Showing posts with label Arman Yuli Prasetya. Show all posts
Showing posts with label Arman Yuli Prasetya. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

Puisi Kapan | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Kapan
Arman Yuli Prasetya

Bopeng tubuh ini
Tersusun remuk perjalanan
Sepintas ingin mendahului waktu
Waktu yang sama
Angin masih di kenal menjadi angin
Menyegarkan kadang-kadang menaburkan topan
Menerka kapan dan dimana
Sekian lama waktu menjadi tua
Atau mungkin belum seberapa

Bojonegoro, Januari 2013


Puisi Menanak Ubi di Gazebo | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Menanak Ubi di Gazebo
Arman Yuli Prasetya

Mampat bengawan yang pekat
Deras meluap gorong-gorong tersumbat
Kanal kokoh tak mampu membedah
Luber bah tawa riang anak-anak
Tersekat parau kumal
Terjang perahu tak terbendung
Rintik hujan menari-nari bertebaran
Denyar jentikan piano
Reda romansa sketsa ilusi
Bau parfum pada ketiak-ketiak
Wangi seantero gedung
Gedung bioskop, Auditorium, Gelangaang
Pertunjukan sana-sini
Percikan debu menebar api
Mari kita nikmati
Anda yang perlu merasakan
Palapa gajah mada
Mengiggau durna
Panah-panah arjuna
Bertebaran tebar
Gatot kaca terbang
Petani bercocok tanam
Bentang jagad pewayangan
Jagad raya, jagadnya jagad

Bojonegoro, Januari 2013


Puisi Kursi dan Lubang kehangatan | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Kursi dan Lubang kehangatan
Arman Yuli Prasetya

Aliran pacuan yang mengantarkan
Beriringan dengan berbagai laju kecepatan
Merambat, berhenti, berbelok lalu berjalan
Di antara, rambu, lubang dan persimpangan
Berjumpa pohon-pohon ditepian
Sejajar dengan sungai lalu menghilang
Semburat keramian berduyung-duyung
Atau saat sepi yang sendiri
Masa panas yang menghanguskan

Matahari jelas tanpa pernah jelas
Dengan sedikit taburan hujan dan hembusan angin
Melukis menguraikan warna-warninya
Itu menjadi soal tak penting bagi semua kegaduhan
Tentang kursi yang di pentaskan
Atau lubang kehangatan yang penuh keramian

Pengetahuan mementaskan akal manusia
Di perah untuk berartinya kehidupan
Lalu semua yang terlupakan berceceran ditepian jalan
Memuja hasrat dan keangkuhan
Mengartikan kebebasan tanpa keseimbangan
Memang benar sekarang itu nafasmu
Warnailah hembuskanlah sesukamu
Gunung-gunung seperti pertapa yang diam
Tapi arakan awan tau dia berjalan

Bojonegoro, Januari 2013


Tuesday, May 28, 2013

Puisi Pulang | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Pulang
Arman Yuli Prasetya

