Showing posts with label Hijaz Yamani. Show all posts
Showing posts with label Hijaz Yamani. Show all posts

Monday, February 10, 2014

Puisi Laut dan Aku | Hijaz Yamani

0 komentar

Laut dan Aku
Hijaz Yamani

Laut dan aku tidak tergantung pada angin
Pada bumi ketiga dalam bayangan

Laut ruang dari berlaksa mata
Ketika kaku kompas dan pecahnya kaca pengintai

Laut dan malam rahasianya mercu di utara sana
Laut dan pelayaran rahasianya dalam gelisah kita

1974

Sunday, February 9, 2014

Puisi Di Bawah Lampu Mercury | Hijaz Yamani

0 komentar

Di Bawah Lampu Mercury
Hijaz Yamani

Bayanganmu kulihat pucat
Itukah cermin kasmaran jiwa?

Di bawah atap langit
aku cuma lihat satu dimensi waktu
Manis kenangan lampau

Di balik riuh kota diremajakan
mengapa masih cermin kasmaran jiwa
Masihkah tangan kukuh menekan pusarnya?

1973

Saturday, January 25, 2014

Puisi Sebatang Tubuh di Pinggir Kali | Hijaz Yamani

0 komentar

Sebatang Tubuh di Pinggir Kali
Hijaz Yamani

Turunan leluhur kaburiat
Perlambang ketahanan
Di hutan abadi
Di kali dahsat sunyi

Sebatang tubuh di pinggir kali
Dalam hujan bermain api
Api abadi

Sepanjang dermaga lumpur menepi
Kapalku merapat ke sana
Ini misi datang di huma tak subur
Dari musim ke musim

Sebatang tubuh di pinggir kali
Memaksaku mendekat padanya
Dengan harapan demi harapan
Yang kumengerti cuma harapan angan-angan

1970

Thursday, January 16, 2014

Puisi Di Sebuah Tanjung | Puisi Hijaz Yamani 1957

0 komentar

Di Sebuah Tanjung
Hijaz Yamani

sebuah tanjung – dataran pasir putih-putih
ujungnya keris ombak yang mendidih
matahari senja terkaca
kerdip mercu yang menyala

angin dan dataran berciuman, sayang
menggigir nafas lelaki tua sepi sendiri atas menara
tanah lahir dikuburnya di jauhan
rindunya, rindu yang terkubur dalam-dalam dalam laut

ah, sepinya daerah ini
tanahnya yang lesih
dunia terkurung langit yang bersilir
angin dan laut menari, tapi
lelaki tua merasa kawan sekali
setia ia – seperti warganya serasa terkubur dalam rindu

1957

Puisi Di Rumah Tua itu | Hijaz Yamani

0 komentar

Di Rumah Tua itu
Hijaz Yamani

pintunya tidak pernah tertutup
berdirinya di udik yang tidak terbuka

Di rumah tua itu
anak muda main gasing-gasingan
taruhannya ternak bapanya
dibarter pula dengan pipa
dan belacu dari negeri cina

Di rumah tua itu
ada suara kurung-kurung
lagu nasib di ujung bukit
bila malam tiba

Di rumah tua itu
Di udik yang tidak terbuka itu
berpuluh penghuni
menunggu nasib yang sama
mereka masih tertutup
untuk tahu merdeka

1975

Gasing-gasingan = permainan tradisional di Kalimantan Selatan
Kurung-kurung = alat instrument tradisional suku-suku di pedalaman Kalimantan

Wednesday, January 15, 2014

Biografi Hijaz Yamani

0 komentar

Biografi Hijaz Yamani

Hijaz Yamani lahir di Banjarmasin, 23 Maret 1933. Meninggal, (?). Menulis puisi dan cerpen sejak tahun 1954. Juga menulis naskah drama, esai sastra dan budaya. Puisinya pernah dimuat di Mimbar Indonesia, Budaya, Siasat, Mimbar, Budaya Jaya, Horison, dan Bahana (Brunei Darussalam), disamping media-media lokal. Juga dimuat dalam antologi bersama: Panorama (1974), Pesta Seni (DKJ, 1974), Pesta Puisi (DKJ, 1975), Puisi ASEAN (DKJ, 1978), Temu Penyair 10 Kota (DKJ, 1982), Kilau Zamrut Khatulistiwa (Arpenda, Yogya, 1984) dan Tonggak II, ed. Linus Suryadi AG (Gramedia, 1987). Kumpulan Puisinya: Tanah Huma (Pustaka Jaya, 1978) bersama D. Zauhidhie dan Yustan Aziddin, Percakapan Malam, dan Hujan Malam (2012). Tahun 1975, ia menerima Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel.

Tuesday, January 14, 2014

Puisi Kali Martapura | Hijaz Yamani

0 komentar

Kali Martapura
Hijaz Yamani

Kali Martapura airnya coklat
Mendesir-desir pada tepi lanting-lanting tua
Banjarmasin kotaku di liku-likunya
Bertepi gedung-gedung pasar baru

Di sini tempat perenangan segala yang bertaruh pada hidup
Seolah-olah tidak pupus liuk-liuk yang bermanusia
Dan ada juga orang-orang letih di sini
Tiduran di samping jembatan panjang
Kerongkongannya menggelepar-gelepar dahaga
Oh, rindunya rumah-rumah tempat bermimpi tak berembun

Ohoi dukuh-dukuh berkayuh-kayuhan
Buah dadanya berkeliaran dalam baju hitam
Di wajah berkudung sutra – jalang matanya

Di kaliku beratus benda menggetari air
Sedang sinar mencerah di mataku
Dan mereka kuperam dalam hati rindu
-- Hai segala penghuni pasar di atas kali
Mari kita tawa-menawar dan bermurah hati

1957

lanting = rumah di atas air
dukuh = perempuan penjual ikan dan sayuran dengan perahu kecil

Puisi Surat dari Muara Teweh 1959 | Hijaz Yamani

0 komentar

Surat dari Muara Teweh
Hijaz Yamani

Aku datang di sini mendaki pinggir kota yang landai
Bertiup angin kering pucuk pohonan yang tunduk
Bumi berpunggung-punggung rengkah
Bagai dahagaku yang rindu kerna kautinggal dalam resah

Musim adalah selalu hadir atas kita
Tapi tidak sangsi sekali berpaling dari berburu cinta
Kerna aku telah bertolak
Dari kota tinggal sedari kaki mulai berpijak

Memang adalah terlalu jauh mata air membawa hati kita
Dan sebuah tangan mengunjuk bagai mengisyarat kata terdengar
Kau pun tinggal sepi, Farida

Aku datang di sini dan berdiri di tanah tinggi
Bila malam tiba
Yang ingin kulengos kata-kata samar yang tak ingin kudengar
Aku sangat rindu

Kehendak adalah tantangan dari kota sepi yang kutinjau
Kemilau yang membakar matahari musim kemarau
Begitu mereka tajam-tajam menampar dan bisiknya begini:
Ah, kapan kau pulang, yamani

1959

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |