Cintaku tak Salah: Andrei AksanaAdi NugrohoTak kutahu kapan ini bermulaRasa aneh tak wajar yang muncul,menggerogoti tiap mili ruang hatiku.Membuatku rapuh dan jatuh tak berdaya.Kaukah itu yang datang?Belum ku siap, kau sudah menerjangku,melemparku ke dimensi tak berlogika.Tak tau arah dan tujuan yang hendak kutuju,hanya hati yang menjadi mata telingaku.Ku tak dituntun, ku tak dipandu.Mataku langsung mencengkeram, menyambarhatimu tuk kukuasai dan mensinkronasikannyadengan getaran hatiku.Salahkahku jika hati ini memilih si cantik,memilih si tampan?Salahkahku jika raga ini mencintai sesama,mencintai tak sesama?Cinta bersemi dan tumbuh tanpa disadari.Bibit itu tumbuh dan merekah seiring waktu.Tak bisa dibelenggu dan dijeruji,begitu kuat dan kokoh menghancurkan penghalang.Ku akan berjuang, sampai kakiku lumpuh, mataku tak berkedip.Kan ku rawat sampai merekah, menebar harum memenuhi ruang rinduku.Karena cintaku tak salah, cintaku tak pernah salah.Malang, 22 Maret 2011___Andrei Aksana adalah seorang pengarang novel Lelaki Terindah, Abadilah Cinta, dan Cinta 24 Jam
Showing posts with label Adi Nugroho. Show all posts
Showing posts with label Adi Nugroho. Show all posts
Monday, February 8, 2016
Puisi Cintaku tak Salah | Adi Nugroho
1 komentar Monday, February 08, 2016 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunday, March 3, 2013
Puisi Secangkir Kopi | Adi Nugroho
0 komentar Sunday, March 03, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSecangkir KopiAdi NugrohoTuangkan segelas kopi hitam,legam,juga malammalam. Taburkan beberapa butir gulagula, yang membuat kita gila sebab memilih bersama. Aduklah dengan perlahan seperti dulu aku mendekatimu, berhentilah disaat kau rasa cukup. Sebab gula tak patut larut seluruhnya, biarkan kita menengok kembali apa yang telah kita lakukan. Berbekaskah ia? begitu juga kita pada cinta, mengejar cinta tidak bisa selamanya, sampai kita larut habis, mati tak bersisa kita. Sebab cinta bermukim pada batasbatas yang tak mudah dilihat, rasakan ia dengan hati. Seperti mengaduk kopi yang kau rasa perlu sudahi dan tibalah waktu kau seduh di bibir gemburmu.Ku aduk segelas kopibercampur ragu bertabur gula batukuaduk berputar dalam ruang waktu,lalukehampaan ada dalam tiap putaran itu...Gula melarut air memanis..Terangkat sendok besi,memanja gelas kaca,relung kaca yang kelindanMata air air mata yang sedusedanlarut dalam kedipan bersama gulaSecangkir kopi, merangkum elegi berbulirbulir pasir. kau hanya mengenal kopi pekat, yang sedianya kau pesan dan siapkan: lewat sandiwara kita dari meja makan ke meja makan. Dan kau bilang “Cinta kita bermula dari meja makan, yang sewaktuwaktu perlu kita singgahi untuk membicarakan aku, kau, dan cinta” sebab itu Kau pilihkan aku kopi hitam pekat, yang membuatku terjaga dan terikat padamu. Mata yang terjaga membaca buah ceri merah di bawah hidungmu.Pada secangkir kopi, kita sepakati perjalanan hari. Pada segelas kopi yang ketas, kita berjanji bahwa semua selesai, ketika ada cinta. Pada deras panas gelas kopi, kita mencatat tentang halhal yang akan menjadi rahasia kenangan. Sebab hidup adalah memilah kenangan. Meski nanti, resah saat segalanya pergi dan tak kembali. Dan secangkir kopi, membuat kita terjaga pada cinta.Tak perlu kita habiskan kopiSebab nantiKita akan kembali ke siniMeski sekadar mengusap air mata yang tertumpahPada meja makan tua ini
Friday, March 1, 2013
Puisi Kenangan "Kenanglah Bahwa Kau Pernah Bersamaku" | Adi Nugroho
0 komentar Friday, March 01, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKenanganAdi NugrohoKenanglahBahwa kau pernah bersamaku, pada detik yang kita sebut kemarin, pada rentang yang kita namai masa lalu. Jika akhirnya kini, entah sejak dulu ataukah sebelum kau bersamaku, aku tak memainkan detak lagi, kenanglah, setidaknya aku pernah menyebut namamu, sesekali di lamunanmu. Sebab, mengenang adalah langkah puisi paling indah dalam mencatat masa depan. Dan kenanglah, sepuas kau ingat, sebab melupakan adalah siasia.Secawan air hujan aku tadahkan, seluas wajah kita dulu, di antara rintihrintih genting terbentur rintikrintik hujan di horizon. Aku tertawa dan menangis dalam satu langit, bernyanyi perihal masa silamKenanglahdari rahim rindu yang gemburmasa depan