Awan bergumul bergulung di arak angin
Berkumpul terkumpul hitam pekat menggantung
Gunung seperti marka yang mengunci tanah
Tanah yang hijau tanah yang kering menengadah
Hingga terdengar gemuruh  luruh
Sesaat jeda muncul kilat-kilat bercahaya
Saling melepas dan menerima gemuruh dan kilat berpadu
Guntur menggelegar memecah gumpalan awan yang bergulung
Dan langit melihat derai-derai air yang turun
Bintang-bintang berkedip saling mengamati
Meretas daun-daun mewangikan kering kerontang
Gurun-gurun dipenuhi pasir dan hawa panas
Saat matahari menyala pada kala
Menghidupi kaktus yang berduri
Membelaikan angin menyimpan sepi
Dan renik pasir itu menjadi dingin yang gigil
Saat malam menyapu pandangan
Kesahduan yang menerima dengan nurani
Lalu muncul titik-titik cahaya dari bintang
Meronanya bulan menimbulkan pasang laut
Dengan debur ombaknya nelayan merindukan ikan
Menebarkan jala memasang umpan pada mata kail
Menyemaikan tungku menghangatkan tanak
Kayu-kayu yang terkumpul dari ranting semak belukar
Memindai api dari titik panas dan cahaya
Semu tersadar kenyataan yang tergali
Padi-padi yang tumbuh dari sawah-sawah hijau
Dan jagung-jagung mulai menguning pada ladang-ladang
Gembala menyanyi tentang kupu-kupu
Capung di antara sapi dan kerbau
Pada hamparan sabana rumput-rumput liar nan terjaga
Di dekatnya sungai mengalir
Panjang berkelok menyusuri waktu dan sejarah
Tentang masa kecil yang dekil
Telah sampai pada masa tua nan purna
Seperti dentuman yang menggelegar
Menguraikan untuk kehidupan
Menggelar untuk terbaca
Meluangkan masa untuk akal
Yang tercecer pada pelepah-pelepah daun
Terukir pada tulang-tulang
Hingga pada waktunya angin menjadi angin
Segala penciptaan telah diciptakan
Dengan kilatan cahaya semua saling menjauh
Menuntun untuk saling mendekat dan dekat
Saling menabrak dan beradu
Lenyaplah segala fatamorgana
Menyangka hasil dari kepunyaan mereka
Dan aku hanya debu dari sekian bintang bertebaran
Yang merindukan jalan untuk pulang

Bojonegoro, Januari 2013


Tuesday, May 21, 2013

Puisi Akar diri | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Akar diri
Arman Yuli Prasetya

Sepanjang aspal berlubang mengantarkanku pada kampung-kampung kecil dalam peta kota. Di temani riak bangunan kehidupan menyuguhkan nuansa diantara suara – suara manusia.

Tentang hamparan padi hijau berayun saat hembusan angin melukiskan warna harapan pada lembaran hari panjang. Detak jam menumbuhkan kesabaran siang dan malam.

Aliran bengawan lentera dari jiwa sebuah nama yang terukir pada lembaran daun jati. Melayang diterpa angin kemerau saat ladang jagung menguning memanen kesederhanaan dari ketegaran butir-butir keringat.

Doa doa merambati hati saat malam mulai sepi dingin angin menyapa belulang tulang. Di tepi bengawan tanah liat kami kais bersama Lumpur sedari pagi. Embun mulai tumbuh saat kami nyalakan api membakar ranting – ranting kayu berbaur dengan laju waktu.

Fajar pagi memadamkan nyala api. Kayu – kayu berubah jadi abu. Menelurkan batu bata dari rahim bengawan . Menyemaikan harapan kampung bengawan. Mekarlah melati  pada petilasan akar diri.


Talun, Desember 2012


Saturday, May 11, 2013

Puisi Gudang Tua 1933 | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Gudang Tua 1933
Arman Yuli Prasetya

Aku dapat melihatnya
Koloni kelelawar terbang pada langit senja
Dari mulut gudang tua
Tertera tahun 1933
Seumuran dengan kakek
Yang sudah menutup mata
Tiap senja disini
Gudang tua itu beranak kelelawar
                  
Gudang itu seperti kakek yang ringkih
Disekitarnya sawah hijau berderet-deret
Berada agak jauh bentangan rel menyeret kereta
Setelah bangunan rubuh digusur atau dihilangkan
Tak jauh ada jalan yang mengaduh karena panas
Menguap lirih malam menyelimutinya dengan embun
Terkantuk dalam sepi dingin dan menggigil
                  
Terasa jauh permai nan hijau dikaki gunung
Atau pesisir membentang rebukan pasir
Bukan disana gudang tua itu berada
Gedung-gedung yang tumbuh pada atap kota
Gemerlap menyala pada malamnya
Bidadari yang telah terbakar sayapnya
Mengitari lampu-lampu yang menyala
Gudang tua itu tak ku lihat disana
                  
Aku baringkan daun-daun yang kering itu pada tanah
Agar dibawa angin melayang dan berpindah
Menuju laut yang luas dan jauh
Atau pada sungai yang berkelok-kelok panjang
Mungkin akan sampai pada gunung yang redup terjal dan tenang
Hingga tau akan melayang-layang lagi ke tanah
                  
