi Nyanyian Zabil | Bambang J.Prasetya
0 komentar Wednesday, March 12, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNyanyian ZabilBambang J.PrasetyaKau kandung apipijaran samadikumuara sajak-sajakkuyang mengilhami pencariankudi kota matiSeperti lukisan sunyi di padang buminyanyian malam menderai pagilalu engkau mengketuk-ketuk rahim ibumumengibarkan bendera zabildi taman bungayang disiram sembilan purnamasepuluh malamSeribu mata panahkau sayatkan pintu garbasampai luka terbukaperih pedihmasih kau seret petirlewat mulutmu1992
Tuesday, March 11, 2014
Puisi Ekstase Malioboro | Bambang J.Prasetya
0 komentar Tuesday, March 11, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiEkstase MalioboroBambang J.PrasetyaDi sudut kotamu yang sendutempat ruh nenek moyang menjaga pertempuranmelahirkan bocah telanjangdekil dan bau kemenyanmatanya silau nyanyian masa depanBulan selimut dinginbertengger di atas jemuranpayung keemasan raja-rajabocah tumbuh dalam dekapannyaditeteki ketika menangislewat alunan sungai yang diaduk-aduk polusidisuapi ketika lapardari puing-puing sampahDi bawah jembatan ia lahirbesar di jalanan Malioboroketika peluit kereta api menjeritdan derit angkot, bercampur bau tlethongsaat toko-toko berubah jadi plazapedagang kaki lima tak lagi bersahajaBising kotamumengeraskan lengking aleman sinden jalananBinar kotamumengencangkan senar pemetik sinden jalananSenja tak berbentukbocah terpaku bermain kartulepaskan penat sehari kerjameski siang jadi tukang sapumembersihkan labirin pasar beringharjoyang sepi bau susur aroma dubangjuga sengat ampek keringat petani desaBocah pinangan zaman yang terbuangasing di tengah deru mercidan kelap-kelip sorot lampu mercurikeluguannya balik menipukarena semua sudah membisu1993
Subscribe to:
Posts (Atom)