yang tersumbatlalu hadir di ujung lorong, menyambutmu pada sebuah malam dinginlangit yang hampa, terang perlahan hilang, di antara matahari dan bulanaku datang berayun di sudut lentik bulu matamu, bersiap berjalan lewat poripori kulitmu yang membuka dan menutup malu. Hendak aku berlari ke serambi hatimu, yang ingin aku bersemayam di dalamnya setelah lama kosong tak bertuan. Kenanglah sepuas kau mengenang, sebab aku telah bernisan bersemayam pada serambi kamar hatimu.Bila kehilangan adalah keramatBiarkan kita saling hilang dan menyilangdari kehilanganlah aku belajar mengenangdan mengenang membawaku pada arti memilikiaku tak pernah tahu kau akan kemana,dari nirwana aku hanya bisa tersenyum melihat kau memetik kenangan
Puisi Kepada Laut | Adi Nugroho
0 komentar Friday, March 01, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKepada LautAdi Nugrohoperahu kecil, jala mungil, burungburung pelikan, senyapsenyap ikan, debur ombak, batu retak, aku dan mata kosong, menunggu: kepada laut. Aku melamun saja, bertanya pada angin, darimana angan ini, yang ingin dari dingin basah asin laut kecup bunga siput, sejak kau berlayar ke arah yang tak pernah kudengar, tak ada kabar, dan aku terkapar. Kepada laut: Aku berdiri saja, melipir ke dermaga pinggir, aku mencari kerang tak karang, adakah dia melihat jejakmu yang tersapu para pembajak. Kepada laut: aku masih menunggu kebaikan hatimu, sebab arusmu menghanyutku ke pulau rindu. Kepada laut: aku hanyutKepada kamu, kepada laut, kepada kita yang kalut. Boleh aku berlaut menjemputmu? mengejar kau, yang membuatku larut di harihari kusut. Biar aku memelukmu lagi, dan merasakan keras debar dada ini. Kerna Debar adalah lagu yang menghantarku pada bisik, jejak, dan merah pipimu. Seperti ombak dan deburnya, yang cepatnya pergi dan dekat kembali pada ujung jemari kaki. Itulah aku yang teguh, laut akan memperpendek keraguan. Cinta terbaik mestilah tak lama menuju janji mati. Dan kau pun segera tau, pada dada siapa harus bersandarlaut pasang malam larutentah aku atau bayangku yang terlebih dulu sampaikukirim dulu keinginankulewat nyanyian ombak, dan senja lautketahuilah: aku menjemputmudan kepada laut: jagalah dia di pelukanmusampai akuhilang rindu
Puisi Di tengah Hujan | Adi Nugroho
0 komentar Friday, March 01, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDi tengah HujanAdi NugrohoTubuhnya basah, kuyup dikukup hujan. Dan di seberang, seorang wanita masih berdiri pada tepian jalan. Tampak suntuk terkantuk, matanya sayu seperti pilas, dibelai angin dingin malam kota. Adakah yang dinanti? Rambutnya yang melambai, kisut awutawut disapuh buih. Wajahnya tampak sedih. Bagai menahan perih lukadukaHendak kemana ia? Rendarenda pakaian gugur dilipur. Seakan hujan adalah atap ketenangan. Seakan hujan, mereda kemarahan. Ia Menarinari tanpa ragu dalam ketukrintik hujan. Dari lalulalang lelah sampai kota basah, tak ada lagi yang bisa menyapanya. Sungguh penuh tanya, adakah rindu semadu menunggu hujan reda. Bila tak ada yang dirindukan, haruskah mencintai hujan. Berdiam diri hirau disapu hujan yang suaranya kian sengau. Senarai wajahnya yang lunglai menjadi jawab, hujan adalah kepasrahan. Hujan tak perlu dicintai, tapi menjadi milik orangoorang yang kadung disekap rindu. saat airmata mengucur, carilah hujan yang siap berbagi kerapuhan.Wanita itu masih kaku, dan semakin lugu di basah kota, yang lekang dari lalulalang. Kau memang sendiri, tapi pada hujan kau bisa dapatkan hilang sepi. Begitu mungkin pikirmu, dari kebas tanganmu yang mengembang. Wajahmu tengadah pasrah pada awan. Berharap hujan terus datang. Bahwa hidup boleh hampa, tapi pada hujan kau meramu rasa. Kau mengembang senyum juga, dari rimbun bulir air. Kemana lagi harus merindu, saat tak ada yang ditunggu, kecuali pada hujan. Meskikah mengutuk hujan, bila rintikrintiknya melantunkan lagu kerinduan. Dan hujan tanpa kenangan, adalah sepi paling tepi.Wanita itu pun hilang bersama hujan.Pada genang jalan, senyummu mengembang tenang.Penulis saat ini bergiat di Komunitas Langit Sastra dan Pendiri AADT. Bisa dihubungi @ijonkmuhammad dan ijonkmuhammad.tumblr.com. Tulisannya banyak dimuat media massa. Buku pertamanya saat ini berjudul “Belajar Merawat Indonesia”.
Subscribe to:
Posts (Atom)