Gudang itu seperti sendirian saat malam
Sesekali angin mengusap tiang-tiangnya
Yang kian lama kian rapuh
Dulu entah karena apa
Api yang menyala-nyala
Orang-orang tega menanam yang lainya
Di sana pada gudang tua itu
Disiram dengan luka-luka yang anyir
Apa memang itu yang diperlukan untuk sebuah sejarah


Lihatlah langit senja diatas gudang tua
Menerbangkan beribu-ribu kelelawar ke angkasa
Aku tak pernah tau entah akan kemana kelelawar itu

Bojonegoro, 04-05-2013


Puisi Mata Yang Tak Pernah Mampu Melihat Semuanya

0 komentar

Mata Yang Tak Pernah Mampu Melihat Semuanya
Arman Yuli Prasetya

Biar semua terbawa oleh angin
Menemani bulir hujan
Bersama panas matahari
Menghijaukan daun-daun
Memekarkan bunga-bunga

Biar semua terbaca oleh langit
Mengedipkan bintang-bintang
Menggores warna-warna pelangi
Menerbangkan burung-burung
Menemani gerhana purnama

Biar semua terbawa oleh ombak-ombak
Berenang bersama ikan dilautan
Berlayar beriringan dengan perahu nelayan
Bersama jala yang ditebarkan
Terbawa ke rumah para nelayan

Biar semua hening diatas gunung
Ditemani rimbun adelwis
Berkicau bersama jalak didahan-dahan
Aku merasakan sajak-sajak indah

Bojonegoro, 04-05-2013


Sunday, May 5, 2013

Puisi Pagi yang hujan | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Pagi yang hujan
Arman Yuli Prasetya

Aroma tanah basah
Burung berkicu melihat titik-titik hujan
Awan tergelar sewarna

Tapak kaki membekas diair
Memberi rasa dan warna
Atas sinar matahari
Hangat nurani

Angin bergerak
Menelusuri relung-relung
Pada lembar daun
Kuncup-kuncup bunga

Mengepakkan sayap burung-burung
Warna kupu-kupu
Dalam bahasanya
Angin dan hujan berbicara

Aku pejamkan mata
Mencoba mengerti bahwa
Yang dibawa angin
Segenap luruh
Tak mampu aku mencapainya
Butir-butir hujan turun
Aku dengar terus mengayun

Bojonegoro, 04-05-2013


Puisi Bunyi Lonceng menara | Arman Yuli Prasetya

0 komentar

Bunyi Lonceng menara
Arman Yuli Prasetya

Dua burung greja hinggap ditanah
Melompat-lompat bersama jatuhnya gerimis
Hablur angin menggoda nalurinya
Bulu-bulunya membisikkan kata-kata

Paruhnya yang kecil meninggalkan jejak pada angin
Dahan-dahan pohon merangkum bulu-bulunya yang berjatuhan
Disana pada lubang kecil didekat lonceng menara
Anaknya masih lelap dalam tidur

Dua burung greja hinggap ditanah
Melompat-lompat bersama gerimis yang telah menjadi derai hujan
Angin menjadi sangat dingin menyentuh parunya
Angkasa telah terasa menjadi beku

Tak pernah dikepakkan sayapnya
Tanah terasa kenyal pada kakinya
Mengais yang kecil kecil
Karena mulut dan paruhnya kecil

Bersama letusan melesatlah peluru sang pemburu
Menembus derai-derai hujan
Langit yang kelabu
Seakan tetap membisu

Dua burung greja terkulai ditanah
Tak lagi melompat-lompat karena hujan menjadi reda
Terdengar bunyi dentang lonceng menara berkali-kali
Anak-anaknya yang keci tetap dilubang dekat lonceng menara

Waktu terasa tak berdaya
Dahan dan daun-daun mulai memanjatkan doa
Sambil terus melihat anak-anak burung greja yang kecil
Mulai bangun karena bunyi lonceng menara

Bojonegoro, 04-05-2013


 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |